Savior System

Savior System
Bab 100 : Kecewa


__ADS_3

"Kalau ada yang tanya aku ke mana, bilang aku lagi jalan-jalan, ya?" ujar Agler sambil memakai hoodie hitam kesayangannya.


"Tunggu!" Rem menyahuti sambil berlarian ke arah Agler, dia masih mengenakan baju maid yang sering dipakai olehnya.


Menoleh ke arah Rem yang sedang berlari, Agler segera menangkap Rem dan memeluk pinggangnya.


"Ada apa, Rem yang imut?" tanya Agler sambil mendekati wajahnya ke depan wajah Rem, terlihat seperti menggoda Rem.


Melihat perilaku Agler seperti ini, Rem memerah karena malu, lalu dia memberanikan diri menatap mata Agler yang memikat, dan berkata, "Kamu mau ke mana?"


"Aku mau keluar rumah, jalan-jalan melihat pemandangan kota," jawab Agler.


"Yasudah, tapi jangan lama-lama, ya?" ucap Rem sambil menatap Agler.


Mulut Agler melengkung tersenyum, lalu menjawab, "Iya, aku sebentar kok keluarnya."


Rem membalas tersenyum, kemudian dia mengecup bibir Agler dalam sekilas, dan melepaskan pelukan pinggang Agler, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya membersihkan rumah.


"Ada kemajuan," gumam Agler sambil melihat Rem berjalan ke dalam rumah.


Dia memakai sendal slop pria santai yang harganya 30 ribu di market place online.


Terlihat tampan walaupun Agler hanya mengenakan hoodie hitam, celana pendek krem, dan sendal slop.


Tidak peduli dengan pakaian yang dipakai, semuanya akan terlihat keren dan bagus, jika orang yang memakainya adalah orang yang berwajah tampan.


Membuka pintu rumah, lalu dia berjalan keluar memulai perjalanan kesendiriannya.


•••••


"Sepertinya aku sudah lama tidak main ke Bundaran HI. Pergi ke sana saja kali, ya?" gumam Agler yang bingung ingin pergi ke mana sekarang.


Setalah lama berpikir, Agler memutuskan untuk pergi ke Bundara HI, dia kemudian menaiki ojek menuju Stasiun Kereta Tanjung Barat.


Dia tidak ingin menggunakan kekuatan supernya hanya untuk melakukan hal sepele seperti pergi menuju tempat yang dituju.


Saat di dalam kereta, dia selalu ditatap oleh para wanita dari berbagai kalangan umur, membuat Agler merasa sedikit malu.


"Pstt, Cowok yang pakai jaket hitam ganteng banget ga sih?" bisik Seorang Wanita di dalam kereta kepada teman wanitanya yang ada di sampingnya.


Temannya melihat Agler yang ada di depannya sedang berdiri sambil memegang pegangan yang ada di dalam kereta agar tidak terjatuh.


"Eh~" Mata Temannya langsung terpaku pada muka orang yang ditunjuk temannya, dan dia terus menatap laki-laki itu.


Wajah tampan Agler telah terlihat jelas oleh semua orang, dan itu membuat banyak berbagai reaksi.


Para wanita di dalam kereta banyak yang memfokuskan pandangannya ke arah Agler, ini membuat penumpang yang pria iri pada Agler.


'Merepotkan jika seperti ini,' ucap Agler di dalam hati.


Dia menjadi tidak nyaman jika terus dipandang seperti ini, tampak jadi bahan perhatian semua orang yang ada di sini.


"Stasiun Sudirman, hati-hati melangkah, perhatikan celah peron."


Mendengar ini, Agler buru-buru keluar dari gerbong kereta.


Para Wanita pun ikut keluar mengikuti Agler keluar dari kereta.


Melihat di belakangnya terdapat puluhan wanita yang mengikutinya, Agler dengan cepat berlari keluar menuju Bundaran HI.


....

__ADS_1


"Wanita jaman sekarang mengerikan sekali!" ucap Agler setelah sampai di Bundaran HI.


