
"Apa ini?"
Jessica menatap bingung sebuah Black Card yang disodorkan oleh Luhan padanya. "Aku yakin kau tidak bodoh sehingga tidak tau benda apa ini!!" ucap Luhan dan membuat ekspresi Jessica berubah drastis. Wanita itu menatap Luhan dengan sebal.
"Jangan mulai kau, Xiao Luhan!! Aku sedang tidak ingin ribut denganmu!!"
"Memangnya siapa yang mengajakmu ribut?! Ambil card ini, mulai hari ini semua kebutuhanmu aku yang menanggungnya!!" ucap Luhan.
"Bentuk tanggungjawab eh?" goda Jessica sambil mengambil card itu dari tangan Luhan. Wanita itu tersenyum. "Karena kau sendiri yang memberikannya, maka aku tidak akan sungkan untuk menghabiskannya!!" ia mencium card tersebut dan melenggang pergi.
Luhan mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah Jessica. Ada saja tingkah konyolnya yang membuat orang lain menggelengkan kepala.
Diam-diam Luhan menarik sudut bibirnya. Melihat tingkah Jessica yang terkadang seperti bocah itu memberikan hiburan tersendiri baginya.
Derap langkah kaki seseorang yang datang mengalihkan perhatiannya. Luhan menoleh dan mendapati Nyonya Ivanka berjalan menghampirinya.
"Jangan terlalu memanjakannya," Nyonya Ivanka tidak setuju dengan sikap Luhan yang terlalu memanjakan Jessica. Karena Nyonya Ivanka tidak ingin putrinya itu menjadi wanita yang boros.
Luhan menggeleng. "Kau tidak perlu mencemaskan apapun, aku mengenal putrimu itu dengan sangat baik. Dia bukanlah tipe wanita yang suka menghambur-hamburkan uang tanpa tujuan yang pasti!!" ucapnya.
"Aku akan kembali ke Eropa hari ini juga, jaga dia baik-baik. Aku bisa merasa tenang selama kau ada di sisinya, gantikan aku untuk menjaganya." Pinta Ivanka mulai berkaca-kaca.
"Kenapa terburu-buru sekali? Aku pikir kau masih merindukannya dan ingin menghabiskan lebih banyak waktumu dengannya, setelah kalian terpisah selama bertahun-tahun." Ucap Luhan.
"Sebenarnya itu juga yang aku inginkan, tapi kau tahu sendiri bagaimana Keadaanku saat ini. Aku tidak ingin Jessica sampai mengetahui kondisiku yang sebenarnya, aku tidak ingin membuatnya bersedih."
Luhan menatap wanita itu sendu. Dia melihat kesedihan, putus asa, frustasi dari sorot mata Hazel Ivanka. "Apa keadaanmu seburuk itu? Bukan kau sudah melakukan operasi. Apa itu tidak berpengaruh sama sekali untuk kesembuhanmu?"
Ivanka menggeleng. "Menurut dokter sel kankernya sudah menyebar, dan kemungkinan untuk sembuh hanya 20%. Sudah tidak ada harapan lagi untukku, untuk itu aku ingin kau menggantikanku untuk menjaganya. Dan jangan katakan apapun padanya tentang penyakitku ini, aku tidak ingin membebani putriku. Sampaikan salamku padanya dan wakilkan aku untuk meminta maaf pada Jessica. Aku pergi,"
Ivanka menyeka air matanya. Hati ibu mana yang tidak hancur jika harus terpisah jauh dari putrinya, tetapi keadaannya sendiri tak mendukung untuk selalu berada di sisi Jessica. Dia akan baik-baik saja, dan Ivanka yakin akan hal itu. Lagi pula sudah ada orang yang tepat untuk menjaganya, jadi Ivanka bisa meninggalkannya dengan tenang meskipun kenyataannya sangat berat.
.
.
Di siang hari yang lumayan terik, terlihat dua perempuan muda yang sedang bersantai di sebuah Cafe. Mereka berdua adalah Jia dan Jessica, Jia langsung datang ketika sahabatnya itu menghubunginya dan mengajaknya untuk santai di cafe langganan mereka.
Jia menatap Jessica dengan penuh kebingungan. Ia merasa ada yang berbeda pada sahabatnya itu, tetapi Jia tidak tahu.
