Saudara Kembar Dari Alam Ghaib

Saudara Kembar Dari Alam Ghaib
In De Kost Bagian II


__ADS_3

Kevin mencoba untuk menghubungi Mita, namun nomornya tidak aktiv.


Wulan sumringah, mendengar nomor Mita tak aktiv, curiganya tetap masih menempel dihati.


'Jangan-jangan Kevin suka kirim pesan sama Mita nih' Wulan mulai mencurigai Kevin, takut tunangannya di ambil Mita.


Wulan tetap percaya sama Kevin, karena cintanya Kevin dari dulu, hanya untuk Wulan seorang.


"Ayang kok ngelamun sih" tegur Kevin yang dari tadi lihat Wulan senyum sendiri.


"Hah, apa, kenapa Vin?" Wulan masih bingung.


"Tuhkan Sayang ngelamun, jangan ngelamun nanti kesambet" Kevin menakut nakuti.


"Aku cuma berpikir, satu lagi siapa?" Tanya Wulan sambil ngeles.


"Gimana kalau kita cek dulu saja ke dalam, kalau cocok, kita ambil dua kamar saja" Kevin memberikan ide.


"Berdua Vin, maksud lu, gue sama Asti, lu sama Wulan gitu?" Tedy nggak paham maksudnya Kevin.


"Bukan begitu, Tedy... maksudnya gue itu, kalau kamarnya cukup buat berdua, kita ambil dua kamar, satu kamar cowok, satu kamar cewek. Kalau kamarnya kecil kita ambil empat. Bukan gue sama Wulan satu kamar, bisa bahaya kalau kaya gitu. Kalau satu kamar pasangan bisa-bisa perut para cewek-cewek gendut semua, kalau perut cewek-cewek pada gendut emang lu mau tanggung jawab ke Asti?." Kevin menjelaskan, dan sedikit nyerempet agar Tedy dan Asti jadian.


Mereka berempat masuk kedalam untuk mengecek kamar satu persatu.


"Bu, kita boleh lihat dulu kamarnya nggak?" Tanya Kevin ke Ibu kost.


"Boleh, silahkan melihat-lihat. Pak tolong antar anak-anak melihat kamar" ucap Ibu kost.


"Siapa Bu, yang mau ke kamar mandi?" Tanya si Bapak.


"Duh Bapak ini, bapak mau duit nggak?


"Mau-mau" sahut Bapak dengan cepat kalau masalah duit.


"Kalau begitu, antar anak-anak melihat kamar"


"Siap komandan" Pak Mamat, sebelum pergi, sambil hormat ke arah ibu.


Pak Mamat, mengantarkan mereka melihat lihat. Satu persatu di buka pintu kamarnya, mereka mengecek seluruh dalam kamar, dari atap, dinding hingga lantai, semua kamar sudah tersedia ranjang tidur, cukup untuk tiga orang, semua kamar di rumah Pak Mamat ada lima dan semua sudah kosong, sedangkan kamar Pak Mamat ada di lantai atas.


Setelah beres melihat lihat mereka kembali ke depan dan berunding ke ibu kost.


Sebelum kembali ke depan, Kevin memutuskan untuk ambil dua kamar saja, dan bagian yang dekat ruang tamu untuk para cowok, dan yang sebelahnya para cewek. Wulan dan yang lainnya setuju dengan pembagian kamar.


"Bu, setelah saya lihat, kita memtuskan hanya ambil dua kamar saja, satu kamar cukup untuk dua orang." Ucap Kevin.


"Iya nggak apa-apa mas" yang penting nggak kosong sahut ibu kost.


"Jadi kalau ambil dua berapa bu?" Kevin menanyakan harga.


"Dua kamar ya... satu juta mas, untu sarapan kita sediakan setiap hari, untuk makan siang atau makan malam kalian boleh memakai dapur yang dibelakang. Kamar mandi ada dua dibawah, jadi jangan berebut ya." Jawab ibu.

__ADS_1


"Gimana?" Tanya Kevin sambil memandang mereka bertiga.


"Oke" jawab mereka kompak.


"Bu, kita ambil dua kamar saja, nanti sore kita balik lagi kesini untuk menyimpan barang-barang, oh ya bu, untuk pembayarannya di awal atau di akhir?" Kata Kevin.


"Gimana baiknya mas saja" jawab ibu kost.


Kalau begitu saya dan teman-teman pamit pulang. Kita semua pamitan sama Ibu kost dan Pak Mamat.


"Ted, nanti sore bawa mobil ya, biar enak bawa barangnya, nanti kalau gue dan Wulan udah siap, gue telpon." Teriak Kevin, saat Tedy hendak pergi pakai motor.


Tedy pulang mengantarkan Asti pakai motor, sedangkan Kevin dan Wulan berjalan ke kampus untuk mengambil motor terlebih dahulu.


Saat jalan ke kampus, wajah Wulan terlihat selalu ceria dan akhir-akhir ini dia sering sekali jahilin Kevin. Bagi Kevin, Wulan itu nomor dua setelah ibunya.


"Vin..."


