Saudara Kembar Dari Alam Ghaib

Saudara Kembar Dari Alam Ghaib
Tersesat Di Kuburan


__ADS_3

Kevin dan temannya seusai mengisi perut, mereka kembali ke lokasi dan langsung menemui pak Rahman. Lalu Kevin menanyakan informasi kelanjutan dari kasus tersebut.


"Bagaimana pak Rahman, sudah ada informasi siapa yang membunuh korban?" Tanya Kevin ke Pak Rahman.


"Kasus ini sudah saya tutup, karena murni kecelakaan bukan pembunuhan. Dari sidik jari yang menempel dipisau murni sidik jari korban." Jawab Pak Rahman.


"Terimaksih banyak Pak, jadi saya dan teman-teman boleh pulang?." Tanya Kevin karena ingin pulang.


"Oh ya silahkan, tapi jika suatu saat Bapak butuh sesuatu, kalian harus datang ke kantor. Silahkan tulis nomor handphone kalian disini." Ucap Pak Rahman.


Kevin mewakili teman-temannya, menyatat nomor handphone, termasuk nomor Tedy ikut tertulis.


Kasus selesai, mereka beranjak dari lokasi menuju mobil yang sedang terparkir. Tak lama kemudian, orang tua Rina menyapa Wulan.


"Nak Wulan" teriak ibunya Rina dengan mata yang masih berkaca-kaca, karena anaknya bunuh diri.


"Ya bu." Sahut Wulan.


"Siapa Lan?" Kevin penasaran dan bertanya ke Wulan.


"Ibunya Rina" bisik Wulan ke Kevin.


Ibunya Rina mengobrol dengan Wulan dan Tiara, sedangkan Kevin dan Tedy menuju mobil dan menunggunya.


Wulan dan Tiara mengarah ke mobil lalu masuk duluan dan disusul Tiara dari belakang.


Mereka berempat pulang, mobil sudah pergi meninggalkan tempat kejadian perkara.


Kevin masih memikirkan kejadian kemarin malam, kenapa sampai harus memakan korban, dan siapa yang telah membuat Kevin telanjang dada, kejadian itu masih misteri untuk Kevin.


Lamunannya pecah saat Tedy berhenti mendadak lalu Kevin bertanya.


"Ada apa Ted?!!" Tanya Kevin kaget.


"Tadi seperti ada orang yang menyebrang pakai gaun merah." Sahut Tedy.


"Yang bener Ted? Gue nggak liat ada orang nyebrang." Sahut Kevin bertanya-tanya dan ingat dengan gaun merah jambu yang berda di dalam mimpinya.


Kevin melirik ke kanan, ke kiri, ke belakang dan ke depan namun tidak ada orang yang lewat dan yang terlihat hanya pematang sawah yang luas.


Kevin merasakan ada yang aneh, seperti ada mengganjal di otaknya, saat tadi pagi datang ke rumah Rina, dia tidak melihat pemandangan sawah.


Suasana sore semakin meredup.


"Ted lu nggak salah jalan kan, kok pulangnya kita lewat persawahan?" Tanya Kevin.


"Bener kok Vin, dari depan sana gue ambil jalan yang sebelah kanan." Jawab Tedy dengan serius.


Kevin berpikir lagi, lalu cek handphone ternyata tidak ada jaringan, Kevin menoleh ke teman-temannya dan menanyakan jaringan dan mereka semua kompak bilang tidak ada jaringan.

__ADS_1


Semua orang yang didalam mobil diam membisu, mereka berusaha berpikir jernih. Tiba-tiba ada yang mengetuk kaca.


Toktoktok, toktoktok, toktoktok


Mereka semua kaget, ada suara tidak ada rupa, setelah yang keempat kali ketukan rasa takut mereka mulai hilang karena yang mengetuk ternyata pak Rahman.


Toktoktoktok...


"Tolong dibuka kaca mobilnya" ucap Pak Rahman.


Tedy membuka kaca mobil sebelah kanan, karena disitu Pak Rahman mengetuk kaca mobil.


"Pak Rahman" ucap Tedy sambil memanggutkan kepalanya.


"Loh kalian rupanya, kalian sedang apa dipinggir kuburan?" Tanya pak Rahman heran.


"Kuburan pak?" Celetuk Kevin.


Kevin membuka pintu mobil dan menghampiri pak Rahman.


Dia melihat kiri dan kanan semuanya kuburan, yang lain ikut turun memastikan, karena kaget dengan ucapan Pak Rahman bahwa mereka dikuburan.


"Tadi saya lihat disini itu hanya ada sawah yang luas pak, ya kan teman-teman." Kevin menegaskan apa yang tadi dilihatnya.


"Iya betul Pak, tadi kami lihat hanya pematang sawah yang luas" sahut Tiara.


