
Gangnam, Kota Seoul, Korea Selatan.
Di jalan ini banyak pejalan kaki yang berjalan di sekitar trotoar.
Tidak terlalu ramai, tidak seperti yang Agler bayangkan.
Mungkin saja orang-orang masih belum ke sini untuk sekadar pulang atau relaksasi melihat barang atau baju di toko besar bertingkat samping jalan.
Tinggi badan Agler membuat orang dapat melihat dia. Wajahnya yang tampan memakai kacamata tanpa masker terlihat sangat jelas oleh mereka.
Banyak wanita yang berjalan dengan prianya, namun wanita ini akan memandang wajah Agler dengan lama.
Benar, mereka terpesona dengan ketampanan wajah Agler, seperti ada sesuatu yang manarik pandangan mereka untuk melihat Agler.
"Orang itu sangat tampan!"
"Sst! Jangan kencang-kencang bicaranya, nanti terdengar oleh dia."
"Maaf-maaf ... tapi pria di depan kita memanglah tampan, bahkan aku tidak yakin jika oppa PTS dapat mengalahkan ketampanannya."
"Heh! Kau cepat berubah sekali, baru kemarin kamu memuji mereka dan bilang bahwa mereka paling tampan yang pernah ada."
"Hehe ... tapi itu kemarin bukan sekarang."
Obrolan antara dua wanita yang berjalan di belakang Agler terdengar oleh telinganya. Agler hanya bisa mengerutkan kening mendengar percakapan mereka ini, dan dia mengabaikan perkataan mereka.
Kaki Agler terus melangkah, dan tidak lama dia sampai ke jalan yang agak mengecil tidak seperti sebelumnya yang lebar, dan terdapat jalan raya besar di sisi luar.
Jalan ini agak sempit dan mulai banyak pejalan kaki yang berjalan di sini menuju tujuannya masing-masing.
Sosok Agler terlalu menarik mata seseorang, banyak sekaki orang yang saat melewatinya akan selalu menatap dia hingga kepalanya menoleh sampai sudut 90 derajat. Bahkan tubuhnya ikut berbalik untuk melihatnya.
Perlahan Agler terbiasa dengan tatapan kekaguman, iri, dan dengki orang di sini.
Cukup abaikan dan masalah selesai.
Langit yang terang mulai semakin gelap dan matahari pun sudah melemahkan cahayanya.
Lampu-lampu jalan dan dalam toko sudah dinyalakan satu persatu, membuat jalan menjadi ramai dan meriah akan gemerlap cahaya.
Dari cahaya ini membuat wajah Agler nampak lebih jelas ketampanannya.
Rahang tegas, dagu runcing, hidung mancung, kulit putih layaknya kulit bayi, dan bibir seksi alami itu semua terlihat jelas saat ini karena cahaya lampu yang mengenai kepalanya.
Sosoknya benar tampan tanpa ada kecacatan, bahkan postur tubuhnya pun terlihat keren saat berjalan, tampilan ini dipastikan akan diidamkan para wanita di sini.
Mengingat negara ini terkenal akan hiburannya, terlebih boy band dan girl band, dan penampilan Agler ini melebihi boy band yang dihasilkan negara ini.
Gangnam Club Streets Agler telusuri tanpa sengaja, dan dia melihat banyak orang yang berpakaian fancy dan kece.
Terlebih wanita-wanitanya yang terlihat mewah dan panas.
Selama di sini, Agler hanya melihat wanita yang melirik tubuh dan wajahnya.
Wanita ini di sini lumayan menarik perhatiannya, tapi Agler selalu waspada dengan mereka. Karena belum tentu itu alami bawaan lahir, takutnya itu adalah buatan manusia yang diubah sedemikian rupa oleh alat medis.
Juga karena dia sadar ini adalah Gangnam Club Streets, sangat sulit mencari yang bukan wanita barang yang dipakai berkali-kali oleh pria yang berbeda-beda.
"Hai, Oppa~" Seorang Wanita cantik tiba-tiba saja menghampiri dia dan memangilnya.
Wanita ini berhenti tepat di depan Agler, dan menghalangi jalan Agler.
