
Beberapa pria bersenjata memasuki sebuah pusat perbelanjaan. Tak terlihat seperti apa rupa mereka karena tertutup kain hitam yang hanya memperlihatkan bagian mata, hidung dan mulutnya. Tak ketinggalan sebuah kantong hitam besar
Melihat kedatangan orang-orang itu membuat para pengunjung Mall kocar-kacir menyelamatkan diri.
Dorrr...
Dorrr..
Dorrr..
Dua diantara lima pria itu melepaskan tembakannya secar membabi buta. Sedikitnya ada tiga korban yang tumbang, seorang ibu-ibu muda yang sedang mengandung serta dua orang remaja putri.
Teriakan dan jeritan ketakutan para pengunjung menjadi melody mencekam siang itu. Semua berhamburan menyelamatkan diri masing-masing.
Dan kegaduhan yang sedang terjadi membuat Jessica yang masih berada di toko parfum menjadi bingung dan penasaran.
Dia dan Devan berlari keluar dan mereka sama-sama terkejut melihat jeritan orang-orang yang ketakutan karena lima pria yang sebenarnya adalah perampok. Mereka ketakutan setengah mati. Dan ada seorang ibu yang menangis histeris karena anaknya berada ditangan mereka.
"DIAM DI TEMPAT JIKA TIDAK INGIN MATI MENGENASKAN. CEPAT SERAHKAN HARTA BENDA KALIAN DAN MASUKKAN KE DALAM KANTONG INI!!"
"To..Tolong, lepaskan putra saya." Mohon wanita itu.
"DIAM!!" bentak pria yang menyandera putranya.
Melihat hal tersebut membuat Jessica merasa geram. Bagaimana bisa mereka menjadikan anak kecil sebagai sandera, jelas-jelas anak kecil tidak tahu apa-apa. Lalu pandangan Jessica bergulir pada Devan. Wanita itu memicingkan matanya dan menatap Devan.
"Kenapa kau berkeringat dingin? Jangan bilang jika kau ketakutan," ucapnya penuh selidik.
Devan mengangguk kaku. "Ya, aku sangat takut. Mereka sangat mengerikan, apalagi melihat senjata di tangan mereka membuat aku ingin pipis." Jawabnya.
Jessica mendengus. Rasanya Dia tidak percaya melihat pria segagah Devan ternyata adalah seorang pengecut.
Tanpa menghiraukan laki-laki itu, Jessica pun segera mengambil tindakan!! Dia tidak bisa hanya diam dan membiarkan nyawa anak itu berada dalam bahaya.
"Kau benar-benar tidak berguna!!"
Tanpa menghiraukan keselamatannya sendiri. Jessica menghampiri mereka berlima dan menarik anak laki-laki itu dari tangan orang yang menyanderanya. "Dasar kumpulan banc*!! Berani menggunakan anak kecil sebagai tameng. Kalian sungguh sangat memalukan!!"
__ADS_1
"Wanita sialan!! Berani sekali kau ikut campur?! Apa kau sudah bosan hidup, hah?!" teriak salah seorang dari mereka berlima.
"Sudahlah, Bos. Sebaiknya kita urus saja yang ini dulu. Dia sangat cantik dan lumayan untuk menghilangkan rasa haus setelah cukup lama tidak dimanjakan para betina!!"
Pria yang dipanggil Bos itu pun menyeringai. Anak buahnya itu memberikan sebuah ide yang sangat bagus. "Kau benar sekali, apa yang kalian tunggu?! Segera seret wanita sialan itu ke hadapanku!!"
"Siap Bos!!"
Dorrr...
Dorrr...
Dorrr...
Dorrr...
Satu persatu anak buah pria berbadan pendek itu pun tumbang setelah terterjang oleh
sebuah peluru yang melesat dari arah belakang. Peredam yang terpasang pada senjata jenis S&W 500M membuat orang-orang itu tak sadar jika bahaya telah mengintai diri mereka.
"Kau tidak apa-apa? Apakah mereka melukaimu?" Jessica menggeleng meyakinkan pada Luhan jika dirinya tidak apa-apa. "Jangan pernah melakukan kegilaan yang membahayakan dirimu sendiri!! Mundurlah, tersisa satu cacing tanah dan biar aku yang mengurusnya!!"
