Saudara Kembar Dari Alam Ghaib

Saudara Kembar Dari Alam Ghaib
Mimpi Bagian II


__ADS_3

"Loh Win, kamu kok ada disini?" Kevin terkejut, melihat Wina berada dirumah Pak Pur, orang tuanya Dewi.


"Dari tadi aku ada disini Vin, kamunya saja yang nggak liat aku." Sahut Wina.


"Teman saya pada kemana Pak Pur?" Tanya Kevin karena tidak melihat temannya.


"Nak Tedy dan yang lain beli makanan, katanya mereka lapar." Sahut pak Pur.


'Rese nih Tedy ninggalin gue sendirian disini, tapi nggak apalah ada Wina ini disini.' Gumannya dalam hati.


(Kevin sama sekali tidak ingat dengan kekasihnya. Kevin hanya ingat, Tedy dan Tiara yang sedang menjenguk kerumah Dewi).


"Vin, ke kamar yuk, disini dingin." Ajak Wina, karena memang cuaca malam itu sangat dingin dan turun hujan.


Kevin mengikuti Wina dari belakang, lalu Pak Pur menyiapkan kamar untuk mereka berdua, mereka dengan sabar menunggu, Pak Pur yang sedang merapihkan kamar. Setelah selesai, pak Pur mempersilahkan masuk.


Kevin dan Wina masuk ke kamar, Pak Pur pergi meninggalkan mereka berdua didalam, lalu Pak Pur berkata.


"Nak, teriaknya jangan kencang-kencang ya, nanti takut tetangga yang lain pada bangun." Ucap Pak Pur, sambil tersenyum.


"Tenang saja Pak Pur, kita nggak bakal berisik, aku pastikan tidak ada tetangga yang mendengar, paling-paling pak Pur yang bisa dengar. hehehe" Kevin tertawa.


Pak Pur menutup pintu kamar dan pergi ke ruang tamu.


Pak Pur hanya mendengar mereka mengobrol namun tidak begitu jelas dan sesekali terdengar teriakan dari Wina.


"Vin, aku suka sama kamu"


"Aku suka kok sama kamu Win."


"Buktikan dong, kalau kamu suka sama aku"


"Kamu mau bukti apa Win, nanti aku buktikan"


"Serius Vin?"


"Dua rius deh buat kamu, hehehe"


"Vin, pejamkan matanya"


Kevin memejamkan mata, dia menikmati apa yang terasa disekitar wajah dan leher. Dan sekarang sebaliknya, Wina yang memejamkan mata.


Wina sangat menikmatinya hingga saat ke bawah, di luar terdengar suara ayam berkokok.


Disatu sisi Wulan merasa wajah, leher dan bagian bawah seperti ada yang menciuminya hingga tak lama kemudian dia terbangun.


Dari sebrang jalan, ada seorang ibu-ibu pulang lari pagi, lalu ditangannya menggenggam sebotol air mineral, dan ibu itu melihat ada mobil yang terparkir, di depan rumah kosong milik pak Pur. Dia dengan rasa penasaran menghampiri dan ingin mengetahuinya.


"Permisi..."

__ADS_1


"Permisi..."


"Maaf ini mobil siapa yang ada disini?" Ibu itu berteriak memanggil pemilik mobil, karena tidak ada yang menyahut.


Wulan yang sudah terbangun, mendengar ada yang berteriak, langsung keluar menghampirinya.


"Iya Bu, ada apa" jawab Wulan dengan santai. Sambil mengucek matanya yang masih terasa ngantuk, karena memang baru jam setengah enam pagi.


"Mbak sedang apa disini?" Tanya si Ibu dengan nada mencurigai. Karena rumah peninggalan Pak Pur ini, sudah terkenal bagi para muda mudi yang kasmaran, mereka sering singgah disini. Jadi nggak heran Ibu itu mencurigai, apa lagi yang keluar seorang gadis cantik, bertubuh seksi.


"Saya dan teman-teman sedang menjenguk Dewi, tapi sangat disayangkan, ternyata setelah mengetahuinya, teman kami sudah tiada dua tahun yang lalu, saat kami mau pulang ternyata cuaca hujan dan sudah terlalu malam, Pak Pur dan Ibu menawarkan menginap disini." Jawab Wulan.


"Ibu, Pak Pur? Mbak nggak salah?" Si Ibu heran dan melotot setelah mendengar ucapan dari Wulan.


"Nggak salah kok bu, orang tua Dewi yang mengijinkannya." Sahut Wulan.


Ibu itu memberikan botol air yang di genggamnya, ke Wulan, dan menyuruh Wulan untuk membasuh wajahnya, tadinya Wulan menolak, tapi ibu itu memaksa.


Setelah Wulan mencuci muka, ibu itu bertanya dengan pertanyaan yang sama.


