Satu Malam Bersama Pria Asing

Satu Malam Bersama Pria Asing
Dia Sudah Pergi


__ADS_3

Mobil yang Luhan kemudikan akhirnya tiba di bandara. Dan tanpa memperdulikan pria itu, Jessica segera turun dan berlari ke dalam untuk mencari ibunya. Jessica berharap ia tidak terlambat.


Wanita itu menyapukan pandangannya ke sana kemari, dan berharap menemukan sosok yang ia cari. Tetapi sayangnya sosok yang dia cari tak kunjung ia temukan. Akhirnya Jessica pergi ke bagian informasi untuk menanyakan tentang keberangkatan pesawat menuju Eropa.


"Tidak perlu dicari lagi, dia sudah pergi." Luhan menahan tangan Jessica ketika dia hendak kebagian informasi. Wanita itu sontak menoleh dan menatap Luhan yang juga menatapnya dengan sendu. "Aku mengatakan yang sebenarnya, ibumu sudah pergi. Pesawatnya sudah lepas Landas sejak 5 menit yang lalu."


Air mata Jessica pun tak bisa terbendung lagi setelah mendengar apa yang Luhan katakan. Ibunya sudah pergi, itu artinya mereka tak bisa bertemu untuk waktu yang lama. Padahal baru kemarin mereka bertemu, dan hari ini mereka malah harus berpisah.


Kenapa waktu begitu singkat mempertemukan dia dan ibunya, padahal Jessica masih sangat merindukannya.


Jessica maju dua langkah ke depan kemudian meletakkan kepalanya di dada bidang Luhan yang tersembunyi di balik kemeja putihnya.


"Kenapa dia begitu jahat padaku? Untuk apa dia kembali jika hanya untuk pergi lagi?" isak wanita itu dengan suara yang begitu pilu.


Luhan mengangkat sebelah tangannya dan memeluk Jessica. Menjadikan kepala coklatnya sebagai tumpuan dagunya.


Luhan diam 1000 bahasa, tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya.


Dan saat Jessica sudah mulai tenang, Luhan pun melepaskan pelukannya. Jari-jarinya menghapus jejak air mata di wajah wanita itu.


"Tidak perlu bersedih, ketika ada waktu aku akan membawamu mengunjunginya. Tidak ada gunanya lagi kita di sini, sebaiknya kita pulang saja." ucap Luhan dan dibalas anggukan oleh Jessica. Keduanya kemudian meninggalkan bandara.


Luhan memahami Betul apa yang Jessica rasakan sekarang. Memangnya siapa yang tak akan sedih ketika berpisah dengan ibu yang sangat dirindukannya. Dan menangis salah satu cara untuk mengeluarkan semua beban yang dirasakannya.


.


.


Ckittt...


Luhan mengerem mendadak ketika laju mobilnya dihentikan oleh segerombolan pria tak dikenal. Jumlah mereka lebih dari 10 orang dan mereka semua bersenjata. lalu pandangan Luhan bergulir pada wanita yang duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Tetap di mobil, dan jangan coba-coba untuk keluar!!" pinta Luhan yang terdengar seperti sebuah perintah.


"Tapi apakah kau mampu menghadapi mereka sendirian? Mereka bergerombol dan semua bersenjata."Jessica menata pria itu dengan cemas.


Luhan menepuk kepala Jessica dan meyakinkan padanya jika ia mampu menghadapi orang-orang itu. "Kau tenang saja, Aku pasti bisa menghadapi mereka. Jangan coba-coba keluar apapun yang terjadi!! Kau mengerti?!"


"TIDAK!!" gerakan tangan Luhan untuk membuka pintu disamping kirinya terhenti setelah mendengar teriakan keras Jessica. kemudian ia menoleh dan menatap wanita itu dengan bingung. "Bagaimana bisa kau memintaku untuk tetap di mobil sementara kau sendirian menghadapi mereka? Apa kau ingin membuatku menjadi janda?!"


"Kau~"


"Apa?! Ini bukan saatnya untuk berdebat, Xiao Luhan!! Sebaiknya kita bereskan saja mereka terlebih dulu. Kebetulan sekali Aku memang sedang membutuhkan pelampiasan sekarang, dan orang-orang bodoh itu malah muncul tepat waktu!!"


Jessica terlihat begitu bersemangat, dan melihat sikap keras kepala wanita itu Luhan pun tak memiliki pilihan selain mengijinkan Jessica untuk menghadapi mereka bersamanya.


