Saudara Kembar Dari Alam Ghaib

Saudara Kembar Dari Alam Ghaib
Mimpi Bagian I


__ADS_3

Dia terus berlari menjauh sekencang mungkin, namun wanita yang bergaun itu tetap mengejar sambil melayang di udara.


Keringat bercucuran basahi baju yang dikenakannya, dia terjatuh, lalu bangkit lagi, dia masih terus berlari hingga napasnya tersengal-sengal, terkadang behenti sejenak, untuk melihat ke belakang. Disaat wanita bergaun menghampirinya, dirinya berlari hingga dia tersandung ke bibir sumur yang tidak terlihat olehnya, dan tubuhnya masuk kedalam sumur itu, sambil berteriak.


Aaaaaaaaaa... Gedebak, Gedebuk


Kevin berteriak histeris, hingga seluruh badan berguling jatuh ke lantai.


Tubuh Kevin yang sedang tidur, langsung berdiri, tangan kanan memegang dada sambil mengelusnya, detak jantungnya berasa begitu cepat, napasnya masih tersengal-sengal.


Dalam gelap, duduk termenung melamunkan, mengingat mimpi apa yang telah terjadi.


Dia ingat akan mimpinya, wanita bergaun itu mengejar sampai dia terjatuh ke dalam sumur.


Kevin menyeka keringat yang mengalir ke wajah dan leher, dia merasakan sakit di pantatnya, lalu mencoba meraba area yang sakit.


"Aaaw..." teriaknya, saat meraba pantat yang sakit.


Cetrek


Kevin berdiri menyalakan lampu, suasana kamar yang gelap gulita sekarang terang berderang.


"Uuh, haus sekali rasanya tenggorokan" tangan Kevin pegang tenggorokan dan mengusapnya naik turun, lalu pergi keluar.


"Gimana sih!" mau ambil air malah cari makanan." Celetuknya, sedang duduk di kursi meja makan.


Disaat sedang menikmati makan, dibelakang dirinya dengan tiba-tiba ada yang pegang pundak, lalu merayap ke leher.


Lama semakin lama bulu kuduknya berdiri, Tangan gemetar, mau menoleh terasa berat, seperti ada yang mengahalangi kepala. Dia tidak berucap maupun bergerak.


Rambut hitam terurai panjang, turun perlahan ke dada, dia sudah tak berdaya, seperti patung tak bergerak, hanya duduk terdiam membisu.


Dalam diam dan hening malam, tercium semerbak aroma wangi yang tak asing baginya.


Tunggu!


Kevin ingin meliriknya, namun tak bisa. Wangi ini tidak asing bagi hidung Kevin, dia hapal betul dengan wanginya, tapi entah dimana dia mencium wangi itu.


Tak lama kemudian, tangan itu mengarah ke depan, hingga terlihat kulit putih keriput dan jari-jari lentik di depan mata.


Mata Kevin tertuju pada jari manis yang menggerayangi, dia merasakan ada yang ganjil.


Keeevin...


Terdengar suara yang memanggil, persis di gendang telinga, dengan lembut tapi menakutkan. Kevin semakin takut, tubuhnya mengkerut dan rasanya kepingin pingsan saja.


"Hey Vin"


Tegur Mama mengagetkan Kevin, hingga memecahkan rasa takut yang dia rasa.


"Ah Mama, bikin kaget Kevin aja nih. Tuh liat sampe mandi keringet gara-gara Mama, untung saja Kevin gak sampai ngompol." Gerutunya.

__ADS_1


"Kamu kenapa teriak tengah malam begini, sudah gitu langsung makan. Kamu gak kesurupan kan?" Tanya Mama menegur, takut anaknya kenapa-kenapa.


"Kevin tadi mimpi sereeeem Ma" menjelaskan perihal mimpi ke Mama dan Mama hanya mengangguk kepala.


"Terus, terus setannya cewek atau cowok Vin?" Tanya Mama penasaran, meledek anak semata wayangnya.


"Kayanya setan cewek deh Ma, soalnya pakai gaun merah jambu gitu." Jawab Kevin membalas Mama.


"Itu setan atau pacar kamu Vin? Kok, gaun merah jambu, sudah gitu kamu sampai dikejar, mungkin jatuh cinta sama kamu. hahaha" Ledekan Mama semakin menjadi.


"Udah ah Kevin mau tidur lagi." Dengan muka ngambek, dia meninggalkan mama yang masih berada diruang makan.


Baru buka pintu kamar, Kevin balik lagi ke ruang makan, tenggorokannya terasa kering, karena tidak sempat minum.


"Kenapa anak Mama balik lagi, mau nyamperin cewek gaun merah muda atau pacarnya nih?" Tanya Mama sambil bercanda, dan Kevin melihat Mama sedang membereskan meja dan piring bekas Kevin makan.


"Tenggorokan Kevin, kering Ma, tadi lupa belum minum gara-gara Mama, nakutin Kevin." Celetuknya. Dengan musam.


