
Mama Kevin terburu-buru menyimpan semua barang, hingga dia lupa untuk tutup pintu dan pintu itu tetap terbuka, saat dia berlari menuju sungai.
Cuaca mulai mendung, hujan rintik mulai turun sedikit demi sedikit, air hujan mengguyur mereka yang sedang mencari Wina dan Kevin, hampir semua warga basah kuyup. Senja telah datang sebagian warga kembali pulang dan sebagian masih mencari.
"Pak Tristan, Pak Romli, ceritanya bagai mana hingga mereka terhanyut" tanya Mbah Jenggot sesepuh di Kampung Bangkai Mayit, yang baru datang ke sungai.
"Maaf Mbah, yang tau ceritanya hanya anak saya yang bernama Wini." Sahut Bu Cristine memotong pembicaraan.
"Sekarang dimana anakmu?" Tanya Mbah Jenggot.
"Wini pingsan Mbah, setelah memberitahu ke jadiaannya." Sahut Bu Cristine.
"Ayo cepat, kita harus membangunkan Wini." Ajak Mbah Jenggot untuk menemui Wini yang sedang pingsan di rumah.
Pak Romli, Pak Tristan, Bu Ratna, Bu Cristine dan Mbah Jenggot segera pergi ke sana. Sebelum Mbah Jenggot pergi meninggalkan sungai, dia berpesan kepada warga, untuk istirahat dulu dalam pencarian, selama satu jam. Setelah itu Mbah Jenggot berkomat kamit lalu menghentakan kaki tiga kali.
Mereka semua telah sampai di rumah Pak Tristan.
Mbah Jenggot terkejut, melihat foto-foto yang menempel di dinding. Lalu memutar ke seluruh rumah Pak Tristan.
Pak Tristan langsung mengambil air minum untuk istrinya dan Bu Ratna. Setelah mereka sudah tenang, Bu Cristine dan Bu Ratna pergi ke dapur untuk membuatkan kopi, untuk para bapak-bapak dan Mbah Jenggot.
"Mbah silahkan di minum, punya Mbah yang sebelah sini." Bu Ratna menyajikan kopi di atas meja dan memberitahu kopi Mbah, karena Mbah suka kopi hitam pahit.
Mereka berkumpul di satu meja, lalu Mbah yang memulai pembicaraan.
"Sudah sekarang Ibu tenang, coba ceritakan kejadiannya." Suruh Mbah Jenggot.
Bu Cristine memceritakan tentang kejadian itu dari awal sampai akhir, yang dia ketahui dari Wini. Mbah Jenggot berdiri dari duduknya dan memeriksa tubuh Wini, Mbah Jenggot menaruh tangannya di atas tubuh Wini, dan mulai menerawang dari kepala sampai kaki.
"Apakah anak Ibu kembar?" Tanya Mbah Jenggot.
"Iya Mbah" sahut Pak Tristan.
"Siapa nama anak kalian?" Mbah Jenggot bertanya lagi.
"Wina dan Wini" jawab Bu Cristine
"Apakah saat Ibu melahirkan tepat tengah malam?"
__ADS_1
"Iya mbah" sahut Pak Tristan.
"Anak Ibu siapa namanya dan nama Ibu sendiri siapa?" Mbah Jenggot menunjuk ke arah Bu Ratna.
"Saya Ratna Wulan Sari dan anak saya bernama Kevin Andrean." Jawab Bu Ratna.
Setelah mengetahui semua nama anak-anak, Mbah Jenggot ke luar rumah dan melihat ke atas.
Cuaca mulai nampak terang dan cahaya bulan mulai bersinar.
Mbah Jenggot kembali lagi ke dalam.
"Ciloko, ciloko..." Mbah Jenggot berbicara sendiri sambil mundar mandir berjalan didalam ruangan.
"Kenapa Mbah?" Tanya Bu Ratna.
"Anak saya pasti ketemu kan Mbah" ucap Bu Cristine sambil menangis.
"Jujur saja, saya sudah sekuat tenanga untuk menemukan anak-anak kalian tapi... Ciloko, harus segera?" Mbah menghentikan perkataannya.
"Tapi apa Mbah?" Tanya Bu Cristine ingin mengetahuinya.
"Apakah anak kembar Ibu lahir di saat tengah malam, jam dua belas, tanggal dua belas dan bulan dua belas?" Tanya Mbah Jenggot ke Bu Cristine.
"Ya" Bu Ratna dan Bu Cristine menjawab dengan serempak.
"Kalau begitu, salah satu di antara anak kembar Bu Cristine harus ada yang berganti nama, dan siapa nama anak yang akan Ibu ganti?" Tanya Mbah Jenggot.
"Kenapa harus di ganti nama anak saya Mbah?" Tanya Bu Cristine bingung mau bilang apa lagi.
