
Jalanan yang selalu ramai itu tampak semakin ramai saat sebuah mobile Sport hitam mengkilap berhenti disebuah restoran mewah. Semua orang disana minggir, dan matanya tak lepas dari mobil mewah itu.
Suara bisik-bisik itu semakin keras ketika tangan sang pria mulai terulur, seperti menunggu seseorang dari dalam mobil. "Ayo turun."
"Bukankah kau bilang mau mengantarku pulang, lalu kenapa kita malah berhenti disini? Dan kenapa masih ada restoran yang buka di jam segini?"
"Jangan banyak bicara lagi, ayo turun." memberi kode pada perempuan di dalam mobilnya agar menerima uluran tangannya.
Wanita itu mendengus. "Dasar, Xiao Luhan, pemaksa!!"
Setelahnya tampak tangan putih nan mulus yang membalas pegangannya, barulah mereka semua bertanya-tanya siapa wanita beruntung yang telah menyentuh bahkan sampai menggandeng laki-laki setampan itu.
Namun Xiao Luhan tampak tidak peduli dengan orang-orang yang sedang menatap mereka dengan berbagai tatapan tersebut, namun rasa tak nyaman jelas ditunjukkan oleh wanita yang bersamanya yang tak lain dan tak bukan adalah Jessica.
"Jangan hiraukan. Ayo pergi."
Satu perintah untuknya, membuat Jessica segera menyeret kakinya mengikuti langkah cepat Luhan yang tanpa segan menggandeng tangannya, berjalan memasuki restoran. Bukannya merasa digandeng oleh orang setampan Luhan, dia justru merasa kurang nyama .
Setelah tiba di dalam restoran mewah bergaya Eropa itu, Luhan dituntun oleh sang pelayan ke meja pesanannya, tepatnya di pojok ruangan. Lalu undangan Luhan bergulir pada wanita yang datang bersamanya dan menatap sosok itu tanpa ekspresi. Jessica duduk berhadapan dengannya.
"Akhirnya kau tiba juga, Xiao Luhan. Wow, siapa wanita cantik yang datang bersamamu ini?"
Pria yang menyambut Luhan itu terlihat menyeringai genit ke arah Jessica yang hanya diam saja. Sedangkan wanita itu diam dan tak menghiraukannya.
"Kenapa kau tidak pernah membagikan wanita ini untukku?"
__ADS_1
"Kau pikir aku barang bisa dibagi-bagi?!" sahut Jessica menimpali. Dia berbicara dengan nada ketus dan kurang bersahabat.
"Wow, baru kali ini kau memiliki wanita yang sangat luar biasa, Xiao Luhan!! Tak hanya cantik seperti Dewi, tetapi dia juga memiliki lidah yang sangat tajam. Dan aku menyukai wanita seperti ini!!"
"Tapi aku tidak menyukai laki-laki hidung belang sepertimu!!" Jessica menyahut cepat.
Kemudian Luhan menaruh cairan wine dalam gelasnya dan menghela napas. "Dia milikku dan aku tidak akan membaginya dengan siapapun!!" Ucapnya menegaskan.
"Siapa bilang Aku milikmu?! Aku bukan milikmu atau milik siapapun, tapi aku milik diriku sendiri!! jadi jangan sembarangan mengklaim orang lain sebagai milikmu!!" Jessica memberikan kata-kata menohok untuk menimpali ucapan Luhan.
Bukannya merasa tersinggung, Luhan justru tersenyum. Karena baru sekarang ada perempuan yang berani menempel semua ucapannya apalagi dengan nada ketus.
Laki-laki yang duduk bersebelahan dengan Jessica benar-benar merasa kagum padanya, pasalnya baru kali ini ia melihat ada wanita yang sepertinya tidak tertarik pada Luhan. Tetapi itu tidaklah penting, yang paling penting sekarang adalah tujuan ia dan Luhan bertemu.
"Jadi, ini masalah anak buahku lagi, heh?"
Mark menaikkan alisnya. "Jadi, apa masalahnya?"
"Anak buahku yang berada di LA mengatakan mereka diserang," Luhan menatap Mark tajam,"Dan yang menyerang mereka masih belum diketahui sampai detik ini!!"
Marik Menggeleng. "Tidak mungkin! Jangan bercanda,bXiao Luhan!! Rasanya Aku tidak percaya jika mereka bisa diserang dengan sangat mudah!! Apalagi kita semua tahu jika anak buahmu yang berada disana sebagain adalah orang-orang pilihan. Jadi itu sangat mustahil!!"
"Aku tidak bercanda," Luhan mendengus. "Ada dua orang yang berhasil kabur, mereka datang kemari dan menjelaskan semuanya padaku!!"
"Sekarang dimana mereka?" tanya Mark.
__ADS_1
Luhan menyeringai, "Mati menjadi abu."
Mark pun terdiam. Matanya melotot tak percaya. "Itu artinya adalah...!! Kau... membunu* mereka?" dia memekik seraya menatap Luhan tak percaya.
"Lebih tepatnya... membakar." Luhan mulai menyalakan rokoknya, "Mereka gagal melakukan misi. Jadi untuk apa aku membaurkan mereka tetap hidup dan bernapas?! Bisa saja kan mereka sedang dikendalikan oleh orang lain. Memang tidak terlihat mencolok, tapi aku merasakan ada sesuatu yang dipasang dengan sengaja di tubuh mereka!!" Jelas Luhan.
"Tapi kau bisa menyumpal mulut mereka dengan uang 'kan? Seperti hal yang biasa kau lakukan?"
"Tidak," Luhan menghembuskan asap rokok ke atas, membuat asap tipis itu membumbung. "Aku yakin uang tidaklah bisa mengendalikan semua orang. Tapi... ada,"
"Siapa?"
"Entahlah," Luhan mengedikkan bahu. Namun, dia tersenyum. "Tapi cepat atau lambat, orang itu akan ketahuan."
Mark terdiam. Pelipisnya sedikit berkeringat ketika melihat wajah tampan Luhan sedang tersenyum kecil kepadanya. Jika dia berbuat sesuatu yang salah di depan pria itu, ia yakin sedetik kemudian kepalanya pasti sudah berlubang.
Dan sementara itu. Jessica yang sudah muak mendengar obrolan tak penting mereka berdua pun segera angkat bicara. "Yakk!! Kulkas berjalan, sebenarnya kau membawaku kemari untuk apa?! untuk makan atau hanya mendengarkan obrolan kalian berdua yang tidak penting?!" itu melayangkan protesnya pada Luhan dan Mark.
Luhan mendengar. dia hampir saja melupakan Jessica karena terlalu serius berbicara dengan Mark.
Mark terlihat bangkit dari kursinya. "Aku tidak ingin mengganggu kalian berdua. Soo, lanjutkan saja!!"
Selepas kepergian Mark. Di meja itu hanya menyisakan mereka berdua. Baik Luhan maupun Jessica tak ada yang berbicara. Jessica sibuk dengan makannya, sementara Luhan sibuk dengan ponselnya.
-
__ADS_1
-
Bersambung.