"Sebelum kalian sampai kesini, bagai mana ceritanya" pak Rahman ingin tahu sebabnya.


Pak Rahman Menjelaskan


Sebentar, didepan sana tidak ada jalan yang bercabang, tapi cuma ada jalan kecil untuk pejalan kaki, yang hendak ke makam. Tidak bisa masuk mobil.


Nah untuk jalan mobil itu masuknya dari sebelah kiri, dan pas keluar jalan, disitu kantor tempat saya bertugas.


Untung saja kalian berhenti disekitar sini, kalau kalian lanjut ke depan, kalian akan masuk ke alam yang lain.


Orang disini masih memegang tradisi yang harus di ikuti, jika hari telah gelap, maka jalan ini menuju ke alam yang berbeda. Namun jika pagi, siang dan sore, keadaan terang berderang, jalan ini akan aman untuk di lalui.


Makanya Bapak, sering patroli saat menjelang sore.


"Sebetulnya kita nggak sengaja berhenti pak, saya kaget waktu teman saya Tedy berhenti mendadak, lalu saya tanya kenapa? dan Tedy bilang ada orang yang melintas memakai gaun merah." Ucap Kevin.


"Kalian sangat beruntung, karena ada yang bantu kalian mencegah untuk jalan terus. Hari semakin gelap, alangkah baiknya kalian ikut sama Bapak, dan mobil kalian putar balik lagi." Ajak Pak Rahman.


"Terimakasih banyak Pak, saya minta antar ke jalan yang tepat saja, karena saya harus jenguk teman yang sakit." Sahut Tedy.


"Ya sudah kalau begitu ikuti mobil Bapak." Ajak Pak Rahman.


Mobil Pak Rahman dan Mobil Tedy putar balik. Tedy mengikutinya dari belakang, pada saat keluar dari lokasi kuburan, Pak Rahman melambaikan tangan, lalu menunjuk ke arah kanan, memberi isyarat ke Tedy untuk berbelok.

__ADS_1


Tedy mengikuti arahan dari Pak Rahman, dan sewaktu melewati mobil Pak Rahman Tedy mengklakson bertanda terimakasih.


Mereka akhirnya bisa keluar dari kuburan, Wulan dan Tiara merasa lelah hingga tertidur dalam mobil.


Kevin menemani Tedy, mengajaknya bicara, agar dia tidak mengantuk saat menyupir.


Mereka telah sampai di rumah Dewi, Kevin membangunkan Wulan dan Tiara.


"Wulan, Tiara bangun, kita sudah sampai." Ucap Kevin.


Wulan sudah bangun dan Tiara ikut bangun, setelah keluar dari mobil mereka langsung kerumah Dewi.


Toktoktok...


Pak,bu ini Tedy datang untuk menjenguk Dewi.


Toktoktok...


Akhirnya ada yang membuka pintu


"Maaf mau cari siapa?" Ucap ibunya Dewi.


"Saya mau menjenguk Dewi" sahut Tedy


Tiba-tiba ibu itu menangis saat mendengar Dewi, dan hampir pingsan.


Untung saja Tedy dan Kevin cepat memegang tubuh si Ibu, Tedy dan Kevin menggandengnya lalu mendudukan ibu itu di kursi, dari dalam ruangan muncul Bapak Dewi, lalu menanyakan ada apa dengan ibu.


"Ibu kenapa kok nangis gitu." Tanya si Bapak.


"Ibu nggak nangis, cuma kangen sama Dewi pak." Sahut Ibu Dewi.


"Kalau Ibu kangen, cukup doakan saja ya" ucap si bapak menenangkan.


Kevin, Wulan, Tedy dan Tiara bingung, niat mereka untuk menjenguk tapi kok jadi sedih begini.


"Adek-adek silahkan duduk, maafin Ibu ya dek, ibu itu memang suka begitu kalau kangen suka nangis." Ucap Bapak Dewi, yang sudah berumur kurang lebih lima puluh tahun.


Kevin dan yang lainnya duduk, saat Kevin hendak bertanya, malah keduluan ditanya sama si bapak.


"Ade-adek mau minum apa?" Ucap Bapaknya.


"Kalau ada kop... mMmmmmm." Wulan langsung menutup Mulut Kevin pakai tangan.


"Nggak usah repot-repot Pak." Sahut Wulan.


Kevin berusaha melepaskan tangan Wulan dari mulutnya. Setelah terlepas, Kevin kesal.


"Apaan sih Yang, kok mulut aku ditutup." Ucap Kevin.

__ADS_1


"Lagian kamu asal nyeletuk saja, kita kesini baru kali ini, jadi jangan ngerepotin si Bapak." Sahut Wulan sambil mencubit pinggang Kevin.


__ADS_2