Saudara Kembar Dari Alam Ghaib

Saudara Kembar Dari Alam Ghaib
Terror Hantu Sore Hari


__ADS_3

"Cepetan mandi sana, nanti keburu malam" Wulan menyuruh Kevin agar segera mandi.


"Temenin mandi" celetuk Kevin.


"Huuus, kalau ngomong asal ceplos aja, ada tiara nih" sahut Wulan.


"Aku aja yang nemenin kalau Wulan gak mau" celetuk Tiara.


"Eeeee... eeee... mau kemana Ti, lu juga samanya, mending lu temenin Tedy, Kevin biar gue yang tunggu disini, biar lu nggak macem-macem. Sahut Wulan ke Asti.


Wulan melototi Kevin, dan dia tau arti dari sorot matanya itu, nggak lama Kevin langsung masuk ke kamar mandi.


Saat Wulan sedang menunggu Kevin yang sedang mandi, terdengar, seperti ada orang yang sedang memasak di dapur. Wulan berjalan ke dapur untuk memeriksanya. Namun tak ada orang, maupun kucing yang berada di dapur


Asti pergi ke kamarnya, sedangkan Wulan menunggu Kevin, yang mandinya belum selesai.


Selesai mandi Kevin keluar dan mengajaknya pergi dari situ.


"Aku ganti baju dulu ya, nanti kita cari makan keluar" ucap Kevin ke Wulan.


Wulan hanya mengangguk dan berjalan ke kamarnya.


"Lu, kenapa lan?" Tanya Asti.


Wulan menggelengkan kepala dan duduk terdiam disamping Asti.


"Wulan Sayang..." teriak Kevin didepan pintu kamar.


Wulan mendengar Kevin memanggil, lalu dia melangkah keluar, dan ikut Kevin mencari makan.


Melihat tidak ada apa-apa di dapur, Wulan kembali menemani Kevin, namun di dalam kamar mandi, dia tidak mendengar ada percikan air atau orang yang mandi, Wulan penasaran, dia mencoba mengetuk pintu, namun tak ada jawaban, akhirnya Wulan membuka pintunya dan melihat kedalam.


"Kemana ini orang ngilang gitu saja" Wulan berbicara sendiri, sambil matanya mencari Kevin.


Wulan berteriak mencari Kevin, namun tak ada yang menyaut, Wulan pergi ke kamar Kevin, namun tak ada juga, yang ada cuma Tedy, yang sedang tidur. Wulan pergi ke kamarnya sendiri, dan bertanya ke Asti.


"Ti, lu liat Kevin nggak?" Tanya Wulan.


"Bukanya tadi Kevin pergi sama lu, bilangnya cari makan." Jawab Asti.


"Kevin nggak ada Ti, gue tadi habis dari dapur, terus pas gue lihat, di kamar mandi juga nggak ada." Jawab Wulan resah.


"Ti, tolong anter gue cari Kevin yuk, ke depan?" Ajak Wulan.


"Sebentar Lan, gue ambil jaket dulu" Asti mengambil jaket, dan pergi keluar mencari Kevin.


Setiap ada pedagang mereka menyatroni, barangkali ada Kevin disana, namun tak menemukan batang hidungnya.


Mata Wulan, terlihat sudah berkaca-kaca dan hampir menitikan air mata, Asti segera menenangkan Wulan, yang sedang sedih, dan di saat itu mereka berdua mendengar sesuatu.


Jangan pergi ke pohon besar, Dia ada di rumah

__ADS_1


Mereka berdua terdiam, dan saling bertatapan muka dan Wulan bertanya.


"Ti, lu denger kan?" Tanya Wulan memastikan.


"Iya, gue denger, kirain gue tadi lu, yang ngomong" sahut Asti.


"Bukan gue Ti, gue sering banget ada yang bilangin kaya gitu." Wulan menysutinya.


Mereka penasaran dengan apa yang tadi mereka dengar, dan anehnya, mereka malah mencari pohon tersebut.


Asti melihat ada pegang bakso, Asti mengajak Wulan untuk bertanya ke pedagang bakso yang sedang mangkal di pinggir jalan raya.


"Maaf mas, numpang tanya. Mas tau lokasi pohon besar yang di dekat sini?"


"Pohon besar! Mbak mau apa ke pohon besar? Pohon itu terkenal angker dan sudah banyak para gadis yang hilang." Jawab mas penjual bakso.


"Saya mencari tunangan saya, tadi ada yang berbisik memberitahu, kalau tunangan saya dekat pohon besar." Ucap Wulan.


"Tapi mbak..." penjual bakso itu ragu saat mau bicara.


"Tapi apa mas?" Sahut Wulan penasaran.


"Saya antar mbaknya ke pohon itu" penjual bakso, menawarkan diri untuk mengantar mereka berdua.


"Dagangan mas nanti bagaimana, kalau di tinggal, mengantar kami?" Tanya Wulan.


"Nggak apa-apa mbak, lagian masih sepi" sahut penjual bakso.


Penjual bakso melangkahkan kakinya dan pergi menuju pohon besar itu, mereka mengikuti penjual bakso, di belakangnya.


Wulan berhenti sejenak untuk mengatur napasnya.