Apa yang berbeda pada Jessica, sampai dia melihat sebuah cincin yang melingkari jari manisnya. Jia merasa aneh, seumur-umur dia mengenal Jessica, belum pernah sekalipun Jia melihatnya memakai cincin.
"Apa kau baru saja membeli cincin?" tanya Jia penasaran.
Jessica menggeleng. "Bukan membelinya, tetapi aku mendapatkannya dari orang lain." Jawabnya.
Jia menatap Jessica penasaran. "Dari siapa?" dia benar-benar penasaran setengah mati. Karena seingat Jia, Jessica tidak sedang dekat dengan siapapun dan lelaki manapun. Sampai iya mengingat sesuatu.
__ADS_1
Jia membulatkan matanya. "Omo!! Jangan bilang yang memberimu cincin itu, adalah pria tampan yang menjemputmu di cafe?" tabak Jia 100% benar.
"Ralat, bukan menjemput!! Tetapi membawaku pulang secara paksa. Ya, dialah orangnya. Dan karena kelakuannya yang seenak jidat, aku dan dia sudah resmi menjadi suami istri."
Jia menganggukkan kepalanya. Tapi tiba-tiba ia membulatkan matanya, sontak Jia menoleh dan menatap Jessica dengan pandangan bertanya. Seolah-olah iya menuntut sebuah penjelasan dari sahabatnya itu.
Jessica menghela nafas panjang. "Apalagi yang perlu aku jelaskan, intinya aku dan dia sudah menikah. Dan Stop!! Jangan banyak bertanya dan memaksaku memberikan penjelasan tentang pernikahanku dengan pria menyebalkan itu."
Jessica benar-benar tidak ingin membahas apapun tentang pernikahannya dengan Luhan.
Pernikahan itu bukan atas keinginannya tetapi karena keputusan sepihak Luhan. Dia ingin sekali menolaknya dan membatalkan pernikahan tersebut, tetapi Jessica rasa itu percuma dan tidak ada gunanya. Lagipula mana ada laki-laki yang mau dengannya yang telah ternoda.
Dan yang bisa Iya lakukan saat ini hanyalah menerima takdir yang telah Tuhan gariskan untuknya. Dan mungkin saja memang Luhan adalah jodohnya.
Saat ini memang tidak ada cinta diantara mereka berdua, tapi tidak ada yang tahu dengan yang terjadi kedepannya. Dan Jessica menyerahkan pada waktu untuk menjawab semuanya.
.
.
Di Sebuah bandara yang terlihat sibuk. Lihat seorang pria menarik kopernya menuju pintu keluar, sesekali pandangannya menyapu seperti mencari keberadaan seseorang, mungkin dia mencari orang yang datang menjemputnya. Tetapi sayangnya tak terlihat batang hidung orang yang dia cari.
Tapp..
Pria itu menghentikan langkahnya saat merasakan ponsel dalam satu celananya berdering menandakan ada sebuah panggilan yang masuk. Satu Nama tertera menghiasi layar konsernya, iya pun segera menerima panggilan tersebut.
"Oke, aku akan segera tiba di sana. Tunggu sebentar lagi, aku masih dalam perjalanan." jawab orang yang sedari tadi ia tunggu.
Pria itu lantas menghela nafas. Pantas saja ia tak melihat batang hidung temannya, ternyata dia memang belum datang untuk menjemputnya.
Lalu pria itu menarik kopernya menuju kursi panjang yang berada di bagian luar bandara, dia memutuskan untuk menunggu di sana agar orang yang menjemputnya tidak kesulitan menemukannya.
Sembari menunggu, iya iseng-iseng membuka ponselnya. Dan sebuah berita yang sedang panas-panasnya membuatnya terkejut. Kemudian ia mencari kontak seseorang yang tersimpan di ponselnya lalu menghubunginya.
"Mama, ini aku Darco. Kalian di mana sekarang?"
"Darco?!" suara wanita di seberang sana terdengar terkejut mendengar nama orang yang menghubunginya. "Huaaa..!! Anak durhaka akhirnya kau menghubungi Mama juga, saat ini Mama berada di kawasan kumuh di bagian Barat Kota Seoul. Cepatlah kemari bawa Mama keluar dari tempat seperti ini, mama tidak mau lagi tinggal di sini!!"
"Mama Jangan cemas, aku akan segera menjemput Mama!!"
