
"Sica,"
Wanita Itu menoleh setelah mendengar seseorang memanggil namanya. Suaranya begitu familiar, hingga Jessica tak yakin jika yang memanggilnya adalah orang yang selama ini ia rindukan.
"Mama," Tubuh Jessica menegang setelah melihat siapa yang memanggilnya. Kedua mata Jessica tampak berkaca-kaca, melihat orang yang sangat dia rindukan berdiri di hadapannya dalam keadaan baik-baik saja.
Jessica menyukai air matanya dan ia pun berlari menghampiri ivanka lalu memeluknya dengan erat. Tubuh Ivanka terguyung ke belakang karena terjangan jessica yang tiba-tiba. Kemudian keduanya saling berpelukan untuk melepaskan rindu.
"Sica, Mama sangat merindukan." ucap Ivanka dengan suara serak, menahan air matanya.
"Aku juga merindukan, Mama." Jawab Jessica sambil mengeratkan pelukannya. Seolah-olah takut jika Ibunya akan menghilang lagi jika pelukannya tidak erat. "Mama kemana saja selama ini? Kenapa Mama menghilang, jika Mama baik-baik saja lalu kenapa tidak pernah datang menemuiku? Aku sangat merindukan, Mama."
Air mata Jessica tak terbendung lagi setelah ia mengungkapkan apa yang ia rasakan selama ini.
Jessica frustasi hingga hampir gila saat mengetahui jika ibunya menghilang saat akan dilarikan ke rumah sakit jiwa.
Tak ada yang mengetahui kemana Wanita itu pergi, termasuk orang-orang yang membawanya ke sana. Hingga Jessica berpikir jika ibunya telah tiada karena dihabisi dengan sengaja saat dalam perjalanan menuju rumah sakit jiw*.
Ivanka melepaskan pelukannya lalu menatap wajah putrinya dengan Sendu. Ia mengangkat kedua tangannya dan jari-jarinya menghapus air mata di wajah Jessica.
"Ceritanya sangat panjang, Mama pasti akan menceritakannya padamu." Ucap Ivanka sambil mengunci mata Hazel Jessica.
Jessica menggenggam tangan ibunya tanpa melepaskan kontak mata di antara mereka. "Lalu bagaimana Mama bisa tahu jika aku ada di sini?" wanita itu menatap ibunya dengan penasaran.
"Karena Mama mengenal baik pemilik rumah ini, dialah orang yang telah membantu Mama selama ini. Melepaskan Mama dari jeratan mereka, dan melindungi Mama hingga sembuh. Dan mama pula yang meminta Luhan, untuk melindungimu selama ini. Kalaulah satu-satunya alasan kenapa dia mau berhubungan dengan keluarga Valentino!!" Ujar Nyonya Ivanka panjang lebar.
"Luhan?" Nyonya Ivanka mengangguk. "Jadi yang menolong Mama adalah iblis itu?!"
"Jaga bicaramu, Sica!! Luhan tidaklah seburuk yang kau kira, dia adalah orang baik meskipun terkadang sifatnya seperti iblis. Karena jika tanpa bantuannya, mungkin saat ini mama sudah tidak ada di dunia ini." Ujar Nyonya Ivanka.
"Aku tidak peduli bagaimana Mama bisa selamat, tapi aku sangat lega karena Mama baik-baik saja." Ucap Jessica dengan suara serak seperti menahan isakan.
Sekali lagi iya memeluk ibunya seperti tadi. Memeluknya dengan erat, dan tak mau melepaskannya. Karena Jessica tak ingin kehilangan dia lagi untuk kedua kalinya.
Jika memang Luhan yang telah menyelamatkan ibunya, maka Jessica akan berterima kasih padanya. Dia tidak akan menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih, itu artinya Jessica telah berhutang budi dan nyawa pada Luhan.
.
.
Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian Luhan yang sedang menikmati minumannya. Dia hanya melirik sekilas pada wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya. Dan siapa lagi jika bukan Jessica.
__ADS_1
Luhan tak memberikan respon apapun ketika wanita itu berjalan menghampirinya. Ia hanya menatapnya sekilas dan kembali pada minumannya.
