
Tubuh Luhan serasa membeku setelah dia mendapatkan kabar tentang kematian Ivanka.
Wanita itu memberitahu Luhan tentang surat wasiat yang ditinggalkan oleh Ivanka.
Apakah Luhan merasa kehilangan? Maka jawabannya adalah iya, karena dia sudah menganggap Ivanka sebagai ibunya sendiri.
Dan wanita itu juga memberitahunya, agar Luhan tidak memberitahu Jessica tentang kabar duka tersebut, itu adalah permintaan terakhir Ivanka sebelum dia meninggal.
"Luhan!!"
Buru-buru Luhan menyeka air matanya kemudian berbalik, dan menatap Jessica yang berjalan menghampirinya dengan bingung. Kecemasan terlihat jelas di wajah cantiknya.
Tiba-tiba wanita itu memeluk dirinya, dan itu membuat Luhan sedikit terkejut. "Syukurlah kau baik-baik saja, aku pikir sesuatu yang buruk terjadi padamu. Ponselmu tidak bisa dihubungi, dan sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi di cafe tadi. Dan itu membuatku tidak tenang."
Luhan mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Jessica. "Maaf, aku sengaja mematikan ponselku. Aku tidak ingin para kolegaku menghubungiku, karena untuk saat ini aku tidak ingin diganggu!!" ucap Luhan sambil membalas pelukan Jessica.
Sontak wanita itu melepaskan pelukannya dan menatap Luhan penuh tanya. "Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Jessica memastikan.
Luhan menggeleng. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin beristirahat dan tidak ingin diganggu. Kenapa kau sudah pulang, bukankah kau bilang ingin bersenang-senang?"
"Tidak jadi," wanita itu menjawab sambil menggelengkan kepala.
Luhan menatap Jessica dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia tidak tahu seberapa hancur hati Jessica jika dia sampai mengetahui tentang kematian Ivanka. Pasti Jessica akan sangat hancur, lebih hancur dari dirinya saat ini.
Dan mungkin lebih baik, jessica tidak mengetahui tentang kematian Ivanka, setidaknya untuk saat ini. Karena itu bisa mempengaruhi kehamilannya, dan Luhan tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Jessica maupun janin di dalam rahimnya.
__ADS_1
"Aku lapar, bisakah kau membuatkan sesuatu untukku? Anak ini ingin makan sesuatu buatan, Papanya." ucap Jessica sambil mengusap perutnya.
Luhan mengangguk. "Tentu. Memangnya kau ingin makan apa?"
"Apa saja, asal itu bisa membuat kenyang," jawab wanita itu dengan spontan.
Luhan mendengus. Kemudian ia pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan yang Jessica minta.
Bagaimana bisa Luhan menolaknya, apalagi jika itu sudah berhubungan dengan janin di dalam perut Jessica.
Meskipun sebenarnya itu hanyalah alasan wanita itu untuk mendapatkan perhatian lebih darinya. Tetapi Luhan menyukainya.
Dan tak sampai sepuluh menit, makanan Jessica pun jadi. Luhan membawanya ke meja makan dan meminta wanita itu untuk segera memakannya.
Senyum lebar Jessica, mengartikan segalanya, mengartikan jika dia sangat bahagia.
"Sudah jangan banyak bicara, cepat makan sebelum Ramyeonnya dingin dan mengembang." Ucap Luhan dan dibalas anggukan oleh Jessica.
"Oke."
.
.
Sebuah taksi berhenti di depan gerbang kediaman Luhan. Seorang wanita terlihat turun dari taksi tersebut sambil membawa sebuah guci dipelukannya.
__ADS_1
Wanita itu masuk ke dalam setelah dua penjaga membukakan gerbang untuknya.
Mereka berdua sudah tahu siapa wanita itu dan apa alasannya datang. "Tuan, sudah menunggumu. Kau langsung pergi saja ke ruangannya!!" ucap salah satu dari kedua penjaga itu.
Perempuan itu pun mengangguk. Dia meninggalkan mereka berdua dan pergi menemui Luhan. Ternyata tuanya itu sudah menunggu kedatangannya, dan tentu saja pertemuan mereka tanpa sepengetahuan Jessica pastinya.
Cklekk..
Decitan suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Luhan. Iya tak beranjak sedikitpun dari posisinya dan hanya melirik sekilas kearah wanita yang berjalan menghampirinya.
"Kau sudah datang," ucap Luhan tanpa menatap lawan bicaranya.
Wanita itu mengangguk. Kemudian Dia mendekati Luhan lalu menyerahkan guci itu padanya. "Ini abu Nyonya Ivanka, dia ingin anda menyimpannya."
"Aku tahu, letakkan saja di situ!! Dan kau boleh pergi!!"
Wanita itu membungkuk, kemudian Luhan meninggalkan Luhan begitu saja.
Luhan beranjak dari posisinya lalu mengambil guci tersebut dan meletakkannya di sebuah lemari kaca dan menyandingkan dengan guci abu milik mendiang ayah tirinya.
"Kau beristirahatlah dengan tenang, aku pasti akan menjaga putrimu dengan baik. Dan seperti permintaan Terakhirmu, aku akan merahasiakan kematianmu darinya!! Biarkan dia tidak pernah tahu, jika kau telah tiada!!"
.
.
__ADS_1
Bersambung.