Savior System

Savior System
Bab 162 : Ruang Rawat Inap Ellie


__ADS_3

"Ellie?" Ekspresi wajah Agler terlihat bingung. "Apakah itu Ellie dari The Last of We?"


Sebuah gim yang ada di kehidupan sebelumnya memiliki nama karakter yang sama dengan target Misi Sepuluh Ribu Dunia kali ini. Sebuah gim bertemakan zombie dan kehancuran dunia akibat monster zombie, popularitas gim-nya sangat tinggi, banyak pecinta gim yang menyukai gim ini, termasuk Agler.


Terdapat dua tokoh utama yang dapat dimainkan, yaitu karakter bernama Ellie yang memiliki rupa gadis yang masih kecil, Joel karakter yang lain yang memiliki wujud pria kuat dan tangguh walaupun sudah berusia 40 tahun ke atas.


Akan tetapi, Agler tidak yakin dengan dugaannya, seharusnya ini berbeda karena keterangan pada misinya saja sudah berbanding jauh sekali dengan tebakannya.


Ellie di dalam gim yang disebutkan tidak memiliki penyakit, tetapi bisa dibilang sebuah kelebihan dan kemampuan yang membuatnya kebal dari virus atau penyakit yang membuat orang menjadi zombie.


Sedangkan Ellie yang di keterangan misi memiliki informasi bahwa ia mempunyai penyakit, juga ada keterangan lain bahwa Ellie adalah pasangan tua.


Tua? Ellie di gim tidaklah tua!


Artinya, ini Ellie yang berbeda.


Namun, Agler masih bingung dengan siapa Ellie yang dimaksud oleh Sistem.


"Tidak mungkin Ellie dari gim itu, sangat berbeda latar belakangnya," Agler bergumam sejenak dan merenung, "lalu siapa Ellie yang di dalam misi?"


Agler merasa pikirannya buntu karena ia tidak dapat mengingat karakter Ellie film, permainan, dan animasi yang diingat olehnya saat ini yang sesuai dengan keterangan misi.


Begitu memikirkan hal ini, ia segera menerima misi sistem.


Daripada pusing seperti ini lebih baik ia datang secara langsung dan melihat sosok target misi di dunia misi.


"Terima misi!"


[Ding! Menerima Misi Sepuluh Ribu Dunia!]


[Mulai memindahkan ....]


Sebuah cahaya jatuh ke tubuh Agler seperti semestinya ketika Agler hendak pergi ke dunia yang berbeda.


Cahaya yang bersinar seakan menelan sosok Agler dan sinar tersebut membawa Agler menghilang dari dunia nyata.


∆∆∆


Di sebuah perumahan yang cukup padat dan ramai, tetapi tidak begitu berdempetan, sebuah cahaya mendadak muncul tanpa aba-aba dan tanpa diundang di sebelah rumah seseorang.


Cahaya tersebut begitu terang sehingga di jarak puluhan meter masih dapat terlihat cahayanya.


Sosok pemuda yang tinggi dan tampan terlihat sehabis cahaya putih menghilang. Pemuda ini melihat ke sekelilingnya dengan wajah yang bingung dan penasaran, seolah ia datang ke tempat yang asing dan tidak dikenal.


Pada kenyataannya memang seperti itu, Agler berdiri di sebelah rumah yang terasa familiar baginya.


Agler berjalan ke depan halaman rumah tersebut dan mengamatinya dengan jelas.


Dalam beberapa hela napas, rumah ini diingat oleh Agler.


Sebuah rumah yang pernah ia lihat di dalam sebuah film animasi yang tua, film tersebut berjudul 'Up' di mana animasi ini cukup tua dan bisa dikatakan film legenda.


Animasi inilah yang mengisi keseruan dan memberi warna masa kecilnya, akibatnya film tersebut berkesan. Hampir saja Agler melupakan film animasi yang keren ini, untungnya misi membuatnya ingat kembali.


"Bukankah ini rumah Carl dan Ellie?" ucap Agler terpana dengan rumah yang terpampang jelas di depannya.


Tiba-tiba, Agler menengok ke arah kanannya dan melihat seorang pria yang cukup tua dan seorang anak kecil.


"Halo, apakah kamu melihat cahaya yang terang tadi?" Pria cukup tua tersebut bertanya kepada Agler sambil memegang tangan anak kecil.


"Tidak ada, Pak. Memangnya kenapa?" jawab Agler yang berbohong demi keamanannya.

__ADS_1


Pria tua itu menunduk melihat anaknya, lalu kembali menatap Agler. "Sepertinya anakku salah lihat, dia bilang padaku bahwa ada sebuah cahaya yang bersinar dari rumah ini."