Dia duduk bersandar di tempat duduk umum untuk semua orang sambil memandangi air mancur yang ada di depannya.


Mencari cara agar tidak diikuti oleh para wanita, Agler akhirnya membeli kacamata hitam Superman di Mall Sistem untuk menutupi wajah tampannya.


[Kacamata Hitam Superman : Pengguna yang memakainya akan menjadi tidak dapat dikenali oleh siapapun. Efek bonus : mengurangi efek ketampanan pengguna 50%.]


"Kenapa sekarang aku baru tahu, kalau begitu aku tidak harus menutupi wajahku dengan topeng hitam," keluh Agler setelah tahu efek dari kacamata hitam Superman ini.


Pantas saja Superman Clark Kent tidak dapat dikenali oleh orang-orang hanya karena dia memakai kacamata ini, ternyata kacamatanya memilki efek seperti ini.


Saat dia sedang menikmati pemandangan kesibukan di pagi hari menjelang siang, tiga orang anak kecil yang membawa karung di punggungnya, melewati dia dan berhenti untuk mengambil sampah yang tidak jauh dari tempatnya.


Melihat ini, Agler langsung tertegun, dan menoleh ke arah tiga anak kecil ini, memperhatikan semua gerakannya.


Tiga anak kecil yang terdiri dari 1 laki-laki dan 2 perempuan sedang memulung sampah di sekitar sini, wajah mereka yang penuh debu masih memiliki raut wajah yang ceria seolah mereka menerima takdirnya.


Di tengah kesibukan orang yang lalu lalang berangkat bekerja, anak-anak kecil yang berangkat sekolah, masih ada anak-anak seperti ini yang berjuang untuk hidupnya.


Orang-orang berjalan seolah tidak peduli dengan nasib tiga anak kecil ini dan berpikir bahwa ini sama sekali bukan urusannya.


Kehidupan Kota jauh akan sosial, jika itu ada itu hanyalah kebetulan bertemu dengan orang lain.


Di Kota kita dapat menemukan banyak sekali mereka yang tidak peduli dengan satu sama lain, terlebih dengan orang asing.


Hal itu bagus adanya, akan tetapi jika kita lihat lebih jeli akan jelas sekali perbedaan penjahat yang berpura-pura membutuhkan pertolongan dan yang benar-benar meminta tolong.


Kita lihat dari penampilan dan gerak-gerik mereka tapi itu memang sulit.


Jika sudah banyak bukti yang nyata dan memang benar orang itu membutuhkan pertolongan, harusnya kita segera bertindak menolongnya, walau orang itu hanya menanyakan jalan dan sebagainya.


Mungkin karena sudut pandang mereka seperti itu, mereka jadi tidak peduli dengan tiga anak ini, jelas sekali anak ini tidak meminta uang, mereka hanya memungut sampah, tapi kalian tega hanya melihatnya, dan tidak membayangkan jika kalian menjadi anak kecil ini.


Selama Agler menatap mereka bertiga, mereka terus memungut sampah dan memasukannya ke dalam karung.


Orang-orang hanya melewati mereka, seakan anak-anak ini tidak ada, dan menganggap bahwa tiga anak kecil itu memang pantas hidupnya seperti itu.


Padahal mereka bertiga adalah penerus negeri kita, bisa saja mereka yang akan memimpin negara ini dan menjadikan negara ini lebih maju.


Entahlah, Agler juga belum tahu bagaimana caranya agar orang lebih bersimpati kepada orang yang memang membutuhkan, seperti anak-anak ini dan juga Kakek Nenek tua yang tetap bekerja di pinggir jalan walaupun mereka sudah berumur.


'Memberi mereka sedikit uang untuk meringankan bebannya tidak akan membuatmu miskin." Agler teringat dengan ucapan itu.


Tentu saja, Agler akan menolong jika memang orang itu tidak menipu.


Agler juga tidak akan memberi uang kepada pengemis yang normal tubuhnya, karena itu tidak masuk akal jika dia memberi mereka selembar uang.


Kehadiran anak-anak kecil di sini, membuat Agler teringat kembali pada Nayla dan Farid, serta teman-temannya.


