
Bapak Dewi datang dari dapur dan membawakan air minum untuk mereka, lalu menyimpannya di atas meja.
"Silahkan minum dek, maaf ya, Bapak nggak punya apa-apa, cuma ada air putih saja." Ucap Bapak.
"Iya Pak nggak apa-apa, maaf kalau kami merepotkan" ucapa Wulan.
"Tuh liat Vin, kalau mau ngomong pikir-pikir dulu." Wulan berbisik dengan nada memarahi Kevin.
"Adek-adek ini mau ketemu siapa, dan ada perlu dengan siapa?" Tanya si bapak.
Tedy berbicara mewakili yang lainnya, bahwa tujuan mereka datang untuk menjenguk Dewi yang masih sakit.
Bapak Dewi awalnya biasa saja tidak kaget, saat Tedy mengutarakan maksud dan tujuannya.
Si bapak berdiri, lalu kedalam sebentar untuk membawa foto Dewi, dan memberi lihat kepada Tedy dan yang lainnya.
"Iya, ini Dewi pak, dan saya kesini ingin menjenguknya." Ucap Tedy karena ingin sekali melihat Dewi.
"Adek-adek dari mana dan kenapa mencari Dewi yang sudah meninggal?" Tanya si bapak.
"Apa, kita nggak salah dengarkan Ted?" Tanya Kevin heran dan bingung memotong pembicaraan.
"Pak, saya kemarin bareng Kevin jenguk Dewi di rumah sakit, saat malamnya saya datang lagi sendiri, Dewi masih ada, lalu sekitar pukul sepuluh malam, Bapak datang menggantikan saya." Sahut Tedy tidak percaya.
"Nak Tedy ya?" Bapak membenarkan namanya takut salah panggil.
"Bapak, orang tuanya Dewi, jadi Bapak yang tahu. Nama Bapak Purnomo panggil saja pak Pur. Nak Tedy, Dewi itu sudah lama meninggal, kok nak Tedy bisa kenal dengan Dewi?" Tanya pak Pur, sambil mengenalkan dirinya.
"Saya kekasihnya Pak, baru satu bulan yang lalu saya kenal dengan Dewi dan dia menerima cinta saya, saya masih tidak percaya Pak, kalau Dewi sudah meninggal, Pak Pur nggak mengada-ngada kan?" Tanya Tedy penasaran.
"Ayo ikut Bapak, jika kalian tidak percaya." Ajak Pak Pur.
Pak Pur, Tedy dan yang lainnya ikut ke dalam, lalu Pak Pur menunjukan kamar Dewi. Tedy dan Kevin masuk kedalam.
Kamar Dewi begitu kotor, disudut langit-langit sangat tidak enak di pandang, meja kasur dan jendela dipenuhi debu.
Diatas meja, Tedy melihat sebuah surat yang masih tersimpan rapih, dan masih terbungkus amplop, lalu Tedy bertanya ke pak Pur.
"Pak Pur maaf, ini surat apa?"
"Itu surat dari Dewi sebelum dia gantung diri."
"Boleh saya membacanya?"
"Silahkan, tapi selesai membaca tolong simpan lagi seperti semula."
Tedy dan Kevin mulai membaca, Wulan dan Tiara merasa penasaran, akhirnya ikut masuk untuk melihat isi surat itu.
Di depan amplop terdapat tulisan
Teruntuk Ayah dan Ibu.
__ADS_1
Lalu Tedy membuka amplop dan membaca suratnya.
Ayah, ibu, maafkan aku atas segala dosa-dosaku.
Ayah, ibu, maafkan aku yang tidak bisa bahagiakanmu.
Ayah, terimakasih kau telah melindungiku dan menjagaku.
Ibu, terimakasih kau telah merawat dan membesarkanku.
Ampuni segala dosaku, yang selalu melawan saat disuruh.
Mungkin hanya ini yang ingin Dewi sampaikan untuk ayah dan ibu.
Dewi tidak ingin Ayah dan Ibu yang menanggung aib ini, biar aib ini Dewi yang bawa sampai mati.
Ayah, Ibu, terimakasih atas semuanya.
Selamat Tinggal.
Dari anakmu.
DEWI AYU PURNOMO.
Bercucuran air mata Tedy, setelah membaca isi surat, Tedy merasa terpukul, surat yang berada di tangannya, di lipat kembali dan di simpan, ke tempat semula.
Teman yang lain ikut bersedih, lalu Kevin menenangkan Tedy, agar mau menerima bahwa Dewi sudah tiada.
"Ted, berarti lu selama ini pacaran sama hantu dong. Pantas saja, waktu awal gue ketemu sama Dewi, merasa ada yang aneh, di ajak ngomong nggak pernah nyaut, malah lu yang sering jawab." Celetuk Kevin ke Tedy.
