
Wulan kecolongan saat malam pertamanya, dia sempat kesal, namun dia berpikir, kalau seandainya Kakaknya tak menghilang, dia tak mungkin bisa bersama dengan Kevin saat ini.
Wulan merelakan keperjakaannya Kevin di rebut oleh Wina. Dan malam berikutnya Wulan mendapatkan malam pertamanya dengan Kevin.
Wina seminggu sekali sering datang mengunjungi Wulan di saat malam jumat, dan Wulan selalu mengalah jika kakaknya Wina datang.
Wulan hanya gigit jari, melihat Kevin bermain dengan Wina.
Wina sering mengajaknya untuk bermain bersama, namun Wulan menolak. Wulan berpikir Wina hanya mendapatkannya satu kali dalam seminggu, sedangkan dirinya bisa setiap hari bermain.
Setiap selesai bermain dengan Kevin, Wina mengunjungi Ibunya, untuk pamit pergi.
Ibunya merasa sedih dan sering merindukan kehadirannya, terkadang Ibunya ingin melarang Wina bermain dengan Kevin, namun dia sungkan, Wina telah berkorban agar Wulan tetap bisa hidup dan menjadi istri Kevin. Ibunya hanya bisa merelakan Wina bermain, namun Ibunya membatasi Wina datang, dia boleh datang satu kali dalam satu minggu.
Tiga bulan kemudian, di saat malam jum'at Wina datang. Wulan bingung dengan kakaknya, biasanya kalau dia datang langsung ke kamar dan menemui Kevin. Namun kali ini dia datang menemui Ibunya.
"Bu, maafkan Wina telah mengganggu kehidupan adiku Wini (Wulan), ini adalah malam terakhir aku mengganggunya" Wina meraih tangan Ibunya dan menempelkan di perut Wina yang mulai membesar.
"Perutmu sudah besar nak?" Tanya Ibu.
"Iya Bu, ini anaknya Kevin, Bu Wina boleh minta sesuatu dari Ibu?" Tanya Wina sedih.
"Minta apa nak bilang saja, sejak kamu pergi, Ibu tak pernah membahagiakanmu" sahutnya.
"Kelak anak Kevin denganku lahir, nama apa yang akan Ibu berikan?" Wina bertanya tentang nama untuk calon anaknya.
Ibunya menangis tersedu dan memeluknya. Sambil mengatakan "Jika anak kamu laki-laki, beri dia nama Rama Kevin Andrean. Jika anak kamu wanita beri dia nama Sinta Wina Cristine."
"Baik Bu, Wina akan mengingatnya" saat Wina akan pergi, Wulan datang ke kamar Ibu.
Sebelum Wulan membuka pintu, dia sempat mendengar percakapan Wina dan Ibunya.
"Kak, kenapa kakak gak ganggu Wulan lagi?" Tanya Wulan dengan menitikan air mata, karena dia tau, dia akan kehilangan kakaknya lagi untuk waktu yang sangat lama.
"Adiku yang cengeng kesini..." Wina memanggilnya dan menyuruh Wulan untuk memegang perutnya yang mulai membesar.
"Kakak sudah hamil? Ini anaknya Kevin kan atau jangan-jangan bukan anak Kevin?" Ledek Wulan, hingga Wina dan Ibunya tertawa.
"Wini... yang di dalam perut kakak ini, anaknya Kevin, bukan anak siapa-siapa. Makasih ya adeku, kakak minta maaf telah merebut Kevin saat di hari bahagiamu dulu." Wina membalas ledekannya.
"Kakak curang, kenapa langsung di embat. Coba kalo kakak bilang, mungkin kakak jadi yang kedua" hehehe... Wulan tertawa, namun masih terasa sakitnya.
"Mungkin keberuntungan kakak dek" Wina memeletkan lidahnya ke Wulan.
Wulan memeluk kakaknya, dan Wina memeluk Wulan sambil mengatakan "Tolong sampaikan terimakasih untuk Kevin, kakak senang saat bermain dengannya".
__ADS_1
Muncul kebiasaannya Wulan, dia mencubit pinggang kakaknya.
Wina telah pergi meninggalkan Wulan dan Ibunya. Setelah beberapa menit, perut Wulan berasa mual-mual dan ingin muntah.
"Kamu kenapa nak?" Tanya Ibu.
"Gak tau Bu, perut Wulan tiba-tiba mual dan ingin muntah" jawab Wulan.
Ibunya hanya tersenyum.
"Kok Ibu malah senyum sih, anaknya lagi kesakitan juga." Ucap Wulan kesal, karena membiarkan Wulan dan Ibu hanya tersenyum.
"Nak Wulan, itu tandanya bahwa kamu sedang mengandung anak Kevin, kamu besok periksa ke dokter ya. Dan jangan dulu beritahu Kevin." Ucap Ibu.
"Wulan sendiri Bu, ke dokternya?" Tanya Wulan.