"Haha, sepertinya adik ini memang salah lihat," tutur Agler sedikit tertawa. "Apakah rumah ini milik Carl dan Ellie?"


Tiba-tiba Agler mengganti topik pembicaraan dan menanyakan persoalan rumah di depannya.


Agler berjalan mendekati mereka berdua sambil menunggu jawaban dari pertanyaannya.


"Benar, ini rumah Tuan Carl Fredricksen dan Nyonya Ellie." Pria tua itu mengangguk.


"Syukurlah, kukira salah rumah." Agler mengehela napas ringan.


"Memangnya ada apa?" tanya Pria tua tersebut. "Kamu ingin menjenguk Nyonya Ellie yang sedang sakit? Kamu kerabatnya?"


"Eh, iya. Aku kerabat jauh dari keluarga Tuan Carl, baru saja aku ditelepon olehnya untuk datang ke sini," jawab Agler dengan cepat.


Keterampilan aktingnya makin mahir dan terlihat lebih natural sehingga dapat membuat orang yakin dan tidak tahu bahwa Agler sedang berbohong.


Agler tidak memiliki hubungan kekeluargaan di keduanya, sejak kapan ia menjadi kerabat orang yang tinggal di dunia ini?


Ia datang ke sini untuk menolong dan misi, bukan untuk menjenguk apalagi berjalan-jalan.


Namun, sepertinya berjalan-jalan di dunia ini sangat asik, tidak ada monster dan eksistensi yang kuat.


Mungkin saja di dunia ini ada seseorang yang memiliki dan memegangnya, tetapi Agler belum percaya diri untuk bisa mengalahkan sosok tersebut.


"Ternyata kerabat. Tuan Carl baru saja pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Nyonya Ellie, kamu terlambat," kata Pria tua itu menggelengkan kepalanya. "Kamu ingin ke sana, nak?"


"Ya, tetapi aku tidak tahu alamat rumah sakitnya, Tuan Carl tidak memberi tahu aku."


Agler benar-benar tidak tahu di mana alamat rumah sakit yang merawat Ellie atau nenek Ellie, pasalnya di filmnya pun tidak menerangkan di mana alamat dan letak rumah sakitnya.


"Aku tahu. Kalau begitu aku akan menuliskan alamatnya, kamu hanya perlu taksi atau berjalan ke sana," kata Pria tua tersebut.


Anak dari Pria tua tersebut mengangguk. "Baik, Ayah!"


Segera anak itu berlari cepat menuju ke dalam rumah di belakangnya, dan tidak lama kemudian anak kecil itu membawa selembar kertas dan buku, tidak lupa membawa satu buah pulpen. "Ini, Ayah."


"Terima kasih, Nak," kata Pria tua tersebut sambil tersenyum lembut.


"Tunggu sebentar."


Pria tua tersebut menulis sebuah alamat pada selembar kertas yang ditaruh di atas buku.


Butuh beberapa detik untuk menulis alamat dan rute singkat di dalam kertas, kemudian Pria tersebut menyerahkan selembar kertas tersebut kepada Agler.


Agler memeriksa sebentar kertas lembar tersebut dan membacanya di dalam hati, setelah itu ia menyimpan kertas tersebut ke dalam kantong celana olahraganya.


"Terima kasih atas bantuannya, Pak!"


"Sama-sama. Segera pergi, selagi masih pagi," ujar Pria tua tersebut sambil tersenyum.


Senyumannya sudah terlihat garis-garis keriput di sekitar pipi dan bibirnya, tetapi senyum ini termasuk ke dalam senyum yang tulus.


"Baik, Pak. Saya pergi sekarang." Agler mengangguk dan berbalik arah menuju ke arah barat jalan.


Agler berniat berjalan untuk pergi ke rumah sakit Nyonya atau Nenek Ellie.


Sosok Agler terus dilihat oleh Pria tua itu dan anaknya, sampai sosok Agler menghilang di dalam penglihatannya.


Tidak lama Agler berjalan, ia akhirnya sampai di depan sebuah rumah sakit besar yang letaknya di pinggir jalan besar.

__ADS_1


Agler langsung masuk ke dalam rumah sakit tersebut dan bertanya kepada resepsionis rumah sakit tentang letak ruang rawat inap dari pasien Ellie Fredricksen.


Usai diberitahukan nomor kamarnya, Agler segera bergegas dan menaiki lift.


Beberapa ruang rawat inap Agler lewati hingga akhirnya ia sampai di ruang rawat inap Nyonya Ellie.


Setelah sampai di depan pintu ruang rawat inap, Agler tidak langsung membuka pintu dan masuk ke dalam, pasalnya ia bisa melihat gerakan Carl dan Ellie di dalam ruangan.