Mau tidak mau Agler berhenti di depan wanita ini dan meliriknya.
Wanita cantik ini mengenakan gaun biru muda seksi dan rok pendek yang hampir terlihat apa yang ada di dalam antara kedua kaki itu. Selain itu wanita ini juga tidak memakai masker di wajahnya.
__ADS_1
Sebab itu Agler dapat mengatakan bahwa wanita ini cantik.
"Ada apa?" Agler berbicara menggunakan Bahasa Korea Selatan dengan wajah datar.
Otomatis Author akan menterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia agar pembaca mengerti.
"Emm, bolehkah aku meminta nama Instagrem milikmu?" tanya Wanita di depannya dengan sedikit malu.
"Maaf, aku tidak memakai aplikasi itu." Agler lanjut berjalan dan melewati wanita yang menghalangi jalannya.
Wanita ini membeku seketika, wajahnya tercengang, tidak percaya bahwa wanita secantik dirinya telah ditolak oleh seorang pria.
Mendengar perkataan Agler, orang-orang di sana pun ikut heboh.
"Sheesh ...."
"Terlalu dingin orang ini."
"Jika itu aku, mungkin aku akan mengirimkan Instagremku pada wanita cantik ini."
"Pria ini sangat tampan! Juga tidak mudah tergoda wanita. Mamah! Aku ingin dia!"
"Sepertinya aku juga terpesona oleh ketampanan pria ini~"
"Sadar kawan! Kau itu pria! Kau ingin kupukul?!"
Agler terus berjalan menghiraukan kejadian kecil tadi, matanya yang ada di balik kacamata manusia super memindai toko yang ada di samping jalan.
Tapi, sepanjang dia melihat toko, tak ada yang menarik keinginannya untuk membeli barang.
Selama dia berjalan, banyak sekali pasangan yang berjalan di jalan ini, entah itu pasangan sah atau hanya sekadar jajan.
'Sial! Banyak sekali wanita berpakaian tipis dan kurang bahan material kain di sini.' Agler membatin di dalam hatinya.
"Oppa~... ingin bermain malam ini? Spesial untukmu tidak ada biaya alias gratis, juga bisa keluar sepuasnya kalau Oppa mau~." Seorang Wanita tiba-tiba menghalangi jalan dan menawarkan diri kepada Agler.
Wanita ini cukup cantik dan tubuhnya pun seksi dengan segala lekukannya, tapi Agler tidak memiliki minat untuk jajan di sini, Agler tidak akan membiarkan adik kecilnya digunakan untuk wanita club seperti ini. Itu adalah noda baginya.
"Maaf, aku tidak punya uang." Agler melambaikan tangannya dan terus berjalan tanpa menunggu respon wanita itu.
"Cih, tampan tapi miskin, aku alergi sekali dengan orang seperti dia!" Wanita itu menyindir Agler dengan jelas, bahkan orang yang melewati wanita itu mendengar apa yang dikatannya tadi.
Tentu perkataan ini terdengar oleh telinga Agler, namun ia tidak membalasnya dengan omongan lagi.
Cukup dibalas dengan gravitasi di sekitar wanita itu diberatkan dua kali lipat olehnya.
"Dasar pria misk .... Ahh!" Wanita itu langsung terjatuh di jalan.
Tubuhnya tengkurap melekat pada jalan, orang-orang terkejut melihat wanita ini
Dua pria merasa kasihan, dan segera menolongnya, namun mereka malah ikut terjatuh dan terbaring lemah di jalan.
"To-tolong aku!"
Wanita itu merintih meminta tolong pada yang lain, akan tetapi tidak ada satu pun yang ingin menolongnya.
Mereka takut akan ikut terbaring di lantai seperti dua pria tadi.
Agler menarik kembali kemampuannya dan mengembalikan gravitasi di sekitar wanita itu menjadi normal.
Berjalan seperti biasa, Agler terus melanjutkan menikmati ramainya jalan Gangnam ini.
"Halo, apakah kau bisa membantuku."
Sebuah suara terdengar dari pinggir jalan, sontak Agler menoleh ke arah sumber suara tersebut.
