Saudara Kembar Dari Alam Ghaib

Saudara Kembar Dari Alam Ghaib
Kesempatan Dalam Pesta


__ADS_3

"Ya, gue dikacangin nih, hello manteman." Tiara merasa di cuekin oleh Rina.


Rina melamun menatap wajah Kevin, otak jahatnya mulai berkpikir untuk mendapatkannya.


Rina terpikirkan sesuatu, dia ingin memastikannya, saat Rina masih berpikir dia kaget, kalau Tiara sedang mengajaknya bicara.


"Sory, sory, gue tadi ngelamun. Adik gue lagi ikut bokap." Sahut Rina.


"Lamunin apa sih Rin, kasian tuh Tiara sampe lu kacangin." Kata Wulan.


"Kalian kenapa gak pada duduk sih, malah pada betah berdiri kaya patung. Ayo duduk, anggap aja di rumah sendiri, hehehe." Rina mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Sebentar ya gue ke belakang dulu, oh ya kalian mau minum apa, itu pacar lu suka kopi Lan?" Ucap Rina.


"Suka" jawab Wulan.


Wulan berdiri dan menghampiri Rina ingin membantunya, tapi Rina menyuruh Wulan untuk menunggu saja.


Wulan kembali duduk menemani Kevin disebelahnya dan sambil ngobrol sama Tiara.


"Ayo, pasti lagi ngomongin gue ya." Tanya Wulan ke Tiara.


"Ngga Lan, gue cuma tanya - tanya aja." Sahut Tiara.


"Hati - hati sama Rina."


Bisik seseorang di telinga Wulan.


Wulan sempat kaget, lalu mencari arah suara yang tadi berbisik, namun disebelah tidak ada orang lagi, cuma ada Kevin yang berada disebelah kanan Wulan, dan Tiara ada di depannya.


Wulan kembali mengobrol, dan menghiraukan suara yang sempat mengganggunya tadi.


Saat Rina di dapur dia membuka bungkusan plastik yang dititipkan Wulan.


"Ini bungkusan siapa ya." Rina mengingat ngingatnya.


'Rina teringat, saat Wulan mau pulang, dia sempat menitipkan belanjaannya. Habis menitipkan Wulan gak tau kemana.'


Kue itu di tata rapih di atas piring lalu, lalu ada kacang kulit dan yang lainnya, Rina membawanya ke depan dan menyimpannya di atas meja.


Rina kembali lagi ke dapur, dan saat melintas kamarnya, dia teringat dan langsung memastikan, ternyata botol itu masih ada tersimpan di dalam kamar, (sudah banyak cowok yang jadi korban terkena obat dari botol itu).


Dia mengambil botol lalu menyimpannya di kantung celana karena ukuran botolnya tidak begitu besar, lalu melangkahkan kaki ke dapur.


Rina menata gelas-gelas kosong di atas baki, sebelum mengisinya dengan sirup. Dia menaruh serbuk bubuk di setiap gelas, terkecuali gelas untuknya sendiri.


Gelas Wulan, di isi obat dengan dosis lebih banyak dari pada yang lainnya, agar nanti Wulan tidak mengganggu rencananya dan obat untuk Kevin di isi sedikit agar saat dia beraksi, Kevin bisa merasakan kesenangan Rina di atas kasur.


Clink, clink, clink...


Terdengar Rina sedang mengaduk kopi, yang sudah dicampur serbuk. Rina melangkahkan kaki ke depan dengan membawa minuman dan meletakannya satu persatu agar tidak tertukar dengan gelas yang punya dirinya.


'Ada acara apa ya mereka, aku heran kenapa sampai banyak kue, biskuit dan lainnya di meja, tapi kok yang datang cuma berempat gak ada yang lain.' Gumam Kevin.


"Kenapa bengong, rileks aja Vin, nikmati malam minggu disini bareng kita" Ucap Tiara.


