
Kevin dan Tedy sampai di kampus, mereka berjalan meninggalkan area parkir.
Saat sedang berjalan, Kevin mendengar ada yang menyapanya.
Hai!
Sapa wanita, yang sedang berdiam diri di bawah pohon, sambil melambaikan tangan ke arah Kevin.
"Hai juga" jawab Kevin, dia ikut melambaikan tangan ke wanita itu.
Wajah yang cantik, tubuh yang indah, membuat Kevin tidak berkedip, dan terus menatapnya sambil tersenyum.
Langkah kaki Tedy terhenti, dan menoleh ke arah Kevin. Kevin sejak tadi, sedang berdiam diri seperti patung, tak bergerak sedikitpun.
" Vin, lu kenapa senyum sendiri?" Tedy memecahkan lamunannya, dan menoleh ke arah Tedy.
"Tadi lu liat nggak ada cewek cantik, tinggi, putih, pokoknya cantik deh, yang menyapa kita?" Tanya Kevin, sambil menatap wajah Tedy yang terlihat bingung.
Tedy masih belum paham dengan apa yang Kevin bicarakan, lalu Kevin menjelaskan sosok wanita itu, lalu menunjuk ke arah pohon besar.
"Yang mana Vin? Setahu gue, dari tadi nggak lihat ada cewek yang nyapa lu." Sahut Tedy, karena nggak percaya sama omongan Kevin.
"Apa Tedy nggak liat ya?" Kevin berbicara sendiri, sambil melihat sosok cewek yang masih dibawah pohon.
Kevin melambaikan tangan ke arah cewek itu, lalu Tedy pergi meninggalkannya.
" Ted, tunggu" teriak Kevin, karena sudah jauh tertinggal.
Di Kampus
Haaah... haaah... haaah...
Nafas Kevin terengah-engah mengejar Tedy.
"Kamu kenapa Vin, kaya dikejar anjing saja" Tanya Wulan, menyapa Kevin yang datang dan terlihat cape.
"Eh, ada Sayang Wulan, lagi nungguin aku ya, aku bukan dikejar. Tapi mengejar Tedy" sahut Kevin.
"Lan, ini pacar lu dari tadi tingkahnya jadi aneh gini, semenjak Kevin lewat pohon yang di depan." Ucap Tedy.
Wulan dan Kevin tidak bereaksi dan mereka nggak peduli dengan ucapan Tedy.
Mereka berdua pergi meninggalkan Tedy seorang diri.
"Ah, rese lu berdua, sekarang malah gue yang ditinggal" maki Tedy sambil menyusul mereka.
"Ted, itu pacar lu udah nungguin menghadang jalan." Ucap Kevin berbisik di telinganya.
Tedy pamit memisahkan diri dari mereka berdua, lalu pergi dengan pacarnya. Kini tinggal mereka berdua.
Wulan berjalan menggandeng tangan Kevin sampai ke kelas.
Didepan kelas ada Asti yang sedang duduk sambil membaca buku, lalu melirik ke arah Wulan yang sedang menggandeng tangan Kevin.
"Cieee, ada yang lagi berduaan nih sambil pegang tangan. Selamat ya" Sindir Asti merasa iri, karena baru putus dengan kekasihnya.
"Iya dong, makasih ya. Gimana kita terlihat mesra gak? Oh ya, gue dengar sekarang Asti sendirian? Mau jadi pacar gue yang ke dua nggak? Tenang aja Ti, itu juga kalau Wulan ngijinin, hahaha" Sindir Kevin.
Wajah Asti me'merah lalu menutup wajahnya pakai buku. Tidak lama Bu dosen datang untuk mengajar.
"Selamat pagi anak-anak" sapa bu dosen.
"Pagi juga Bu..." jawab muridnya kompak.
Jam mata pelajaran baru saja berjalan setengah jam, Kevin berdiri lalu mengangkat tangannya.
"Bu, saya ijin ke toilet, udah pengen pipis nih" Kevin meminta ijin.
"Kamu mau pipis, Vin? Anak-anak ada yang punya pipis gak, kalau ada kasih Kevin, dia pingin pipis." Ledek bu dosen.
"Kebelet bu, bukan pingin mau." Kevin kesal.