Telunjuk Wulan menempel dimulutnya dan terdengar.
Suuuuuuuuut...
Wulan menyubit pinggang Kevin sekencang-kencangnya.
"Vin, temannya lagi sedih bukan di tenangin, malah dikomen yang nggak karuan." Ucap Wulan.
"Udah nggak apa-apa Lan, kalian jangan berantem. Emang Kevin orangnya seperti itu." Sahut Tedy.
Pak Pur, Tedy dan yang lain kembali ke depan dan duduk. Lalu Pak Pur menceritakannya, sebab akibat Dewi sampai gantung diri.
"Cerita On"
Ini dimulai saat dua tahun yang lalu, saat itu ada dosen yang menyukai Dewi, namun Dewi tidak menanggapinya, dan suatu waktu ada acara malam di kampus. Entah acara apa, Bapak nggak ngerti. Kalau kata teman Dewi yang melihat, saat malam itu Dewi dibawa ke ruangan, yang letaknya dekat Toilet.
Si Bapak menghentikan ceritanya dan menangis.
"Cerita pause"
"Kenapa Pak, kok berhenti ceritanya?" Celetuk Kevin.
__ADS_1
Wulan mencubit lagi pinggang Kevin, karena asal ceplos.
"Mau di lanjut, atau sudahi saja Bapak ceritanya?" Tanya Pak Pur.
"Kalau Bapak mau lanjut silahkan, nggak dilanjut juga nggak apa-apa" sahut Tedy tegar.
"Kalau Bapak melanjutkan cerita, nanti kasihan sama nak Tedy" ucapnya.
"Lanjut saja Pak, jangan setengah-setengah ceritanya." Celetuk Kevin lagi.
Kali ini Wulan tidak menyubit pinggang Kevin, karena dia juga penasaran dengan kelanjutan cerita dari Pak Pur.
"Baiklah Bapa lanjutkan"
"Cerita Next"
Ruangan itu di kunci dari dalam, temannya hanya bisa melihat dari kaca jendela.
Dia sendirian disana, jadi nggak berani buat menolong Dewi. Dosen itu menampar Dewi sampai pingsan, namun, dosen tak kunjung melepaskannya hingga akhirnya seluruh tubuh Dewi di telanj*ngi.
Lalu dia mulai menci*m seluruh tubuh Dewi, mulai membuka bajunya sendiri, hingga ikutan telanj*ng.
Setelah itu, dosen merangkak naik dan mulai meny*tub*hinya, hingga dia merasa puas.
Cairan itu dimasukan ke dalam mulut Dewi, yang masih dalam keadaan pingsan.
Tak sampai disitu, dosen mengambil kursi lalu menggendong Dewi dalam pelukannya sambil duduk.
Setelah dosen selesai, Dewi di biarkan begitu saja di lantai. Dosen mulai memakai baju dan pergi meninggalkan Dewi dalam keadaan telanj*ng bulat.
Temannya yang sedari tadi mengintip, sempat bersembunyi di toilet, disaat dosen keluar ruangan, setelah dosen tidak terlihat olehnya, dia langsung menolong dewi dan memakaiakan baju.
Dengan inisiatif, temannya mengambil air dari toilet dan menyiramkan ke wajah Dewi agar terbangun.
Dilantai terlihat berceceran darah, temannya berusaha mengguyur pakai air hingga tak berbekas
Sejak kejadian itu, Dewi enggan berangkat ke kampus. Dewi nggak pernah mau cerita. Setiap Bapak tanya, kenapa nggak ke kampus, Dewi hanya menjawab lagi malas berangkat.
Dua minggu setelah kejadian. Dewi akhirnya berangkat ke kampus tapi sampai malam Dewi tak kunjung pulang.
Hingga ke esokan harinya, Teman yang mengintip itu datang ke rumah memberitahu, bahwa Dewi bunuh diri dengan cara mengantungkan dirinya sendiri, di ruangan yang saat itu dia di perkaos.
Sejak saat itu, ibunya kalau mendengar nama Dewi langsung menangis.
"Cerita Off"
Maaf ya, Bapak jadi cerita panjang lebar. Alangkah baiknya, nak Tedy dan temannya menginap disini dulu saja, nati pagi baru kalian pulang. Cuaca di depan juga sedang hujan deras.
Pak Pur bangun dari tempat duduknya dan menghampiri Tedy.
"Nak Tedy sabar ya, ikhlaskan kepergian Dewi, walau jiwanya menjadi kekasihmu." Pak Pur mengelus punggung Tedy.
__ADS_1
Entah kenapa mereka merasakan kantuk yang luar biasa, dan akhirnya mereka tidur di rumah Dewi. Pak Pur menata kursi dan langsung mengambil tikar, Pak Pur menggelar tikarnya di ruang tamu, dan pintu pun tidak tertutup sampai pagi tiba.