"Kenapa Sayang"


"Nggak apa-apa, aku cuma panggil saja"


"Yeeee.... dasar, jahilin aku ya...?" Kevin mencubit pipinya Wulan.


"Nggak kok"


"Nggak salahkan?"


Saking gemesnya, Kevin secara cepat mencium bibirnya Wulan, secepat kilat, karena nggak mau dilihat orang.


"Sayang, apa-apaan sih, bikin kaget aku tau. Kalau mau jangan disini, dirumah saja kan enak tempatnya." Ucap Wulan yang merasa kaget.


"Yakin nih Sayang?"


"Hehehe" Wulan hanya tersenyum.


Mereka sudah sampai di tempat parkir, Kevin mengeluarkan motor dan memberi Wulan helm untuk di pakainya. Setelah Wulan berada di atas motor, Kevin berangkat pulang.


Sebelum sampai ke rumah Wulan, Kevin sempat mampir Ke POM untuk mengisi bahan bakar, dan tangkinya di isi full.


Motor Kevin berhenti didepan pintu gerbang rumah Wulan. Wulan turun dari motor dan membuka gerbangnya, agar motor Kevin bisa masuk.


Wulan dan Kevin masuk ke dalam, lalu menghampiri Ibunya Wulan, untuk cium tangan. Kevin kembali ke depan, dan duduk menunggu di ruang tamu, Wulan menyimpan barang-barangnya dikamar, lalu pergi ke dapur untuk membuat kopi hitam untuk Kevin, dan Wulan membuat Coklat panas.


Wulan membawa kopi dan coklat menggunakan baki dan menyimpan di meja.


"Nak Wulan..." ibunya memanggil.


"Iya Bu" sahutnya.


"Ini, tolong bawa ke depan, untuk teman ngopi Kevin" Ibu memberikan kue yang masih dalam kotak.

__ADS_1


"Sebentar bu, Wulan ambil pisau dulu ke dapur" setelah Wulan mengambi pisau, Wulan memotong kue dan menyimpan di piring lalu membawanya ke depan.


"Vin ini kue nya" ucap Wulan dan duduk disamping Kevin.


"Makasih Sayang" sahut Kevin, lalu meminum kopi.


Tiba-tiba, Kevin teringat akan kejadian Rina dan merasa penasaran akan perjalanan hidupnya.


"Sayang boleh nggak aku tanya sesuatu" Kevin ingin bertanya.


"Tanya apa vin?"


"Nggak jadi deh, nanti saja. Soalnya kamu belum beres-beres" sahut Kevin.


"Ya sudah Vin, tapi kalau kamu mau tanya, nanti langsung tanya saja ya."


"Oke tuan putri" Kevin memanjakannya.


Kevin dan Wulan menikmati kopi dan coklat panasnya sambil ngobrol kesana kemari, terkadang tertawa bersama, terkadang saling cubit. Ibunya Wulan yang berada di dalam merasakan senang dan bahagia mendengar anak dan calon mantunya saling bercanda dan bergurau.


"Vin, bantuin aku pack barang ya di kamar."


"Iya, kamu jangan bawa banyak-banyak ya, biar nggak berat dan ribet." Sahut Kevin


"Bu, Kevin ijin masuk untuk bantu Wulan mengemasi barang." Kevin minta ijin terlebih dahulu, ke Ibunya Wulan.


"Nggak usah sungkan nak Kevin, silahkan saja." Ibunya Wulan begitu sangat mempercayai Kevin.


Setelah mereka didalam, Kevin langsung membantu mengemasi barang, Wulan juga ikut merapihkan.


Barang yang agak berat di simpan di kardus. Dan pakaian Wulan di masukan ke dalam tas.


Wulan hanya membawa satu kardus dan satu tas, Wulan pamit ke Ibunya.


"Bu, Wulan pamit ya, Ibu nggak usah khawatir, ada Kevin yang jagain Wulan."


"Iya nak, hati-hati dalam bergaul ya. Kamu jangan lupa untuk mengunjungi Ibu. Vin, jaga Wulan ya, apapun yang akan terjadi, kamu harus melindunginya." Ibunya Wulan memberi amanat. Karena suatu saat mereka pasti akan berte...


"Baik, Kevin ijin pamit Bu. Kalau Wulan kangen, nanti Kevin antar kesini." Sahut Kevin, sambil cium tangan Ibunya Wulan.


Kevin membawa kardus ke depan dan Wulan menggendong tas. Mereka lalu pergi ke rumah Kevin naik motor.


Setelah sampai dirumah Kevin, Kevin bergegas mengemasi barang seperlunya, saat Wulan ingin membantu, Kevin menyuruh Wulan untuk duduk manis saja, biar nggak capek.


Wulan tetap membantunya, walau sudah Kevin larang. Kevin hanya mengusap-ngusap kepalanya Wulan lalu mengecup kepala atas.


Setelah semua barang Kevin dan Wulan di teras rumah, kini Kevin menghubungi Tedy.


"Hallo Tedy, kita udah siap nih, gue tunggu di rumah ya."


"Oke Vin, ini gue mau jemput Asti dulu, katanya dia sudah siap, habis jemput Asti baru gue jemput lu"

__ADS_1


__ADS_2