Saudara Kembar Dari Alam Ghaib

Saudara Kembar Dari Alam Ghaib
Malam Mingguan


__ADS_3

"Wulanku Sayang kemana ya, kok belum kelihatan.


Jangan-jangan dia udah balik duluan, awas aja kalau ninggalin." Kevin menggerutu, dan bersender dibawah pohon sambil bersiul dan melihat sekeliling kampus.


Tak lama kemudian, dia tertidur dibawah pohon yang rindang lalu bermimpi. Dalam mimpi, Kevin bertemu Wina dan Wulan masih kecil, mereka bertiga asik bermain, dia merasa heran dan bingung, karena wajah Wina dan Wulan sangat mirip, cuma sifatnya saja yang berbeda.


"Vin, vin bangun." Wulan mencoba membangunkannya, namun dia masih terlelap tidur.


Wulan duduk disamping Kevin yang sedang tidur, lalu merebahkan kepala Kevin dipangkuannya, dan mengusap ngusap kepalanya, sambil memandang wajah Kevin yang tampan.


Entah mengigau atau apa yang jelas Kevin bergerutu sendiri dalam tidur. Wulan hanya tersenyum melihat kekasihnya yang sedang mengigau. Hingga akhirnya Kevin membuka mata dan terbangun dari pangkuan Wulan.


"Sayang, sudah lama kamu disini?" Tanya Kevin yang nyawanya, belum sepenuhnya terkumpul.


"Lumayan lama sih, kaki aku sampai pegel-pegel mangku kamu." Sahut Wulan manja.


"Pantas saja, tadi waktu aku buka mata, merasakan ada yang empuk-empuk dan hangat dikepala. Ternyata kepalaku ada di pangkuanmu ya Sayang." Sahut Kevin genit, sambil mencolek dagu Wulan.


"Lan, Lan..." panggilnya


"Kenapa Vin"


"Kita berdua ngekost saja yuk biar gak cape bulak balik ke rumah."


"Berdua Vin? Wah, kalau cuma kita berdua bisa bablas nanti. Nggak ah kalau cuma berdua doang mah."


"Iya kita berdua, kalau bablas nanti aku yang tanggung dan kamu yang jawab ya." Sahut Kevin cengengesan.


Wulan mencubit pinggang Kevin lalu merangkulnya, Kevin melingkarkan tangannya ke pinggang Wulan.


"Tuh kan, pasti kamu mau ngekost berdua sama aku, nih buktinya kamu langsung merangkul." Ledek Kevin.


"Oooh, jadi aku nggak boleh nih mesra sama kamu?" Wajah Wulan ngambek dan membelakangi Kevin.


"Idih ngambek, boleh kok sayang. Aku tadi cuma bercanda."


"Yang, sayang. Jangan ngambek dong." Kevin merajuk.


Namun Wulan tidak menggubrisnya.


"Wulan sayang, udah dong jangan ngambek." Rayunya.


Karena rayuan Kevin nggak mempan akhirnya dia menghampirinya ke depan dan ternyata...


"Hahahah, emang enak aku kerjain." Ejek Wulan.


"Dasar" tangan Kevin memegang kepala Wulan dan mengusapnya perlahan.


"Udah sore nih yuk pulang." Ucap Kevin.


Kevin mengantarkan Wulan pulang


Sesampainya di rumah, Kevin mengganti pakaian dan berjalan mengambil gelas kosong.


"Vin, tolong kesini sebentar." Teriak Ayah dari ruang tamu .


"Sebentar Yah, Kevin lagi ambil air buat minum."


Kevin menuangkan air ke gelasnya, dan menghampiri Ayah ke ruang tamu, sembari membawa gelas. Di ruang tamu Kevin duduk disebelah Ayahnya dan meneguk air yang tadi dia bawa.


"Ada apa Yah."