"Kamu itu, baru juga di mulai pelajaran, sudah minta ke toilet, ya sudah cepat sana, dari pada ngompol disini" bu dosen ngomel dan teman yang lainnya tertawa.
Kevin melewati meja Wulan, lalu Wulan menarik tangan Kevin.
__ADS_1
" Vin, jangan ke toilet yang dekat kelas kosong itu ya, disitu banyak rumor bahwa toilet itu angker, denger kabar sih, ada yang gantung diri, temen aku pernah ngalamin, lihat sosoknya" Wulan berbisik, agar Kevin tidak ke toilet itu.
"Oke Sayang" sahutnya dengan muka menahan pipis.
Kevin keluar ruangan menuju toilet. Dia berhenti di tengah jalan karena bingung.
Toilet mana nih! Sebelah sini katanya angker, kalau yang disana males jauh banget. Pilih yang dekat saja. Masa iya, siang bolong begini ada setan!
Kevin membuka pintu toilet terdekat.
Kreeeeek
Saat membuka pintu toilet, udara bau, sumpek dan apek keluar bersamaan dari dalam hingga menusuk hidung, sampai Kevin menjepit hidungnya pakai tangan, tapi Kevin nggak perduli, yang penting bisa kencing dan nggak ngompol dicelana.
Kevin melihat kebagian bawah, lantai dan pinggir tembok mulai menghijau, penuh dengan lumut.
"Sereem juga nih" Kevin mulai merasakan aura ghaib di dalam toilet.
Cermin di dinding menambah kengerian suasana. Kacanya begitu kotor, Lampu penerangan di toilet juga redup, bau pesing dimana-mana.
Kevin lirik sana lirik sini, melihat ke dalam bilik toilet yang di dalam.
Untuk membuang rasa takut, Kevin bersiul agar suasana tidak hening. Tidak lama kemudian, Kevin mendengar suara kran air terbuka.
"Siapa disitu?"
Namun tidak ada jawaban.
"Hallo, apa ada orang?"
Sama seperti tadi, tak ada yang menjawab.
Awalnya Kevin kaget saat dengar kran air terbuka, namun Kevin tak menghiraukannya, hingga Kevin selesai pipis.
Sreet
Resleting celananya dinaikan dan Kevin menjerit.
Aduuuuh... jangan gigit Anu gue, gue cuma punya satu, kalau ilang nanti gue nggak bisa kawin. Kevin teriak kesakitan.
Saat dilihat kebawah ternyata burungnya kejepit resleting, Kevin memasukannya kembali burung itu ke dalam.
Kevin bergegas untuk pergi dari toilet, tiba-tiba lampu toilet mati, terus nyala dengan sendirinya, hingga bulu kuduknya berdiri.
'Sudah kaya di film aja nih toilet pake nyala mati terus lampunya'.
Celetuk Kevin dalam hati.
Disaat seperti itu dia mengeluarkan jurus andalan yaitu jurus langkah seribu.
"La,la,lariii..."
Dengan suara terbata-bata dan secepat kilat, dia berlari keluar, dan hampir saja Kevin menabrak Wulan yang sedang berjalan mencarinya.
SsszzsttttttTt!
Dengan cepat kakinya terhenti, dan tidak jadi menabrak Wulan yang tepat berada di depannya.
"Kamu kenapa Vin?" tanya Wulan.
Tanpa banyak bicara, Kevin meraih tangan Wulan dan mengajaknya pindah. Setelah jauh dari toilet, dia bercerita.
"Bener kata kamu, toilet itu angker"
"Kamu sih kalau dikasih tau ngeyel, tadikan udah aku bilang jangan kesitu"
Wulan dan Kevin kembali bersama-sama. Kelas selesai, Kevin keluar dan duduk di halaman depan.
Kevin melihat Wulan sedang asik mengobrol dengan temannya, sekilas dia melihat wanita yang tadi pagi sedang berada dibelakang Wulan.
Wulan menoleh ke arah Kevin, dan wanita yang dibelakangnya ikut menoleh.
Kevin berbalik badan dan hendak pergi, wanita yang tadi tiba-tiba ada dibelakangnya. Kevin tersontak kaget lalu mundur beberapa langkah.
