Satu Malam Bersama Pria Asing

Satu Malam Bersama Pria Asing
Kau Menyebalkan


__ADS_3

Ditengah malam yang dingin dan gelap, sebuah Bugatti La Voiture Noire terlihat meninggalkan halaman luas kediaman Luhan.


Seorang pria terlihat duduk di balik kemudi dan seorang Lagi duduk di samping kemudi.


Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Dan tidak ada yang tahu ke mana mereka akan pergi, termasuk para Bodyguard yang berjaga di luar.


Mobil sport itu melaju kencang pada jalanan malam yang lenggang. Tak banyak kendaraan yang mereka temui mengingat jika ini sudah masuk waktu dini hari.


Karena orang-orang lebih memilih untuk beristirahat di rumah dibandingkan harus kelayapan tidak jelas.


"Apa kau sudah menghubungi anak buahmu yang ada disana?" Luhan menoleh dan menatap pria yang duduk disampingnya.


Pria itu mengangguk. "Sudah, dan mereka sedang mengawasi orang-orang yang menjadi target kita, Tuan." Jawab pria itu. Luhan mengangguk, fokusnya kembali pada jalanan. Mobil itu dikemudian oleh Luhan bukan anak buahnya.


Luhan mendapatkan kabar dari anak buahnya jika terjadi transaksi ilegal yang dilakukan oleh anak buahnya dengan beberapa pria dari negera asing.


Mereka bertemu di Pelabuhan Incheon dan saat ini Luhan sedang dalam perjalanan menuju pelabuhan.


Perjalanan yang harus mereka tempuh dari Seoul ke Incheon sekitar 60 menit. Karena ini sudah larut malam jadi mereka bisa lebih menghemat waktu.


Tak sampai 50 menit mereka tiba di lokasi. Dan mobil milik Luhan mulai memasuki area pelabuhan. Disana sudah ada yang menunggu kedatangan mereka berdua.


"Kau yakin ini tempatnya?" Tanya Luhan memastikan, dan pria yang duduk disampingnya mengangguk. "Hubungi anak buahmu dan tanyakan posisi mereka saat ini!!"


"Baik, Bos."


Luhan turun lebih dulu kemudian diikuti oleh anak buahnya. Pria itu mengeluarkan sebungkus rokok dan pemiliknya dari saku jasnya. Asap putih yang ia keluarkan dari mulutnya membumbung ke atas kemudian menghilang di sapu oleh angin.


Pria itu menghampiri Luhan setelah memutuskan sambungan telfonnya. "Bos, mereka ada di bagian barat. Beberapa anak buah saya sudah mengawasi mereka disana,"


"Oke, kita ke sana."


Mereka berdua pun menuju lokasi. Rasanya tangan Luhan sudah gatal ingin segera memberi pelajaran pada si penghianat itu. Tak ada kata ampun apalagi maaf bagi seorang penghianat.

__ADS_1


Dan harga mahal yang harus dibayar oleh seorang penghianat adalah kematian.


.


.


"Ini adalah barang yang kalian inginkan. Aku berhasil mendapatkannya dan sekarang serahkan uangnya!!"


"Tidak perlu terburu-buru, karena kami masih harus memastikan barang ini asli atau palsu!!" Kami tidak ingin tertipu lagi dan mengalami kerugian yang sangat besar setelah mendapatkan barang yang tidak sesuai dengan apa yang kami inginkan!!"


"Kalian tenang saja dan tidak perlu khawatir. Barang yang aku bawa ini asli, jika tidak percaya silahkan periksa!!"


Pria berkebangsaan asing itu pun segera memerintahkan salah seorang anak buahnya untuk memeriksa barang tersebut masuk atau asli.


"Dia tidak berbohong, Mr.Smitt. Barang yang dia bawa asli!!"


Dan setelah mengetahui barang tersebut ternyata asli, transaksi pun dimulai. Kemudian pria itu meminta salah satu anak buahnya untuk mengambilkan koper berisi uang dengan jumlah yang telah disepakati.


Namun sayangnya belum transaksi selesai ada sebuah kejutan besar yang membuat pria bertubuh kurus itu terkejut bukan main.


"Memangnya apa yang telah kau lakukan sampai-sampai membuatmu sangat ketakutan? Apa kau telah melakukan kesalahan?" laki-laki itu menggeleng. Meyakinkan pada Luhan jika dia tidak melakukan apapun


"Jika tidak kenapa kau sampai setakut ini? Bangunlah dan jangan berlutut seperti itu, tidak enak Jika dilihat orang. Orang lain akan salah paham dan berpikir jika aku telah menindasmu!!" ucap Luhan menyeringai.


