
Mereka telah sampai di lokasi tempat Rina ditemukan tidak bernyawa. Wulan dan Tiara bergegas keluar dan lari menuju rumah Rina, namun mereka berdua dihadang oleh polisi, karena rumah Rina sudah di garis polisi, jadi tidak bisa sembarangan masuk ke dalam tempat kejadian perkara.
Kevin dan Tedy menyusul di belakangnya, setelah berada dibelakang Wulan, Kevin memegang pundak Wulan, untuk menenangkan dia yang gelisah.
"Maaf saudara dan saudari ini siapanya korban?" Tanya Pak Polisi yang menghadang mereka.
"Saya teman kampus Rina selaku korban" sahut Wulan.
"Maaf Pak, boleh kita masuk kedalam untuk melihat teman kita?" Tanya Wulan kepada Pak Polisi.
"Boleh, tapi hanya satu orang yang masuk." Pak Polisi memberi ijin.
Wulan masuk kedalam, dan dia sangat kaget, waktu melihat jasad temannya, kondisi Rina menngenaskan, dibagian perut tertancap pisau, mata melotot, mulut terbuka, membuat Wulan merinding. Sedangkan Kevin yang berada di luar sedang berbincang dengan Pak Polisi.
"Saudara semalam bersama korban, sama siapa dan berapa orang." Tanya pak polisi sambil berjalan kerumah warga terdekat untuk dimintai keterangan.
Lalu Kevin menjelaskan dengan rinci
Semalam kita bertiga (Kevin, Wulan dan Tiara) ada acara di rumah Rina selaku korban, awalnya kita biasa saja, ngobrol sambil makan kue dan minum. Entah kenapa satu persatu tertidur. Yang pertama tertidur Tiara, (sambil menunjuk ke arah Tiara) saya membawa Tiara ke ke kamarnya Rina, lalu disusul Wulan yang tertidur di sofa (sambil menunjuk posisi Wulan yang sedang dirumah Rina) akhirnya saya bawa lagi ke kamar, dan setelah mereka saya tiba-tiba merasakan kantuk yang luar biasa hingga tidak tahu apa yang terjadi.
Saya kaget saat bangun, mengetahui kalau saya sudah nggak pake baju. Terus nggak lama, saya mendengar suara yang teriak-teriak, menyuruh kita pergi dari rumah Rina, saya bergegas membangunkan Wulan dan Tiara, namun yang bangun hanya Tiara dan tanpa pikir panjang, saya menggendong Wulan dengan cara mengikatnya ditubuh saya, agar bisa terbawa pakai motor. Saat kita bertiga hendak pergi, saya tidak tahu posisi Rina dimana dan dengan siapa, akhirnya saya tinggalkan Rina sendiri disana.
Tadi pagi saya baru tahu dari Tiara, saat Tiara membuka website berita, dan bilang kalau Rina, teman satu kampusnya meninggal, ada yang bunuh. Saya bertiga bergegas menghubungi Tedy (sambil menunjuk ke arah Tedy) agar kita bisa kesini.
"Terimakasih atas informasi dari saudara, dan untuk saat ini saudara adalah saksi saat korban masih hidup, dan saudara Kevin dan temannya tidak boleh kemana-mana. Jika ingin keluar silahkan meminta ijin ke Bapak. Rahman." Ucap Pak Polisi yang bernama Rahman.
Kevin dan yang lainnya pergi meninggalkan Pak Rahman, dan kembali ke lokasi kejadian untuk mencari Wulan. Saat sudah berada di lokasi mereka tidak menemukan keberadaan Wulan.
"Tiara, Kevin, Tedy, kalian dari mana? aku cari-cari ternyata kalian disini." Tanya Wulan cemas.
"Ada juga kamu lan dari mana, kita tadi sedang di introgasi Pak Rahman." Sahut Tiara.
"Apaaaaaa...!!!"
"Kita jadi tersangka Vin, kita kan nggak tau apa-apa?" Tanya Wulan resah dan takut.
"Nggak Sayang, kita hanya jadi saksi untuk korban, bukan jadi tersangka pembunuhan." Kevin menenangkan Wulan.
Hari tak terasa sudah siang, matahari tepat dikepala, lalu Tedy mengajak Kevin untuk makan siang.
Krucuuuuuk... kruuuucuuuuk...
Perut Tedy berbunyi.
"Vin, makan yuk perut gue udah lapar nih, dari tadi bunyi terus."
"Tiara, Wulan kita cari makan dulu yuk." Ajak Kevin.
Wulan dan Tiara mengangguk, mereka juga merasakan perutnya mulai lapar.
__ADS_1
Sebelum mereka berempat mencari makan, untuk ngisi perut yang sudah keroncongan, Kevin meminta ijin ke Pak Rahman, untuk pergi keluar mencari makanan, dan pak Rahman mengijinkannya.
Sambil berjalan keluar, Tiara penasaran dengan jasad Rina, dan bertanya ke Wulan.
"Pokoknya sereeem dan ngeri liatnya, kayanya gue nggak berani makan siang, perut gue berasa masih mual pengen muntah." Sahut Wulan.
"Ngeri gimana Lan?" Tiara semakin penasaran
"Nanti deh kalau perut lu udah terisi gue kasih tau, kalau gue kasih tau sekarang lu pasti nggak mau makan." Sahut Wulan.
Setelah berjalan cukup jauh akhirnya mereka menemukan warung nasi.
"Permisi..." Teriak Kevin memanggil yang punya warung.
"Ya tunggu sebentar" sahut ibu warung.
"Mau makan mas?" Tanya Ibu warung sambil menawarkan menu yang sudah tersedia.