"Karena anak Ibu Cristine dan anak Bu Ratna adalah Kembang Telon, yang sudah di tandai saat mereka lahir, jika salah satu namanya tidak di ganti, Mbah gak tau harus bilang apa. Tapi Mbah gak bisa menjamin." Jawab Mbah Jenggot.
"Sebentar Mbah, anak saya Kevin juga masuk kembang telon?" Tanya Bu Ratna.
"Ya, disini sudah jadi adatnya sejak dulu, jika ada anak kembar lahir tepat tengah malam di jam, tanggal dan bulan yang sama dia akan menjadi pengantin wanita, dan Bu Cristine yang menentukan siapa salah satu anak yang akan di ganti namanya? Dan kebetulan anak Bu Ratna lahir di siang hari dan dia akan menjadi pengantin pria." Jawab Mbah Jenggot.
Bu Cristine duduk, air matanya terus mengalir, di antara bingung harus memilih siapa yang akan menggantikan menjadi pengantin. Bu Ratna mendekatinya dan mencoba membuat Bu Cristine tetap tegar.
"Bu Ratna, aku harus bagaimana? Apakah kamu setuju dengan apa yang Mbah Jenggot katakan?" Tanya Bu Cristine.
__ADS_1
"Aku hanya mengikuti kehendakmu saja Bu Cristine, jika memang itu yang terbaik untuk kita, dan jika kamu bersedia mengganti namanya dan akan menjadi pengantin anak ku, aku punya saran nama yang baik." Bu Ratna menjawab dan memberikan sarannya.
"Siapa namanya Bu Ratna? Dan siapa yang harus aku ganti?" Bu Cristine kembali bertanya.
Tidak lama ada warga yang datang memanggil Mbah Jenggot. Mbah Jenggot segera keluar, dan menanyakan ada apa mereka kesini.
"Ada apa? Kan sudah Mbah bilang, kita harus istirahat dulu, jaga stamina kalian." Ucap Mbah Jenggot.
"Mbah, anaknya Bu Ratna sudah ketemu, warga yang lain tidak ada yang sanggup untuk mendekatinya." Ucap warga yang sedang berbicara sama Mbah Jenggot.
"Pak Tristan, Pak Romli, Bapak tunggu saja disini, kalian jangan ikut, Mbah akan kesana untuk melihatnya." Mbah Jenggot menyuruh mereka untuk tidak ikut.
Mbah dan para warga kembali ke tempat dimana Kevin berada.
Mbah Jenggot terkejut saat melihat Kevin dalam pelukan ular putih, ular itu sangat besar, badan ular itu kurang lebih sebesar pohon kelapa.
"Pantas warga tidak berani datang, wong Kevin dikeloni ulo putih." Mbah Jenggot berbicara sendiri sambil kedua tangannya bertolak pinggang dan menggeleng-gelengkan kepala.
Mbah menyuruh warga untuk mundur sejauh mungkin, dan Mbah juga memberi wasiat kepada warga, kalau dia tidak selamat, kalian lari ke rumah dan jangan buka pintu selama satu hari satu malam.
Mbah mendekati ular itu selangkah demi selangkah, ular itu hanya mendesis dan menjulurkan lidahnya, namun mata ular itu menatap tajam Mbah Jenggot.
Sementara Bu Ratna gelisah, karena tadi dia sempat mendengar bahwa anaknya sudah ketemu, namun warga takut.
"Kenapa ini harus terjadi, kenapa anak-anak kita?" Bu Ratna bertanya-tanya.
Pak Romli memeluk istrinya agar tenang, sementara Pak Tristan duduk di samping Bu Cristine.
Setelah satu jam menunggu, Bu Ratna mendengar derap langkah kaki para warga, yang menuju ke rumah Bu Cristine. Bu Ratna segera lari keluar bersama Pak Romli. Bu Cristine menyusul di belakangnya.
Mbah Jenggot datang dengan kaki yang pincang, Warga membawa Kevin menggunakan tandu dan di gotong lalu dibawa ke dalam oleh para warga.
Kevin di baringkan di sebelah Wini, lalu Mbah Jenggot berkata.
"Apakah Ibu sudah menentukan siapa?" Mbah berbicara hanya sepotong, tapi Bu Cristine paham maksudnya.
"Iya Mbah, saya sudah menentukan siapa yang akan diganti namanya." Bu Cristine menunjuk ke Wini yang masih dalam ke adaan pingsan.
"Siapa namanya?" Tanya Mbah Jenggot.
__ADS_1
"Bu Ratna silahkan, saya akan setuju apa yang telah Bu Ratna ucapkan." Bu Cristine mempersilahkan Bu Ratna untuk memberi nama ganti untuk Wini.
"Mbah Jenggot, anak ini saya beri nama Wulan Ratna Sari." Ucap Bu Ratna.