Satu Malam Bersama Pria Asing

Satu Malam Bersama Pria Asing
Anugerah Terindah


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu cepat. Tidak terasa kandungan Jessica kini memasuki bulan ke 9. Kelahiran anak pertama mereka hanya menghitung hari atau jam saja, karna si jabang bayi bisa lahir sewaktu-waktu. Kebahagiaan terlihat jelas di raut wajahnya.


Semua orang begitu menjaganya, termasuk Mia dan Devan. Devan berhenti mengejar Jessica dan merelakan wanita itu bahagia bersama Luhan.


"Jess, kau harus banyak istirahat, biar aku saja yang memasak untuk semua orang."


Jessica tersenyum tipis "Tidak apa-apa Eonni, terlalu banyak diam membuatku merasa bosan. Untuk saat ini saat ini saja, biarkan aku membantu ya." pintanya memohon.


Mia menggeleng. "Sekali tidak tetap tidak. Apa kau ingin suami tampanmu itu memarahi Eonni habis-habisan karena di kira akulah yang memaksamu untuk melakukan ini dan itu."


"Tapi, Eonni...??"


"Ekhemmm...!!"


Perhatian dua wanita berbeda usia itu teralihkan oleh suara deheman seseorang. Keduanya menoleh dan mendapati seorang pria yang hanya memakai jeans hitam dan kaos oblong hitam tanpa lengan berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya memperlihatkan otot-otot lengannya yang kokoh.


Tidak terlalu besar namun terlihat kuat. Jessica mendesah, memang sejak di nyatakan hamil oleh Dokter. Luhan menjadi sangat overprotektif padanya, namun Jessica tidak merasa keberatan ataupun kesal. Karna bagaimana pun juga itu adalah bukti rasa cintanya.


"Aduh, perutku.... sakit.."


"Sica...??"


Luhan meninggalkan tempatnya dan menghampiri sang Istri. Luhan melihat Jessica meringis kesakitan sambil memegangi perutnya, wanita itu juga terlihat berkeringat. Melihat hal itu membuat Luhan menjadi sangat panik "Jie, bagaimana ini? Sica kesakitan, apa yang harus aku lakukan?"


"Jangan panik, Lu. Sepertinya Jessica akan segera melahirkan. Biar Eonni meminta Devan untuk menyiapkan mobil." kata Mia dan berlalu begitu saja.


"Ahhh.... Luney... sakittt..."


Segera Luhan mengangkat tubuh Jessica bridal style. Di luar sudah ada Devan yang menunggunya. Luhan membawa Jessica masuk kedalam mobil. Luhan menyandarkan kepala Jessica di dadanya


"Sabar sayang, kita akan segera ke rumah sakit. Bertahan untukku dan anak kita." Luhan menggengga tangan Jessica, ia terus berdoa agar persalinan Istrinya berjalan lancar.

__ADS_1


Sementara di belakang terlihat mobil yang di tumpangi oleh Mia. Sungguh betapa beruntungnya Jessica memiliki orang-orang yang begitu peduli padanya. Semenjak ayah dan ibu tirinya terusir dari rumah, kini hidup Jessica semakin baik. Karna tidak ada yang berusaha mengusik kebahagiaannya dan Luhan.


.


.


Rasa cemas menyelimuti perasaan Luhan. Bagaimana tidak, sudah hampir 2 jam Jessica berada di ruang persalinan namun belum ada tanda-tanda bila bayinya akan segera lahir. Luhan terus berdoa semoga persalinan itu berjalan lancar dan Jessica serta anaknya baik-baik saja.


"Oeee, Oeee,"


Sampai suara tangis bayi terdengar nyaring memecah di dalam keheningan. Sontak saja Luhan bamgkit dari duduknya yang bersamaan dengan pintu ruang persalinan terbuka. Dua orang perawat keluar sambil menggendong dua bayi mungil yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan yang kemudian mereka serahkan pada Luhan.


"Selamat Tuan, bayi anda perempua. Istri anda juga baik-baik saja." ucap Dokter wanita sambil menepuk bahu Luhan dan berlalu begitu saja.


Luhan menatap putri yang berada dalam dekapannya itu penuh haru. Air matanya jatuh begitu saja, Luhan menangis haru "Jie, aku titip putriku. Aku akan menemui Jessica." kata Luhan lalu menyerahkan putrinya pada Mia.


