
Semenjak tahu Jessica hamil, Luhan menjadi sangat overprotektif padanya. Dia melarangnya untuk melakukan ini dan itu, yang terkadang sampai membuat Jessica merasa jengkel.
Hari ini contohnya. Luhan melarangnya untuk pergi kemanapun, padahal dia sudah memiliki janji dengan Mia dan Jia. Bahkan ancaman Jessica juga tidak mempan pada Luhan, wanita itu mengancam akan makan mogok makan jika Luhan tak menginginkannya pergi.
"Ayolah, Lu. Kau jangan bersikap menyebalkan, terus-terusan di rumah itu hanya membuatku bosan. Boleh ya," rengek Jessica memohon.
Luhan menggeleng. "Sekali tidak boleh, tetap tidak boleh!! Jangan mendebatku, karena aku sedang malas berdebat denganmu!!"
Jessica menekuk wajahnya. Luhan benar-benar membuatnya kesal setengah mati, bagaimana bisa dia melarangnya untuk pergi bersama Jia dan Mia.
Padahal kan mereka pergi untuk bersenang-senang, apalagi ibu hamil tidak boleh stress.
"Kau benar-benar menyebalkan!! Mulai sekarang, aku tidak mau makan, minum, maupun tidur. Dan jangan pernah berbicara denganku lagi!! Sudahlah aku ngambek dulu!!" Jessica membuang muka sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Luhan menghela nafas berat. Menghadapi wanita yang sedang hamil ternyata jauh lebih sulit daripada menghadapi musuh, dan jika boleh memilih, Luhan akan lebih memilih untuk berhadapan dengan musuh-musuhnya. Karena itu lebih mudah, daripada menghadapi wanita yang sedang hamil.
Awalnya Luhan ingin tetap teguh pada keputusannya. Tetapi melihat Jessica yang sedang ngambek dan belum lagi ancaman-ancamannya itu membuatnya menyerah.
Dan sepertinya dia tidak memiliki pilihan selain mengalah, daripada harus melihat Jessica yang terus-terusan mendiaminya.
"Baiklah, kau boleh pergi. Tapi dengan satu syarat, kau tidak boleh pergi sendirian. Biarkan salah satu anak buah aku ikut denganmu!!" ucap Luhan dan membuat wajah Jessica kembali sumringah.
Wanita itu langsung berhambur memeluk Luhan. Aku tahu kau tak mungkin sejahat itu, kalau begitu aku siap-siap dulu. Aku janji tidak pulang sampai larut malam," Jessica mencium pipi Luhan, kemudian beranjak dari hadapannya.
Luhan berbalik badan, kemudian menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Memang lebih baik mengalah, daripada harus melihatnya kesal dan marah.
__ADS_1
.
.
Semakin hari, kondisi Ivanka semakin memburuk. Saat ini wanita itu sedang dirawat di sebuah rumah sakit karena kondisinya yang semakin memburuk.
Saat ini Ivanka dalam keadaan sekarat. Dia sudah tak sadarkan diri selama berhari-hari, membuat para dokter maupun perawat sedikit menyerah pada kondisinya.
Ivanka hanya sendirian, dia ditemani oleh seorang wanita setengah baya yang merupakan salah satu orang Luhan. Luhan memintanya untuk menjaga dan merawat Ivanka.
Telah mengetahui kondisi Ivanka yang semakin memburuk, Luhan menjadi tidak tega untuk membiarkan wanita itu sendirian.
Sebenarnya Luhan ingin sekali memberitahu Jessica tentang keadaan ibunya. Tetapi Ivanka selalu menolak dan melarang Luhan untuk memberitahu putrinya tentang keadaannya saat ini.
"Dokter, bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja bukan?"
Dokter itu menggeleng. "Nyonya, Ivanka. Dia telah menyerah, Nyonya. Dia sudah tidak tertolong lagi, nyonya Ivanka telah tiada." Jawab dokter itu dengan raut wajah sedih penuh penyesalan.
Dan apa yang dokter itu sampaikan terus saja membuat perempuan tersebut terkejut bukan main. "A..Apa, dia sudah tidak ada?" dokter itu mengangguk.
"Dan kami menemukan surat ini, di samping vas bunga. Sepertinya surat ini adalah sebuah wasiat untuk seseorang." ucap dokter itu menuturkan.
Dengan tangan gemetar, wanita itu menerima surat tersebut dan membacanya.
Bener apa yang dokter itu katakan, itu merupakan surat wasiat yang ditunjukkan untuk Luhan. Dalam surat itulah, Ivanka berpesan supaya Luhan tak pernah memberitahu Jessica tentang kematiannya. Sepertinya Ivanka sudah memiliki firasat Jika dia akan pergi.
__ADS_1
Dan tugas terakhir wanita itu adalah membawa abu Ivanka pulang ke Seoul dan menyerahkannya pada Luhan.
.
.
Prakk...
Jessica terkejut Bukan main ketika gelas di genggamannya tiba-tiba terlepas dan meluncur bebas. Membuat gelas itu pecah seketika. Seketika Jessica merasakan perasaan yang tidak enak.
Takut ada apa-apa, kemudian dia menghubungi Luhan dan memastikan keadaannya. Namun panggilannya tak tersambung, ponsel Luhan tidak bisa dihubungi, dan itu membuat Jessica menjadi semakin panik.
"Jess, ada apa?" tanya Mia melihat kecemasan di wajah adik iparnya tersebut.
Jessica menatap Mia kemudian menggeleng. Karena dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi, dan seketika perasaan Jessica menjadi tidak enak. Takut terjadi apa-apa pada suaminya Jessica pun memutuskan untuk pulang duluan.
"Maaf, sepertinya aku harus pulang sekarang."
Dan sebelum pulang, tak lupa dia membayar ganti rugi untuk gelas yang telah Ia pecahkan. Jessica tidak ingin disebut sebagai orang yang tak bertanggung jawab.
.
.
Bersambung.
__ADS_1