
Satu Bulan Kemudian
Setiap akan berangkat, Kevin tidak pernah lupa untuk menjemput Wulan ke kampus. Mereka berdua selalu pergi ke kampus bersama-sama.
Terkadang Mama dan Ayah Kevin datang menjenguk Bu Cristine atau sebaliknya.
Tidak ada satupun dari sahabatnya yang mengetahui bahwa Kevin dan Wulan tunangan, Kevin dan Wulan memang sengaja tidak mengundang para sahabatnya.
Saat pertunangan, yang hadir hanya kerabat terdekat dari ke luarga Kevin dan Wulan.
Waktu terus berjalan, hingga akhirnya mereka berdua mencari kost terdekat dengan kampus.
Wulan mendapat informasi dari temannya Rumi, bahwa ada kost yang harganya relatif murah, besar, dan nyaman di sekitar kampus. Wulan dengan sigap, mencatat alamat lengkapnya dan nama pemilik kost. Wulan berdiskusi dengan Kevin dan mengajaknya untuk cek lokasi kost tersebut.
Saat pulang dari kampus, mereka berdua mencari alamat yang sudah dicatat oleh Wulan, dan secara kebetulan, Wulan melihat Asti sedang berdiri di trotoar untuk menunggu angkutan umum, saat Asti hendak pulang.
"Tiiii, Astiiii..." Wulan berteriak memanggilnya agar dia melihat kebelakang.
Asti menoleh lalu menghampiri mereka berdua.
"Belum pulang Ti?" Tanya Kevin basa basi.
"Belum Vin, dari tadi nunggu, tapi mobilnya belum ada yang lewat, kalian mau kemana, mau pulang atau kencan nih?" Ledek Asti.
Asti memandang jari jemari Wulan, dia merasa ada sesuatu yang baru di jari-jari manisnya Wulan.
"Ehem... kayanya udah ada lampu hijau nih" seru Asti.
"Disini mana ada lampu merah Ti, orang disini bukan di perempatan jalan." Celetuk Kevin.
"Bukan itu Vin" sahut Asti.
"Lu kenapa Ti, dari tadi liatin jari kita mulu?" Tanya Wulan.
"Lu sudah tunangan kan Lan?" Tanya Asti.
"Sudah" jawab Wulan singkat.
"Selamat ya lan, sama siapa Lan?" Tanya Asti lagi penasaran.
"Ya sama Kevin, Ti emang siapa lagi pacar gue?" Sahut Wulan.
"Kok cuma lu doang yang pakai cincin Lan?" Asti masih penasaran.
"Iya, cuma gue yang pake cincin, soalnya cincin Kevin gue simpen." Jawab Wulan.
"Ti, gue punya saran nih, Asti masih suka sama Tedy kan? Kalau Asti masih suka, ajak langsung tunangan saja, sama kaya gue dan Wulan. Itu juga kalau lu mau ngikutin saran gue, nggak mau juga nggak apa-apa." Celetuk Kevin sambil menyarankan.
"Iya bener tuh Ti, langsung saja sama Tedy, mumpung dia lagi kesepian, butuh kasih sayang dan perhatian" Wulan ikut memberi dukungan buat Asti.
"Nanti gue pikir-pikir dulu Lan, gue takut dia masih kesel" Asti menarik napasnya.
"Iya sudah, kalau sudah kepikiran jangan dilama-lama, nanti keburu direbut orang" ucap Wulan.
"Oh ya, Asti mau ikut kita nggak?" Ajak Wulan.
"Kemana?" Sahut Asti.
"Ke ranjang mau ikut Ti?" Celetuk Kevin. Wulan hanya tersenyum.
__ADS_1
"Bertiga di ranjang Vin, emang gue boleh gitu?" Asti nggak paham.
"Yaelah, serius banget sih Ti, Kevin cuma ngeledek lu saja, kalau dia beneran ngajak bertiga di ranjang, gue cekek leher lu berdua. Kita mau cari kost nih" nada Wulan gregetan dengan sikap Asti.
"Kirain Lan, kalau beneran, gue mau disenggol Kevin." Ucap Asti.
"Yeeee, maunya lu sih. Kagak bakal gue kasih. Lu mau ikut nggak? Tanya Wulan sambil mengajak.
"Ya sudah, gue ikut." Sambil mengangguk.
Mereka bertiga mencari alamat tersebut dengan berjakan kaki, karena memang lokasinya tidak begitu jauh dari kampus.
Mereka telah menemukan rumah itu, mereka masuk ke dalam dan mengetuk pintu. Tidak lama keluar Bapak-Bapak dengan kumis dan kepala yang mulai botak.
"Ada perlu apa kalian kemari" tanya yang punya kost.
"Apa masih ada kamar yang kosong untuk berdua?" Tanya Wulan.
"Kamar kosong, ada" jawabnya.
