
Mbah Jenggot bangkit berdiri, walau kakinya sedang dalam keadaan terluka akibat pertarungan dengan ular putih besar, pertarungan itu dimenangkan oleh Mbah Jenggot, hingga Kevin bisa di rebut kembali.
Para warga yang ikut mencari terlihat letih dan mereka beristirahat menunggu perintah dari Mbah Jenggot. Di luar cahaya bulan semakin terang, Mbah jenggot mengajak para warga untuk kembali mencari Wina di sekitar sungai, dekat Kevin ditemukan.
Bu Cristine dan Bu Ratna tidak ikut mencari, mereka menjaga putra dan putrinya. Yang ikut mencari Wina adalah Pak Romli dan Pak Tristan.
"Winaaaa..."
"Winaaa jangan tinggalkan aku"
Saat mengigau Kevin menyebut nama Wina terus menerus. Hingga Kevin terdiam lagi.
Mereka berdua mencoba untuk membangunkannya saat Kevin mengigau, namun Kevin kembali terdiam. Selang beberapa jam muncul bisikan.
Bu, Wina baik-baik saja. Ibu jangan menangis. Maafkan Wina Bu, Wina tak bisa bersama Ibu lagi. Tolong sampaikan maaf Wina untuk ayah dan suruh para warga menyudahi mencari Wina. Wina gak bisa memberi penjelasan, tapi Wina akan selalu ada. Selamat tinggal.
Bu Cristine menangis sejadi-jadinya, suara tangisannya hingga terdengar ke tetangga yang dekat dengannya. Tetangga yang mendengar datang menemui Bu Cristine.
Sekitar jam dua belas malam, Ibu Cristine pingsan karena menangis terus menerus. Malam ini menjadi sunyi setelah tangisan Bu Cristine hilang.
Pak Tristan dan Pak Romli kembali pulang, Mbah Jenggot menyusul dari bekakang.
Matahari pagi mulai bersinar, ayam-ayam berkokok, burung-burung bernyanyi di ranting-ranting pohon.
"Wulan, Wulan..." Kevin kecil bangun dan bingung di sekelilingnya banyak sekali orang yang melihatnya. Lalu Kevin bangun dan duduk setelah itu dia bertanya.
"Mama ada apa, kok ramai sekali?" Dia melihat sekitar yang mengelilingi dia, lalu dia melihat seseorang di sampingnya.
"Wulan bangun" dengan tiba-tiba Kevin kecil dari tadi bilangnya Wulan.
Mama Kevin hanya tersenyum dan pertanyaan Kevin kecil tidak di jawabnya, setelah Kevin membangunkan Wulan tak lama kemudian dia terbangun. Wulan tidak ingat apa yang telah terjadi.
Mbah Jenggot yang melihat reaksi anak-anak akhirnya mengumpulkan semua ke dua orang tuanya, dan mbah Jenggot menitipkan pesan kepada keluarga Pak Romli dan Pak Tristan.
"Bapak dan Ibu, alangkah baiknya kejadian ini jangan diberitahukan kepada anak-anak kalian. Jika waktunya telah tiba pasti mereka akan ingat dengan sendirinya. Dan satu hal lagi untuk Bu Cristine. Jika umur Wulan belum genap delapan belas tahun, larang dia untuk memiliki kekasih. Karena jika usianya telah genap delapan belas tahun, Kevin akan datang untuk menemuinya." Mbah memberikan nasihat dan pesan demi kebaikan Wulan dan Kevin.
__ADS_1
Bu Cristine bingung saat hendak bertanya ke Mbah Jenggot "Tapi mbah, seandainya Wulan belum genap delapan belas tahun lalu Kevin sudah menyukai Wulan bagaimana?"
Mbah Jenggot berkata tegas ke Bu Cristine "Jangan!!! Bagaimana caranya usahakan jangan dulu di perbolehkan."
Sinar matahari semakin tinggi dan mulai terasa panas. Sekilas mereka semua melihat gadis memakai gaun berwarna merah jambu dan dia melambaikan tangannya ke semua orang yang ada disana.
Bu Ratna memeluk dan bilang ke Bu Cristine "Bu Cristine yang sabar, ikhlaskan dia pergi, ini sudah garis hidup dan matinya, kita semua disini telah berusaha sebisa dan sekuat mungkin, namun apa daya tuhan berkehendak lain."
Setelah beres semua, Bu Ratna mengusulkan untuk mengubur semua benda peninggalan almarhumah Wina, Bu Cristine mengangguk dan segera mengumpulkan barang dan semua pakaian Wina, namun Bu Cristine tidak mengetahui kalau Kevin kecil memegang suatu benda peninggalan dari Wina.
Pak Tristan meminta tolong untuk menyiapkan kuburan, para warga sempat bingung dan bertanya, "Apa yang mau di makamkan Pak Tristan? Mayatnya saja tidak ketemu?" Ucap warga.