"Jika kau datang untuk berterima kasih, maka lupakan saja. Bukankah di matamu aku ini adalah orang yang buruk," Luhan mengangkat wajahnya dan menatap Jessica dengan dingin.
"Aku beranggapan seperti Itu karena kau selalu bersikap seenak jidat, Selalu ingin menang sendiri dan tidak mau disalahkan!! Kau itu manusia paling menyebalkan yang hidup di dunia ini!!"
Luhan mendengus. Niatnya untuk bersikap dingin pada Jessica malah ambyar, wanita itu benar-benar memiliki cara untuk meruntuhkan dirinya.
Awalnya Luhan ingin membuat Jessica mengerti dan sadar, tetapi malah dirinya yang dibuat geli sendiri oleh tingkahnya.
Luhan bangkit dari kursinya lalu menghampiri Jessica yang masih saja mengoceh tidak jelas. Tanpa banyak basa-basi Luhan menarik tengkuknya lalu mencium bibir tipisnya, dan membuat wanita itu diam seketika.
Awalnya Jessica sangat terkejut dengan apa yang telah Luhan lakukan. Namun ia mulai menerima ciuman tersebut.
Perlahan tapi pasti Jessica menutup matanya ketika Luhan mulai memperdalam ciumannya, tak hanya sekedar mengecupnya saja, tetapi Luhan memberikan lum*tan-lum*tan lembut pada bibir ranum tipis tersebut.
Luhan menuntun tangan Jessica memeluk lehernya, sebelah tangan Luhan menekan tengkuk hati wanita itu agar ciuman mereka tak mudah terlepas. Ciuman mereka semakin dalam dan menuntut.
Setelah puas dengan bibir Jessica ciuman Luhan kemudian turun menuju leher jenjangnya. Luhan terus mengecupi leher putih nan mulus itu dan meninggalkan jejak merah tanda kepemilikan di sana. Dan tanda merah itu, merupakan bukti jika Jessica adalah miliknya.
Kemudian ciuman Luhan kembali pada bibir Jessica, dan mel*matnya seperti tadi. Namun ciuman kali ini lebih singkat dari ciuman mereka sebelumnya.
Luhan menarik dirinya dan menatap wajah cantik itu dengan senyum tipis yang tersungging di sudut bibirnya.
"Aku memang tidak pernah mengerti dirimu, Xiao Luhan. Apakah kau orang baik atau bukan, aku benar-benar tidak mengerti. Karena Kau adalah orang yang susah ditebak sedikit misterius." ucap Jessica menuturkan.
"Kau pasti masih sangat Merindukan ibumu, sebaiknya temani dia. Kalian membutuhkan banyak waktu untuk saling melepaskan Rindu, malam ini aku izinkan kau untuk tidur bersamanya. Tapi besok malam Jangan harap kau bisa lepas dariku!!" senyum Jessica putar seketika setelah mendengar apa yang Luhan katakan. Pria itu telah kembali pada mode menyebalkan.
"Jangan mulai lagi, Xiao Luhan!! Aku sedang malas berdebat denganmu!!" ucap Jessica dan pergi begitu saja.
Luhan menatap kepergian wanita itu dengan Tatapan yang sulit dijelaskan. Kemudian sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan indah di wajah tampannya.
Jessica memang bukan yang pertama dalam hidupnya, tetapi akan Luhan pastikan jika dia adalah yang terakhir.
Karena bagi Luhan, tak ada lagi wanita yang layak untuk bersanding dengannya selain dia.
.
.
Terusir dari kediaman Valentino membuat David, Rachel dan putrinya tidak lagi memiliki tempat tujuan. Jangankan tempat tujuan, tempat tinggal pun mereka tidak punya.
__ADS_1
Mereka benar-benar Jatuh Miskin dan kehilangan segalanya, kemewahan, harta melimpah, semua itu tak lagi mereka miliki.
"Ma, kita mau pergi kemana? Sedari tadi kita hanya berjalan tanpa tujuan yang pasti, aku lelah dan tak sanggup berjalan lagi!!" ucap Davina lalu menghentikan langkahnya. Membuat Rachel dan David ikut berhenti juga.