"Berapa Pak per bulannya? Tanya Kevin.
"Satu bulan, tiga puluh hari, dek. Ada yang dua sembilan dan ada juga yang tiga satu. Tinggal pilih" sahut Bapak kost.
"Saya bukan tanya satu bulan berapa hari Pak, tapi harga per bulan berapa?" Tanya Kevin lagi.
"Oh, nama saya Mamat Surahmat Keramat, panggil saja Pak Mamat" jawabnya Pak Mamat sambil menyodorkan tangannya.
"Ti, coba lu yang tanya" Kevin menyuruh ke Asti.
Disaat Asti mau bertanya, muncul Ibu-Ibu dengan tubuh yang besar, jalan ke depan dan menghampiri.
"Nah loh Ti, di taksir sama Pak Mamat tuh, dari tadi ngeliatin lu mulu." Ledek Wulan ke Asti.
"Hiiii, apaan sih lan. Gue nggak level sama Bapak-Bapak" sahut Asti pelan.
Mereka masuk ke dalam dan duduk, saat Kevin duduk, paha Kevin bergetar dekat anunya.
"Mas itu, anunya kok getar-getar" tanya ibu kost.
"Oh, maaf bu, ini handphone saya yang bergetar, bukan anu saya" Kevin mengambil handphone dan melihatnya, ada panggilan masuk dari Tedy.
"Sayang sebentar ya, Tedy nelpon" bisik Kevin.
Wulan menganggut, lalu Kevin ke depan menganggkat telpon dari Tedy.
"Hallo Ted"
"Lu lagi dimana Vin?"
"Gue lagi nyari kosan nih"
"Daerah mana Vin?"
"Nggak jauh dari kampus Ted"
"Kirim lokasinya Vin"
"Lu, ada apa nelpon"
__ADS_1
"Sebenarnya gue ada perlu sama lu, jadi gue langsung kesitu saja, jangan lupa kirim lokasinya"
"Oke"
Kevin menutup pembicaraan di handphonenya dan gabung lagi di dalam.
"Gimana Sayang, udah ditanya berapa per bulannya?" Tanya Kevin.
"Belum Yang, hehehe" Wulan tertawa kecil.
"Begini Bu, kita kesini mencari tempat kost, apakah disini masih ada kamar yang kosong, untuk dua kamar?" Tanya Kevin.
"Ada mas, mas butuh berapa kamar juga ada, kebetulan anak yang kost disini sudah lulus semua, jadi banyak kamar yang kosong."
"Kira-kira perbulannya berapa bu?"
"Kalau langsung terisi semua lima kamar ada diskon lima puluh persen"
"Kita cuma berdua saja bu, nggak mungkin ambil lima kamar, sebentar ya Bu saya berunding dulu" sahut Kevin.
Kevin berjalan keluar rumah, Asti dan Wulan mengikuti dari belakang, mereka bertiga berunding di depan rumah Ibu kost.
"Gimana Sayang, kita ambil yang disini atau cari yang lain" tanya Kevin sambil melihat Wulan.
"Ti, lu ikut kost bareng kita saja disini?" Tanya Wulan ke Asti.
"Boleh, kalau lu ngebolehin. Gue juga sebetulnya cape pulang pergi, belum nunggu angkutan umum yang lama datangnya." Sahut Asti.
"Viiiiin..." teriak Tedy yang baru datang.
"Kesini Ted" Kevin memanggilnya untuk datang.
"Kok pada ngumpul disini?" Tanya Tedy
"Kita lagi berunding Ted, nah kebetulan lu datang, gue langsung saja tanya sama lu. Lu mau ikut kost disini gak?" Tanya Kevin.
"Wah kebetulan dong Vin, tadi gue telpon mau bahas itu, karena lu bilang lagi cari kost, mending gue langsung datangin ke lokasi." Tedy setuju ikut ngekost.
"Tapi satu orang lagi siapa nih?" Tanya Asti.
"Gue tau siapa satu lagi?"
"Siapa Vin?" Tanya Asti.
"Sebentar ya, gue cari dulu" Kevin menggulirkan nama-nama kontaknya di handphone.
"Nah ini dia nomornya" nomor yang Kevin cari ketemu.
"Emang siapa Vin" tanya Wulan sedikit curiga.
"Nomor Mita" jawab Kevin.
"Kok Ayang tau nomornya Mita! Emang Ayang minta nomornya dia?" Wulan bertanya dengan rasa penuh curiga.
"Sayang, ingat nggak waktu aku ikut ke kamar mandi, terus kamu juga ikutan bareng ke kamar mandi?" Tanya Kevin.
"Iya aku ingat" jawab Wulan kecut.
"Saat Sayang masuk kamar mandi, dia memberikan sebuah kertas berisi nomornya ke aku." Ucap Kevin.
__ADS_1