"Ya gak sendiri, nanti Ibu antar. Ibu ingin melihat reaksi Kevin saat tau kamu hamil."
Wulan keluar dari kamar Ibunya, dan masuk ke dalam kamarnya. Wajah wulan tersenyum terus hingga dia tertidur.
Kevin bangun lebih dulu, dia melihat Wulan tidur sambil tersenyum.
"Tumben nih istriku tidurnya tersenyum, mimpi apa ya dia" Kevin membiarkan Wulan tidur, dia pergi keluar kamar untuk mandi.
"Kopi sudah ada, sarapan sudah jadi, sekarang waktunya membangunkan istriku" Kevin berbicara sendiri di dapur.
"Kenapa nak Kevin, kok bicara sendiri" tanya Ibu yang baru datang dan menemui Kevin di dapur.
"Gak apa-apa Bu, oh ya Bu, sarapannya sudah ada kalau Ibu mau sarapan duluan." Kevin menawarkan Ibunya untuk sarapan terlebih dahulu.
"Emh... pantas saja nak Wulan sayang banget sama kamu Vin" Ibu memujinya.
"Saya tinggal dulu ya Bu, mau membangunkan Wulan." Kevin pamit pergi.
"Iya, bangunkan saja nak, dari masih gadis masih saja suka bangun siang dan di bangunkan" ucap Ibu.
Selesai sarapan Kevin bersiap-siap untuk bekerja. Wulan telah mempersiapkan kebutuhan suaminya, hingga saat berangkat tidak ada yang tertinggal.
Kevin sudah berangkat kerja membawa sepedah motor, sebelum berangkat Kevin selalu mencium kening istrinya dan mencium tangan Ibunya Wulan.
Kini tinggal Wulan dan Ibu yang bersiap-siap untuk pergi ke dokter kandungan.
"Nak, sudah selesai belum?" Tanya Ibu di depan pintu kamar Wulan.
"Sebentar lagi Bu" sahutnya sambil masih memakai bedak di wajah.
__ADS_1
"Cantiknya anak Ibu..."
Mereka berdua pergi ke dokter kandungan dan sesampainya disana, dokter berkata bahwa Wulan positif hamil.
Alangkah senang hati Wulan, saat dokter berkata bahwa dia hamil. Dia sudah tak sabar ingin memberitahu Kevin.
Tanpa henti Wulan selalu tersenyum sampai ke rumah. Pulang dari dokter, Wulan membersihkan kamarnya hingga rapih, bersih dan wangi. Sambil menunggu suaminya pulang, Wulan melanjutkan membersihkan seluruh ruangan di dalam rumah, hingga dia kena omelan oleh Ibunya.
"Nak, sudah jangan berlebihan beres-beresnya, kamu masih hamil muda, harus banyak beristirahat." Ucap Ibu.
"Tapi Wulan masih senang bersih-bersih Bu" jawabnya.
Ibunya hanya memperhatikan Wulan yang sedang beres-beres. Tak lama Kevin pulang. Dan merasakan ada yang berbeda saat masuk ke dalam.
"Bu, rumahnya kok jadi wangi? Mau ada acara apa Bu, kok Kevin gak dikasih tau." Tanya Kevin penasaran.
"Gak ada acara, ini istrimu sedang rajin, ya seperti ini kalau istrimu sedang rajin" Ibu masih merahasiakan ke hamilannya Wulan.
Wulan keluar dari kamar dan menghampiri Kevin dan dia langsung memeluknya.
"Wangi sekali kamu sayang, ada apa? Gak biasanya kamu sewangi ini?" Tanya Kevin.
"Coba tebak, apa ayo..." Wulan mengajaknya tebak-tebakan.
Kevin melihat gerakan Ibu berbicara, posisi Ibu tepat di belakangnya Wulan. "Kamu hamil ya Sayang..." Kevin menebaknya.
"Kamu kok tau sih, ya jadi kurang seru deh" terlihat Wulan kecewa.
"Tau dong, kan kamu gak biasanya beresin ruangan sampai bersih dan sewangi ini.
Kevin yang mengetahui Istrinya hamil dengan cepat memberitahukan ke Mama dan Ayahnya.
Kandungan Wulan semakin hari semakin membesar, hingga tubuh Wulan terlihat seksi dan montok.
Sepuluh bulan telah berlalu.
Saat itu kebetulan malam jum'at, Kevin bermimpi mendengar suara tangisan bayi. Kevin bangun dari tidurnya.
Kevin keluar dari kamar, tangan Wulan yang sedang memeluk Kevin, perlahan di angkat dan di taruh pelan-pelan, agar Wulan tidak bangun.
Kevin mendengar ada suara tangisan bayi di kamar Ibunya Wulan...
"Apa yang terjadi di dalam kamar Ibu...?"
Nantikan kelanjutannya di Season 2 dengan judul "Kampung Bangkit Mayit"
__ADS_1