Satu Malam Bersama Pria Asing

Satu Malam Bersama Pria Asing
Aku Hamil!!


__ADS_3

Keheningan menyelimuti kebersamaan Devan dan Luhan. Sudah satu jam berlalu namun tak ada pembicaraan lagi di antara mereka berdua setelah obrolan singkat tadi, Devan benar-benar tak berkutik di depan Luhan. Dia bingung bagaimana harus memulai pembicaraan dengan saudara kembarnya itu.


Andaikan saja mereka berdua tidak pernah terpisah, mungkin tak ada kecanggungan yang berlebihan seperti ini. Tetapi mereka bertemu setelah puluhan tahun terpisah, jadi rasanya seperti ada sekat yang menjadi dinding pemisah di antara mereka.


Sesekali Devan menatap pria yang duduk berhadapan dengannya itu. Sedari tadi Luhan sibuk dengan ponselnya, dia seperti sedang berkirim pesan dengan seseorang, beberapa kali juga dia menerima panggilan masuk. Dia terlihat sangat sibuk.


"Em, kenapa mereka bertiga lama sekali ya?" ucap Devan memecah keheningan. Membuat perhatian Luhan teralihkan padanya.


Pria dingin itu menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu, tapi Bukankah wanita jika berbelanja memang selalu lama?"


Devan mengangguk, membenarkan apa yang Luhan katakan. "Ya, kau benar. Mereka memang tidak pernah ingat waktu jika sudah urusan berbelanja. Kau ingin meminum sesuatu? Mau aku buatkan, atau aku ambilkan minuman dingin bersoda?" usul Devan.


"Wine, apa kau memilikinya di rumah?"


Devan menggeleng. "Aku dan Mia Nunna tidak bisa minum, minuman beralkohol. Jadi kami tidak memiliki stok sama sekali." ucapnya menimpali. Dan Luhan hanya menganggukkan kepala.


Diam terlalu lama seperti ini sebenarnya membuat Luhan sangat bosan. Sebenarnya hari ini dia ada urusan penting, tapi hal itu kesampingkan hanya untuk menuruti kemauan kakaknya. Mia ingin merayakan pertemuan mereka setelah puluhan tahun berpisah.


Dan perhatian mereka berdua teralihkan oleh suara dari mobil yang memasuki halaman. Devan yakin itu mereka bertiga.


Dan dia merasa lega karena bisa keluar dari suasana yang tak nyaman seperti ini.


Pria itu bangkit dari duduknya ketika melihat Mia, Jessica dan Jia. Kemudian Devan membantu ketiga perempuan itu untuk membawakan belanjaan mereka ke dalam. Berbeda dengan Jia yang ikut Mia ke dapur, Jessica justru menghampiri Luhan kemudian duduk di samping pria itu.

__ADS_1


"Kau tidak membantu mereka?" tanya Luhan. Jessica menggeleng. Pria itu memicingkan matanya. "Kenapa?" dia bertanya dengan penasaran.


"Aku ini sangat payah dalam urusan masak-masak, dapur Mia Eonni bisa hancur berantakan jika aku juga ikut turun tangan!! Jadi lebih baik aku menunggu saja disini," jawabnya menimpali.


Jessica memang sangat payah dalam urusan masak memasak. Sejak kecil dia tidak pernah menginjakkan kakinya di dapur, dia selalu di layani. Jadi wajar bila Jessica sangat payah dalam urusan memasak.


"Kenapa kau memasang muka menyebalkan seperti itu? Oh jangan bilang jika kau merasa tidak nyaman disini? bersabarlah sebentar lagi, setelah makan malam kita langsung pulang," ucap Jessica seolah-olah mengerti apa yang Luhan pikirkan.


Sedikit banyak Jessica mulai memahami suaminya. Luhan bukanlah tipe pria yang langsung nyaman berada di lingkungan baru, untuk menyesuaikan diri saja itu perlu waktu.


"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu mencemaskan apapun, sebaiknya pergi ke dapur dan bantu mereka semampu yang kau bisa." pinta Luhan.


meskipun hubungan mereka terjalin atas paksaan Luhan. Tetapi sedikit banyak Jessica mulai menerimanya, apalagi Luhan yang telah mempertemukan dia dengan ibunya. meskipun pertemuan mereka sangat singkat, tetapi Jessica memiliki hutang Budi padanya. Dan dia sangat berterima kasih.


.


.


Obrolan didominasi oleh Jessica, Devan, Mia dan Jia. Sementara Luhan lebih banyak diam, dia hanya berbicara ketika ditanya saja.


Bukan karena Luhan sombong ataupun tidak menghargai kedua Kakaknya, tetapi dia bukanlah tipe pria yang banyak bicara. Seperti kebanyakan pria di luaran sana.


Dan disaat mereka sedang asyik mengobrol. Tiba-tiba Jessica merasakan mual yang luar biasa, tanpa menghiraukan semua orang yang ada di meja makan, ia berlari ke kamar mandi. Luhan pun tak tinggal diam, dia segera mengejar Jessica.

__ADS_1


"Hoek, Hoek, Hoek...!!"


Di dalam sana Jessica menumpahkan semua makanan yang masuk ke perutnya. Luhan yang berada di luar, terus menggedor pintu sambil berteriak meminta supaya Jessica membuka pintunya.


"Sica, apa yang terjadi padamu? Kau baik-baik saja kan, cepat buka pintunya!!" pinta Tuhan menuntut.


Devan datang bersama Mia dan Jia. Dan Devan menyarankan agar Luhan mendobrak saja pintunya. Dan ketika Luhan hendak mendobrak pintu itu, Jessica tiba-tiba muncul dengan wajah yang sedikit pucat.


"Sica, kau kenapa?" tanya Luhan. Raut wajahnya menunjukkan kecemasan yang berlebihan.


Wanita itu menggeleng. "Aku tidak apa-apa, itu karena kehidupan yang ada di dalam perutku saat ini," ucapnya dan membuat Luhan memicingkan mata.


"Maksudmu?" iya menatap Jessica pernikahannya.


"Omo!! Sica, kau hamil?!" seru Devan yang langsung paham dengan ucapan Jessica.


Wanita itu menganggukkan kepala. Lalu pandangannya bergulir pada Luhan. "Sica, kau benar-benar hamil?!" tanya Luhan memastikan.


Jessica mengangguk. "Ya, Lu. Aku hamil!!"


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2