Sapientie

Sapientie
Capter 11


__ADS_3

"Diana, ada apa?" tanya Nigel, wajah muram wanita itu menarik perhatiannya.


"Apakah harus kembali?" tanya Diana, namun wajahnya tetap menghadap ke bawah. Menatap bayangannya yang ia pijak.


"Tentu saja," saut Nigel sambil menunjukkan senyum keceriaan.


"Apa kau tidak masalah kembali ke kehidupanmu menacari kayu bakar setiap hari dan menjualnya?" tanya Diana lagi.


_____ skip _____


ada di plat ungu


"Lamora ...," ucap Nigel. Diana bingung dengan apa yang dia dengar. Mantra ini berguna untuk memberitahukan lokasi yang akan di tuju surat tersebut. "Xialum ...." Mantra kedua meluncur, Diana mulai tersenyum namun, tetap dengan keheranan. Sesaat, surat tadi memancar cahaya hijau. Mantra ini khusus untuk melindungi surat dari apa pun sampai ke tujuan. "Ventus ...." Mantra untuk membuat ketiga surat dapat terbang dengan sendirinya dengan munculnya sayap tipis di masing-masing surat. Diana tergemap, sepasang sayap pada setiap surat mulai mengepak. Ketiganya agak merontak ingin dilepaskan.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kau ...." Diana sungguh terkejut.


Nigel melepas ketiga surat itu ke udara, setiap surat terbang dengan cepat. Ketiganya melesat cepat menuju selatan, meuju Kota Ertonburg.


"Kita tidak butuh kurir. Surat itu akan terbang dengan sendirinya ke alamat yang dituju. Tidak akan ada yang bisa menangkap surat-surat tersebut. Mereka akan terbang dan tiba dengan selamat," jelas Nigel seraya menatap ketiga surat bersayap yang terbang menjauh.


"Sejak kapan kau melajar sihir?" tanya Diana penasaran. Namun Nigel tidak menjawan. Hanya senyum bangga yang tertera di bibirnya.


Pemuda itu mengambil kembali tasnya di tanah, lalu melanjutkan berjalan ke utara. Sedangkan Diana, ia mengikuti Nigel dengan pulahan pertanyaan yang terlontar.


Nigel membuka peta. Seharusnya, tak jauh di depan terdapat sebuah penginapan namun, mereka belum menemukannya. Kesalahan terbesar yang Nigel dan Diana lakukan dalam perjalanan ini adalah, mereka tidak membeli kain lebar untuk tenda, atau sebuah kain tebal untuk selimut.


Di sini Nigel mulai menyadari jika gift ilmu pengetahuannya hanya memberikan informasi yang ia butuhkan, bukan mengingatkan apa yang ia perlukan.

__ADS_1


"Hari semakin gelap, kita tidak ada waktu lagi," ujar Nigel.


"Apa yang akan kit-" Nigel mengendong Diana ala bridal-style. "Nigel, apa yang kau lakukan?"


"Kita harus bergegas." Pemuda itu seketika melesat cepat. Ia berlari hampir menyamai kecepatan suara.


Untuk yang kedua kalinya, Diana tercengang.


Nigel berbelok dan menerobos hutan. Jika dilihat dari peta tadi, jalan ini akan memotong banyak waktu perjalanan mereka dan akan cepat sampi ke penginapan yang dimaksud. Ia meloncati sebuah akar yang melintang di depanya, lalu diinjaknya untuk mendapatkan loncatan jauh. Diana menjerit saat Nigel melakukan ini.


Diana mulai terlihat takut. Meskipun ia sangat yakin kalau Nigel tidak akan mencelakakannya. Ia percaya sepenuhnya pada pemuda itu. Namun tetap saja, berlari di tengah hutan seperti ini adalah tindakan yang bodoh. Setiap langkah yang Nigel hentakkan membuat perut Diana berguncang.


Beberapa menit kemudian, siluet bangunan besar mulai terlihat. Nigel semakin mempercepat langkahnya. Hingga, sebuah gedung mewah yang di kelilingi tembok tinggi berdiri di hadapan mereka. Pancaran cahaya lilin pada setiap ruangan menambah keindahan bangun tersebut di malam hari.

__ADS_1


Nigel menurunkan Diana dan detik itu juga, wanita itu menyingkir untuk muntah.


TBC...


__ADS_2