
Agler keluar dari kamar mandi, penampilannya telah berubah drastis, rambut dan paras wajah tetap tampan namun dengan bentuk yang berbeda.
Mengenakan kostum Flugel yang keren, tanpa mengeluarkan sayap dan menyembunyikannya di dalam tubuhnya.
Berlari keluar dengan kecepatan yang cepat, sehingga orang yang ada di sekitar tidak dapat melihat sosok Agler saat berlari, hanya ada siluet hitam yang melewati mereka dan membuat efek hembusan angin kencang yang sangat jelas dirasakan oleh mereka.
Baju orang-orang yang dekat dengan jalur Agler berlari berkibar, bahkan pakaian orang itu menjadi acak-acakan, terlihat aneh dan lucu.
Berhenti berlari di pinggiran pantai, Agler melirik ke arah perahu yang hampir terbalik sempurna.
Sontak orang-orang terpana dan terpesona ketika melihat sosok Agler yang berhenti di pinggir pantai.
Ekspresi terkejut mereka nampak jelas, mulut mereka terbuka lebar, cukup untuk memasukkan telur dinosaurus ke dalamnya.
Ibu-ibu berteriak keras bersamaan dengan para wanita, sementara pria dewasa masih mempertahankan sikap mereka terkejut, diam membisu sambil menatap Agler.
Orang-orang di sini sangat mengenal siapa itu Saviorman, oleh karena itu mereka berekspresi berlebihan seperti itu.
Jeritan akibat terjadinya musibah kalah dengan jeritan ketika Agler datang.
Beberapa orang mencoba menolong dan terjun ke laut dan berenang untuk mencapai menjangkau orang yang jatuh dari perahu.
Upaya dan usaha mereka patut kita hormati, tanpa ada hubungan bahkan tidak tahu siapa orang yang ingin ditolong, mereka dengan sukarela memberi bantuan.
Telapak kaki Agler meninggalkan permukaan pasir secara perlahan, orang-orang membelalakkan matanya saat melihat adegan ini dengan mata kepala mereka sendiri.
Selanjutnya Agler terbang dengan kecepatan di batas wajar, meninggalkan pasir pantai yang beterbangan dan berdesiran.
"Lihat itu!"
"Apakah itu manusia?!"
"Aku tidak salah lihat, kan?!"
"Saviorman aku cinta kamu!"
Berbagai ucapan keluar dari mulut orang-orang yang melihat Agler terbang di atas laut menuju perahu yang terbalik.
Mereka melihat Agler yang berhenti terbang dan melayang di atas perahu yang terbalik, lalu tangan kanannya bergerak terangkat ke arah depan sedikit ke bawah seolah sedang membidik perahu.
Dalam sekejap adegan yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup terjadi.
Perahu kayu yang terbalik itu terangkat dan terbang ke atas, seperti ada sesuatu yang mengangkatnya, namun tak terlihat wujudnya.
Sesuatu yang menakjubkan terjadi lagi, orang-orang yang tercebur ke air ikut terbang dan melayang di udara, semuanya termasuk anak kecil yang jatuh ke dalam air.
Tidak menunggu lama untuk mereka bereaksi, perahu bersama orang-orang itu ikut terbang bersama Agler menuju bibir pantai.
Perahu itu diletakkan di pinggir pantai setelah Agler kosongkan air yang menempel pada bagian dalam perahu.
Ternyata ada kerusakan pada perahu, terdapat lubang kecil yang cukup berarti jika perahu sedang dijalankan, lubang kecil ini akan membuat perahu tenggelam secara bertahap.
Kekuatan tanamannya bergerak sepotong pohon kecil tumbuh pada kayu perahu dan menutupi lubang itu, bagaikan lubang itu tidak pernah ada sebelumnya.
Setelah melakukan itu, Agler menurunkan orang-orang ini ke permukaan tanah.
Hanya dalam beberapa detik orang-orang berkumpul ingin penasaran karena ingin melihat korban.
Dua pasang orang tua dengan enam orang anak diletakkan oleh Agler di tanah.