"Iya, cuma lagi bingung aja. Ini sebenarnya ada acara apa? seperti sedang ada pesta?" Celetuk Kevin memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


"Emang Wulan nggak ngasih tau ya?" Ucap Rina.


"Wulan nggak bilang tuh, cuma ngajak kesini." Jawab Kevin.


"Ya sudah nggak apa-apa, ayo di minum dulu, dan dimakan kuenya, jangan cuma di pelototin saja."


"Kita tuh sedang merayakan hari jadi kalian Vin, tadi siang kita bikin rencananya dadakan." Celetuk Tiara memberitahu Kevin.


"Owh, pantas saja banyak kue, makasih ya. Kok sebelumnya aku nggak dikasih tau ya?" Tanya Kevin.


"Kalau dikasih tau, namanya bukan kejutan dong." Rina yang menjawab.


Wulan dan Tiara mengambil gelasnya dan meneguk sirup yang sudah disediakan. Sedangkan Kevin belum menyentuh cangkir kopinya.


'Ayo Vin, ayo Vin diminum kopinya, biar gue bisa milikin lu malam ini, akan kubuat kau bahagia, dari pada sama Wulan, lu nggak dapet apa-apa, cuma bibir aja, kalau lu jadi milik gue malam ini juga, gue berikan tubuh gue buat lu seorang.' Rina berkata dalam hati yang penuh gairah.


Kevin hanya memandang cangkir kopi, saat tangan Kevin hendak mengambil kopi, tangan Kevin berubah arah dan mengambil kacang kulit.


Rina gregetan karena kopinya belum juga diminum.


'Kenapa nggak di minum-minum sih kopinya. Bisa gagal nih rencana gue' gerutu Rina dihati.


Setelah sepuluh menit berlalu Wulan mulai menguap, lalu disusul Tiara nampak mengantuk dan mulai tertidur.


Kevin belum tau kalau Wulan dan Tiara sudah tertidur.


Kevin tersedak saat makan kue kering, dan mengambil kopi agar tenggorokannya kembali lancar.


Dan akhirnya yang di tunggu-tunggu Rina ke sampaian juga.


'Yes, rencana gue berhasil.' Gumam Rina karena merasa senang.


Dengan mata mulai mengantuk, Kevin berdiri lalu membopong Tiara terlebih dahulu, setelah itu baru membopong pacarnya, tidak lama kemudian, Kevin ikut ambruk pas tepat disamping wajah Wulan dan Kevin tidur terlentang dengan tangan terbuka.


Rina tidak suka kamar yang ada ranjangnya, dia lebih nyaman tidur menempel di Lantai. Rina hanya melihat dari pintu untuk memastikan kalau mereka bertiga sudah tertidur, setelah mereka semua tertidur, Rina menghampiri Kevin, tangan Rina mulai meraba-raba bagian wajah hingga ke ************, Rina menghentikan aksinya karena pintu masih terbuka lebar. Lalu Rina keluar menutup pintu kamarnya perlahan, lalu menuju pintu depan dan menguncinya.


'Saat Rina sedang ke depan ada sosok yang tidak di kenal masuk menembus pintu kamar.'


Cetrek, cetrek


Terdengar suara sedang mengunci pintu, dan Rina tidak menyadarinya.


Rina tertawa jahat karena idenya berhasil dan kembali menuju kamarnya. Saat hendak membuka pintu, ternyata Rina nggak bisa buka.


"Loh kok pintu gue nggak bisa kebuka ya, perasaan gue nggak ngunci pintu." Rina mendorong pintu kamarnya agar terbuka.


Sekitar jam tiga sore, Tedy kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Dewi.


Hingga matahari terbenam, Dewi belum membuka mata. Tedy tertidur di kursi saat menunggu Dewi.


Dengan perlahan mata Dewi terbuka, dan melihat atap-atap rumah sakit merasa aneh dan bingung, kenapa bisa berada di ruangan ini.