"Huaaa... lihatlah dia sangat lucu. Aku jadi gemas." histeris Jia yang begitu bahagia. Dia tiba bersama Mia.


.


.


Cklekkk...!!!


Decitan pintu terbuka menyita perhatian Jessica. Wanita itu menarik sudut bibirnya melihat kedatangan sang Suami. Luhan memeluk Jessica dan mencium pucuk kepalanya "Terimakasih, sayang." bisiknya bergumam.


Jessica menutup matanya. Merasakan kecupan Luhan pada keningnya, wanita itu mengangkat kedua tangannya dengan senang hati Jessica membalas pelukan Luhan


"Kau sudah melihatnya?" Jessica mengangkat wajahnya, matanya bersiborok dengan mata abu-abu milik Luhan "Dia benar-benar sempurna. Vivian, sangat cantik. Dia secantik dirimu sayang." ujar Luhan sambil mengusap rambut panjang Jessica penuh sayang.


Jessica tersenyum tipis. "Tapi dia harus mirip denganmu juga , aku tidak mau jika anak kita disebut sebagai anak orang lain karena tak mirip papanya." Luhan terkekeh, laki-laki yang baru saja menjadi ayah itu menakup wajah Jessica dan mencium singkat bibirnya.

__ADS_1


"Kau masih terlihat lemah, sayang. Sebaiknya kau istirahat, aku akan menemanimu di sini. Si kecil bersama mama dan kakek." Jessica tersenyum kemudian mengangguk "Baiklah."


Luhan duduk di samping Jessica, menggunakan salah satu tangannya sebagai bantalan kepala Jessica. Jessica memposisikan kepalanya dengan nyaman dengan lengan Luhan sebagai bantalannya. Rasa hangat menyelimuti perasaannya, ia sungguh beruntung karna memiliki Luhan di sisinya.


Kehilangan terberat yang pernah Jessica rasakan dalam hidupnya telah tergantikan oleh hadirnya Vivian. Dan Jessica pasti akan menjaganya dengan sepenuh hati dan dengan penuh cinta kasih.


.


.


Waktu berlalu dengan cepat. Kini Vivian sudah berusia 1 tahun. Dan hari ini Luhan serta Jessica merayakan ulang tahun kedua buah hatinya. Pesta di adakan dengan meriah, Vivian Xiao terlihat begitu cantik.


Dia berada di dalam gendongan Luhan. Luhan menarik Jessica menggunakan tangan satunya lalu memeluk sang wanita dan mencium keningnya "Terimakasih sayang, karna sudah menyempurnakan hidupku." Ucap Luhan sambil mengulum senyum lembut.


"Tidak seharusnya berterimakasih, Lu. Bukankah sudah selayaknya, dan apa yang aku berikan padamu adalah bukti cinta kita." tutur Jessica.


"Hei, kalian berdua kemarilah. Kita berfoto dulu." seru Devan dari ruang tamu.


Jessica dan Luhan beriringan menghampiri keluarga dan teman-temannya dengan si kecil berada di dalam gendongan Luhan. Mereka segera bergabung dengan yang lain yang memang sudah menunggunya.


Tidak ada kesedihan terpancar dari raut wajah mereka, selain kebahagiaan. Setelah semua yang terjadi dan bagaimana kisah cinta Luhan serta Jessica yang di warna dengan begitu rumit akhirnya berada di titik terbaik.


Dan kepedihan, rasa sakit, air mata dan duka di masa lalu terbayar lunas dengan kebahagiaan yang mereka dapatkan saat ini. Dan mereka sama-sama percaya, bila kekuatan cinta mampu mengalahkan segalanya.


Luhan dan Jessica saling menatap, senyum bahagia sama-sama menghiasi wajah mereka. Luhan menarik tengkuk Jessica dan mencium bibirnya. Melalui ciuman itu Luhan ingin menyampaikan betapa berharganya Jessica dalam hidupnya.


Tidak ada yang Luhan inginkan selain Jessica dan kedua buah hati mereka, karna sesungguhnya mereka bertigalah harta paling berharga yang ada dalam hidup seorang Xi Luhan.


.


.

__ADS_1


Tamat


__ADS_2