
Nigel dan Diana yang terikat erat masih melayang saat melewati pohon cemara raksasa. Mati sebagai sumber makanan merupakn cara mati yang bodoh. Nigel terus mencari cara upaya setidaknya untuk Diana lari. Kelima witch tampak sangat gembira setiba di rumah mereka.
Cahaya jingga sudah menguasai langit. Menandakan mara bahaya sudah mendekat. Gora, salah satu witch, segera mengambil sebilah golok dan segera ia asah dengan sebuah batu. Ia akan menggunakan golok ini untuk mencincang buruan mereka. Membayangkan menyantap hati gadis itu atau menyeruput otaknya membuat ia mempercepat gerakan tangannya saat mempertajam golok tersebut.
Gorgo juga mengerjakan tugasnya. Segera ia ke gubuk penyimpanan dan mengambil beberapa rempah seperti bunga kering dan kulit kayu, lalu ia menghampiri Godera yang sedang mempersiapkan tungku besar di atas kobaran api yang membara. Selain itu, Godera juga menyiapkan semacam alat pemanggang.
Sergot menurunkan Nigel dan Dana yang terikat. Di sisi lain, Gora datang dengan parangnya yang sudah terasah.
"Baiklah, saatnya memotong kacil-kecil daging segar ini," ujar Gora.
Tali tambang mengendur. Dengan cepat Gora menarik Diana dari sisi Nigel. Dan dalam sekejap mata, tali kembali mengikat kuat. Nigel tidak bisa berkutik.
__ADS_1
"Kau yang pertama, gadis kecil." Liur Gora menetes saat membayangkan potongan tubuh mengapung diantara sayur-sayur sup atau tertusuk dan berdesisi saat dipanggang.
"Nigel! Tolong!" Air mata berderai, Diana sungguh ketakutan.
Tapi Nigel tidak bisa berbuat apa-apa, meronta pun tiada gunanya. Pergerakannya benar-benar terkunci. Pedang dan semua perlengkapan miliknya disita Megora yang sekarang tampak bersantai membaca sebuah buku di teras depan gubuknya.
Hingga, pemikiran cerdik terpikirkan oleh Nigel. Tapi, rencana ini sangat berisiko. Nyawa Diana bisa saja terancam. Meski begitu, tidak ada yang biasa ia lakukan. Ia hanya bisa bertaruh dengan rencana ini.
"Apa maksudmu?" saut Gora.
"Antara daging laki-laki dan perempuan, kalian jauh lebih tau mana yang terlezat," ujar Nigel.
__ADS_1
"Tentu saja kami tahu. Daging wanita adalah yang terlezat. Teksturnya lembut dan kadar lemak yang pas. Sangat berbeda dengan daging laki-laki yang begitu keras karena otot," jawab Gora, ia benar-benar tidak sabar sekarang.
"Lalu, kenapa kalian menyantap yang terlezat lebih dulu. Meskipun aku hanya bangsa namun, aku memiliki harga diri mengenai kualitas daging yang aku miliki. Jangan samakan dagingku dengan daging-daging para laki-laki yang pernah kalian makan sebelumnya. Dagingku lebih harum dan berlemak. Aku sangat jarang berolah raga sehingga aku tidak memiliki banyak otot yang keras, justru akan membuat tekstur kenyal di mulut."
Gora menelan lifanya. Ia mulai tertarik dengan apa yang ditawarkan Nigel.
"Yah, walaupun nantinya dagingku bagi kalian tidak enak, setidaknya kalian bisa mencucinya dengan daging lezat wanita ini. Jadi, biarkan aku yang pertama. Biarkan aku bangga dengan kelezatan daginggku saat kalian kunyah."
"Dasar bodoh, siapa pun yang duluan semua sama saja. Kalian hanyalah santapan yang akan mengisi perut kami. Tapi, melihat kegigihanmu, aku jadi penasaran." Gora melepas gengamannya dari tangan Nigel. "Sargot, aku ingin memotong laki-laki ini dulu!"
"Kau terlau pemilih, Gora," saut Sargot, tapi ia menuruti permintaan temannya itu. Dengan ayunan tangan yang ringan, tambang yang melilit Nigel melesat seperti ular terbang dan berpindah melilit Diana.
__ADS_1
Nigel tersenyum, rencana tahap awalnya berjalan mulus. Sekarang beralih ke tahap selanjutnya.