Tangan Dewi memegang tangan Tedy yang tertidur disampingnya. Tedy terbangun karena merasa ada yang mengelus tangannya lalu menoleh ke arah Dewi.


"Kamu sudah bangun" ucap Tedy.


Dewi tersenyum manis sambil memandang wajah Tedy.

__ADS_1


"Terimakasih sudah mau jadi pacarku." Ucap Dewi.


"Kamu mau, kalau mau aku potongin?" Tedy menyodorkan apel.


Dewi mengangguk mau dan Tedy segera memotong apel, menjadi kecil-kecil lalu menyuapinya sedikit demi sedikit.


Tak lama kemudian, Tedy habis menyuapi Dewi, datang bapaknya untu menjenguk Dewi.


"Nak Tedy, biar bapak saja yang tunggu, kamu istirahat saja di rumah." Ucap bapaknya.


Tedy merogoh kantong celana dan melihat handphonenya dan ternyata handphonenya mati.


"Maaf pak, sekarang jam berapa?" Tanya Tedy.


"Sekarang jam sepuluh malam." Jawab bapaknya Dewi.


Tedy menoleh ke arah Dewi lalu pamit pulang dan berjanji besok pagi akan datang lagi.


Tedy meninggalkan rumah sakit dan langsung pulang ke rumah untuk beristirahat.


Rina masih mencoba membuka pintu, dan tak lama, pintu itu terbuka sendiri. Rina langsung memeluk Kevin, tangannya mengg*rayangi tubuh Kevin sambil bergumam.


'Malam ini kamu milikku, ini kesempatanku untuk menikmati tubuhmu.'


Rina merasa tidak puas akhirnya dia nekat ingin membuka seluruh pakaiannya tapi tak lama kemudian, lampu yang terang berderang mati. Semua menjadi gelap tak terlihat.


Rina nggak peduli dengan keaadan gelap, dia masih berusaha dan berhasil membuka semua bajunya, kini tangan Rina merayap kebawah, dan ingin membuka celananya Kevin, tiba-tiba sebuah buku terbang ke arah kepalanya.


Rina menghentikan gerakan tangannya.


"Brengs*k, Siapa lu, tunjukin wujud kalau berani." Tantang Rina.


Tidak lama kemudian, rambut Rina seperti ada yang menjenggutnya dan menyeret keluar kamar.


Aduuuuuuuuh sakiiiiit....


Rina menjerit kesakitan karena ada yang menyeretnya keluar.


Rina bangkit bangun, setelah dia tidak diseret lagi.


"Setan lu, jangan berani dalam keadaan gelap, tunjukin wajah lu kalau berani, biar gue hajar, gue gak takut sama lu, mau orang, mau setan, gue nggak takut." Kemarahan Rina semakin menjadi.


Munculah seorang wanita bergaun merah muda, dengan cepat tangannya mencekik leher Rina lalu mengangkatya.


Rina tidak bisa bergerak, dan nafasnya mulai tersengal sengal, tubuh Rina di lempar hingga kepala terbentur tembok.


"Jangan pernah mengganggu Kevin."


Ucap wanita bergaun merah muda.


Lampu yang mati sekarang sudah terang berderang, disaat itu Rina melihat sekilas wajah setan itu, lalu dia menghilang entah kemana, dan tidak lama kemudian Rina pingsan.


Kevin terbangun dan kaget melihat keadaan tubuhnya setengah telanjang, dengan cepat Kevin langsung mengambil baju lalu memakainya.


Kevin dikejutkan lagi, karena disebelahnya ada Wulan dan Tiara yang sedang tertidur pulas.


'Gue nggak ngapa-ngapain Wulan sama Tiara kan?, kok mereka berdua ada disamping?, terus tadi pas gue bangun sudah telanjang dada' Kevin bertanya dalam hati.

__ADS_1


Kevin melihat di sekitar kamar berantakan, buku dimana-mana. Saat membangunkan Wulan tiba-tiba...


__ADS_2