Tak ada drama ataupun basa-basi terlebih dulu untuk mencari tahu siapa yang menyuruh mereka. Tanpa ampun sedikit pun, Jessica langsung menghajar dan membuat beberapa diantara mereka tumbang. dan apa yang Jessica lakukan tentu saja membuat Luhan tercengang.


Sungguh di luar ekspektasinya. Tak hanya bar-bar saja, tetapi ternyata Jessica juga menguasai ilmu bela diri yang nyaris sempurna.


Bukan berarti Luhan tak mengambil bagian dalam perkelahian tersebut. Ia menghadapi mereka sambil membayangi istrinya, takut-takut bila Jessica sampai lengah dan lawan berhasil memukulnya. Luhan tak mungkin membiarkan istrinya terluka sedikitpun.


"Matilah kau!!"


Luhan membelalakkan matanya melihat seorang tiba-tiba muncul dari balik semak-semak dan berlari ke arah Jessica sambil membawa sebuah balok kayu. Dengan kencang Luhan berteriak sambil berlari menghampirinya.


"Sica, awas!!"


Sontak wanita itu menoleh. Belum sempat ia melihat Apa yang terjadi sampai-sampai suaminya berteriak, iya sudah ada di dekapan Luhan. Semuanya terjadi begitu cepat, sampai-sampai Jessica tidak tahu apa yang terjadi. Kemudian dia melepaskan pelukannya dan terkejut melihat wajah Luhan berlumur darah.


"Lu..Luhan." Dia bergumam lirih. Kedua matanya tampak berkaca-kaca.


Kemudian Luhan melepaskan pelukannya. lalu dia menghampiri pria yang tampak ketakutan tersebut.

__ADS_1


Tubuhnya gemetar ketakutan melihat tatapan dingin dan mematikan Luhan. Sampai-sampai dia terkencing di celana.


"TUAN, AMPUN!!" tiba-tiba dia berteriak kemudian berjongkok sambil mengangkat kedua tangannya. "Jangan bunuh saya. Karena saya hanya menjalankan perintah. Jika saya tidak berhasil menghabisi wanita itu, maka nyawa saya sendiri yang akan melayang."


Luhan menarik pakaian pria itu dan mengabaikan rasa pusing yang luar biasa pada kepalanya akibat hantaman tersebut. darah segar terus keluar dari lukanya yang terbuka. Membuat Jessica menjadi sangat cemas sekaligus ketakutan.


"Katakan!! Siapa yang menyuruh kalian, dan kenapa dia ingin mencelakai istriku?!" tanya Luhan meminta penjelasan.


"Ka..Kami, juga tidak tahu. Tiba-tiba ada dua orang pria dan wanita mendatangi markas kami lalu memberikan pekerjaan ini. Mereka memberikan foto nona itu dan meminta kami untuk memb*nuhnya, dan jika kami gagal maka nyawa kami yang akan menjadi taruhannya!!" Jelas pria itu.


Jessica memegang lengan Luhan. "Tidak penting siapa yang melakukannya, yang terpenting sekarang adalah kita pergi ke rumah sakit. Kau bisa kehilangan banyak darah jika pendarahannya tidak segera dihentikan." Ucap Jessica sambil mengunci mata hitam Luhan.


Luhan tak memberikan tanggapan apa-apa, dia hanya diam sambil membalas tatapan Jessica. Tak ingin membuatnya semakin cemas, Luhan pun akhirnya setuju untuk pergi ke rumah sakit. Dan mengenai orang-orang itu. Dia akan mengurusnya nanti.


"Baiklah."


.


.


Perban membalut kening Luhan yang terluka. Dia tak sampai menjalani rawat inap karena Luhan memang menolaknya. Dia tidak suka berada di tempat dengan aroma khas yang menyengat tersebut.


Saat ini Luhan tengah berbaring di kamarnya. Ia merasakan pusing yang sangat luar biasa pada kepalanya. Mungkin karena efek dari hantaman benda tumpul tadi.


"Minum dulu obatmu." Jessica menghampiri Luhan sambil membawakan obat untuknya.


"Kau tidak terluka bukan?" Jessica menggeleng. "Apa kau tau kira-kira siapa yang mengirim orang-orang itu untuk menghabisimu?"


"Entah, aku juga tidak tau. Tapi ada kemungkinan besar jika itu adalah perbuatan Rachel dan putra sulungnya."


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2