
Di Rumah Wulan
Duduk tak tenang, tidur pun salah, ada apakah gerangan.
Wulan hanya memandang jam yang menempel di dinding kamar. Arah jarum jam menunjukan pukul delapan malam.
Wulan berulangkali mencoba menghubungi Kevin, dan hasilnya sama handphonenya tidak aktif.
"Nggak biasanya dia kaya begini, sudah nggak ada kabar, handphonenya mati." Wulan merasa khawatir.
Lelah berjalan kesana kemari, akhirnya Wulan duduk bersender di kasur, dan tidak ketinggalan handphone selalu didekatnya, agar tahu kalau ada pesan atau panggilan yang masuk dari Kevin.
Wulan mulai terlihat mengantuk, kelopak matanya turun perlahan, lalu naik lagi hingga posisi dia yang bersender kini menyatu dengan kasur dan tertidur lelap.
"Kamu jangan khawatir, buang rasa cemas itu."
Terdengar suara perempuan berkata dari handphonenya.
Wulan kaget, langsung membuka mata, dia menoleh ke handphone berharap itu dari Kevin. Dengan perasaan nggak karuan, Wulan mengecek handphonenya.
"Aneh, nggak ada panggilan masuk, terus tadi suara siapa?" Wulan bingung sendiri dan melihat sekitar kamar.
Wulan memastikan suara itu, namun samar-samar suara yang dia dengar.
Wulan melihat kembali jam dinding, ternyata sudah pukul sepuluh malam, dia terus mencoba menghubungi Kevin, namun hasilnya sama. Handphonenya tidak aktif.
Wulan beranjak keluar, pergi ke kamar mandi. Setelah selesai dia kembali ke atas kasur memeluk guling, lalu membaca novel 'Saudara Kembar Dari Alam Ghaib' di handphone untuk mengusir suntuk hingga tertidur pulas sampai pagi.
Wulan Bangun...
Pagi telah tiba, Wulan dibangunkan oleh suara wanita yang sangat persis seperti Ibunya, namun tidak jelas siapa dia.
Wulan hanya merasakan, tidak melihat wujudnya. Lalu bangun pergi keluar menemui Ibunya.
"Selamat pagi Bu" sapa Wulan.
"Tumben nak, masih pagi sudah bangun, biasanya kamu selalu bangun kesiangan." Sahut Ibu.
"Kan tadi Ibu yang bangunin" sahut Wulan.
"Ibu nggak bangunin kamu nak, malah Ibu mau ke kamar kamu buat bangunin, dan ternyata kamu sudah bangun duluan." Sahut Ibunya.
'Wulan bingung dengan jawaban Ibu, lalu berpikir, suara siapa tadi!'
"Sudah nak, jangan melamun. Cepat sana kamu cuci muka, biar seger habis itu bantu Ibu membuat sarapan."
Wulan menurut apa yang Ibu katakan. Wulan membasuh muka hingga terlihat putih bersinar tidak kusam, lalu pergi ke kamar membersihkan dan merapihkan tempat tidur.
Saat melihat handphone yang berada di atas kasur Wulan langsung mengambilnya. Dilayar handphone tersebut ada dua pesan dari Kevin.
Wulan segera membuka isi pesan itu.
"Met pagi sayang, maaf semalam handphone aku lowbat jadi tidak aktif"
"Kamu pasti khawatir ya."
__ADS_1
Wulan membalas pesan dari kekasihnya itu.
"Kamu tuh bikin aku khawatir tau, di telepon nggak bisa."
Tring, terdengar suara pesan terkirim.
Raut wajah Wulan kesal campur senang menjadi satu, karena sudah tidak khawatir.
Setelah membalas pesan, dia melanjutkan bersih-bersih, hingga terlihat rapih dan bersih, buku sudah tertata.
Kini Wulan menghampiri Ibunya yang berada di dapur.
"Nak kamu mau sarapan sama apa?" Tanya Ibu.
"Nasi goreng saja Bu, udah lama Ibu nggak bikin nasi goreng" sahut Wulan.
"Kalau gitu kamu goreng telur ya, mau di dadar atau mata sapi terserah kamu nak, biar Ibu yang membuat nasi goreng."
Cetrek
Wulan menyalakan kompor, dan mulai menggoreng telur mata sapi.
Selesai menggoreng, Wulan mengelap piring dan gelas, lalu menyiapkannya di meja makan, gelas-gelas yang kosong di isi air hingga penuh. Semua pekerjaannya selesai, Wulan menarik kursi ke belakang, lalu duduk menunggu Ibunya.
"Bu, Wulan sudah boleh pacaran kan?" Celetuk Wulan ke Ibunya, karena dari dulu Wulan dilarang pacaran.