"Lan, jauh banget lokasi pohonnya, lu cape nggak?" Tanya Asti.


"Gue cape banget Ti." Napas Wulan terengah-engah.


Disaat mereka mulai kehabisan napas mereka berhenti untuk beristirahat.


"Sayang, aku cari-cari, ternyata ada disini sama Asti, kalian mau kemana? Mau ke kuburan" Tanya Kevin.


Mereka berdua kaget, saat Kevin datang bareng sama Tedy.


"Asti dan Wulan sedang apa disini?" Tanya Tedy ke mereka berdua.


"Aku bantu Wulan nyari Kevin, tadi aku lihat Kevin dan Wulan keluar cari makan dan ternyata Wulan ada di rumah, terus aku tanya sama pedagang bakso dan dia mengantarkan kita." Sahut Asti.


"Dari tadi kalian berdua, nggak ad yang mengantar kalian, coba mana pedang bakso itu?" Tanya Kevin khawatir.


"Tadi ada kok, cuma dia jalannya cepet banget" sahut Wulan ngotot dan menunjuk ke arah sana.


"Ada juga Kevin yang dari tadi, mencari kalian, Kevin khawatir sama Wulan, saat dia (Kevin) nyari di dalam rumah, kalian nggak ada. Lalu Kevin menggedor-gedor, saat gue mandi, dia bilang, minta antar untuk mencari kalian."

__ADS_1


"Terus yang gue lihat keluar dari rumah tadi, siapa dong?" Tanya Asti.


Asti masih bingung dan belum menemukan jawabannya, lalu Kevin mengajak pergi dari tempat itu, dan mencari makan.


"Sayang, yuk cari makan sebelah sana saja, kalau kalian jalan kesana itu kuburan" Kevin berbicara sambil melangkah pergi dari tempat itu.


Mereka sudah pergi meninggalkan tempat itu cukup jauh, tiba-tiba tangan Kevin di tarik oleh Wulan.


"Say, tunggu sebentar" ucap Wulan ke Kevin untuk berhenti.


"Ti tunggu, kayaknya kita kenal dengan gerobak bakso ini." Ucap Wulan agar Asti dan Tedy ikut berhenti.


"Lan, bukannya ini gerobak si mas yang tadi nganter kita ke pohon besar?" Tanya Asti memastikan, bahwa yang di lihatnya itu gerobak si penjual bakso.


"Kok gerobaknya jadi hancur begini ya" Wulan merinding dan menarik Asti untuk meninggalkan tempat itu.


Wulan langsung memeluk tangan Kevin, karena merasa takut. Sedangkan Asti bingung ingin meluk siapa, dan tak lama tangan Asti ditarik oleh Tedy. Asti merasakan detak jantungnya berdegup kencang bukan karena melihat gerobak, tapi Tedy menarik tangannya, lalu menggandengnya sambil jalan.


Disepanjang jalan yang mereka lewati, terlihat, lampu-lampu jalan yang sudah terang berderang, Wulan dan Asti lupa akan kejadian itu.


Mereka berhenti di tukang sate dan duduk menunggu antrian untuk pesan sate.


"Sayang, satenya mau berapa tusuk? Tedy mau sekalian gue pesenin nggak satenya?" Tanya Kevin


"Say, aku sepuluh tusuk saja, kalau ada es jeruk, kalau nggak ada es teh manis saja." Jawab Wulan.


"Gue, sepuluh Vin, Asti sepuluh, minumnya samain saja kayak Wulan." Sahut Tedy menyebutkan permintaannya.


Kevin berdiri lalu menghampiri abang sate. Dan pesan sate.


"Bang, ada es jeruknya nggak? Tanya Kevin ke abang sate.


"Maaf mas, jeruk perasnya yang habis" sahut abang sate.


"Kalau begitu saya pesan sate empat puluh tusuk tapi di bagi empat piring ya bang, untuk minumnya es teh manis empat." Kevin pesan sate dan es teh manis.


"Di tunggu ya mas, satenya" sahut abang sate, yang sedang mengipas sate ayam dan kambing diatas bara api, yang menyala.


Kevin duduk kembali, setelah pesan sate dan minuman.


Saat mereka berkumpul di satu meja, Kevin teringat akan pertanyaan yang belum sempat ditanyakan ke Wulan.


"Sayang, aku mau tanya yang tadi siang belum aku tanyakan." Ucap Kevin.


"Oh, pertanyaan yang tadi siang, waktu kita mengemas barang ya, memang mau tanya apa?" Tanya Wulan.


"Aku masih penasaran sama Rina, kenapa dia sampai mati mengenaskan? Apakah Rina mempunyai musuh atau bagaimana?" Tanya Kevin.


Cerita On


"Kalau musuh mungkin dia punya, tapi kalau musuh sampai dia meninggal, aku kurang tau, setauku di kampus dia tidak berulah. Dia memang sahabatku sejak SMA.

__ADS_1


Pause


"Maaf ganggu, ini pesannya sate empat puluh tusuk, satenya saya bagi jadi empat piring, dan ini minumannya. Silahkan menikmati, kalau butuh sesuatu tinggal panggil saja." Abang sate menaruh pesanan Kevin di atas meja lalu teman abang sate meletakan minumannya.


__ADS_2