Rasa iba memenuhi hatinya, Agler memutuskan untuk menghampiri mereka.


"Halo~" panggil Agler sambil memasang senyum ramah.


Anak-anak ini langsung berbalik, dan melihat Agler yang berdiri di belakang mereka.


Mereka bertiga memasang kewaspadaan pada Agler, dan saling memegang tangan satu sama lain.


Agler bingung harus melakukan apa agar mereka tidak waspada seperti itu.


Dia langsung berpikir untuk memberi pertanyaan basa-basi terlebih dahulu.

__ADS_1


"Kalian tidak pergi ke sekolah?" tanya Agler kepada mereka.


Mereka bertiga terdiam mendengar pertanyaan Agler, wajah waspada mereka berganti menjadi kesedihan, dan mereka menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan Agler.


"Kalian mau sekolah?"


Tiga anak kecil ini menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Agler.


"Orang tua kalian kemana?"


Tubuh mereka membeku sejenak, lalu anak laki-laki itu memberanikan diri untuk berbicara, "Ga ada, Hehe."


Anak laki-laki itu berkata polos sambil tertawa kecil, tampak menertawakan hidup mereka sendiri, padahal jelas sekali dia menutupi kesedihan yang ada di dalam dirinya.


"Boleh Abang ke tempat tinggal kamu?" tanya Agler meminta izin kepada anak-anak kecil ini untuk pergi ke rumah mereka tinggal


"Boleh!" jawab anak laki-laki itu.


"Ayo kita ke rumah kalian," ucap Agler tersenyum.


Mereka bertiga mengantarkan Agler ke rumahnya.


Rumah mereka ternyata tidak jauh di sini hanya sekitar 200 meter, rumah mereka ada di dalam sebuah perkampungan, dan mereka tinggal di sebuah gubuk tepat di samping gardu listrik.


Rumah mereka gubuk yang beralaskan karpet bekas dan atap plastik dengan sedikit genteng untuk menutupi mereka dari turunnya hujan.


Juga pemisah dari kayu yang asal mereka taruh dan membentuk sebuah tembok.


"Rumah kalian?"


"I-iya bang, bagus kan kita buatnya?" ucap Anak laki-laki itu.


Agler tidak langsung menjawab pertanyaan anak ini, Dia segera masuk ke gubuk ini dan melihat ruangan yang ada di dalam.


Rumah seperti kandang kambing, bahkan kandang kambing pun masih lebih bagus.


Kesedihan muncul di hati Agler, dia merasa gagal menjadi seorang penyelamat bila masih banyak anak kecil seperti ini


Rasanya seperti percuma menolong dan menjaga Dunia ini, tetapi masih ada anak kecil yang terlantar seperti mereka bertiga seperti ini.


"Kalian mau sekolah?" tanya Agler sekali lagi.


Mereka bertiga masih mengangguk menjawab pertanyaan Agler.


"Sekarang kita pergi dari sini, kalian tinggal di rumah abang, di sana banyak teman-teman seumuran dengan kalian, apa kalian mau?" Agler menawarkan mereka untuk tinggal di rumahnya.


Mereka masih menganggukkan kepala.


"Baiklah... Sekarang abang minta kalian bertiga kumpulkan barang yang kalian anggap penting di atas karpet ini, nanti kita bawa ke rumah yang baru, apa kalian bisa?" Agler meminta mereka untuk memisahkan barang yang ingin di bawa.


"B-bisa ...." jawab salah satu anak perempuan itu.


Tampaknya mereka sudah mengendurkan kewaspadaannya kepada Agler.


"Iya, Bang."


Anak laki-laki itu segera mengambil barang yang dia anggap penting dan dikumpulkan di atas karpet, juga dia membantu dua anak perempuan ini.


Beberapa menit berlalu, mereka selesai mengumpulkan barang yang ingin di bawa, dan Agler juga sudah memesan Gokar untuk membawa barang ini.


Mereka berempat pun pergi ke rumah Agler.

__ADS_1


__ADS_2