Satu Malam Bersama Pria Asing

Satu Malam Bersama Pria Asing
Jia Demam


__ADS_3

Luhan menghentikan Mobilnya di halaman luas sebuah rumah bertingkat dua. Jessica pun buru-buru turun dan masuk ke dalam rumah tersebut, di dalam sana sudah ada Devan yang sedang merawat Jia. Dia sedang demam, karena keluarga Jia jauh, jadi dia hanya bisa mengandalkan teman-teman terdekatnya saja.


Jessica menghampiri Jia di kamarnya dan meninggalkan Luhan begitu saja. "Dev, bagaimana keadaan Jia? Apa demamnya sudah turun?" tanya Jessica memastikan. Kecemasan terlihat jelas pada raut wajahnya.


Devan menggeleng. "Demamnya masih tinggi, padahal aku sudah mengompresnya tadi." Jawab pria itu.


"Lalu apa kau sudah mengantarkannya ke rumah sakit? Atau memanggil dokter kemari?" tanya Jessica lagi.


Lagi-lagi Devan menggeleng. "Dia menolak, kau tahu sendiri kan Jia sangat takut pada jarum suntik. Itulah kenapa Jia menolak ketika aku mengajaknya untuk ke rumah sakit," jawab Devan menjelaskan.


Jessica menghela nafas panjang. Melihat kondisi Jia, dia tidak memiliki pilihan selain memaksanya agar mau pergi ke rumah sakit. Jia demam tinggi dan wajahnya terlihat pucat. Tetapi Jia tetap bersikeras untuk menolaknya, Jia benar-benar tidak mau dibawa ke rumah sakit. Jia tidak mau jika sampai di suntik apalagi diinfus.


"Aku tidak mau tahu!! Setuju ataupun tidak, aku akan tetap membawamu ke rumah sakit!!" ucap Jessica menegaskan. Dia tidak peduli dengan penolakan Jia.


Dan sementara itu, melihat jarak antara Jessica dan Devan yang sangat dekat membuat Luhan yang baru tiba di kamar Jia menunjukkan tatapan tidak suka.


Dia memang tidak suka melihat istrinya dekat dengan pria lain, apalagi orang itu adalah Devan yang jelas-jelas menaruh hati pada Jessica.


"Jaga jarakmu darinya!! Karena aku tidak suka Kau dekat-dekat dengan istriku!!" ucap Luhan seraya menarik Devan menjauh dari Jessica.


Jessica menghela nafas dan memandang Luhan dengan tajam. "Ini bukan saatnya untuk bertengkar. Dan kau, Lu!! Sebaiknya jangan memulai keributan. Fokus pada Jia, kita harus segera membawanya ke rumah sakit!!" ucap Jessica sambil mengunci manik hitam Luhan.


Jia menggeleng. "Sica, aku mohon. Jangan memaksaku pergi ke rumah sakit. Aku benar-benar tidak mau!! Kau tahu sendiri jika Rumah Sakit sangatlah mengerikan. Banyak jarum suntik dimana-mana, dan aku tidak mau sampai berurusan dengan benda tajam itu!! Jadi jangan memaksaku untuk pergi ke sana ya," Mohon Jia.


Jessica menutup matanya Seraya menggelengkan kepala. "Jangan memohon padaku!! Karena aku tak akan berubah pikiran. Setuju ataupun tidak, kita akan tetap pergi ke rumah sakit!! Paham?! Devan, tolong angkat Jia. Kau satu mobil dengannya, aku akan satu mobil dengan Luhan!!"


Devan mengangguk. "Baiklah,"


.

__ADS_1


.


"Davina, tunggu!!"


Perempuan itu membulatkan kedua matanya saat melihat keberadaan ibu dan kakaknya. Buru-buru Davina menghentikan taksi dan segera melarikan diri.


Dia malas jika harus berurusan dengan mereka berdua. Davina Sudah tidak ingin berurusan dengan mereka lagi, karena ia sudah memiliki kehidupan yang lebih baik sekarang.


"Davina!!" Rachel berteriak Memanggil nama putrinya. "Anak sialan!! Berani-beraninya dia menghindariku setelah membawa kabur seluruh perhiasan yang aku miliki!!" amuk Rachel penuh emosi.


