Sapientie

Sapientie
Capter 12


__ADS_3

Sebuah rumah mewah bak tempat tinggal para bangsawan, berdiri kokoh di tengah hutan tak jauh dari jalan antar kota. Tembok pagar yang tinggi, mengelilingi rumah tersebut dengan ujung pagar berupa tombak-tombak tajam dan runcing.


Diana kembali setelah memuntahkan cukup banyak isi lambungnya. Karena Nigel menggendongnya sambil berlari, perut dan otak wanita itu berguncang sehingga membuat pusing dan mual hebat.


"Aku tidak akan mau digendong lagi olehmu," ujar Diana.


Laki-laki itu hanya tertawa ringan. "Sudahlah. Ayo."


Nigel membuka gerbang rumah yang ternyata tidak di kunci. Mereka berjalan melewati taman depan rumah dan tiba di teras. Naik beberapa undakan dan tiba di depan pintu rumah. Nigel mengetuk pintu rumah dengan logam besi yang melekat di pintu. Setelah dua kali ketukan, seorang butler setengah baya keluar menyambut kedatangan mereka.


Sebelum masuk, Nigel bertanya harga menginap per malam. Hanya sepuluh keping perak, itu sudah termasuk sarapan dan air hangat. Harga yang cukup tinggi bagi Nigel. Tapi, memikirkan Diana yang tidur di luar tanpa perlindungan apa pun, sepuluh koin perak merupakan pengorbanan yang kecil. Nigel sepakat dengan harga itu dan masuk ke rumah mewah tersebut.

__ADS_1


Dua Anak muda itu tercengang saat melewati pintu utama. Ini pertama kalinya bagi Nigel dan Diana melihat ruangan mewah dan indah. Tiga dekorasi ruangan yang menggantung di plafon, menjadi tempat susunan puluhan lilin yang merupakan sumber cahaya di ruanga itu. Di sebrang ruangan, terdapat sebuah tangga pualam berdekorasi indah beralaskan dengan beledu merah, lalu terbelah dan bercabang di atasnya. Tangga ini menyatukan lantai dasar dan lantai atas.


Ternyata bukan hanya Nigel dan Diana yang menginap untuk malam ini. Ada banyak orang di sini. Jika Nigel lihat, dan dari informasi gift pengetahuannya, kemungkinan para pedagang memenuhi penginapan tersebut.


Di sisi kiri dan kanan ruangan, masing-masing terdapat sebuah pintu menuju ruangan lain. Kiri kemungkinan ruang makan, kerna sekilat terlihat sebuah meja makan yang panjang. Sedangkan sisi kanan merupakan bar. Aroma minuman keras tercium dari ruangan tersebut.


Tidak ingin melihat tamunya terlalu lama berdiri karena kebingungan, pelayan setengah baya itu mulai bertanya. "Di sebelah kiri adalah ruang makan sedangkan di sebelah kanan adalah bar. Ruang mana yang ingin anda tuju terlebih dahulu, Tuan?"


*** skip ***


Pemuda itu mengambil jatah makanannya, lalu berbalik dan mencari tempat duduk kosong. Matanya menangkap satu sela di dekat jendela yang mungkin bisa diisi dua orang. Nigel langsung menghampirinya dan duduk di sana.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, wanita yang ditunggu pun tiba. Ia mengambil jatah makananya yang sudah disiapkan, berupa semangkuk sup. Setelah itu, matanya menyisiri ruangan untuk mencari teman seperjalannya. Ia melihat Nigel duduk sendiri di antara dua wanita gendut namun kaya. Terlihat jelas dari banyaknya perhiasan di tubuh mereka. Diana segera menghampiri temannya itu.


"Selamat pagi," ujar Diana dan langsung duduk di sebelah Nigel.


"Selamat pagi," jawab pemuda itu.


"Kemana tujuan kita sekarang?" tanya Diana.


Nigel mengambil gulungan peta dan membentangkannya. Ia melihat sisi utara penginapan. "Kota Whirlwind. Kita akan membeli perlengkapan perjalanan di sana."


"Kau benar. Aku merasa bodoh karena melupakan peralatan-peralatan untuk perjalanan jauh."

__ADS_1


Nigel tertawa kecil mendegar ucapan Diana tersebut.


To be continue...


__ADS_2