Pria itu pun tampak ketakutan ketika melihat Luhan berjalan kearahnya. Wajah tampannya tak menunjukkan ekspresi apapun, dingin.
Pria yang wajahnya tersamarkan oleh kupluk hitam itu pun terlihat mundur beberapa langkah. Namun sial, punggungnya malah bertabrakan dengan tembok. Dia tidak bisa berlari kemana pun lagi.
"Ja..Jangan mendekat, atau aku akan menembakmu!!" teriak pria itu mengancam.
Pistol ditangannya terlepas dari genggamannya setelah Luhan menendang pergelangan tangannya. Senjata itu terlempar jauh. Dan ketika dia ingin mengambilnya kembali, Luhan justru menghancurkannya dengan menembak senjata tersebut.
"Berani sekali kau memerintahkan anak buahmu untuk menangkap wanitaku!! Dosamu tidak bisa termaafkan lagi, kau.. harus mati!!"
Pria itu menggeleng. memohon supaya Luhan mengampuninya, Tapi sayangnya tidak ada kata ampun untuk orang yang sudah berani membahayakan keselamatan wanitanya. Dan harga malah yang harus dibayar adalah dengan kemat!!an.
Dorrr..
Dorrr...
__ADS_1
Tubuh itu pun roboh seketika setelah dua peluru yang melesat cepat dari revolver milik Luhan menembus kepal* dan dadanya. Dan apa yang Luhan lakukan tentu saja membuat Jessica terkejut bukan main. Dia sampai melongo melihat bagaimana Luhan menghabisi pria tersebut. Jessica benar-benar tak percaya jika Luhan bisa sekejam itu.
Orang-orang yang tadinya berkerumun mulai menyisih ketika Luhan melewati mereka. Dia menghampiri Jessica yang tak bereaksi sama sekali. Bahkan ketika seorang pria menegurnya. Dan pria itu adalah orang yang sama yang Luhan lihat di cafe hari itu.
"Sica, kenapa kau berkeringat dingin?" tanya Devan melihat keringat mengucur dari pelipis wanita itu.
Sontak Jessica menoleh, dia menatap Devan dan menggeleng. "Tidak apa-apa. Hanya saja udara di sini terlalu panas," jawabnya.
"Kita pulang!!" Luhan meraih pergelangan tangan Jessica dan membawanya menjauh dari Devan. Dan Devan pun tak terima.
"Yakk!! Berhenti kau!! Berani-beraninya kau membawa dia pergi dengan seenak jidatmu!! Dia datang bersamaku jadi jangan sembarangan membawanya pergi!!"
Luhan menghentikan langkahnya begitu pula dengan Jessica. Pria itu menoleh ke belakang dan menatap depan dengan tatapan mematikan membuat tubuh Devan menegang seketika.
"Memangnya apa bagusnya dia datang bersamamu?! Apa kau bisa menjaganya? Apa kau bisa melindunginya? Disaat dia menerjang bahaya, lalu kenapa kau hanya diam dan melihatnya saja?! Kenapa kau tidak mengambil tindakan untuk menghentikannya?!"
"A..Aku~!!"
"Kau memang seorang pengecut!! Jika tidak bisa melindunginya, sebaiknya jangan pernah menyentuhnya!!" ucapnya menegaskan.
Jessica mengangkat wajahnya dan menatap Luhan setelah mendengar apa yang baru saja dia katakan. Dia melihat wajah tampan itu tak menunjukkan ekspresi apapun, datar.
Entah kenapa Jessica merasa seperti ada jutaan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya ketika mendengar ucapan Luhan.
Si menyebalkan ini begitu melindunginya. Dan dia sangat marah ketika ada pria yang bersamanya tetapi dia tak berguna sama sekali, dia tidak bisa apa-apa apalagi untuk melindungi dirinya.
Diam-diam Jessica menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis. Hatinya terasa menghangat. Baru kali ini ada orang yang mau melindunginya dari bahaya, apalagi orang itu adalah orang asing.
"Kita pulang!!" ucap Luhan yang kemudian dibalas anggukan oleh Jessica.
Wanita itu menurut dan tak memberikan protes apapun pada Luhan. Tidak seperti biasanya yang harus bertengkar dulu baru mau menurut. Mungkin karena apa yang baru saja Luhan lakukan untuknya.
-
-
Bersambung
__ADS_1