"Mbak nggak salah lihat kan, Ibunya dan Pak Pur yang mengijinkan tidur disini"


"Beneran Bu, meraka yang mengijinkan kita menginap disini." Wulan mulai kesal.


"Yakin mbak?"


"Baiklah kalau begitu, Ibu minta maaf, tapi mbak juga jangan nyolot ke saya, saya cuma ingin memastikan saja. Sekarang mbak lihat kebelakang, apakah mbak, masih sama dengan jawabannya." Ibu itu mengalah, karena memang hanya ingin tahu, bukan untuk cari masalah.


Wulan menengok ke belakang, alangkah terkejutnya dia, saat mengetahui bahwa rumah yang tadinya bersih bagus, sekarang jadi rumah yang sangat kotor, tak berpintu dan rumput dimana-mana.


Wulan berlari kedalam, membangunkan Tiara dan Tedy. Namun Wulan bingung, saat melihat Kevin nggak ada ditempatnya. Tedy dan Tiara langsung bangun, mereka tercengang saat Wulan menceritakannya.


"Ted, lu lihat pacar gue nggak?" Tanya Wulan.


"Gue baru bangun Lan, jadi gue nggak tahu." Sahut Tedy yang masih merem melek.


Lalu mereka bertiga berteriak mencari Kevin. Tiara dan ibu mencari ke luar halaman, sedangkan Wulan dan Tedy mencari didalam.


Tak lama kemudian Tiara melihat tubuh Kevin dari jendela, Kevin masih tertidur pulas, Tiara berlari kedalam, mengampiri Wulan.


"Lan, Wulan. Kevin berada di kamar ini." Tiara berteriak, sambil berusaha membuka pintu yang terkunci.


"Dimana?" Tanya Wulan sambil berteriak, menghampiri suara Tiara.


"Disini" sahut Tiara sambil menunjuk ke kamar tempat Kevin tidur.


Mereka bertiga mendobrak pintu yang terkunci itu, dan berhasil membukanya.


Wulan membangunkan Kevin, namun Kevin masih tetap mengigau.

__ADS_1


"Sayang mau lagi, tanggung dikit lagi nih, sayang". Kevin mengigau.


Ibu itu langsung menyiram air mineral ke wajah Kevin yang masih tidur.


Tiara yang melihatnya kaget.


"Ya tuhan, muka Kevin diguyur air"


"Duh ni genting kok bocor sih" gerutu Kevin yang masih dalam keadaan tertutup matanya.


"Vin, Kevin, Woy bangun" teriak Tedy, sambil menggoyang-goyang badan Kevin.


"Apaan sih Ted, gue masih ngantuk nih, lagi mimpi enak-enak malah dibangunin, rese lu." Gerutu Kevin.


"Owh jadi gitu ya, lagi mimpi enak-enak sama siapa heeehm" ucap Wulan, sambil menjewer kuping Kevin. Kevin langsung bangun.


"Ayo lekas kita keluar dari sini" ajak Si Ibu.


"Kita mau kemana sayang?" Tanya Kevin, yang nyawanya masih belum terkumpul.


"Katanya pingin enak-enak, ayo ikut" tangan Wulan masih menjewer kuping Kevin.


Mereka semua langsung ke mobil, si Ibu juga disuruh ikut masuk. Ibu itu menawarkan untuk mampir dirumahnya, jarak dari rumah Pak Pur, ke si Ibu cuma dua puluh meter.


Mobil mereka telah sampai tepat di depan rumah Ibu, lalu mereka turun dari mobil. Saat hendak membuka pintu rumah, Ibu memperkenalkan dirinya.


"Oh iya perkenalkan, saya Ibu Ita, saya ibu RT disini. Mbak dan masnya siapa?" Tanya Bu RT.


"Saya Tedy, yang tadi Ibu siram namanya Kevin, yang berantam sama Ibu namanya Wulan, dan yang satunya Tiara." Jawab Tedy mengenalkan diri.


"Ayo silahkan masuk, maaf ya, rumah Ibu berantakan." Ucap bu RT.


"Nggak apa-apa bu, malah kami nanti yang merepotkan ibu." Sahut Tedy.


"Mau minum apa, mbak dan mas-masnya?"


"Nggak usah repot-repot bu, kalau ada yang hangat saja". Celetuk Kevin.


"Keviiiin..." Wulan melotot ke arah Kevin.


"Nggak ko sayang. Hehehe" sahut Kevin.


"Maaf ya bu, pacar saya memang seperti itu." Ucap Wulan merasa nggak enak, sama bu RT karena tingkah Kevin.


"Nggak apa-apa mbak Wulan, oh jadi mas Kevin, pacar mbak Wulan? Kirain Ibu, mas Kevin belum punya pacar." Ucapnya.


"Iya Bu, dia pacar saya. Maaf ya" ucap Wulan sambil tersenyum.


"Kalau saya belum punya pacar memang kenapa Bu?" Kevin nyeletuk lagi.

__ADS_1


__ADS_2