Sapientie

Sapientie
Capter 19


__ADS_3

Rombongan raja sampai di Reruntuhan Zibrulgard di saat senja. Langit terlihat remang karena kehilangan sumber cahayanya. Perlahan tapi pasti, sang kegelapan mulai menggerogoti langit.


Nigel, Diana dan Keiren keluar dari kereta mewah dan menatap gerbang reruntuhan. Di sana, Jonah berdiri menatap sekelompok orang datang ke wilayahnya. Semua prajurit sangat terpana dengan kecantikan Jonah. Saat rambut pirang wanita itu tertiup angin, daya tarik wanita itu semakin terpancar. Sosok figur dalam lukisan, mungkin pantas sebagai pengambaran kecantikannya. Namun, sorot mata dingin dari wanita itu memberikan kesan jangan ganggu aku pada semua mata yang tertuju padanya.


Keiren berjalan pelang dan menghampiri Jonah. Para kesatria menyerah, tidak akan ada yang bisa mengalahkan wewenang raja.


"Apa kabar?" ucap Keiren.


"Keiren, sudah lama sekali," jawab Jonah.


"Jaga ucapanmu! Dia raja kerajaan ini, panggil dia dengan benar!" saut Jendral Bernard.


"Diam!" seru Keiren, "Dia pengecualian."

__ADS_1


"Raja?" saut Jonah. "Aku rasa pencapainmu sudah berhasil."


"Ya. Begitulah."


Jonah dan Keiren terlihat cukup akrab, seperti dua teman yang sudah lama tidak bertemu. Dan ini menarik tanda tanya besar pada diri Diana. Bukankah mereka tidak saling mengenal. Terutama Jonah.


Jonah menggulirkan bola matanya menatap Nigel yang sedikit jauh di belakang Keiren. "Sepertinya, tugas kita segera mencapai puncak."


Keiren menoleh, menatap arah mata Jonah tertuju. Keiren tahu apa yang dimaksudkan perkataan Jonah tersebut. "Ya. Aku harap kau sudah mempersipkan segalanya."


"Aku hanya melakukan tugas yang diminta," jawab Nigel sambil tersenyum dengan tulus. Namun Jonah menanggapinya dengan senyum sarkastrik. Hal ini membuat Diana semakin curiga.


"Malam ini kita akan berkemah di sini, dan besok kita akan kembali ke istana," perintah Raja Keiren. Semua prajurinya menyahut serentak.

__ADS_1


"Segera bangun pertendaan!" seru Jendral Bernard memberi intruksi. Sekali lagi, semua prajurit berseru serentak.


Para pemuda bawahan Jendral Bernard mulai bergerak. Seakan tahu apa yang di lakukan, mereka berpencar melaksanakan tugas yang di peritahkan.


Beberapa dari mereka menyebar mencari kayu bakar. Beberapanya lagi membongkar perlengkapan dan membangun sebuah tenda mewah untuk raja mereka. Sebagiannya lagi masuk ke dalam hutan dan mulai berburu. Karja sama tim yang kompleks namun berpola, bersama-sama menyelesaikan titah.


Hingga, tidak butuh waktu lama, tenda raja pun sudah berdiri. Tidak hanya itu, api unggun sudah menyala dan beberap hewan buruan sudah siap untuk di panggang. Beberapa prajurin mengengeluarkan beberapa botol anggur dan roti kering uantuk disantap bersama.


Sebilah kayu panjang di tusukkan ke dalam mulut seekor kelinci hingga tembus ke perut belakang. Meskipun bongkahan daging ini adalah kelinci, namun sekarang tidak terbentuk lagi seperti hewan lucu itu. Yang tinggal hanyalah seongok daging tanpa kulit dengan isi perus sudah terburai. Diletakkan di atas api dengan dua penyanggah di setiap sisi. Tetesan bumbu yang lumer, jatuh berdesisi di dalam kobaran api.


Malam itu, mereka menyantap makanan lezat yang sudah disiapkan. Dengan kobaran api unggun yang terang, mereka berpesta sederhana.


"Nigel ... Diana, apa yang kalian lakukan?" tanya Raja Keiren. Nigel dan Diana terperanjat kaget. Yang ditakutkan kini sudah tiba.

__ADS_1


Rasa khawatir pada diri Nigel pun muncil, begitu pun dengan Diana. Mereka jelas terlihat pucat.


TBC...


__ADS_2