Kevin mengambil gelas di rak piring, dan membuka kulkas, lalu mengambil sebotol air.


Setelah selesai, Kevin kembali ke kamar dan melanjutkan tidurnya yang terganggu oleh mimpi.


Kukuruyuuuuk...


Terdengar suara ayam berkokok di pagi hari.


"Hoaaaam..."


Setelah terbangun, dia duduk terdiam. Merenung sejenak, karena mimpi tadi malam yang dia alami. Badanya terasa pegal-pegal dan kaki merasa letih setelah berlari di dalam mimpi.


Kevin melangkah menghampiri jendela kamar. Dengan perlahan, tirai jendela disorong ke kanan, lalu membuka jendela yang masih terkunci.


Sinar mentari menghangatkan tubuhnya, semilir angin pagi berhembus masuk ke kamar, membuat di dalam kamar sejuk tiada tara.


"Vin, ayo cepat sarapan, nanti keburu dingin nih" Teriak Mama memanggil Kevin, agar lekas sarapan.


Sebelum keluar, Kevin merapikan tempat tidur, menata buku yang berserakan di atas meja, selesai menata dia menuju ruang makan.


"Cuci muka dulu sana kalau mau sarapan, nanti kamu ke kampus mau bareng Ayah atau naik angkutan umum?" ucap Ayah.


"Kevin nanti di jemput sama teman Yah" sahutnya, yang sedang membasuh muka di wastafel, yang tak jauh dari ruang makan dan dapur.


Setelah selesai sarapan, Kevin bergegas mengambil pakaian bersih lalu mandi, karena sebentar lagi Tedy temannya, akan menjemput.


Tedy sudah janji akan berangkat bareng jam sembilan pagi.


Kevin keluar meninggalkan kamar mandi, dan segera memakai pakaian, lalu bersiap-siap berangkat.


Saat hendak melangkahkan kaki ke luar, Kevin mengambil handuk yang tadi sempat dia lempar ke kasur, dan menghampiri Mama.


"Ma, tolong jemurin handuk Kevin ya" Kevin menyodorkan handuk itu ke Mama.

__ADS_1


Kevin kembali ke kamar karena lupa tidak memakai jam.


"Jamku ditaruh dimana ya" dia sibuk mencari jam tangan yang lupa simpan.


Dia mencari sampai ke ruang tamu tapi tidak menemukan jam tanganya.


"Ma, lihat jam tangan Kevin gak?" Kevin bertanya ke Mama, karena posisinya di ruang tamu.


"Kalau Mama nggak salah lihat, ada di dekat TV, coba kamu lihat. Mama masih sibuk di dapur." Sahut Mama yang sedang super sibuk membereskan dapur berantakan dan menatanya.


"Nah ini dia jam tangannya", Dia mengambil jam tangan tersebut, dan langsung memakainya di pergelangan tangan sebelah kiri.


Tin,tiin,tiiiin...


Suara klakson motor Tedy berbunyi.


Kevin menghampiri Tedy dan menyuruhnya untuk menunggu sebentar, lalu tak lama Kevin ambil tas.


Kevin, berpamitan sama Ayah dan Mama.


Ayah menghampiri Mama untuk pamit pergi ke kantor, dan tak lupa mengecup keningnya dengan lembut.


"Hati-hati di jalan Yah, bawa mobilnya pelan-pelan, awas kalau ngebut!" ucap Mama.


"Iya", sahut Ayah, sambil melangkahkan kaki menuju mobil.


Sebelum pergi, Ayah melirik ke rumah, dan tersenyum manis ke Mama yang masih terdiam di depan pintu.


"Vin, Tedy jangan ngebut ya" Ucap Mama.


Kevin cuma mengangguk dan motor Tedy mulai jalan.


Saat Kevin dan Tedy dalam perjalanan.


Pleek, pleek, pleek, pleek


Terdengar suara ban motor yang dinaiki Kevin dan Tedy bocor.


" Ted, sepertinya motor lu bocor nih" ucap Kevin mengingatkan, karena jalan motornya tidak stabil.


Tedy meminggirkan sepeda motor, lalu mengecek, dan ternyata salah satu ban yang belakang bocor.


"Iya Vin, ban belakang bocor, kena paku" sahut Tedy karena melihat ada paku kecil yang menancap di ban motornya.


Mereka berdua mendorong motor, sambil melihat-lihat bengkel terdekat. Selang beberapa lama, jauh didepan sana mulai terlihat seperti bengkel motor.


" Permisi, Bang mau tambal ban." Ucap Kevin ke pemilik bengkel yang kebetulan sedang meminum kopi lalu menyalakan sebatang rokok kretek.


Tedy melihat lihat di bengkel itu masih sepi, belum ada yang menambal.


"Silahkan mas, simpan motornya sebelah sini ya" sahut abang bengkel sambil menunjuk lokasi menyimpan motornya.

__ADS_1


Setelah selesai menambal ban yang bocor, mereka berdua melanjutkan perjalanan ke kampus.


__ADS_2