Keduanya sedang saling menuangkan kasih sayang, Tuan Carl sedang mencium dahi Nyonya Ellie dengan lembut, sepertinya di antara keduanya sudah memiliki perasaan yang buruk, terlebih Tuan Carl.


Mereka berdua melihat buku petualangan mereka yang sudah ada sejak mereka kecil, sayangnya buku tersebut belum bisa diisi dengan petualangan mereka.


Tujuan petualangan mereka ialah menuju ke air terjun Paradise Falls, jika di Aquater Paradise Falls itu adalah Angel Falls yang berada di Venezuela, Amerika Selatan.


Air terjun yang paling tinggi di dunia, memiliki ketinggian 979 meter. Oleh karena ketinggiannya, air terjun ini memberikan pemandangan yang indah sehingga Tuan Carl dan Ellie ingin ke sana walaupun sekali dalam hidupnya.


Namun sayang, letak air terjun yang indah dan menakjubkan ini sulit dijangkau, harus menyusuri sungai Churun yang adalah air yang akan turun melalui air terjun Angel Falls, dan perjalanan tersebut berlangsung selama tiga hari untuk bisa sampai di air terjunnya.


Sungguh sulit dicapai untuk dinikmati keindahannya.


Tuan Carl dan Nyonya Ellie ingin sekali ke sana, sayangnya mereka tidak memiliki uang dan akses untuk bisa ke sana.


Uang yang mereka kumpulkan selalu saja terpakai untuk keperluan yang mendadak, seperti membeli ban mobil baru, membenarkan rumah, dan menyiapkan kamar anak, tetapi mereka tidak akan bisa memiliki anak akibat sakit.


Melihat mereka berdua tidak lagi di dalam momen haru dan saling sayang dan menyayangi, Agler segera membuka pintu kamar secara perlahan dan masuk dengan sopan.


Mendengar gerakan di pintu, Carl Fredricksen segera menoleh dan melihat seseorang yang masuk ke dalam kamar rawat istrinya, dan ternyata ia melihat sesosok pemuda yang tidak dikenal masuk begitu saja ke dalam kamar.


Tepat ketika Carl hendak bertanya, Agler mendahuluinya dan berkata, "Halo, Tuan Carl dan Nyonya Ellie. Selamat Pagi!"


Agler menyapa keduanya dengan kesopanan dan keramahtamahan sehingga pihak lain yang melihatnya tidak merasakan ketidaknyamanan atau penolakan.


"Kamu siapa?" tanya Carl yang tidak tahu identitas Agler.


Agler tersenyum ramah dan ia menjawab, "Aku adalah penyelamat Nyonya Ellie."


Carl tersentak kaget dan menatap wajah Agler dengan pandangan yang bingung. "Penyelamat? Kamu dokter baru di sini? Kenapa kamu tidak terlihat seperti seorang dokter?"


Setelah mendengar ucapan Tuan Carl, Agler tidak tahu harus tertawa atau sedih. Ternyata Carl Fredricksen tidak mengerti maksud kalimat Agler dan menjawab dengan ucapan yang logis.


"Carl, siapa itu?" Suara serak wanita tua terdengar oleh keduanya.


Segera, Tuan Carl menghampiri istrinya dan menggenggam tangannya. "Seseorang yang mengaku sebagai penyelamatmu, sayang."


"Penyelamat? Apakah itu dokter yang bisa menyembuhkan aku?" tanya Nyonya Ellie.


"Tidak tahu. Sebentar, aku tanyakan dahulu."


Tuan Carl melepaskan dengan hati-hati tangan istrinya dan ia kembali menghampiri Agler.


"Kamu seorang dokter yang bisa menyembuhkan istriku, kan?" tanya Carl penuh harap.


"Aku bukan seorang dokter, tetapi aku jamin istrimu bisa kembali sehat." Agler menggelengkan kepalanya dan menatap wajah tua Tuan Carl dengan serius.


Carl belum mengerti apa yang Agler ucapkan.


Seorang yang bukan dokter, tetapi bisa menyelamatkan istrinya, pekerjaan ajaib apa itu?


"Jangan bercanda kepadaku, anak muda! Aku sedang membutuhkan seseorang yang bisa menyembuhkan istriku dari penyakitnya!" kata Carl dengan sedikit amarah di hatinya.


Agler tidak menjawab ucapan ini. Alih-alih menjawab dengan perkataan, ia mengulurkan tangannya ke depan Carl Fredricksen.

__ADS_1


Melihat gerakan aneh Agler, Tuan Carl mundur dua langkah untuk menjauh dari telapak tangan Agler.


Namun, sesuatu yang belum pernah dilihat oleh keduanya ditampilkan.


__ADS_2