
Dua anak muda tampak terlelap dibawah atap sederhana yang dibuat dari daun yang mengering. Dinginnya udara malam itu membuat tidur mereka terasa lebih nikmat dan menambah kenyenyakan. Tapi, salah satunya tidak sengaja menangkap suara getaran di tanah. Matanya terbuka dengan spontan dan kembali memastikan suara getaran tersebut. Ia menempelakan telinganya ke tanah. Itu bukan ilusi, gataran kembali terdengan namun terasa masih sangat jauh. Dengan cepat ia berangkat dan membangunkan temannya.
"Diana ... Diana bangunlah!" panggil Nigel sambil menggoyang-goyang tubuh wanita itu.
Karena tidur nyenyakkanya terganggu, Diana membuka matanya. "Ada apa?"
"Sepertinya ada yang mendekat," ujar Nigel serius.
Diana segera berangkat dan segera mempersiapkan semua barang-barangnya. Ia mengambil semua daging asapnya, lalu di letakkan di kain dan diikat. Sedangkan Nigel, ia segara memakai doublet-nya – yang robek di punggung – dan segera keluar tenda. Disusul Diana di belakangnya.
__ADS_1
Di hadapan mereka sekarang adalah hutan belantara yang gelap. Pancaran bulan separuh malam itu membuat nuansa terasa kelam.
"Nigel, jangan lupakan pedangmu," saut Diana seraya memberikan pedang pada pemuda itu. "Benda itu terlalu berat untukku."
Pedang yang Nigel rampas dari Jonah itu terbalut dengan kain kulit. Kemungkinan sarung pedang ini Diana buat dari pelana kuda yang mana hewan itu sekarang sudah menjadi daging asap.
"Ayo kita pergi!" seru Nigel. Mereka berlari melewati sisi kanan. Menelusuri dasar dinding jurang yang gelap.
Nigel menghantikan langkahnya, berbalik dan masuk ke dalam celah sempit itu. Pemuda itu merasa sedikit aneh dengan celah di dinding tebing ini. Seakan dibuat pas dengan tubuh manusia.
__ADS_1
Karena gelap, mereka berjalan sambil meraba-raba dinding celah. Tekstur kasar bebatuan dan tanah dirasakan di ujung tangan. Hingga, tidak sengaja Diana menyentuh tanah yang agak enonjol. Ia tekan tonjolan tersebut, dan detik itu juga, suara jeritan terdengar di sepanjang lorong celah. Nigel dan Diana terperosok ke dalam lobang.
Kedua anak muda itu meluncur deras pada dinding, terperosot semakin ke dalam. Hingga, mereka jatuh di suatu tempat yang misterius. Kegelapan pada tempat itu memberikan kesan seakan ada makhluk lain yang sedang melihat mereka. Yang mereka tahu, tanah yang mereka pijaki sangat keras. Mungkin lempengan batu.
Tanpa menunda, Nigel segera mengucapkan mantra, "Dur-Haos." Ujung jari telunjuk Nigel bercahaya, lalu ia sentilkan cahaya itu ke udara. Cahaya terlepas membentuk bola kecil. Bala cahaya itu membesar dan semakin membesar hingga seukuran kepala manusia dan melayang ke atas.
Nigel dan Diana cukup tercengang dengan apa yang mereka lihat. Sebuah ruangan besar dan megah. Langit-langitnya mungkin setinggi dua meter. Empat pilar raksasa menunjang langit-langit ruangan tersebut. Lantai yang mereka pijak bukan batu biasa. Tapi sebuah ubin yang tidak alus, lebih seperti batu granit yang di potong dengan ukuran lebar. Ruangan ini lebih seperti peninggalan jaman kuno.
Tidak ada apa-apa di ruangan luas itu, kosong dan berdebu. Nigel dan Diana mulai melangkah menelusuri ruangan. Mereka sangat penasaran di mana mereka sekarang berada. Jika diingat lokasinya, tempat ini berada di bawah kaki Pegunungan Alram.
__ADS_1
Nigel mengendalikan bola cahayanya untuk menerangi beberapa tempat. Di sebrang ruangan, terdapat sebuah pintu yang terbuat dari batu. Ukurannya pun sangat besar dengan ketinggian yang sama dengan ruangan.
TBC...