
Sebuah mobil mewah melaju kencang pada jalanan beraspal. Si pengemudi sesekali menguap karena rasa lelah dan kantuk yang berbaur menjadi satu. Pekerjaannya di kantor benar-benar menguras energi dan seluruh tenaganya.
Devan melonggarkan dasinya dengan sekali tarikan. Ia bersandar lelah pada kursi kemudi sambil menatap lampu merah. Lantas meregangkan jari-jari kekarnya. Menguap.
Pria itu sedikit terheran-heran.Tumben sekali, malam ini jalanan cukup sepi. Sepertinya orang-orang memilih menghabiskan waktu di rumah daripada keluyuran berbelanja atau sekadar berjalan-jalan di trotoar, menikmati kota Seoul saat malam hari.
Toko-toko pakaian dan beberapa restoran melambai sepanjang mata memandang. Etalase kaca mereka berlomba-lomba memamerkan produk andalan untuk menarik pembeli. Hiruk-pikuk dan kemewahan kota amat kentara.
Semua orang berkompetisi dengan sengit di sini. Jika dia kalah, dia mati. Yang terkuat akan bertahan, atau bahkan semakin melejit tingkat ekonominya. Tak peduli apa mereka menginjak yang lemah atau tidak, yang penting menjadi kaya. Kapitalisme.
Suara dering pada ponselnya mengalihkan perhatian Devan. Dan ketika dia hendak mengangkat telfon yang masuk, lampu lalu lintas berganti warna hijau. Ia pun urung untuk menerima telfon tersebut.
Mobil Devan kembali melaju kencang pada jalanan yang lumayan sepi. banyak tak banyak kendaraan yang ia temui malam ini.
Setelah hampir 30 menit berkendara, Devan pun tiba di kediamannya. Lelaki itu segera turun dan melenggang masuk ke dalam. Pekerjaan di kantor benar-benar menguras hampir seluruh energinya.
"Kau sudah pulang, Dev?" kedatangannya disambut oleh wanita muda yang pastinya adalah Mia, kakak Devan. "Kau sudah makan malam belum?" Devan menggeleng. "Kalau begitu cepat mandi, Nunna akan menyiapkan makan malam untukmu." Devan mengangguk dan melenggang pergi.
Memang kebetulan dia belum sempat makan malam, pekerjaannya terlalu banyak untuk ditinggalkan, meskipun hanya sekedar makan malam. Dan jujur saja Devan sudah sangat kelaparan.
Setelah mandi dan berganti pakaian santai. Devan menghampiri kakaknya yang sedang menyiapkan makan malam untuknya. Yang Mia siapkan memang hanya ramyeon dan dua butir telor, tetapi itu lebih dari cukup untuk mengganjal perutnya.
"Apa yang Nunna pikirkan?" tanya Devan melihat kediaman Mia.
kemudian wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap sang adik dengan tatapan tak terbaca. "Devan, apa kau ingat dengan kata-kata terakhir Papa sebelum dia meninggal?" tanya Mia ya kemudian dibalas anggukan oleh Devan.
"Ya, aku mengingatnya. Papa pernah memberitahuku jika sebenarnya aku memiliki saudara kembar, tetapi dia menghilang ketika usia kami baru dua tahun. Papa bilang jika yang menculiknya adalah saingan bisnisnya dan dia tak pernah di temukan sampai sekarang." Jelas Devan.
"Jika saja kau dan dia memiliki wajah identik, mungkin akan lebih mudah kita menemukannya. Tapi sayangnya kau dan dia bukanlah kembar identik, sehingga sulit bagi kita untuk menemukannya. Yang Nunna ingat, dia memiliki tanda lahir di leher sebelah kanan. Tetapi orang dengan tanda lahir seperti itu bukan hanya dia saja, jadi akan sangat sulit menemukannya." Ujar Mia.
__ADS_1
"Nunna, kau itu tidak perlu merasa sedih. jika Tuhan memang mengijinkan kita bertiga untuk bertemu dan berkumpul kembali, pasti suatu saat nanti kita akan bersatu lagi. Sebaiknya sekarang kau biarkan aku makan, ramyeonku sudah mulai mengembang dan aku lapar!!"
Mia menghela napas dan mengangguk. "Ya sudah kau makan saja pelan-pelan. Nunna ke kamar dulu. Nunna sangat lelah, good night, Devan." ucapnya dan pergi begitu saja.
-
-
Alunan musik yang memekakkan telinga ditambah lampu warna-warni yang bisa membuat siapa pun yang tidak terbiasa merasa pusing ketika melihatnya menjadi latar scene malam ini.
