
Wulan melanjukan lagi ceritanya, yang tadi sempat terhenti.
On
Yang aku ingat, sewaktu SMA, perilaku dia memang buruk, dan nama dia sampai terkenal ke adik kelasnya. Rina sendiri yang sering curhat ke aku, kalau dia sedang gelisah.
Sebelumnya, Rin maafin gue ya, gue ceritain kisah lu ke temen gue. Sambil tangan Wulan mohon maaf.
Awalnya, saat masuk SMA, Rina orangnya biasa saja tidak nakal, malah lebih banyak diem dari pada ngomong.
Waktu mulai masuk semester dua, sikap Rina mulai berubah, dia lebih agresif kalau melihat cowok, apa lagi kalau cowoknya tajir, pasti dipepet terus sama dia nggak sampai lepas.
Off
"Say, ceritanya di lanjut nanti aja ya, kok bulu kuduk aku merinding." Ucap Wulan menghentikan ceritanya.
"Iya, Sayang." Sahut Kevin.
Perut mereka berempat sudah kenyang, Tedy menitipkan uangnya ke Kevin. Kevin menghampiri abang sate, Wulan menggu disamping Kevin, lalu Kevin membayarnya. Setelah itu mereka pergi dan mereka berempat duduk di taman, diterangi lampu-lampu taman.
Kevin duduk bersebelahan dengan Wulan, sedangkan Tedy berada di bangku sebelah, duduk bareng Asti. Mereka berempat bulan purnama yang begitu indah, bulat dan cahaya menerangi gelap.
Kevin mengobrol dengan Wulan, mereka berdua tidak mengganggu acara pendekatannya Asti, malah Kevin mendukungnya, sebab setelah kejadian Dewi, Tedy banyak diam.
Waktu terus berputar hingga tak terasa sudah jam sebelas malam. Kevin dan Wulan mengajak Tedy dan Asti untuk pulang, namun Tedy, menyuruh Kevin dan Wulan pulang duluan.
Kevin memegang tangan Wulan dan menggandengnya, mereka berdua jalan ke kosan, setelah sampai di depan kamar, Wulan meminta Kevin untuk tidur di kamarnya, karena masih takut dengan kejadian tadi, Akhirnya Kevin menemani Wulan sampai Wulan tidur. Kevin tetap menunggu di sampingnya sampai Asti pulang, namun sudah jam dua belas, Asti dan Tedy belum juga pulang.
Tedy dan Asti masih berada di taman, mereka masih menikmati indahnya malam berdua, Asti memandang wajah Tedy terus menerus, hingga Tedy salah tingkah.
"Kenapa Ti, liatin wajahku terus, apa ada yang aneh?" Tanya Tedy.
"Nggak ada yang aneh sama kamu, cuma hatimu dingin seperti es." Ledeknya.
"Memang kamu mau menghangatkan hatiku, hatiku sedang membeku?" Sahut Tedy.
"Aku mau, jika kamu menerimanya." Jawab Asti berharap.
"Tapi..." Tedy menghentikan ucapannya.
"Tapi apa...?" Tanya Asti.
"Asti, boleh di tutup matanya?" Ucap Tedy.
"Kok harus di tutup mata segala?" Asti merasa heran.
Tedy hanya terdiam, nggak bergerak ataupun bicara, Asti menjadi bingung, akhirnya Asti menutup matanya, lalu tak lama, pipi Asti di kecup Tedy perlahan, dan Tedy berkata di kupingnya Asti sangat lembut.
"Bolehkah aku menjadi pendampingmu?" Bisik Tedy.
Asti langsung memeluk Tedy, dia merasakan bahagia luar biasa, matanya yang tadi mengantuk sekarang kembali semangat.
__ADS_1
"Makasih ya Ted, aku akan menghangatkan hatimu, kamu beneran kan?" Tanya Asti.
"Iya Ti, jangan pernah tinggalkan aku ya." Ucap Tedy.
Setelah Tedy mengucapkan itu, mereka berdua pulang ke kosan, setelah sampai di kosan mereka masuk ke dalam, sebelum ke kamar, Tedy mengunci pintu depan.
Saat masuk kamar, Asti kaget, dikira siapa yang sedang duduk di lantai tapi tubuhnya bersender menyamping sambil pegang tangan Wulan. Dan ternyata Kevin sedang menemani Wulan.
Asti membangunkan Kevin pelan-pelan, takut Wulan terbangun.
"Vin, bangun... Vin, ini aku Asti baru pulang" Asti membangunkan Kevin.
Kevin membuka matanya perlahan, dan melihat ke arah Asti.
"Kamu Ti, kirain siapa, kok wajahmu jelek banget sih, kamu baru pulang ya, sekarang jam berapa?" Tanya Kevin berkali-kali, sambil perlahan bangun dari duduknya.
"Enak aja jelek, Kalau nggak salah sudah jam satu Vin" jawab Asti.
"Tedy udah ada di kamar?" Tanya Kevin lagi.
"Iya, Tedy pulang bareng aku, habis kunci pintu, dia langsung masuk ke kamar. Vin makasih ya." Sahut Asti.