"Boleh nak, sekarang kamu sudah dewasa, sudah baligh, Sudah tahu mana yang baik dan mana yang salah."
"Kalau Ibu boleh tau, siapa yang jadi pacar kamu nak!"
"Ibu masih ingat sama Kevin nggak?"
"Iya Bu, Kevin sudah lama menyatakan rasanya ke Wulan, sejak Wulan masih SMP, Wulan juga suka sama Kevin, tapi Wulan ingat kalau nggak boleh pacaran."
"Kalau sudah jodoh nggak bakal lari kemana, setau Ibu Kevin orangnya baik, tidak nakal dan tidak macam-macam. Kalau kamu suka ya tidak apa-apa, Ibu ijinkan."
"Makasih Bu" Wulan langsung menghampiri dan memeluk Ibunya.
"Ee, eee, eeeeh, jangan di goyang-goyang badan Ibu nak, nanti nasi gorengnya pada tumpah."
"Eehmm... aromanya wangi sekali Bu nasi gorengnya, Wulan jadi gak sabar untuk sarapan."
"Sabar nak, Ibu simpan dulu di meja nasi gorengnya ya."
Wulan mengambil sendok, lalu dengan cepat sendoknya meluncur menuju mangkuk yang di pegang Ibu.
Uhug, uhug, uhug...
"Tuh kan, kamu nggak nurut sih sama Ibu, kalau makan tuh pelan-pelan, sekarang jadi tersedak kan!"
Wulan mengambil gelas yang sudah terisi air, lalu minum.
Tenggorokan Wulan merasa lega, Wulan duduk dan mengambil nasi goreng.
Setelah selesai sarapan, Wulan membantu Ibu beres-beres.
__ADS_1
"Sudah nak biar Ibu saja yang membereskan dapur, kamar kamu saja rapihkan ya."
"Kamar Wulan sudah rapi Bu"
"Kalau begitu tolong tanaman yang di pot depan rumah disiram ya."
Wulan menurut sama Ibu.
Wulan nggak pernah menolak.
Wulan menyiram tanaman di depan rumah dan mendengar Ibu berteriak ke arahnya.
"Nak, nak Wulan handphone kamu berbunyi."
"Sebentar Bu" sahut Wulan dan segera menghampiri handphone yang masih berdering.
Saat hendak mengangkat telpon, suara panggilan itu mati, disitu tertera Nomor yang tidak dikenal.
Tring
Ada nada pesan yang masuk dari nomor tidak dikenal.
"Tolong jaga Dia"
Wulan sedang membaca isi pesan dan terkejut.
"Nomor siapa sih ini, siapa yang harus dijaga." Wulan bingung.
Wulan menelpon Kevin, tapi tidak di jawab lalu Wulan menulis pesan.
"Vin, kamu lagi dimana, dengan siapa?"
Namun tidak ada balasan maupun telepon balik dari Kevin. Wajah Wulan kembali gelisah.
"Kenapa kamu nak, kok kamu terlihat cemas" tanya Ibu.
"Tadi Wulan dapat pesan dari nomor yang tidak dikenal Bu, terus bilang kalau Wulan harus jaga dia." Sahut Wulan sedih.
"Kata Dia itu siapa nak? kamu sudah mencoba tanya sama pacar kamu, barangkali dia iseng ngerjain kamu." tanya Ibunya penasaran.
"Wulan juga nggak tau Bu, nomornya saja Wulan nggak tau, Wulan sudah nelpon dan mengirim pesan ke Kevin, tapi tidak ada jawaban." Wajah Wulan, terlihat cemas dan sedih.
"Sudah jangan bersedih nak, kamu lagi kasmaran, jadi bawaannya selalu khawatir terhadap pasangan." Ibunya menenangkan dan mengusap punggung Wulan.
"Iya Bu"
Wulan pergi meninggalkan Ibunya, lalu mandi. Setelah itu bersiap untuk berangkat ke kampus.
"Bu, Wulan berangkat ke kampus dulu" Wulan pamit dan mencium tangan Ibunya setelah itu melangkah pergi keluar.
"Iya, hati-hati dijalan dan jangan melamun" sahut Ibunya.
Wulan mengangguk, lalu menutup pintu rumah.
Saat membuka isi tas, Wulan teringat sesuatu yang tertinggal. Wulan bergegas kembali lagi ke rumah, untuk memastikan apa yang tertinggal.
__ADS_1
Disaat hendak membuka pintu ada telpon masuk namun dibiarkan.
Mungkin hanya orang yang iseng, wulan kembali berangkat ke kampus.