
Wulan masih berada ditaman sendirian, sedangkan Asti pergi ke ruangan.
Sesampainya di kampus, Kevin pergi meninggalkan Tedy di area parkir.
Kevin melirik jam tangannya, menunjukan pukul dua belas siang, dan Kevin berharap Wulan belum pulang dari kampus.
Setelah memarkirkan motor, Tedy mengambil tas yang disimpan didalam bagasi, lalu pergi ke kantin, untuk membeli kopi.
Disaat itu, Kevin melihat Wina dari jauh, lalu berjalan menghampirinya. Setelah mendekat ternyata bukan Wina yang dilihatnya, melainkan Wulan.
Kevin tersenyum manis saat berada di depannya, lalu Wulan meluapkan rasa kangen dengan memeluk tubuh Kevin erat.
Kevin mencium kening Wulan, dan membelai rambutnya, sambil meminta maaf.
Maaf ya sayang, aku telah membuatmu khawatir.
Maafkan aku selalu membuatmu bersedih, Jangan nangis ya Sayang, nggak enak kalau dilihat orang.
"Kamu tuh, sering banget bikin aku khawatir."
"Maafin aku ya sayang" ucap Kevin.
Asti yang dari tadi melihat kemesraan mereka membuatnya iri, dan memukul tembok yang berada disampingnya.
Asti hanya bisa melihat dari balik tembok kelas, karena jarak Asti dengan mereka tidak terlalu jauh.
Asti memberanikan diri menghampiri mereka yang sedang melepas rindu, sehari tak bertemu.
"Hai Vin" sapa Asti.
Wulan segera melepaskan pelukannya.
"Asti, kenapa mukanya ditekuk gitu?" Tanya Kevin.
Lalu Wulan membisikan sesuatu di telinga Kevin.
'Asti lagi nyari Tedy' Wulan berbisik.
"Vin, liat Tedy nggak?" Tanya Asti berharap.
"Tadi Tedy bareng sama gue, cuma gue jalan duluan, coba cari di parkiran kali aja dia masih disana." Sahut Kevin memberitahu keberadaan Tedy.
"Makasih ya Vin." Asti tersenyum.
"Macama" jawab Kevin lebay.
Asti pergi meninggalkan Kevin dan segera mencarinya ke tempat parkir.
"Kemana sih ni orang, tiap dicari nggak ada!" Gerutu Asti sambil mencari.
Sementara itu, Tedy sedang memesan kopi di kantin.
Bu, kopi hitam satu.
Pisang gorengnya masih ada gak bu?
"Ada mas, tapi belum digoreng." Sahut ibu kantin.
"Saya pesan empat saja bu."
"Ditunggu ya mas" jawabnya.
Setelah pesan makanan dan minuman, dia membuka tas dan mengambil buku beserta pena.
"Mas Ini kopinya, pisangnya nanti menyusul ya, di tunggu dulu." Kata Ibu kantin, menyodorkan kopi hitam di meja Tedy.
__ADS_1
Asti mencari ke area parkir, tapi dia tidak melihat batang hidung Tedy. Hingga akhirnya dia berjalan dan dari jauh dia mengenali seseorang yang sedang duduk di kantin, lalu Asti menghampirinya.
'Nih dia orangnya yang aku cari malah sedang duduk dikantin' Gerutu Asti dalam hati.
Emh, enak ya yang diam-diam sudah punya pacar.
Terus nasibku bagaimana Ted?
Aku sudah menunggu jawabanmu tapi kau gantung aku tanpa satu katapun.
Asti melontarkan semua yang ada dalam hatinya.
Tedy menoleh dan mengajak Asti duduk, lalu menenangkannya.
"Sudah nggak usah marah, nanti Asti cepet tua loh." Tedy menghiburnya.
"Emang kenapa kalau aku cepat tua?" Sahutnya, sambil mendekap ke dua tangan dan memandang wajah Tedy dengan ketus.
"Kamu sudah lupa saat kita pertama kali bertemu, saat kakiku tersandung dan kamu yang menolongku?" Ucap Asti kesal.
Pertanyaan demi pertanyaan dari Asti, membuat Tedy mengingat kembali waktu pertama ketemu.
Flashback On
Tedy secara tidak sengaja melihat ada seorang wanita terjatuh, lalu Tedy berlari ke arah wanita itu, untuk menolongnya.
"Kamu kenapa? Sini biar aku bantu." Tedy meraih tangan dan membantunya berdiri.
"nggak apa-apa, kakiku cuma tersandung." Sahutnya, sambil menunjukan kaki yang tadi tersandung.
Lalu Tedy membantu memapahnya hingga ke depan.
"Aku antar pulang ya, oh ya nama kamu siapa?"
"Tunggu sebentar disini." Menyuruh Asti untuk menunggunya.
Tedy bergegas mengambil motor, lalu membawanya sampai ke depan.