"Makasih buat apa Ti, aku nggak ngasi apa-apa" ucap Kevin heran.
"Pokoknya aku ingin bilang makasih aja buat kamu Vin." Sahut Asti.
Kevin pergi dari kamar Wulan, Kevin berjalan ke dapur karena dia melihat ada seperti bayangan, yang mengarah ke dapur.
Asti mengikuti Kevin secara diam-diam dari belakang, hingga saat Kevin kaget, Asti ikutan kaget, Kevin berbalik badan dan berlari ke belakang, hingga Kevin menabrak Asti.
Aaaaaaaaaaaarrrrgghhhttt....
Bluuuugh...
Asti terjatuh dan tanpa sengaja tubuh Kevin menindih tubuh Asti, bibir mereka berdua saling menempel, Asti yang tadinya kesakitan akibat jatuh, sekarang berubah menikmatinya, karena bibir Asti dan Kevin menempel.
Kevin dengan cepat bangun dari atas tubuh Asti dan langsung meminta maaf.
"Maaf ya Ti, gue nggak sengaja" ucap Kevin.
"Beneran juga nggak apa-apa Vin" sahut Asti.
"Huuus ngawur aja Ti, untung nggak ada yang lihat." Sahut Kevin.
Kevin meninggalkan Asti yang sedang melamun, dan berjalan ke kamar.
"Tadi yang gue liat apa ya, kucing atau tikus, tapi bayangannya gede banget, ah, udahlah ngapain juga di pikirin." Kevin merebahkan diri di kasur.
"Loh Kevin kemana, cepet banget ilangnya, tapi lumayan, gue di cium Kevin walau nggak sengaja, emang rejeki gue lagi bagus malam ini" hatinya Asti berbunga-bunga.
Asti masuk ke kamarnya dan tidur, sebelum tidur, Asti menyelimuti Wulan.
__ADS_1
"Hooooaaaaaam..."
Kevin bangun dan meregangkan kedua tangannya, dia melirik arlojinya ternyata baru jam lima pagi, dia keluar kamar dan pergi ke kamar mandi, setelah membasuh muka, Kevin berjalan ke dapur.
"Dek Kevin, sudah bangun, yang lainnya masih pada tidur ya?" Sapa Ibu kost.
"Iya Bu, yang lain masih pada tidur." Sahut Kevin.
"Kamu nyari apa ke dapur?" Tanya Ibu kost.
"Ingin minum, kalau ada sih yang anget-anget Bu" celetuk Kevin.
"Oh, ada kok, coba dek Kevin kemari, lihat di lemari atas, kalau tidak salah, disitu masih ada kopi instan, sisa anak-anak yang kemarin kost disini, yang sebelah kanan ya" Ibu memberitahu letak kopinya.
Kevin membuka lemarinya, dan ternyata masih ada enam bungkus lagi, tangan Kevin mengambil kopi itu, dan mengambil satu bungkus, lalu menutup kembali lemari yang tadi dia buka.
Kevin mengangkat termos, dan termos itu terasa ringan, lalu Kevin menggoyang-goyangnya, Kevin tak merasakan isi didalam termos.
"Bu, air panasnya habis." Ucap Kevin memberitahu, kalau termos itu kosong.
"Itu pancinya dek, kamu bisa kan, masak air?" Tanya Ibu kost.
"Bisa dong, kalau masak air kan simple, hehe.." sahut Kevin, dia mengambil panci, lalu memasak air.
Air sudah mendidih, Kevin mematikan kompor, lalu menuang air panasnya ke cangkir yang sudah terisi kopi.
Saat Kevin hendak meninggalkan dapur, Ibu kost berkata.
"Dek Kevin, kalau yang lain sudah bangun, nanti Ibu buatkan sarapan" ucap Ibu kost.
Kevin keluar dari dapur, dan berjalan menuju ruang depan, saat sedang melewati kamar para cewek, Wulan sedang berdiri di pintu, hendak keluar dari kamar.
"Sayang sudah bangun?" Sapa Kevin.
"Aku baru bangun, itu apa yang di cangkir, kopi susu, bukan Say?" Tanya Wulan.
"Iya, mau aku buatkan Sayang?"
"Aku pengen minumnya berdua saja sama kamu." Sahut Wulan.
"Ehem-ehem... romantis banget sih kalian berdua itu, masih pagi sudah buat Asti terharu." Asti muncul dengan tiba-tiba, di belakang Wulan, sambil nyeletuk.
"Lu, udah bangun juga Ti?" Tanya Kevin.
"Aku mau dong Vin, dibuatin kopi" sahut Asti.
"Weee... " Kevin meledek Asti, sambil memeletkan lidah keluar.
"Bangunin Tedy gih, minta dia nyuruh bikin kopi." Ucap Kevin ke Asti.
"Say, dapat kopi dari mana, Kan kemarin kita belum belanja?" Tanya Wulan ingin tahu.
__ADS_1
"Di kasih sama Ibu kost, saat aku ke dapur. Tuh Ibu kost masih ada di dapur." Telunjuk Kevin mengarah ke dapur.