Sapientie

Sapientie
Capter 30


__ADS_3

Sambaran petir menghantam tubuh Nigel dengan keras. Gempuran kuat yang sangat mematikan. Pemuda itu terpental hebat dan jatuh di gubuk lusuh milik Sergot.


"Sial ...," gerutu Nigel.


Tidak sengaja matanya melihat setungku cairan merah yang Nigel sendiri tidak tahu cairan apa itu. Pemuda itu mengambil tungku tersebut dan menemukan sebuah ide menarik. Ia akan menggunakan cairan ini di sekujur tubuh sehingga terlihat seperti sekarat. Lalu menikam salam satu witch saat mereka lengah.


Tapi, belum sempat ia melakukan apa yang ia rencanakan, sambaran petir yang kedua melesat dengan cepat. Daya serang sambaran petir ini sangat dahsyat, jauh lebih kuat dari sebelumnya. Jika terkena serangan ini, dipastikan siapa pun akan mati. Nigel terpaksa melempar tungku tadi sehingga serangan Magora menghantam tungku tersebut. Dan Nigel, ia kembali terpental ke belakang akibat daya ledak serangan tersebut. Gubuk seketika hancur menjadi serpihan kayu, berhamburan dan melayang di udara. Cairan merah tadi terciprat berhamburan, rencana Nigel gagal.

__ADS_1


Tapi, kebetulan lain menyelamatkan hidupnya. Dengan tercipratnya cairan merah kental tadi, membuat para witch menyangka kalau itu adalah darahnya. Dan mereka menganggap buruan mereka sudah mati.


Nigel menyelinap dengan perlahan lalu bergegas pergi dari tempat itu.


Hatinya merasa sedikit berat saat melangkah. Alasannya sederhana yaitu kalung yang dikenakan Magora, pemimpin para witch. Bandul pada kalung itu berupa kristal kaca biasa yang diikat dengan kawat emas sehingga terlihat memesona. Nigel tahu betul kalung itu, dulu ia sempat melihatnya dari seseorang yang pernah dekat dengannya.


Pancaran listri melesat dari arah sarang para nenek, menyerang burung-burung di atas mereka. Dari balik pohon cemara, Nigel mengintip peperangan antar dua ras tersebut.

__ADS_1


Seekor burung menukik turun dan akan menerkam Gorgo, namun Gora melecutkan cambuk petir membuat burung itu membatalkan serangannya. Bukan hanya satu burung, beberapa burung melakukan hal yang sama. Mereka menerkam Gora dari tiga arah berbeda. Satu burung berhasil di tumbangkan Magora, namun tidak dua lainnya. Kedua burung itu menerkam Gora dan membawanya ke udara. Dalam beberapa saat, tubuh witch itu kembali terjatuh namun dalam bentuk potongan.


Gorgo tampak ketakutan, ia mencoba melarikan diri. Tapi, seekor burung ekor pelangi melesat dan menerkam nenek tua itu dari belakang dengan cakarnya yang sudah dipersenjatai dengan cakar logam. Burung itu mengangkat sasarannya ke udara. Burung itu menancapkan tubuh Gorgo ke sebuah tunggul di atas salah satu dari tiga pohon cemara raksasa hingga tembus ke belakang. Gorgo tewas di sana.


Magora sangat marah, empat temannya mati satu persatu. Sekarang ia sendirian, dikepung oleh puluhan burung ekor pelangi. Tapi, bukan berarti kesedihannya mengalihkannya dari rasa dendam. Ia jadikan amarah yang membara di tubuhnya sebagai tambahan semangat untuk melawan balik. Dari tubuhnya tersebut, percikan listri mengalir dan bergejolak kejam. Dengan hentakan energi dari dalam tubuh, gelombang listrik membentuk perisai kubah dan mengahantam semua burung ekor pelangi. Tubuh burung yang hangus, yang terkena gelombang listri, mulai berjatuhan. Mereka tidak mati namun, tubuh mereka tidak bisa digerakkan.


TBC ....

__ADS_1


__ADS_2