Di sebuah ruangan khusus yang berada di lantai teratas club, sekelompok orang bersetelan jas hitam duduk tenang diatas sofa yang telah disediakan. Mereka adalah anggota mafia Black Phoenix. Seorang pria dengan tato yang menutupi setengah lengan kanannya duduk di bangku khusus, bangku yang membedakan mana Bos besar dan mana anggota.
"Kai, kembalikan ponselku. Bukankah kau punya ponsel sendiri, jadi lihat saja filmnya dari ponselmu, jangan ponselku!!"
Nada protes dilayangkan oleh seorang pemuda pada rekannya yang duduk tak jauh dari tempat dia duduk. "Kau itu berisik sekali si, Kamjong. Jadi orang itu jangan pelit-pelit bisa-bisa nanti kuburanmu sempit!!" jawab pemuda itu tanpa menatap lawan bicaranya.
Namun tak ada respon, pemuda yang disebut mayat hidup oleh Kai terlihat asik dengan ponsel milik pemuda berkulit Tan tersebut. Sedangkan laki-laki yang sedang menghisap rokoknya itu hanya mendengus seraya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka berdua.
Di saat mood teman-temannya sedang buruk, mereka berdua bisa jadi mood booster untuk mengembalikan mood mereka. Karena mereka berdua memiliki jurus ajaib yang bisa membuat orang lain tertawa terbahak-bahak. Kecuali satu orang yang tidak mempan dengan jurus mereka berdua, yakni si Bos yang memiliki sifat sedingin kutub Utara.
"Ngomong-ngomong kemana perginya, Kris Hyung? Kenapa aku tidak melihat batang hidungnya sedari tadi?" ucap pemuda yang disebut mayat hidup oleh Kai.
"Entah, mungkin saja sedang menikmati surga dunianya. Memberikan sodokan cinta pada para kucing favoritnya di sebuah ruangan yang syarat akan cinta dan kasih sayang yang mengalir seperti air. Menghilangkan rasa dahaga karena terlalu lama tidak merasakan kenikmatan yang luar biasa." Jawab Kai panjang lebar.
"Bilang saja ke intinya, tidak perlu ngoceh panjang lebar dan muter-muter seperti itu, dasar Kamjong!!"
"YAKK!! JANGAN SEBUT AKU KAMJONG!!" Kai berteriak keras.
Malas mendengar perdebatan mereka berdua, lelaki yang duduk di sofa merah paling ujung itu lantas berdiri dan melenggang pergi. Niatnya pergi ke klub untuk mencari ketenangan, tapi malah terganggu oleh keributan mereka berdua.
__ADS_1
Mobil yang dia kemudikan melaju kencang pada jalanan malam yang legang, tak banyak kendaraan yang dia temui, hanya beberapa ke daratan saja dan itu tak lebih dari lima.
Pria itu mengurangi kecepatan pada laju mobilnya ketika melihat seorang perempuan yang wajahnya tak asing tengah berdiri di tepi jalan sambil menendang ban mobilnya.
Pria itu mendengus. Ia pun segera menepikan mobilnya kemudian turun dan menghampiri perempuan tersebut yang pastinya adalah Jessica.
"Sepertinya kesialan selalu menimpa hidupmu ya!!"
"Omo!! Suara setan dari mana itu?!" dan Jessica pun terlonjak kaget. Bahkan dia sampai menyebut jika itu adalah suara setan. Pria itu mendengus, kemudian dia memutar kepala Jessica untuk menatap padanya.
"Masih menyebutku setan?!" ucap pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Luhan."Apa yang terjadi pada ban mobilmu?" tanya Luhan.
Jessica menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu, tau-tau sudah kempes saja. Mungkin tertusuk paku." Jawabnya.
"Mobilmu biar anak buahku yang mengurusnya. Sebaiknya kau pulang dengan mobilku saja. Aku akan mengantarmu, cari taxi pun percuma, ini sudah malam dan tidak mungkin ada taksi yang lewat." Ujar Luhan.
Jessica tak menampik apa yang Luhan katakan. Memang tak mungkin menemukan taksi di jam segini, ini sudah larut malam, jadi mana mungkin masih ada kendaraan umum. Dan sepertinya dia tidak memiliki pilihan lain selain menerima tawaran Luban.
"Baiklah, aku akan pulang bersamamu. Tapi jangan, jangan macam-macam atau aku akan menggantungmu hidup-hidup!!"
Luhan mendengus. "Tidak akan. Sudah jangan bawel lagi cepat masuk!!"
Jessica mempoutkan bibirnya. "Iya, iya, dasar bawel!!"
-
-
Bersambung.
__ADS_1