Orang-orang yang berada di ruangan Itu tampak kebingungan karena pintu tiba-tiba ditutup dan dikunci. Seolah-olah tak mengizinkan siapapun keluar dari ruangan itu.


"Apa-apaan ini, sebenarnya kau ini siapa?! Buka kembali pintunya!!" pinta seorang laki-laki berkebangsaan asing tersebut menuntut.


Lalu pandangan Luhan bergulir padanya. Dia menatap pria itu dengan tajam dan mematikan. "Tak seorangpun boleh keluar dari ruangan ini hidup-hidup, habis sih mereka semua!!" perintah Luhan pada anak buahnya.


Perkelahian dua kubu pun tak bisa terhindarkan lagi. Anak buah Luhan melawan anak buah pria berkebangsaan asing tersebut.


Mereka dibuat kewalahan oleh anak buah Luhan yang sepertinya sangat terlatih tersebut. Meskipun Luhan kalah jumlah, namun jika hanya untuk mengakhiri orang-orang itu tentu saja bukan perkara yang sulit baginya.

__ADS_1


Dan setelah lima belas menit berlalu. Semua tumbang meregang nyawa. Dari kubu Luhan hanya ada satu yang berhasil mereka tumbangkan namun tak sampai meregang nyawa. Sedangkan anak buah Luhan yang penghianat itu mereka bawa pulang ke Seoul. Karena memang di sanalah dia akan mendapatkan hukumannya.


.


.


Di waktu hampir menjelang pagi, seorang wanita terlihat mondar-mandir di depan sebuah kamar yang pintunya tertutup rapat.


Berkali-kali ia mencoba untuk mengetuk pintu kamar itu, namun berkali-kali pula ia mengurungkan niatnya. Entah apa yang membuatnya ragu.


Ini sudah pukul 02.30 dini hari. Semua orang sudah tertidur pulas, sementara dirinya masih tetap terjaga. Mungkin alasan dia ingin membangunkan si pemilik kamar itu karena dia membutuhkan seseorang untuk menemaninya berbincang, dia benar-benar tidak bisa tidur.


"Apa yang sedang kau lakukan di depan kamarku?!" suara Bariton itu mengejutkannya. Sampai membuatnya sedikit terlonjak saking kagetnya.


"Omo!!" Sontak ia menoleh dan mendapati si pemilik kamar berjalan menghampirinya. "Yakk!! Bagaimana bisa kau berjalan tanpa suara, hampir saja kau membuatku mati jantungan. Tapi ngomong-ngomong kau dari mana malam-malam begini? Bukan, bukan, bukan. Tapi menjelang pagi!!" bukannya menjawab pertanyaan pria itu, dia malah balik bertanya.


"Apa itu penting? Lagipula Apa untungnya bagiku memberitahumu kemana aku pergi? Karena itu bukan urusan!!" wanita itu mempoutkan bibirnya mendengar ucapan dingin pria di depannya ini.


"Dasar Iblis Xiao!! Sebenarnya ada apa denganmu ini, kenapa tiba-tiba jadi sedingin itu padaku?! Padahal kemarin kau masih bersikap sangat menyebalkan?!" gerutu wanita itu yang pastinya adalah Jessica.


Pria itu, Luhan. Tak memberikan responnya apapun, dia hanya menatap dingin wanita di depannya. Dan tanpa mengatakan apapun, Luhan melewatinya begitu saja dan kemudian masuk ke kamarnya.


"Yakk!! Kenapa aku malah ditinggalkan begitu saja?! Xiao Luhan, apa kau tau berapa lama aku berdiri disini mempersiapkan hati dan menatap masuk ke dalam. Saat aku ingin berdamai denganmu kau malah mengacuhkanku!! Jika kau menikahiku hanya untuk kau permainkan saja, sebaiknya lepaskan aku dan biarkan aku bebas!!"


Tapp...


Luhan menghentikan langkahnya dan menatap Jessica dari ekor matanya. Tatapannya begitu dingin hingga membuat Jessica nyaris membeku.


"Jangan pernah bermimpi untuk lepas dariku. Karena sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu! Kembalilah ke kamarmu dan beristirahatlah!!" pinta Luhan dan berlalu begitu saja.


"Xiao Luhan, kau menyebalkan!!"


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2