"Ini ikan apa Bu?" Tanya Kevin.
"Ini ikan mas" sahutnya.
"Iya, maksud saya ini ikan apa Bu" tanya Kevin lagi
"Ikan mas, mas" si Ibu warung kesal.
"Nggak ada mas, ini sudah di goreng tapi kalau mas mau nanti saya bakar." Kata si ibu warungnya.
"Pak, tolong bakar mas satu ya." Teriak Ibu warung memanggil suaminya meminta mas dibakar.
"Mas siapa yang mau dibakar Bu?" Suami si Ibu warung ikutan meledek Kevin.
"Ikan mas yang ini." Si ibu Sambil menunjuk ke arah Kevin.
"Ayo ikut saya nanti saya bakar." Ucap si Bapak.
"Terimakasih banyak Pak atas tawarannya, kalau saya dibakar sekarang kasian pacar saya nanti sendirian." Sahut Kevin.
Huuuuuuuuuuuu...
Wulan, Tiara dan Tedy menyorakinya.
"Mas nggak usah khawatir, masih ada Bapak yang mau nampung pacar mas, dan akan Bapak jaga baik-baik. Hahaha" suaminya si Ibu tertawa.
Kevin terdiam, saat di ledek oleh pemilik warung.
"Emang enak dikerjain balik sama Bapaknya." Sahut Tiara nyeletuk.
"Rese sih lu Vin, si Ibu warung lu kerjain juga." Celetuk Tedy.
__ADS_1
Lalu Kevin memesan ikan mas goreng, tapi di bakar, satu porsi nasi dan es teh manis, Tedy pesan ayam goreng dada, satu porsi nasi dan jus melon, Wulan cuma pesan es jeruk sedangkan Tiara pesan mie goreng, tapi yang extra pedas dan minumnya es kelapa muda.
"Pesanannya di tunggu ya mas dan mbaknya. Kalian bukan orang asli sini ya?" Tanya ibu warung.
"Bukan bu." Sahut Wulan.
"Di, tunggu ya" Ibu warung kembali ke dapur, dan segera menyiapkan pesanan mereka.
Suaminya Ibu warung mengambil ikan mas yang sudah digoreng untuk dibakar.
Sementara di lokasi kejadian, tim forensik datang dan menjelaskan bahwa sidik jari yang berada di pisau tersebut, punya korban sendiri dan tidak ada yang membunuhnya.
Pak Rahman merasa aneh, baru kali ini dia mendapatkan kasus yang berurusan dengan setan, lalu Pak Rahman ingat dengan informasi yang Kevin berikan.
"Masuk akal juga sih, memang setan nggak bisa membunuh, tapi yang membuat dia terbunuh karena dirinya sendiri takut." Pak Rahman berbicara dalam hatinya, dan masih penasaran akhirnya dia ingin bertanya kepada bawahannya.
"Dodi tolong kesini sebentar" panggil Pak Rahman.
"Siap Pak." Dodi datang sambil hormat.
"Saya mau tanya, kalau Dodi ketemu setan apa yang kamu lakukan?" Tanya Pak Rahman.
"Kok tanya setan Pak, kirain mau tanya apa." Sahut Dodi.
"Sudah jawab saja, apa yang kamu lakukan kalau ketemu?" Ucap Pak Rahman dengan nada tegas dan galak.
"Saya pernah satu kali ketemu setan, kalau tidak salah sebulan yang lalu, saat piket malam, kebetulan saya patroli malam menggunakan motor sendiri, karena yang satu berjaga di kantor." Dodi menjelaskan.
"Terus apa lagi, dan apa yang kamu lakukan saat bertemu dengannya?" ucap Pak Rahman.
"Disaat berpapasan dengan pocong, Saya kaget sekali Pak, hingga langsung putar arah karena takut, dan hampir saja saya menabrak tiang listrik, kalau saya menabrak tiang itu mungkin saya sekarang sudah mati atau masih dirumah sakit." Ucap Dodi.
"Oke, terimaksih banyak atas masukannya." Sambil menjabat tangan Dodi.
"Memang kenapa Bapak sampai tanya setan, kan kita sedang ada kasus pembunuhan Pak!" Tanya Dodi heran.
"Tim forensik tadi sudah datang, dan mereka tidak punya bukti, bahwa ini pembunuhan, lalu tadi siang saya introgasi teman kampusnya korban, mereka sebagai saksi hidup, saat korban masih ada bersamanya tadi malam. Di tempat kejadian, hanya ada sidik jari di gelas saja. Sedangkan sidik jari yang berada di pisau, itu adalah sidik jari korban sendiri." Pak Rahman menjelaskan secara rinci.
"Sebentar pak saya belum paham" ucap Dodi.
"Singkatnya begini, tadi saya tanya ke kamu untuk memastikan pikiran saya, dan setelah kamu cerita, saya baru yakin. Intinya saat kamu ketemu setan, kamu hampir mati akibat ulahmu sendiri kan? Bukan orang lain." Pak Rahman mempersempit penjabarannya.
"Iya betul Pak, saya hampir menabrak karena takut." Jawab Dodi
"Oh jadi kasus ini karena ulah setan pak." Dodi baru menyadari maksud penjabaran dari Pak Rahman.
Tidak lama, kedua orang tua Rina datang menghampiri Pak Rahman, dan menayakan apa yang terjadi terhadap anaknya.
Pak Rahman menjelaskan dengan seterang-terangnya dan dengan sejujur-jujurnya. Setelah kedua orang tua Rina paham, maka kasus Rina resmi di tutup, dan tidak ada tersangka dalam kasus tersebut. Kasus tersebut tercatat sebagai kecelakaan ulah korban sendiri.
__ADS_1