
Disiang hari yang lumayan terik. Seorang pria terlihat berendam di sebuah kolam renang yang terletak di bagian tengah Mansion mewahnya sambil menikmati segelas wine.
Kolam renang itu dikelilingi oleh bangunan bertingkat super megah dan mewah.
Derap langkah kaki seseorang yang datang sedikit mengalihkan perhatiannya. Pria itu menoleh sekilas kebelakang. Seorang pria berwajah kebarat-baratan berjalan menghampirinya.
"Kau mengganggu waktu santaiku, Kris!!" ucap pria itu, Luhan."
"Sopan sedikit, Xiao Luhan!! Begini-begini usiaku tiga tahun lebih tua darimu!!" Ucap Kris, dia melayangkan protesnya pada Luhan karena tidak terima dipanggil nama tanpa embel-embel kakak. "Pantas saja aku mencarimu di dalam tidak ada, ternyata kau ada di sini," lanjutnya.
Luhan menoleh pada pelayan yang sedari tadi berdiri di dekat kolam. "Kau pergilah dulu," pelayan itu membungkuk kemudian dia melenggang pergi. Menyisakan Kris dan Luhan.
Kris menyerahkan handuk kimono pada Luhan ketika pria itu keluar dari kolam. "Ada apa kau datang kemari? Jangan bilang jika kau datang untuk mendapatkan uang dengan dalih mengantarkan boneka rosokan itu padaku?!" tebak Luhan 100% benar.
Kris menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Luhan selalu bisa membaca maksud kedatangannya. "Aku sedang butuh uang, usahaku mengalami masalah hingga aku rugi besar. Dan aku terancam dipenjarakan jika tidak bisa memberikan ganti rugi." Jelas Kris.
"Memangnya berapa yang kau butuhkan?" Luhan menatap Kris sambil menikmati wine-nya.
"Tidak banyak, hanya satu milyar won." Jawab Kris dengan entengnya. Jelas-jelas satu milyar won bukanlah jumlah yang sedikit.
"Bukan masalah, tapi dengan satu syarat. Berhenti membawa boneka-boneka rongsokan itu padaku, karena aku tidak membutuhkan mereka lagi!! Dan uang itu, kau harus mengembalikannya dalam tempo satu bulan, aku tidak akan memberimu bunga. Dan jika sampai satu bulan kau tidak bisa mengembalikan semuanya, siap-siap untuk menjadi Gigol* ditempat hiburan milikku!!"
"Kau gila?!" Sontak kedua mata Kris membulat sempurna mendengar syarat yang Luhan berikan. Jika hanya untuk berhenti membawakanmu mainan baru, aku sih tidak masalah. Tapi kau meminta uang itu kembali dalam satu bulan, itu mustahil!! Setidaknya beri aku waktu dua bulan, dan jangan coba-coba menyeretku yang masih suci ini untuk bergabung di dunia laknat milikmu!!"
__ADS_1
Luhan hanya memutar mata jengah mendengar apa yang Kris katakan. Dia mengatakan masih suci, dan itu adalah omong kosong. Luhan mengenal Kris dengan sangat baik, lebih baik dari siapapun malah.
"Terserah, kau setuju atau tidak dengan syarat yang aku ajukan. Jika tidak, cari saja pinjaman ditempat lain!!" ucapnya dan pergi begitu saja.
"Xiao Luhan!! Kau benar-benar Iblis!!"
.
.
Jessica menyeruput ice tea-nya. Cuaca hari ini sangat terik dan dia membutuhkan minuman yang segar.
Saat ini Jessica sedang berada di sebuah cafe yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Di rumah terlalu lama membuatnya bosan dan muak.
Ting..
Jessica mendengus, ternyata kebiasaan ayahnya sampai sekarang tidak hilang juga. Ya, paruh baya itu adalah ayahnya.
Dia memiliki kebiasaan buruk yang tak pernah hilang sampai sekarang, yakni mengkoleksi gadis muda sebagai simpanannya.
Tak mau ambil pusing. Jessica pun melanjutkan menikmati harinya di cafe ini. Dia bersikap dingin dan acuh seolah-olah tak mengenali ayahnya.
Disaat Jessica sedang asik menikmati kesendiriannya. Seseorang tiba-tiba datang menghampiri mejanya. Namun wanita itu tetap tidak peduli dan terlalu asik dengan dunianya sendiri.
__ADS_1
Orang itu memegang kepala Jessica lalu menuntunnya untuk menoleh padanya.
"Luhan?!" wanita itu pun terkejut. "Kenapa bisa tiba-tiba aku ada disini?"
"Hm, hanya sekedar lewat saja dan kebetulan melihatmu duduk sendirian di keramaian dan itu membuatku tidak tega."
Jessica mempoutkan bibirnya. "Dasar menyebalkan!! Jika kau kemari hanya untuk mencibirku saja, sebaiknya pergi saja sana!!" tanpa peduli siapa pria yang ada di depannya ini, dengan lantang dia mengusirnya.
Bukannya kesel apalagi marah karena Jessica telah mengusirnya, Luhan justru mengukir senyum tipis dibibir kiss-ablenya. Dia akui bila Jessica benar-benar hebat, karena baru kali ini ada orang yang berani mengusir pergi seorang Xiao Luhan.
"Jika aku menolak untuk pergi bagaimana? Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Luhan sembari mengambil minuman Jessica lalu meminumnya.
"Yakk!! Itu minumanku!!" pekik Jessica sambil menunjuk minumannya yang sudah berpindah tangan. Dan teriakannya itu tentu saja menyita perhatian semua orang yang ada di cafe. Dan lagi-lagi Jessica tidak peduli."Kau sangat menyebalkan!! Jelas-jelas itu adalah minumanku!! Tapi kenapa dengan seenak jidat malah kau habiskan?! Padahal aku baru meminumnya sedikit!!" wanita itu menghela napas.
"Akan aku pesankan yang baru!!"
"Sudah tidak berselera lagi!!" Jessica bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja. Tak lupa dia meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja untuk membayar minumannya.
Niatnya datang ke cafe untuk mencari hiburan karena beberapa hari ini moodnya selalu buruk. Tapi sial tak bisa terhindarkan, dia malah bertemu dengan Luhan, si manusia paling menyebalkan dan mengesalkan yang pernah Jessica kenal dan temui dalam hidupnya.
Sementara itu. Meskipun tau ada putrinya di cafe yang sama dengannya. Tetapi Tuan Xia tak ada keinginan untuk menegur apalagi memanggilnya. Ayah satu anak itu tak mau kehilangan muka di depan teman kencannya.
.
__ADS_1
.
Bersambung.