"Nanti malam sekitar jam sembilan, Ayah sama Mama mau kerumah nenek, kamu mau ikut Ayah, atau disini jaga rumah? Oh ya, kalau kamu nggak ikut, Ayah simpan kunci motornya di tempat biasa ya." Ucap Ayah, memberitahu.


"Ayah kesana pakai mobil? Kevin dirumah saja. Ayah disana lama atau langsung pulang?" Tanya Kevin.


"Iya, Ayah pakai mobil, kalau pakai motor, kasian Mama, nanti sampai rumah Nenek malah sakit. Kemungkinan Ayah dua hari di rumah Nenek, kalau kamu nggak ikut, tolong di jaga rumahnya."


"Oke" jawab Kevin singkat.


"Vin, bisa tolong buatkan Ayah kopi pahit?"

__ADS_1


"Tumben Yah, biasanya Ayah suka kopi hitam yang manis" sahut Kevin heran.


Kevin berangkat ke dapur membuat kopi untuk ayahnya.


"Sedang buat apa Vin?" Tanya Mama saat berada di dapur.


"Bikin kopi buat Ayah" sahutnya.


Lalu, Mama menyodorkan toples yang berisi gula ke Kevin.


"Gak usah pake gula Ma, Ayah pengen kopi pahit." Ucap Kevin.


"Tumben Ayahmu bikin kopi hitam, biasanya kalau nyuruh Mama pasti minta kopi manis."


"Mungkin Ayah minum kopinya, sambil lihat Mama kali, jadi terasa manis kopinya Ayah." Kevin cekikikan.


Wajah Mamanya yang putih terlihat me'merah di pipi.


Kevin membawa kopi ke depan dan meletakannya di meja. Kevin pergi ke kamarnya sambil membaca buku horror komedi, novel yang berjudul "Ken & Bili" karya Aken Aramli.


Wulan sedang santai di halaman rumah, sambil menikmati coklat panas. Terdengar dering pesan dari handphonenya yang tergeletak dari tadi, di meja dekat cangkir.


Wulan membuka pesan tersebut, ternyata dari Rina.


"Lan gimana, nanti malam jadi gak?"


"gue lupa belum kasih tahu ke Kevin"


"coba lu tanya Kevin dulu, gak seru kan kalau nggak ada Kevin"


"iya, gue telpon dulu, Kevinnya"


Wulan mencari kontak Kevin lalu menelponnya.


"Hallo Vin"


"Iya"


"Baru aja tadi aku mau nelpon, mau tanya kamu sibuk apa nggak, eh kamu udah nelpon duluan, kamu kangen ya."


"Iya aku kangen, kangen nyubit kamu yang rese dan jahil."


"Hahaha..."


"Nanti malem kamu ke rumah aku ya."


"Oke darling, nanti aku kesana."


Setelah Wulan beres menelpon Kevin, sekarang ganti menelpon Rina, dan bilang bahwa Kevin nanti malam, mau datang.


"Vin, tolong masukan barang ke mobil ya" teriak Ayahnya meminta tolong.


Kevin langsung ke luar kamar, dan membantu ayahnya memasukan barang ke mobil, lalu Kevin bersiap-siap untuk malam mingguan di rumah Wulan.


"Duh anak Mama sudah ganteng dan wangi, mau kemana nih." Tanya Mama.


"Mau ke rumah temen Ma" sahut Kevin.


"Temen atau demen Vin" Mama meledek anaknya.


"Hehehe, ke rumah Wulan Ma"


"Ehem, ehem, Wulan anaknya Bu Cristine Vin?" Mama pura-pura batuk.


"Iya Ma" sahutnya


"Kapan-kapan ajak main ke sini pacar kamu Vin. Jangan yang pakai gaun merah jambu, tapi Wulan yang dibawa kesini" Ucap Mama meledek.


"Mending Wulan Ma, dari pada yang baju merah jambu. Kok mama tau kalau Kevin pacaran sama Wulan?" Tanya Kevin.


