
Mereka bertiga naik pesawat untuk terbang menuju ibu kota Venezuela, Caracas. Agler telah memesan akomodasi dari suatu perusahaan tur yang sanggup membawa mereka bertiga ke Paradise Falls, disebabkan oleh dirinya yang cukup terkenal, banyak orang yang mampu membawa mereka ke Paradise Falls, tetapi Agler harus memilih penyedia tur yang kredibel dan resmi.
Pada akhirnya, kemarin Agler berhasil memesan dan sekarang mereka pergi menuju Paradise Falls.
Agler sudah banyak bertanya-tanya mengenai rute lain selain jalur udara, tetapi mereka bilang tidak ada rute yang bisa ke sana selain lewat jalur udara. Dengan demikian, mereka bertiga pergi melalui jalur udara.
Beruntungnya Tuan Carl dan Nyonya Ellie tidak memiliki phobia ketinggian atau phobia naik pesawat, keduanya bilang mereka adalah pasangan yang tidak takut ketinggian, bahkan Tuan Carl dan Nyonya Ellie sangat suka dengan balon udara atau balon terbang.
Beberapa jam kemudian, mereka bertiga sampai di Kota Caracas dan beristirahat di sana beberapa jam dan melanjutkan lagi perjalanan menggunakan pesawat kecil, mereka menyewa pesawat untuk bisa ke Canaima Camp.
Ketika pesawat kecil yang membawa mereka bertiga terbang menuju Canaima Camp, dari atas mereka bisa melihat pemandangan petakan hutan yang lebat, hutan yang masih belum terjamah oleh manusia, juga banyak sungai-sungai yang mengalir.
Tempat itu merupakan sebuah gerbang untuk bisa ke Paradise Falls. Namun, di tempat Canaima Camp banyak sekali pemandangan indah. Oleh karena itu, mereka bertiga menginap di sini selama sehari untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke air terjun tertinggi.
Tuan Carl dan Nyonya Ellie terlihat bahagia ketika melihat air terjun kecil yang ada di Canaima Camp. Mereka berdua memang senang sekali dengan pemandangan alam, senyum berseri terlukis di wajah keduanya, Agler senang dengan ini.
Satu hari berlalu, mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan menuju Paradise Falls, air terjun impian keduanya.
Salah satu orang dari Suku Indian Pemon menjadi pemandu mereka bertiga untuk sampai ke Paradise Falls. Pemon adalah suku asli atau penduduk yang tinggal dan mendiami bagian atau daerah terpencil di wilayah Venezuela. Mereka ini sudah paham dengan medan perjalanan menuju Paradise Falls.
Setelah melakukan persiapan, mereka berempat dengan tambahan pemandu berangkat ke sungai.
Benar, mereka ke air terjun melewati jalur air.
Sebuah perahu panjang yang biasa disebut kano mereka naiki. Perahu ini memiliki mesin dibelakangnya, tidak perlu mendayung agar bisa bergerak.
__ADS_1
Sungai berkelok-kelok yang mereka lalui ini memiliki pinggiran sebuah hutan yang rimbun dan lebat, di sana banyak fauna liar, tetapi kata pemandu, itu baik-baik saja selama kita tak mengganggu dan terus fokus pada tujuan.
Selain banyak hutan, di sungai ini terdapat banyak bebatuan yang menghalangi jalan, mereka berhati-hati dalam melewati jalur sungai ini.
Agler lihat Tuan Carl dan Nyonya Ellie senang melakukan perjalanan, mereka berdua begitu antusias ketika melihat pemandangan, entah itu hutan atau yang lain. Tidak ada rasa takut pada pasangan ini, padahal mereka sudah tua dan lemah, jiwa bertualang mereka masih sangat besar.
Mereka tak lupa membawa buku petualangan mereka berdua yang sudah ada saat mereka kecil. Di sana sudah ada beberapa dokumen, tetapi itu dokumen mereka berdua saat muda dan setelah menikah, bukan bukti-bukti perjalanan ke Paradise Falls.
Kini mereka banyak berfoto untuk meletakkan bukti perjalanan mereka ke tempat impian, banyak tulisan yang serupa dengan catatan harian yang ditulis oleh Nyonya Ellie, mereka berdua terus mendokumentasikan perjalanan.
Perjalanan di sungai cukup panjang, memakan waktu hampir 4 jam dari Canaima Camp, sebab banyak rintangan yang menghambat mereka untuk sampai ke air terjun.