__ADS_1
Agler melihat seorang wanita cantik dengan rambut hitam yang dikuncir kuda mengenakan masker dan memakai jaket ukuran besar dari tubuhnya, wanita ini sedang mencoba berbicara pada Agler.
"Ya? Bantu apa?" Agler berkata ringan.
"Apakah kamu tahu jalan ini?" Wanita ini menyodorkan secarik kertas berisikan alamat dengan huruf Hangul.
"Kamu orang Korea, kan?" tanya Agler kembali.
"Iya, tapi aku bukan orang sini, dan aku baru saja datang di daerah ini, dan kebetulan menanyakan jalan kepadamu." Wanita ini menjelaskan semuanya.
Ager menatap matanya mencoba mengidentifikasikan bahwa wanita ini berkata bohong atau tidak.
Setelah menatap beberapa detik, Agler mendapatkan hasil bahwa wanita ini tidak berbohong.
"Jangan di tengah jalan, ayo kita menepi," ajak Agler untuk pindah ke sisi jalan, karena orang-orang banyak yang terasa dihalangi jalannya oleh mereka berdua.
"Oke." Wanita itu mengangguk.
Keduanya berjalan, dan berdiri di tepi jalan.
"Coba aku lihat," ucap Agler pada Wanita berkuncir kuda ini.
"Ini." Wanita itu menyerahkan selembar kertas pada Agler.
Agler mengambilnya dan mencoba melihatnya dengan jelas.
Untuk lebih jelas, Agler tidak sadar melepaskan kacamata di wajahnya, dan mulai membaca alamat yang tertera pada kertas.
Wanita itu terkejut, saat melihat Agler membuka kacamatanya, tanpa disadari olehnya dia berkata, "Tampan sekali."
Bulu mata panjang, mata yang dalam dan fokus saat membaca, itu terlalu indah dan menawan.
Bukan hanya wanita di depannya, wanita yang melewati jalan di depan mereka berdua juga terkejut hingga berhenti berjalan.
Dalam sekejap jalan di depan Agler menjadi penuh oleh orang yang berdiri diam memandang wajah Agler.
"Aku tidak tahu." Agler berkata seraya menyerahkan lagi secarik kertas pada Wanita di depannya.
Tapi, saat Agler memberikan kertas itu, Wanita di depannya hanya diam dan menatap wajahnya dengan intens.
"Halo?" Ager melambaikan tangannya di depan wajah Wanita itu untuk menyadarkannya.
Tetapi, itu belum menyadarkan Wanita di depannya.
Agler memajukan wajahnya dan mendekati wajah wanita yang masih mempertahankan ekspresi terpana.
"Halo?" Agler memiringkan kepalanya dan memperhatikan wajah wanita bermasker ini.
Wajah tampan Agler terlalu dekat, dan membuat Wanita ini pulih tersadar.
"Eh, maaf!" Wanita itu segera mundur lalu membungkukkan badannya.
"Iya, itu bukan masalah, ini kertas kamu. Maaf aku tidak tahu alamat ini, kamu tanyakan yang lain saja. Selamat tinggal." Agler pergi dan menerobos perkumpulan orang yang menatap wajahnya.
Mengenakan kacamatanya lagi, dia melanjutkan berjalan-jalan di Kota Seoul.
Karena banyak orang yang mengetahui wajah tampannya dengan jelas, banyak wanita yang mengikuti dari belakang secara diam-diam.
Perjalanan ini tidak lagi menyenangkan dan Agler segera meminta salah satu pengawal yang sebelumnya dia perintahkan untuk pulang, kini dia meminta untuk kembali menjemput dirinya melewati Jarvis.
"Besok aku akan pergi ke sekitar kota yang ada di negara ini, mungkin saja aku bertemu dengan SJW dari Solev." Agler bergumam di atas kasur sambil menatap kamar mewah yang dia tinggali.
Hari esok, Agler melanjutkan jalan-jalannya untuk pergi ke kota terkenal di negara ini. Berharap dia menemukan wanita yang tepat di sini.
...----------------...
__ADS_1