David menatap istrinya. "Bukankah kau masih memiliki perhiasan, kenapa bukan itu saja yang kau jual untuk mencari tempat tinggal dan biaya makan kita sehari-hari?"
Sontak Rachel menoleh dan menatap tajam suaminya. "Apa kau bilang, menjual perhiasanku?! Jangan berharap, sampai kapanpun aku tidak akan menjual perhiasan perhiasan ini apapun alasannya!! Karena hanya perhiasan ini harta satu-satunya yang aku miliki, untuk itu Aku tidak akan pernah menjualnya!!"
"Apa perhiasan-perhiasan itu lebih penting bagimu?! Sampai sekarang kita belum menemukan tempat tinggal, apa kau mau tinggal di kolong jembatan?! Apa kau tidak lagi kepada putrimu, dia bisa kedinginan dan kelaparan jika kau egois!!" David memarahi Rachel habis-habisan.
Rachel benar-benar tidak rela jika perhiasannya harus dijual, karena perhiasan-perhiasan itu adalah barang paling berharga yang ia miliki saat ini. Dan jika perhiasan itu sampai dijual, maka dia tidak akan memilikinya lagi.
"Kenapa malah aku yang harus berkorban, kenapa tidak kau saja?! Bukankah kau juga memiliki jam tangan mahal, kenapa tidak itu saja yang kau jual. Lagi pula Apa gunanya kau tetap memakainya, sedangkan kita sudah tidak punya apa-apa. Jika Wanita masih pantas memakai perhiasan bagus meskipun dia sudah tidak punya apa-apa. Tapi laki-laki tidak, jadi sebaiknya milikmu saja yang dijual!!" Rachel pun tak mau kalah, kenapa harus miliknya? Kenapa bukan punya David saja yang harus dijual?!
Davina menghela nafas panjang melihat perdebatan mereka berdua. Tanpa mengatakan apapun, davina mengambil perhiasan milik ibunya dan juga jam tangan mahal milik Tuan David. Membuat keduanya sama-sama terkejut.
"Daripada kalian berdua bertengkar karena jam tangan dan perhiasan-perhiasan!! Sebaiknya kita jual saja semuanya, begitu kan lebih adil. Aku tidak mau jadi gelandangan lagi dan kelaparan seperti ini. Aku akan menjual perhiasan dan jam tangan ini untuk membeli rumah tinggal dan biaya makan sampai beberapa bulan ke depan!!" kemudian Davina membawa perhiasan dan jam tangan itu itu pergi.
"Yakk!! Davina berhenti!!" teriak david dan Rachel dengan kompak.
Mereka berdua sama-sama tidak rela jika perhiasan dan jam tangan itu sampai dijual.
.
.
Malam sudah semakin larut, tapi Devan masih terjaga dan dan sulit untuk menutup matanya. Dia mencoba untuk tidur, tetapi usahanya selalu gagal. Entah apa yang dia pikirkan, sampai-sampai Devan sulit untuk tidur.
Devan meninggalkan kamarnya dan pergi ke balkon untuk menikmati suasana malam yang sepi, hawa dingin langsung menyambutnya ketika dia menginjakkan kakinya di lantai balkon yang dingin dan keras.
Pandangannya lalu bergulir pada langit malam, gelap dan suram. Tak ada satupun bintang maupun bulan yang menghiasinya. Benar-benar gelap dan terlihat mencekam.
"Jessica,"
Dia bergumam dan menyebutkan satu nama 'Jessica' rasanya semakin sulit untuk Devan mendapatkan wanita itu. Apalagi ada orang lain yang juga menginginkannya, dan anehnya Devan tidak mau bersaing dengannya padahal mereka tidak saling mengenal satu sama lain.
Mungkin dia dan Jessica memang tidak berjodoh, dan jika takdir tak mengizinkan mereka bersama. Maka dengan ikhlas Devan akan melepaskannya.
Dia tidak ingin lemah dan menjadi bodoh hanya karena wanita, yang jelas-jelas bukan jodohnya. Karena jika memang berjodoh, pasti saat ini Jessica sudah menjadi miliknya. Melupakannya adalah cara terbaik untuknya saat ini.
.
__ADS_1
.
Bersambung.