Empat dari enam orang anak pingsan dan ibunya pun tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Agler mendarat tidak jauh dari korban, ia berjalan mendekati kumpulan orang-orang yang berbondong ingin melihat korban kejadian dan dirinya.
Banyak orang yang ketika melihat Agler langsung berlarian menghampiri Agler.
Kebanyakan dari mereka itu perempuan, ada beberapa pria yang ikut berlari bersama menuju Agler.
Kaki Agler terus melangkah, dia mencoba terus tersenyum ketika orang-orang ingin meminta foto dan bertanya kepadanya.
Sejujurnya Agler ingin mengabaikan mereka semua, namun karena dia sosok yang dikagumi oleh mereka, dia harus kelihatan ramah dan sopan.
Beberapa tangan ada yang jahil, bahkan secara terang-terangan menyentuh perut Agler, melihat pelaku dari tangan itu, ternyata wanita, ingin marah tapi Ia tidak bisa.
"Permisi ...." Agler mencoba menerobos gerombolan orang yang melingkari para korban. "Maaf, saya ingin ke sana, tolong minggir sebentar."
Agler terus mencoba membelah kerumunan manusia sambil mengucapkan kata sopan.
Kerumunan orang di sini cukup mengerti dan peka saat melihat Agler, mereka dengan sendirinya menepi dan memberi jalan pada Agler.
Agler akhirnya berhasil menembus kerumunan dan sampai di depan suami dan ayah korban ini.
"Terima kasih sudah menolong kami!" Salah satu ayah dari anak-anak ini menjabat tangan Agler sembari mengucapkan rasa terima kasih kepada Agler.
"Sama-sama." Agler tersenyum dan membalasnya.
Lalu tatapan Agler berpindah pada beberapa orang yang memberanikan diri untuk memeriksa keadaan anak-anak yang terbaring lemah.
Agler menghampiri mereka dan ikut berjongkok untuk melihat ibu dan anak-anak ini. Ia memandang mereka dan mencoba untuk kondisi mereka saat ini.
Ayah dan suami dari istri dan anak-anak ini ikut berjongkok dan memeriksa istrinya, wajah mereka berdua nampak sangat khawatir.
"Mereka baik-baik saja, hanya pingsan karena terkejut," ucap Agler sambil menepuk kedua bahu mereka berdua. "Aku bisa menyembuhkan mereka, jangan khawatir lagi."
Mereka mengucapkan terima kasih hingga ingin bersujud pada Agler, namun tangan Agler menopang tubuh mereka dan tidak membiarkan mereka bersujud kepadanya.
"Tidak perlu seperti itu." Agler berkata kepada mereka berdua sambil menggelengkan kepala. "Ini memang sudah tugasku."
Agler bangkit dan berjalan mendekat pada anak-anak dan dua wanita yang pingsan.
Tangan Agler terulur mengarah kepada korban, dan mengucapkan sesuatu kata, "Heal!"
Sinar biru keluar dari telapak tangan Agler bersamaan dengan suara dengungan yang jelas.
Lampu itu terbang menuju delapan orang yang terbaring di bawah dan bergerak menyelimuti tubuh mereka dengan cepat.
Selama beberapa detik cahaya biru membungkus korban, hingga akhirnya menghilang entah ke mana.
Orang-orang memperhatikan delapan orang ini, mereka ingin tahu bagaimana reaksi setelah diselimuti sinar biru.
Beberapa detik tidak terjadi apa-apa, delapan orang ini masih terbaring diam.
Tetapi pada satu menit pertama mereka semua menunggu, reaksi yang diharapkan terjadi.
Jari-jari korban bergerak, tidak lama selanjutnya delapan orang itu terbangun secara bersamaan.
"Uhuk! Uhuk!"
Anak-anak dan dua wanita tersadar dan batuk sambil mengeluarkan air laut dari mulutnya.
Seketika kedua pria itu menopang tubuh kedua wanita untuk duduk sambil membantu mengeluarkan air laut dari tubuhnya.