Darco pun berusaha menenangkan ibunya yang tak terkendali tersebut. "Ma, kendalikan emosimu. Tidak ada gunanya kau marah-marah sekarang, anak tak tahu diri itu sudah pergi. Sebaiknya kita mencari cara untuk menemukan dia dan memberinya pelajaran. Sebaiknya sekarang kita pulang!!"


"Darco, Mama tidak mau tahu!! Bagaimanapun caranya seret anak tak tahu diri itu ke hadapan Mama. Biar Mama yang memberinya pelajaran!!" ujar Rachel.


Rachel benar-benar marah pada Davina karena telah membawa kabur semua perhiasan-perhiasan miliknya. Padahal perhiasan itu adalah satu-satunya harta paling berharga yang dia miliki saat ini, dan Rachel sangat tidak rela kita harus kehilangan perhiasan tersebut begitu saja.


Ibu dua anak itu bersumpah. Bagaimanapun caranya, dia harus bisa menemukan Davina. Jika tidak diberi pelajaran, dia tidak akan jerah lagi mau mengakui kesalahannya.


.


.


Devan menghampiri Jessica sambil membawa dua kaleng minuman yang salah satunya Ia berikan padanya.


Melihat Jessica sendirian, hal itu pun segera dimanfaatkan oleh Devan untuk mendekatinya. Dia tidak tahu Kemana perginya Luhan.


"Jess, ini."


Wanita itu tersenyum lalu mengambil minuman itu dari tangan Devan."Terimakasih." ucapnya sambil tersenyum. "Aku lega karena Jia baik-baik saja!! Gadis keras kepala itu, jika tidak dipaksa pasti dia tetap tidak mau diajak pergi ke rumah sakit!!"

__ADS_1


"Kau seperti tidak mengenalnya saja. Dibandingkan diriku tentu saja kau yang jauh lebih mengenalnya." ucap Devan.


Jessica mengangguk membenarkan. "Ya, kau benar sekali. Apalagi aku dan Jia sudah bersahabat sejak lama. Jadi baik buruknya tentang dia, tentu aku tahu semuanya." Ujar wanita itu.


"Apa kau tidak bisa diberitahu dengan kata-kata?! Berapa kali aku harus memberitahumu untuk menjauhinya!!" seru Luhan sambil menghampiri mereka berdua.


Pria itu berjalan dengan ngan angkuhnya. Kedua tangannya tersembunyi di dalam satu celananya, dan wajah tampannya tak menunjukkan ekspresi apapun, datar. Namun sorot matanya tajam dan berbahaya. Membuat Devan bergidik melihatnya.


"Sica, maaf aku harus pergi sekarang. Aku lupa jika ada urusan," tak ingin mendapat masalah dan berurusan dengan Luhan, Devan pun memutuskan untuk pergi dengan beralasan jika dia sedang ada urusan.


Selepas kepergian Devan, hanya tersisa Jessica dan Luhan. Wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap suaminya yang sedang menatapnya dengan tajam. Jessica menekuk wajahnya.


"Jangan memasang wajah menyebalkan seperti itu di depanku! Itu terlalu mengerikan untuk dilihat, anak kecil bisa lari sambil terkencing-kencing melihat ekspresimu yang mengerikan itu!!" ucap Jessica.


Tanpa mengatakan sepatah kata pun, luhan menarik tentang Jessica dan mencium bibirnya dengan ganas. Membuat kedua mata perempuan itu membulat sempurna, tak mengira jika Luhan akan menciumnya.


Dan parahnya lagi pria itu menciumnya di tempat umum.


Jessica berusaha untuk melepaskan ciuman tersebut, tetapi tidak bisa. Tenaganya kalah telak dari Luhan, hingga akhirnya dia hanya bisa pasrah menerima ciuman ganas suaminya. Dalam hatinya Jessica terus mengumpat dan menghujani Luhan dengan kata-kata mutiara.


"Dasar, Xiao Luhan menyebalkan!! Tak punya perasaan, awas saja nanti, aku pasti akan membalasmu!! Ya Tuhan, kenapa rasanya nikmat sekali ciuman ini!! Sampai-sampai aku tidak mau mengakhirinya, dasar Iblis sialan, kenapa dia harus membuatmu terlena seperti ini sih?! Xiao Luhan, kau sangat-sangat menyebalkan!!"


Dan akhirnya Jessica pun menyerah. Dia benar-benar menikmati ciuman tersebut. Bagaimana dia bisa menolaknya karena ciuman tersebut yang benar-benar memabukkan?!


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2