.
.
Jessica yang baru saja tiba di rumahnya tampak kebingungan saat tak mendapati keberadaan ibunya, ia berpikir jika Ivanka kembali ke kediaman mereka.
Dengan langkah tenang jessica menghampiri seorang laki-laki yang sedang duduk santai di ruang keluarga sambil menikmati secangkir kopi.
__ADS_1
Wanita itu memperhatikan penampilan laki-laki tersebut, tak ada yang istimewa hanya sebuah kemeja putih lengan terbuka celana panjang hitam. Tapi entah kenapa itu justru membuatnya terlihat sangat tampan.
Jessica menggelengkan kepala, membuang jauh-jauh pikiran konyolnya tentang Luhan. Kenapa dia harus mengagumi pria menyebalkan itu.
Luhan mengangkat kepalanya saat mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang.
"Dimana mama? Apa dia sudah pulang?" tanya wanita itu seraya mendekati suaminya.
Luhan menatap sekilas pada Jessica. "Dia kembali ke Eropa hari ini, dan memintaku supaya menyampaikan maafnya padamu." Kemudian Luhan mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Jessica. Mendengar hal itu membuat Jessica sangat terkejut.
"Apa kau bilang, mama sudah kembali ke Eropa dan dia tidak mengatakan apapun padaku?! Luhan, ayo antarkan aku ke bandara. Aku ingin bertemu dengannya. Aku mohon, aku tidak bisa membiarkannya pergi." Mohon Jessica dengan mata berkaca-kaca.
Luhan menggeleng. "Percuma kita berangkat sekarang, tetap tidak akan terburu dan kau tidak bisa bertemu dengannya. Karena 20 menit lagi pesawatnya sudah lepas landas."
"MASIH TERBURU!!" teriak Jessica dan membuat Luhan sedikit terkejut. "Jika kita berangkat sekarang, itu masih terburu. Luhan, aku mohon. Bawa aku untuk bertemu dengannya, bertahun-tahun aku terpisah darinya dan sekarang kami bisa bertemu dan berkumpul kembali."
"Hanya kau yang bisa membantuku. Aku mohon, pertemukan kembali aku dengannya. Sebentar saja, meskipun hanya 10 detik tidak apa-apa. Yang terpenting aku bisa bertemu dengannya, aku mohon." air mata Jessica semakin deras mengalir membasahi wajah cantiknya.
Melihat wanita itu yang berurai air mata membuat Luhan tidak tega. Dadanya terasa sesak melihat air mata yang membasahi wajah cantik wanita itu, belum pernah ia merasakan hal semacam ini sebelumnya.
Luhan mengambil nafas panjang dan menghilangkan. Kemudian ia berdiri dan menatap Jessica yang menatapnya dengan tatapan memohon.
"Baiklah, ayo pergi sekarang!!"
Luhan benar-benar tidak tega melihat Jessica yang terus berurai air mata. Tiba-tiba ia merasa lemah, sungguh sesuatu yang tak masuk akal di luar Nalar.
Apa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, justru ia rasakan setelah mengenal wanita ini.
Luhan dan Jessica sedang dalam perjalanan menuju bandara. Wanita itu tak bisa kehilangan ibunya lagi, sudah cukup satu kali Jessica berpisah darinya dan ia tidak ingin berpisah untuk kedua kalinya. Iya ingin ibunya selalu berada di sisinya, apapun yang terjadi.
Sesekali Luhan menatap wanita yang duduk di sampingnya. Melihat wajah sebabnya membuatnya merasa tak tega, tetapi dia bingung harus melakukan apa apalagi saat ini ia sedang mengemudi.
Kemudian Luhan mengambil beberapa lembar tisu dan memberikannya pada Jessica.
"Apa kau begitu takut kehilangannya?" ucap Luhan memecah keheningan.
Jessica mengangguk. "Ya, dia adalah keluargaku satu-satunya. Papa sudah tidak peduli lagi padaku. Aku sudah pernah kehilangannya satu kali, dan aku tak ingin kehilangan lagi."
"Kau tidak akan kehilangan lagi, aku berani pastikan itu!!"
Luhan berjanji pada Jessica jika dia tak akan kehilangan ibunya lagi. Dan Luhan akan menepati janjinya itu.
.
.
Bersambung.
__ADS_1