Beberapa sukarelawan ikut membantu anak-anak ini untuk mendudukkan tubuhnya.
__ADS_1
Agler berdiri terus memperhatikan orang-orang yang saling membantu.
Beginilah seharusnya manusia hidup, saling membantu sesama ketika ada yang kesusahan.
Mata Agler tertuju pada baju yang basah yang dipakai anak-anak, itu tidak baik bagi mereka.
Agler mengaktifkan kekuatan manipulasi air sambil menunjuk anak-anak dengan jari telunjuknya.
Segera air yang terkandung di baju mereka terbang menuju Agler dan berkumpul hingga membentuk bola air yang cukup besar.
Baju mereka semua telah kering, pemilik perahu yang membantu anak-anak untuk bangun juga ikut kering dan terbebas dari air laut.
Bola air itu Agler kendalikan menjadi berbagai bentuk untuk melakukan pertunjukan.
Air berbentuk ayam, makanan, bangunan, dan naga air Agler tunjukkan kepada orang yang ada di pulau panjang, bertujuan untuk menghibur agar orang-orang tidak terlalu serius dan cemas melihat musibah ini.
Naga air yang megah terbang dan masuk ke dalam lautan dan pertunjukan berakhir.
Anak-anak yang telah bangun dan tersadar menonton pertunjukan spontan ini dan ikut bertepuk tangan.
Kilatan antusias dan kagum terlihat jelas dari mata mereka, anak-anak ini telah menjadikan Agler sebagai idolanya.
Pengunjung ikut bersorak gembira melihat pertunjukan yang luar biasa dan di luar nalar manusia, adegan hari ini menjadi pengalaman mereka yang tidak akan tergantikan.
Melihat semua tidak apa-apa dan sudah kembali baik, Agler hendak pergi meninggalkan tempat ini.
Namun, sebelum dia pergi, Agler ingin memeriksa kembali dan bertanya tentang apa yang terjadi pada perahu hingga bisa terbalik seperti tadi.
Pemilik perahu dan kedua keluarga itu bercerita dengan Agler, dan menjelaskan apa yang terjadi saat itu dengan rinci.
Agler mendengarkan dengan seksama, menyimak cerita dan pengakuan mereka semua.
Setelah mereka selesai bercerita, Agler dapat menarik kesimpulan dari apa yang mereka katakan padanya.
Alasan perahu itu bisa terbalik bukan karena meraka yang tidak seimbang sehingga membuat sisi perahu berat sebelah.
Melainkan, ada sesuatu seperti tentakel gurita besar yang mengaitkannya ke bagian kanan perahu dan menariknya ke bawah hingga perahu berat satu sisi dan akhirnya terbalik perlahan.
Tentakel itu menghilang setelah menarik sisi perahu miring secara ekstrem.
Mereka berusaha untuk menyeimbangkan, tetapi sudah terlambat.
"Tentakel?"
Agler keluar dari kamar mandi di Pulau Panjang sambil merenung.
Dahinya mengernyit dan matanya menatap ke arah bawah, saat ini ia sedang merenung mempertanyakan sosok yang menyebabkan tragedi terjadi.
"Masalahnya aku tidak merasakan kehadiran makhluk itu. Bagaimana bisa?"
Normalnya semua kehadiran dapat Agler ketahui dan rasakan dalam jarak beberapa kilometer darinya.
Anehnya makhluk ini tidak dapat terdeteksi olehnya, ini sesuatu yang tidak biasa.
"Aku sudah mencari tetapi tidak menemukan keberadaan makhluk itu. Aneh ...."
Sebelum dirinya berganti tubuh, Agler menyempatkan untuk mencari makhluk ini, akan tetapi dia tidak menemukan satu pun petunjuk akan keberadaannya.
Seakan makhluk itu memang tidak pernah muncul di laut ini.
Jika memang seperti itu, kenapa mereka memberitahu kronologi kejadian dengan cerita yang sama? bingung dengan hal ini.
__ADS_1