Habis lihat aku ya! Jangan kaget gitu, kaya lihat setan saja. Oh, ya maaf, pasti kamu lupa lagi sama aku, Kenalkan namaku Wina. Kamu Kevin kan? Sudah lama kita tidak bertemu?
__ADS_1
Ucap wanita itu memperkenalkan diri, sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Ya, aku Kevin, Salam kenal ya, memang kita pernah ketemu? dan dimana?" Kevin bertanya, lalu menjabat tangannya.
"Kamu dulu sering main Vin, masa kamu lupa?" Wina mencoba mengingatkan.
"Aku beneran lupa, maaf ya" Kevin menyahutinya.
Saat bersalaman, tangan Wina terasa begitu lembut bagai kapas, berbeda dengan tangannya yang bagaikan padi.
Lama semakin lama, genggaman tangan Kevin mulai merasakan dingin, seperti ada bongkahan es di dalamnya.
'Siapa ya cewek ini, kok aku nggak ingat sama sekali, dari namanya saja nggak kenal, tapi kalau dari wajah seperti kenal dan tidak asing'
Kevin bergumam dalam hati.
Tatapan Kevin tidak lepas dari wajah Wina, seakan-akan dia terpesona olehnya.
Kevin tidak menyadari, kalau Tedy sedang melihatnya sejak tadi.
Tedy melihat Kevin sedang menatap seseorang, tapi siapa? Bahkan didepannya Kevin, nggak ada orang sama sekali, dan terkadang Kevin suka tersenyum sendiri.
"Lagi senyum sama siapa Vin?" Tanya Tedy.
"Hey Ted, dari mana saja lu, baru kelihatan." Sapa Kevin menanyakan keberadaan Tedy.
"Ah masa sih Ted, gue senyum sendiri?" Sahut Kevin.
"Mending kita cari makan yuk" Kevin mengalihkan perhatian.
Tedy menganggukkan kepala, bertanda setuju dengan ajakan Kevin.
"Tunggu sebentar Ted, gue ajak Wulan dulu." Ucap Kevin.
Kevin menghampiri Wulan dan berbisik.
"Lan nanti nyusul ya."
"Oke Vin, nanti aku menyusul" timpal Wulan.
Wulan pamit sama temanya, dan menyusul Kevin, yang sudah menunggu kedatangan Wulan, dan disusul pacarnya Tedy.
"Mba tolong kesini" teriak Kevin ke pelayan.
Pelayan itu menghampiri meja Kevin.
"Pesan apa mas?" Tanya pelayan.
Kevin sedang pesan roti bakar dan kopi. Tedy pesan nasi goreng.
Wulan pesan baso dan es jeruk.
Setelah mencatat pesanan Kevin, pelayan itu pergi.
"Ted, kenalin pacarnya sama kita dong, oh iya, sekalian pacar lu pesenin makanan, masa cuma lu doang Ted yang pesan" ucap wulan.
Akhirnya Tedy mengenalkan nama pacarnya. Pacarnya bernama Dewi, setelah mengenalkan, Tedy memesan makanan untuk Dewi.
"Silahkan, ini roti bakar dan kopinya. Ini baso dan es jeruknya"
Kata pelayan cafe, sambil menyimpannya di meja, dan tiba-tiba Tedy nyeletuk.
"Mba, pesananku mana, tambah satu porsi pisang bakar ya?" Pesan Tedy.
"Tunggu sebentar sedang dibuatkan." Pelayan itu menoleh dan tersenyum, lalu pergi ke dapur.
Tedy melirik, membalas senyumannya, melihat tingkah Tedy, Dewi menjewer telinganya.
Sepuluh menit kemudian, pesanan nasi goreng dan pisang bakar datang.
Wulan memanggil pelayan lalu meminta bill. Kevin hendak mengeluarkan dompet, tangan Wulan menahannya.
"Udah biar aku saja" ucap Wulan sambil membuka dompet dan membayarnya.
"Ted, punya lu dan Dewi sudah sekalian kubayar."
__ADS_1
"Makasih Lan, sudah mentraktir, ada angin apa nih jadi baik" ledek Tedy.
"Rahasia dong! sudah ya, aku sama Kevin duluan."