Pada saat ini, di depan mereka berdua muncul pemandangan indah sebuah air terjun yang memiliki tinggi hampir seribu meter. Air yang jatuh memberikan kesan keindahan yang alami, disertai dengan angin yang berhembus dingin menabrak mereka.
Keindahan ini seakan memiliki sihir yang membuat orang terpesona dan terbuai. Semua orang pasti suka dengan air terjun yang menakjubkan ini.
Tanpa banyak bicara, Tuan Carl dan Nyonya Ellie memotret banyak gambar dari Air Terjun Paradise Falls. Tampak wajah keduanya begitu bahagia, senyum lebar tertulis di wajah keriput mereka berdua, impian mereka untuk bisa ke Paradise Falls akhirnya tercapai.
"Sangat indah, aku senang sekali melihat air terjun Paradise Falls sedekat ini!" Tuan Carl berkata sambil melihat pemandangan air terjun di depannya.
Mereka bertiga melihat air terjun di kejauhan pinggir hutan, air terjun saat ini tidak begitu landai, masih terlihat deras dengan kapasitas air yang banyak.
Nyonya Ellie menggenggam tangan Tuan Carl dan ia tersenyum menikmati semilir angin yang tercipta dari air terjun. "Aku juga senang sekali, akhirnya kita bisa mewujudkan cita-cita kita bersama."
"Benar, akhirnya kita bisa datang ke sini, tidak lagi melihat air terjun dari layar kaca televisi." Tuan Carl mengelus jari-jemari istrinya.
__ADS_1
Dalam hatinya, mereka berdua sangat bahagia karena telah sampai ke tempat yang paling didambakan.
Tempat yang ingin mereka kunjungi saat masih kecil, tak mengira di usia lanjut seperti ini mereka berkesempatan untuk mengunjungi Paradise Falls.
Melihat wajah keduanya menjadi senang, Agler ikut bahagia. Tidak tahu kenapa, melihat senyum di wajah keriput mereka begitu terasa mendamaikan hati.
Agler tidak mau mengganggu momen kemesraan mereka berdua, biarkan mereka menikmati waktu untuk berdua.
Jika dipikir-pikir lagi, tinggi air terjun di depannya ini masih lebih tinggi Karathen saat diberdirikan ke atas. Panjang Karathen lebih dari 3 kilometer atu 2 mil, sebanding dengan tinggi 3 air terjun apabila digabungkan.
Setelah keduanya puas memandangi air terjun untuk sementara waktu, Agler mengajak pasangan tua dan pemandu wisata untuk makan siang di tempat sekitaran air terjun. Agler membawa tas besar di punggungnya yang berisikan banyak persediaan makanan untuk mereka makan.
Mereka berempat pergi ke pohon besar yang ada di pinggir daratan sekitar air terjun, tidak terlalu jauh dari air terjun. Di sana, mereka duduk bersama dan mulai menyiapkan makanan.
Beristirahat di atas matras besar dan lebar di bawah pohon yang rindang, hawa panas karena cahaya matahari cukup dikurangi dan difilter oleh dedaunannya yang lebat. Mereka makan siang di jam setengah dua siang karena terlambat untuk sampai di sini.
Tuan Carl dan Nyonya Ellie tidak perlu khawatir mengenai makanan, pencernaan di dalam tubuh keduanya sudah Agler sembuhkan, apinya tidak hanya menyembuhkan penyakit saja, ada efek menguatkan fisik dan semua anggota tubuh menjadi lebih mudah dari yang seharusnya.
Dengan mudahnya gigi Tuan Carl menggigit sosis yang sudah dibakar di Canaima Camp oleh Agler. Nyoya Ellie pun tak mau kalah dengan suaminya, ia memakan kacang almond secara langsung, giginya yang keras dapat menghancurkan kacang almond yang dimasukkan ke dalam mulut.
Takkan ada lagi keluhan keduanya sakit dan sudah tak merasa nikmat ketika makan karena memiliki penyakit yang membuat nafsunya rusak dan mulutnya tidak lagi merasakan rasa pada kelezatan makanan.
"Apakah Kakek Carl dan Nenek Ellie puas dengan air terjunnya? Atau kalian berdua merasa kecewa karena tak sesuai ekspektasi?" tanya Agler membuka percakapan sambil menggigit roti lapis daging ayam.
Sebelum menjawab, Nyonya Ellie tersenyum lembut kepada Agler, dan membuka mulutnya, "Ini memang sesuai ekspektasi kami berdua. Paradise Falls benar-benar cantik. Apa yang mereka beritakan dan kabarkan adalah sebuah kebenaran. Ini bahkan lebih indah dari yang ada di buku dan di koran berita."
__ADS_1