"Sudah kalian siapkan saja" Mbah Jenggot menjawab pertanyaan dari warga dan mereka menurutinya.
Warga beramai-ramai menggali lubang kuburan di area pemakaman di tempat biasanya. Setelah selesai, perwakilan dari salah satu warga datang ke rumah Pak Tristan untuk memberitahu, bahwa pemakaman sudah siap.
Pak Tristan merangkul badannya dan mengajak istrinya untu memakamkan "Bu mari kita bawa semua barang-barangnya." Ajak Pak Tristan sambil membawakan barang-barang.
"Bu apa yang sebenarnya terjadi, Kevin tanya dar tadi ibu hanya senyum-senyum saja." Ken kecil menegur Ibunya, karena Bu Ratna menjaga Kevin dan Wulan.
Flasback Off
Wulan melepas kalungnya Kevin dan menyimpan di saku celana Wulan. Wulan memakaikan baju yang bersih dan kering ke tubuh Kevin, setelah selesai memakaikan baju, Kevin dengan tiba-tiba memeluk Wulan.
Awalnya Wulan kaget, namun Wulan membiarkan Kevin memeluk dirinya, Wulan juga membalas pelukan Kevin dan melepaskan kerinduannya yang di tinggal saat Kevin pingsan, Wulan mendengar jelas Kevin menangis sambil memeluknya. "Wini maafkan aku, gara-gara aku, kamu kehilangan kakakmu." Kevin mengutarakan kesalahnya.
"Sudah Vin, kamu sudah bangun, jangan terus-terusan mengingau" ucap Wulan.
"Serius... aku tidak mengigau maupun bermimpi, aku sekarang sudah tau semuanya, jika tak percaya aku akan bertanya kepada Ibumu" jawab Kevin bersungguh-sungguh.
Kevin melepaskan pelukannya, dia mencari seperti ada yang hilang di lehernya yang selama ini tak pernah lepas.
"Kamu cari ini buka Vin?" Wulan mengeluarkan kalung yang tadi sempat di simpan di saku celananya.
"Sayang kenapa kalung itu ada padamu?" Tanya Kevin.
__ADS_1
"Aku yang melepaskannya Vin, kamu tadi seperti tercekik dengan kalung ini dan ku lepaskan dari lehermu. Buktinya sekarang kamu suda bangun dari pingsan" jawab Wulan.
Kevin bingung "Pingsan???" Dia melirik ke kamar dan ternyata cuma ada mereka berdua di kamar itu.
Hidung Kevin mencium sesuatu yang sangat kecut "Bau apa ini...!"
"Ngeledek ya, baru juga sadar udah jailin aku" Wulan mencubit pipinya.
"Hehehe, aku kangen kamu Yang" Kevin mencium kening Wulan dan merebahkan tubuhnya.
"Eits... belum waktunya ya Sayang, kita harus ke penghulu dulu baru kita..." wajah Wulan merah merona.
"Baru apa kita, Sayang... aku udah gak tahan" Posisi Kevin di atas Wulan dan tiba-tiba Mita muncul.
"Ehem-ehem, kak Kevin udah siuman ya" tanya Mita saat mereka bergelut di atas kasur.
"Eh Mita, Mita nginep di kosan, Tedy dan Asti sudah tidur?" Kevin menanyakan ke Mita yang masih berdiri di depan pintu.
"Iya kak, kak Tedy dan kak Asti sudah tidur" jawab Mita.
Kevin bangun dari atas tubuh Wulan " ya sudah, Mita tidur disini saja sama kita ya Sayang" Wulan menunjukan wajah cemberut ke Kevin.
"Gak enak ah, tuh muka kak Wulan cemburu" sahut Mita.
Wulan melambaikan tangannya ke Mita, dan tubuh Wulan bergeser ke tengah, "Gak apa-apa Mit, kamu tidur dekat tembok, kak Wulan di tengah dan kak Kevin di pinggir" Wulan mengijinkan.
"Yakin nih kak Wulan" Mita meyakinkan kak Wulan.
"Untuk malam ini aja, nanti kak Kevin kamu apa-apain lagi" Wulan cemburu.
"Enggak kak" Mita naik ke kasur dan merebahkan dirinya seperti yang Wulan beritahu.
Baru juga beberapa menit Mita merebahkan dirinya, Wulan melihat dia sudah tertidur pulas. Kevin turun dari kasurnya lalu menutup pintu dan kembali lagi ke kasur untuk tidur.
Sebelum tidur kalung yang diberikan Wulan ke Kevin kini di pakaikan ke Wulan.
__ADS_1
Tangan Kevin sedang memasangkan kalung berhuruf K & W "Sayang kenapa di pakaikan ke aku kalungnya?" Tanya Wulan.
"Kalung ini adalah satu-satunya peninggalan kakakmu yang bernama Wina, dan nama kamu yang sebenarnya adalah Wini." Setelah memakaikan kalung, mereka tidur.