"Ada deh, lagian sudah ketebak sama Mama kamu sudah rapih, wangi dan ganteng, terus sekarang malam mingguan, pasti kamu pergi buat apel sama pacar iya kan? Hati-hati ya kalau pacaran."

__ADS_1


"Iya, Ma, Kevin berangkat dulu."


"Vin, nanti kunci Mama simpan dibawah pot bunga."


"Iya." Jawabnya.


Kevin mulai menyalakan motor, dan melirik jam tangan, ternyata sudah jam tujuh malam. Sebelum berangkat Kevin mengetik sebuah pesan untuk Wulan.


"Yang maaf nanti aku kesananya agak telat, karena aku baru mau berangkat." Tulis Kevin mengirim pesan.


"Pasti Wulan sudah nunggu gue dari tadi nih!." Gumamnya.


"Kevin mau kemana Ma, tumben rapih" tanya Ayah ke Mama.


"Biasalah, kaya Ayah nggak pernah muda saja" sahut Mama sambil menyenggol pantatnya.


Wulan Sedang Menunggu


"Kevin lama banget sih." Ucap Wulan resah.


Wulan sudah tampil cantik, wangi dan rapih, tas menyampir dibahu dan menghempit jaketnya, sambil menunggu Kevin di teras rumah.


Tak lama kemudian ada pesan masuk melalu handphone yang masih di pegangnya.


Wulan membaca pesan tersebut.


"Ternyata dia baru berangkat" ucap Wulan bicara sendiri.


Dengan sabar Wulan menunggu, sekitar tiga puluh menit pesan dari Kevin masuk, akhirnya orang yang paling ditunggunya datang.


"Waaah, sayang wangi banget, kamu semakin cantik deh, dan aku jadi makin cinta sama kamu. Ngomong-ngomong mau kemana Yang?" Puji Kevin sambil bertanya.


"Kita kerumah Rina yuk" ajak Wulan dengan wajah yang tersipu malu.


"Ayo, tuan putri mau kemana pun, aku siap antar." Ucap Kevin, sambil meraih tangan Wulan dan mengecupnya.


Sesampainya mereka di depan rumah Rina, Tiara berdiri dari duduknya dan Rina membuka gerbang, lalu motor mereka masuk ke halaman depan.


Rina dengan cepat menutup gerbang, lalu menyusul Wulan dan Kevin dari belakang. Wulan turun dari motor lalu di susul oleh Kevin.


"Hai Rin, sorry ya gue telat datangnya, soalnya Kevin tadi ada urusan sebentar." Ucap Wulan.


"Hai Tiara, lu udah lama datang?" Tanya Wulan.


"Gue baru datang kok, paling berbeda sepuluh menit." Jawab Tiara.


"Masuk yuk ke dalam." Rina mengajaknya.


Kevin hanya mengenali wajah teman Wulan, tapi dia tidak tau nama mereka.


"Lan kenalin dong pacarnya." Bisik Tiara di kuping Wulan.


"Rina, Tiara, kenalin ini pacar gue." Wulan memperkenalkan Kevin, kepada temannya.


"Kevin." Sambil menjabat tangan Tiara.


"Aku Tiara." Tiara meraih tangan Kevin.


"Kevin." Kevin menjabat tangan Rina.


"Aku Rina, salam kenal ya." Sambil meraih tangan Kevin dan tak mau melepaskannya.


Wulan yang menyadari hal itu, langsung menepisnya, dan menarik tangan Rina dari Kevin.


"Rin nyokap, bokap pada kemana kok sepi banget?" Tanya Wulan menanyakan keberadaan orang tuanya.


"Nyokap lagi di rumah saudara, terus bokap lagi di luar kota." Sahut Rina


"Bukannya lu punya adek cowok Rin, ko gak Kelihatan?" Tanya Tiara.


Rina nggak menyahuti yang Tiara tanya.

__ADS_1


__ADS_2