
Jessica menatap Luhan penuh rasa bersalah, pasalnya pria itu terluka karena dirinya.
Karena jika Luhan tidak melindunginya, pasti dirinyalah yang sudah terluka.
Dan hal itu menimbulkan rasa bersalah di hati Jessica setiap kali melihat perban yang membebat keningnya.
Wanita itu menghentikan seorang pelayan yang hendak mengantarkan kopi untuk Luhan. "Apakah itu untuk, Tuan?"
Pelayan itu mengangguk. "Benar, Nyonya."
"Kalau begitu Biar aku saja yang membawa kopi ini padanya," kemudian Jessica mengambil alih nampan berisi secangkir kopi itu dari tangan pelayan lalu membawanya kepada Luhan.
"BODOH!! Apa saja yang kalian kerjakan, mengatasi dua orang saja tidak bisa!!"
Jessica terlonjak kaget mendengar yang berasal dari dalam ruangan di depannya. Tubuhnya sampai gemetaran, karena terlalu terkejut. Dan Dia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam.
Jessica tak ingin jika sampai menjadi sasaran kemarahan Luhan.
Lantas ia membawa kopi itu kembali turun ke bawah. Pelayan tadi menghampiri Jessica dan bertanya padanya. "Nyonya, kenapa kopinya Anda bawa kembali kemari? Bagaimana jika Tuan menanyakannya?" ucap pelayan itu.
Jessica menggeleng. "Mungkin saja Tuan-mu sudah lupa, dia sedang mengamuk di kamarnya. Aku jadi takut sendiri untuk masuk ke dalam, bisa-bisa aku diterkam oleh seekor singa yang sedang kelaparan!!"
"Siapa yang disebut sebagai singa kelaparan?!" ucap seseorang dari belakang.
"Omo!!" dan membuat Jessica terlonjak kaget.
Ia menoleh ke belakang dan mendapati Luhan berjalan menghampirinya. Tatapannya dingin dan penuh intimidasi membuat Jessica takut sendiri.
__ADS_1
"Yakk!! Ke..Kenapa kau menatapku seperti itu, Xiao Luhan?! Apa kau sengaja ingin membuatku mati karena jantungan?!" amuk wanita itu sambil menekuk wajahnya.
Rasa simpatic dan bersalahnya pada Luhan hilang seketika. Pria itu benar-benar menyebalkan dan membuat Jessica kesal setengah mati, kenapa dia hobi sekali membuat orang terkejut dan nyaris jantungan?!
"Siapa yang kau sebut sebagai singa kelaparan?" Luhan bertanya sekali lagi. Meskipun sebenarnya dia tahu jika kata-kata itu Jessica tunjukkan padanya.
Kemudian wanita itu mendekati Luhan dan menunjuk dia tepat di depan wajahnya. "Kau orangnya, kaulah singa kelaparan itu!!"
Luhan menyingkirkan tangan Jessica dari depan wajahnya. "Kopi itu untukku kan? Lalu kenapa kau tidak jadi mengantarkannya ke ruanganku?" tanya Luhan sambil menunjuk nampan berisi secangkir kopi yang ada di tangan Jessica.
"Tadinya sih iya, tapi sekarang tidak lagi. Jika kau mau, bikin saja sendiri!!" balas Jessica menimpali.
Seketika pelayan itu pun jadi panik. Dia takut dan cemas jika Tuannya ini sampai marah dan emosi karena ucapan Jessica. Mengingat seberapa buruk tempramen seorang Xiao Luhan.
"Nyonya, Anda tidak perlu lagi berdebat dengan, Tuan. Tuan, tolong jangan marahi, Nyonya. Biar saya buatkan lagi yang baru untuk Anda." Ucap pelayan itu dengan panik.
Sudah banyak wanita yang menjadi korban kesadisan dan kekejaman tuannya ini. Ya, sudah banyak nyawa yang melayang sia-sia di tangan Luhan.
"Tidak perlu setakut itu, Tuan-mu tidak mungkin melakukan sesuatu padaku. Dan tidak perlu membuat kopi yang baru untuknya. Yang ini masih lebih dari layak untuk diminum, dan jika dia tidak mau, biarkan saja dan tidak perlu dibuatkan yang baru!!" ujar Jessica.
Luhan mendengus mendengar ocehan wanita itu. Sementara si pelayan mulai Berkeringat dingin. Dia harap-harap cemas akan nasib Jessica karena terlalu berani pada Luhan.
Dan di luar dugaannya, bukannya marah pada Jessica, Luhan malah mengambil kopi itu lalu meminumnya.
"Tu..Tuan," dan dia menatap tuannya tak percaya.
Ini pertama kalinya ia melihat tuannya tidak marah apalagi lepas kendali karena ulah seorang wanita. Apalagi Jessica mengeluarkan kata-kata mutiaranya. Jessica tersenyum lebar.
__ADS_1
"Aku bilang juga apa, kau sudah melihatnya sendiri bukan," dia menatap pelayan itu penuh kemenangan.
Dan pelayan itu nyaris tak percaya, ternyata nyonya ini benar-benar luar biasa. Rupanya Tuannya telah menemukan tambatan hatinya. Dan sepertinya Luhan benar-benar sudah jatuh cinta pada Jessica.
.
.
Tuan David dan Rachel ini menjalani kehidupan yang jauh dari kata layak. Setelah terusir keluar dari kediaman Valentino. Kini mereka berdua hidup serba kekurangan.
Jangankan untuk bermewah-mewahan seperti dulu, untuk makan pun mereka kesulitan. Semua perhiasan milik Rachel dibawa kabur oleh putrinya, dan entah di mana kini Davina berada.
Kepulangan Darco pun tak mampu merubah kehidupan mereka saat ini. Dan Darco hanya mampu membantu sedikit meringankan beban mereka berdua untuk urusan makan.
dan David menyalakan Davina karena telah membawa kapur semua perhiasan milik Rachel.
"Ini semua karena putrimu yang durhaka itu, jika saja dia tidak membawa kabur semua perhiasanmu. Pasti hidup kita tak akan berakhir menyedihkan seperti ini!!" David tak mau kalah.
"Kenapa kok malah menyalahkan putriku?! salahkan saja mantan istrimu yang gila itu!! Jika bukan karena dia, hidup kita juga tak akan berakhir menyedihkan seperti ini!! Daripada kau terus saja, baiknya pergi cari pekerjaan aku sudah mulai muak dengan hidup seperti ini!!" ucap Rachel tak mau kalah.
"Kau pikir hanya kau saja yang muak?! Aku pun muak. Dan dari pada kau memerintahku seenak jidatmu, sebaiknya pergi ke rumah bordil dan jual dirimu!!" ucap David dan pergi begitu saja.
Dan Rachel pun langsung terbakar emosi mendengar ucapan suaminya. Bagaimana bisa dia menyarankan supaya dirinya menjual diri di rumah bordil. "David, kau benar-benar bajingan!!"
.
.
__ADS_1
Bersambung.