"Ayo naik, aku antar kamu pulang." Ajak Tedy.
Asti yang tadi menolak, akhirnya mau diantar pulang.
Flasback Off
Aku ingat jelas saat kita baru pertama kali bertemu.
Akupun nggak tahu kalau kamu sudah punya pacar.
Saat aku melihatmu untuk pertama kali, aku langsung suka sama kamu.
Namun saat aku ingin menyatakan rasa, aku melihat kamu sedang dipeluk laki-laki.
Aku urungkan niatku, dan kembali pulang.
Jadi selama ini aku hanya memendam perasaan, karena aku tau kalau kamu sudah punya pacar.
Setelah kejadian itu, aku bertemu Dewi dan mulai dekat dengannya.
Hingga bulan lalu, aku menyatakan rasa ini padanya.
Tedy mengutarakan isi hatinya yang telah lama tersimpan.
"Tapi, tapi kan Ted aku juga suka kamu!, belum lama ini aku putus sama pacarku, aku kaget saat Wulan berkata, bahwa kamu sudah punya pacar." Ucap Asti merasa sedih.
"Sudah tidak usah membahas itu lagi, yang sudah berlalu tidak bisa kembali, kalau kita berjodoh, suatu saat pasti akan kembali." Ucap Tedy.
__ADS_1
"Maaf mengganggu."
"Mas, ini pisang gorengnya" ibu kantin menaruh piring pisang goreng lalu kembali lagi.
Asti hanya terdiam membisu dan menitikan air mata.
"Maafkan aku, bukan maksud aku melukai hatimu, namun aku sudah terlanjur sayang sama Dewi." Ucap Tedy sambil mengusap air mata Asti yang mengalir di wajah.
"Iya, aku juga minta maaf. Ini salahku." Asti bersedih.
"Bu, buatkan es jeruk satu ya, untuk Asti." Tedy pesan minuman untuk Asti.
Dengan cepat ibu kantin langsung membuatkan es jeruk, lalu menyuguhkanya ke Asti.
Raut wajah Asti kembali ceria, lalu mereka berdua asik mengobrol.
Wulan sedang duduk bersama temannya sambil mengobrol.
"Lan, gue denger lu jadian sama Kevin ya?"
"Iya Rin." Jawab Wulan singkat.
"Wah yang bener Rin, Wulan sudah jadian sama Kevin! Rin, lu keduluan dong sama Wulan, hahaha." Sindir Tiara ke Rina.
"Iya gue di duluin sama Wulan." Sahut Rina ketus.
"Apaan sih kalian berdua, awas ya Rin, kalau lu rebut si Kevin dari gue!" Nada Wulan sedikit mengancam Rina.
"Ya enggaklah, paling cowok lu gue culik." Sahut Rina menyindir.
'Ah sial, gue keduluan sama si Wulan, gimana caranya, biar gue bisa rebut Kevin dari Wulan.' Rina menggerutu sendiri dalam hati.
Rina dan Tiara adalah teman Wulan sewaktu masih SMA dan kini mereka satu kampus.
Saat SMA, banyak yang naksir Wulan, tapi Wulan menolak semua cowok yang nembak hatinya.
Rina memanfaatkannya, cowok yang di tolak oleh Wulan berakhir di pelukan Rina, dan mengajaknya kencan hanya untuk senang-senang.
"Bagaimana kalau nanti malam kita adakan pesta, di rumah gue." Rina menyarankan ide.
"Pesta apa Rin? Pesta ngerayain gue jadian sama Kevin." Sahut Wulan.
"Iya dong, masa party gue sama Kevin." Sindir Rina.
"Awas saja kalau sampai lu macem-macem." Wulan mengancam lagi.
"Sebelum pulang dari kampus, kita mampir dulu ke mini market, gimana menurut kalian." Ucap Rina.
"Sekarang saja kita ke mini marketnya, kalian nggak ada kelas lagi kan." Ajak Wulan.
"Wah ide bagus tuh Lan" Timpal Tiara.
Mereka bertiga berjalan kemini market sambil ngobrol.
"Lan, bagaimana ceritanya, dan sejak kapan lu suka Kevin? Seingat gue waktu kita masuk ke kampus, lu biasa-biasa saja sama Kevin?" Tanya Rina pingin tahu.
"Gimana ya, pokoknya seperti itulah." Sahut Wulan.
'Kalau bukan amanat dari ibu mungkin sudah pacaran sama Kevin dari SMP.' Wulan bicara dalam hati.
"Nanti malam kumpul di rumah Rina jam berapa? Tanya Tiara.
"Gimana kalau kumpul di rumah gue jam tujuh." Sahut Rina.
Terlintas dalam bayang Rina memeluk dan merangkul Kevin, hasratnya begitu besar terhadap Kevin. Disaat itulah pikiran Rina mulai merencanakan sesuatu, agar Kevin milik dia.
__ADS_1