
Jam dinding telah menunjukkan angka 21.00 malam. Seorang wanita terlihat mematut didepan cermin. Tubuhnya dalam balutan mini dress hitam bermodel kemben. Rambut panjangnya yang biasanya terurai ia ikat ekor kuda, memperlihatkan leher jenjangnya.
Saat dirasa tidak ada yang kurang pada penampilannya, wanita itu melenggang keluar meninggalkan kamarnya. dari ujung tangga dia melihat tiga orang yang sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Sica, kau mau pergi ke mana dengan pakaian seminim itu?" tegur Tuan David menghentikan langkah putrinya.
"Tentu saja clubbing, apa lagi? Teman-temanku sudah menunggu, aku pergi dulu!!" ucap Jessica dan pergi begitu saja.
Rachel langsung naik pitam. "David, lihat kelakuan putrimu itu!! Sampai kapan kau akan membiarkannya, apa menurutmu pantas seorang gadis kelayapan tidak jelas malam-malam begini lalu pulang hingga menjelang pagi?!"
Davina mengangguk. "Benar sekali, Pa. Apa yang Mama katakan. Setiap hari dia pergi dan pulang hingga larut malam. Papa, harus melakukan sesuatu. Jangan sampai nama baik keluarga kita hancur karena dia!!" Ucap Davina.
Davina dan Rachel ingin agar David mengusir Jessica keluar dari rumah ini. Karena jika dia masih tetap berada di rumah ini, maka keinginan mereka berdua untuk menguasai semua harta miliknya akan gagal total.
"Benar-benar itu anak. Kalau begitu aku akan berikan peringatan keras padanya!!" ucap Tuan David dengan emosi.
Davina dan Rachel saling bertukar pandang dan tersenyum. Baik Rachel maupun Davina tentu saja tidak ada yang mau rugi, percuma saja Rachel menikahi pria kaya jika tidak bisa mendapatkan seluruh hartanya. meskipun dia tahu jika seluruh harta yang dia nikmati saat ini adalah milik Putri tirinya.
-
-
__ADS_1
Dimalam yang gelap dan sunyi, beberapa wanita berpakaian miniim dan ***** terlihat memasuki sebuah klub malam yang terletak di jantung kota Seoul. Setelah menunjukkan identitas masing-masing, mereka pun diijinkan masuk oleh dua penjaga yang berjaga di depan pintu.
Hingar-bingar lampu warna-warni menyinari di seluruh penjuru ruangan yang didominasi oleh warna merah, biru dan hijau. Musik yang mengalun seolah-olah mengajak semua yang berada di sana untuk menari di tengah lantai dansa.
Semua orang yang datang ke sini berniat untuk menghilangkan penatnya setelah seharian menghabiskan waktu untuk bekerja. Begitu pula dengan mereka berempat, mereka datang ke klub malam untuk mencari hiburan.
Mereka berjalan menuju bar stool untuk memesan minuman. Seorang bartender segera menyiapkan minuman untuk mereka berempat, diantaranya wiine, cocktaill dan tequillaa. Dan semua minuman jenis itu tentu mengandung alkoho*.
"Chen, buatkan aku yang seperti biasa!!" kedatangan seorang laki-laki yang suaranya terdengar begitu familiar menyita perhatian salah satu dari keempat wanita itu. Sontak ia pun menoleh pada asal suara dan matanya langsung bersirobok dengan mata milik laki-laki itu.
Meskipun hanya sekilas saja, keterkejutan terlihat di mata hitam lelaki itu. Ekspresi wajahnya kembali dingin detik berikutnya, membuat rasa tak nyaman seketika merayapi perasaan si wanita dalam balutan dress hitam bermodel kemben tersebut.
Jessica menggeleng. "Tidak ada, mana minumanku?" kemudian dia menyambar tequillaa miliknya yang ada di atas meja dan meneguknya dengan sekali tegukan.
"Bos, aku lihat wanita yang selalu menemanimu malam ini datang kemari. Apa kau tidak ingin menghabiskan malam panjangmu bersamanya?" tanya si bartender pada pria di depannya yang tak lain dan tak bukan adalah Luhan.
"Hn,"
"Ah, baiklah. Aku tidak akan bicara lagi!!"
Kata 'Hn' yang Luhan katakan seolah menjadi isyarat agar Chen tak banyak bicara lagi. Bukan karena dia takut kebiasaan buruknya di ketahui oleh Jessica. Tetapi karena Luhan sedang malas berbicara. Kali ini mereka berdua bertemu dan keduanya bersikap acuh seolah-olah tak saling mengenal.
__ADS_1
"Jess!! Aku dan Tania turun dulu ya, rugi kalau datang kemari tapi tidak melakukan kegilaan dibawa sana." Ucap Jia sambil menunjuk lautan manusia yang berada di lantai satu. Jia dan Tania pun meninggalkan Jessica sendiri di Bar Stool, karena satu temannya lagi sudah pergi entah kemana.
Seorang pria tiba-tiba saja menghampiri Jessica sambil membawa minuman di tangan kirinya, kemudian duduk di sampingnya. Dan kedatangan pria itu disambut dingin olehnya. "Nona, kau hanya sendirian saja? Bagaimana jika aku menemanimu?!" tanya pria itu dengan nada menggoda.
"Pergilah, Aku ingin sendiri dan tidak ingin diganggu!!" Jessica sambil menatap pria itu dengan sinis.
"Cih!! Dasar sombong. Wanit* murahan sepertimu sebaiknya jangan sok jual mahal, bagus ada yang mau denganmu!!"
Jessica menutup matanya dan mengepalkan tangannya. Emosinya sudah sampai di ubun-ubun, wanita itu berbalik dan.. 'BUAKK' tubuh pria itu tersungkur di lantai setelah mendapatkan satu bogem mentah yang mendarat mulus pada wajahnya. Dan apa yang jadi kau lakukan tentu saja mengejutkan semua orang, termasuk sosok tampan yang duduk di sebelahnya.
"Dengar ya, Bung!! Jangan hanya karena aku berpakaian minim dan berada di tempat terkutu* seperti ini, maka kau bisa menyebutku dengan seenak jidatmu. Tidak semua hal bisa kau lihat dari casing luarnya saja, paham!!" bentak Jessica penuh emosi.
Pria itu pun langsung bungkam seketika, dia telah salah mencari masalah dengan seseorang. Karena ternyata perempuan yang dia goda bukanlah orang sembarangan yang bisa disentuh dengan sesuka hati.
Dan sementara itu. Pria yang duduk disebelah Jessica diam-diam menarik sudut bibirnya. Sebenarnya dia tadi merasa cemas, tapi setelah melihat apa yang Jessica lakukan ia kini merasa lega.
-
-
Bersambung.
__ADS_1