Satu Malam Bersama Pria Asing

Satu Malam Bersama Pria Asing
Malam Itu


__ADS_3

"Iya-iya, sebentar. Aku masih dijalan dan sebentar lagi sampai."


Rasanya Jessica ingin sekali mengutuk sahabat mungilnya itu karena kebiasaan menyebalkannya. Penyakit memaksanya lagi-lagi kambuh dan itu membuatnya kesal setengah mati.


Saat ini Jessica sedang dalam perjalanan menuju cafe tempat dia dan sahabatnya itu berkumpul. Dan entah acara apa lagi yang Jia adakan kali ini.


Dua puluh menit berkendara, Jessica tiba di tempat tujuan. Mobil milik Jia sudah terparkir di halaman cafe begitu pula dengan mobil Devan dan beberapa teman yang lain. Diantara mobil-mobil yang terparkir di halaman cafe, ada satu mobil yang seketika menarik semua atensinya.


"Tunggu dulu, bukankah ini adalah mobil si mesu* itu, sedang apa pula dia disini? Amit-amit tujuh turunan Jangan sampai aku bertemu dengannya disini!!" Ucap Jessica sambil mengetok kening dan pusarnya bergantian.


Kemudian Jessica melanjutkan langkahnya dan melenggang masuk ke dalam. Terlihat Jia melambaikan tangan padanya. "Sica, disini!!" Seru Jia dan menyita perhatian banyak pasang mata. Termasuk seorang laki-laki dalam balutan pakaian serba hitam yang duduk tak jauh dari meja Jia dan teman-temannya.


Lelaki itu terus memperhatikan Jessica, dan tatapan tak suka jelas sekali terlihat dari biner matanya ketika melihat gadis itu tersenyum manis pada pria lain yang tak lain dan tak bukan adalah Devan.


Orang itu yang pastinya adalah Luhan bangkit dari kursinya dan menghampiri Jessica dan teman-temannya. "Halo Nona-Nona, boleh aku bergabung disini?" Dan kedatangannya mengejutkan Jessica.


"Kau~!!"


Luhan tersenyum dingin. "Kau ingin pergi keluar kenapa tidak memberitahuku, aku kan bisa mengantarmu." Dia membelai pipi Jessica dengan lembut.


Jessica menyentak tangan Luhan dari wajahnya dan menatapnya tajam. Baru saja Jessica ingin bicara, bibirnya lebih dulu diserobot olehnya. Dengan lirih kemudian dia berbisik ditelinga gadis itu.

__ADS_1


"Jangan macam-macam apalagi membuatku marah, atau teman-temanmu yang akan menanggung akibatnya?!"


Sontak Jessica mengangkat wajahnya dan menatap lelaki itu dengan tajam. Seringai terlihat dibibir kiss able itu. "Jangan macam-macam kau!!" Geram Jessica dengan nada rendah.


"Untuk itu jangan coba-coba membuatku kesal dan marah!!" Bisik Luhan.


Tangan Jessica semakin terkepal kuat, dia tidak tau kenapa bisa berurusan dengan iblis seperti dia. Dan Jessica sangat menyesali pertemuannya dengan pria berdarah China satu ini.


"Jess, siapa lelaki tampan itu? Punya kekasih kekasih yang sangat tampan tidak pernah memperkenalkannya padaku?" Jia bangkit dari duduknya lalu menggoda Jessica. Dia merangkul bahu sahabatnya itu.


"Aku dan dia~"


Ingin sekali rasanya dia menjambak dan mencakar mukanya yang sok kegantengan itu. Ya meskipun sebenarnya Luhan memang sangat tampan dan Jessica tak bisa memungkirinya. Tetapi ketampanannya itu tertutupi oleh sikap menyebalkan yang dia miliki.


Tiba-tiba Devan berdiri kemudian menarik Jessica menjauh dari Luhan. "Dia terlihat tak nyaman denganmu dan kedatanganmu membuatnya tertekan, sebaiknya jauhi dia!!"


Luhan menatap Devan dengan sinis. "Memangnya apa hakmu melarangku untuk mendekatinya. Kau bukan siapa-siapa, jadi jangan pernah mengaturku. Dan kau, tetap disini atau ikut pulang bersamaku?" Tanya Luhan sambil menatap langsung ke dalam manik Hazel gadis itu.


Melihat tatapan dingin Luhan membuat Jessica merinding sendiri. Dia melepaskan genggaman tangan Devan kemudian menghampiri Luhan. "Aku akan ikut pulang bersamamu."


"Sica!!"

__ADS_1


Luhan tersenyum lebar. "Aku tau kau tidak akan mengecewakanku, Sayang. Ayo kita pergi. Dan untuk kalian semua, pesan makanan dan minuman apapun yang kalian suka. Biar aku yang membayarnya." Luhan merangkul bahu Jessica dan membawanya pergi meninggalkan cafe.


.


.


Jessica segera menyentak tangan Luhan setibanya mereka diluar cafe. Tatapan tajam dia berikan pada lelaki tersebut. "Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Aku tidak tau kesalahan apa yang telah aku perbuat dimasa lalu sampai-sampai harus berurusan dengan manusia menyebalkan sepertimu!!"


"Jangan mengeluh. Karena pertemuan kita adalah takdir yang telah direncanakan oleh Tuhan untuk kita. Dan kejadian malam itu, aku rasa bukan kebetulan semata tetapi karena takdir juga."


Jessica mengangkat wajahnya dan menatap Luhan penuh tanya. "Maksudmu apa?!" Dia menatap lelaki itu penuh tanya.


"Aku yakin kau tidaklah amnesia sampai-sampai melupakan malam panjang yang telah kita lewati malam itu, aku adalah orang yang kau serang secara tiba-tiba malam itu!!"


Sontak kedua mata Jessica membelalak sempurna mendengar apa yang Luhan katakan. "Apa?! Jadi kaulah orang gila yang telah merenggut keper*wananku malam itu?!"


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2