
"Hati-hati masuk mobilnya jangan dorong-dorongan," kata Adena kepada anak-anak yang mulai memasuki mobil Gokar.
"Iya kak," jawab anak-anak itu.
Anak-anak lain sudah memasuki mobil tapi tinggal Nayla saja yang belum masuk.
Melihat ini, Adena perlahan menghampiri Nayla, dan berjongkok di depan Nayla.
Adena bertanya, "Kenapa ga masuk mobil, sayang?"
Nayla melihat Adena di depannya dan segera menjawab, "Eemm ... itu."
Merasa gemas dengan penampilan Nayla yang takut menjawab pertanyaannya. Adena lalu bertanya lagi, "Iya, kenapa sayang?"
Memberanikan diri untuk mengungkapkan keinginannya dan menjawab pertanyaan Adena, "A-aku mau sama kakak naik mobilnya."
"Yauda sini sama kakak, kita naik mobil Abang Agler," ucap Adena.
"Hu'um." Nayla mengangguk.
Adena memegang tangan kecil Nayla dan berjalan bersama menuju mobil Agler.
Melihat semua anak-anak telah memasuki dua mobil Gokar, dan Adena bersama Nayla sudah berada di dalam mobilnya.
Lalu Agler berkata kepada kedua supir mobil yang sedang mengobrol dengannya sejak tadi, "Bang ikut mobil saya ya, bawanya pelan-pelan aja. Tolong juga kalo anak-anak ga bisa diem ya ditegur aja baik-baik."
"Oke siap mas, di jaga baik baik kok anak-anak ini," balas salah satu supir.
"Iya mas siap."
"Oke bang, kita berangkat sekarang," ajak Agler.
Mereka bertiga memasuki mobilnya masing-masing.
Setelah memasuki mobilnya sendiri, Agler bertanya kepada Nayla yang duduk dipangkuan Adena, "Adek Nayla ga sama bang Farid?"
"Ee-engga, bang Farid duduk sama temennya, t-terus aku kangen sama kakak Adena juga," jawab Nayla yang pemalu.
"Ouh gitu, yauda pegangan sama kakak Adena ya Nayla, kita berangkat sekarang."
Agler menginjak pedal gas dan mobil melaju menuju rumah, diikuti dua mobil Gokar di belakang.
.....
"Waaaa ...." Anak-anak berdiri tegak melihat rumah mewah di depannya dengan takjub.
"Bang Agler, kita sekarang tinggal di sini?" tanya Farid di samping Agler.
"Iya, kalian tinggal di sini mulai sekarang," jawab Agler.
"Yeay!" seru anak-anak itu.
Agler menghampiri supir yang ada di luar mobil, dan berkata kepada mereka, "Bang bantu bawa barang-barang mereka ke dalam rumah ya."
"Oke mas, siap."
Agler berjalan mendekati anak-anak, lalu menyuruh mereka untuk membawa barang bawaannya masing-masing yang ada di dalam mobil ke dalam rumah.
Berjalan bersama-sama menuju pintu rumah, Agler segera membuka pintu rumah dan mereka semua termasuk Adena masuk ke dalam rumah.
Mereka semua melihat interior rumah yang luas dan mewah, terdapat tangga besar yang meliuk seperti ular, keseluruhan rumah seperti rumah bangsawan.
"Sayang, ini rumah kamu sekarang?" tanya Adena yang masih tidak percaya apa yang ia lihat di depannya.
"Iya, lebih tepatnya rumah kita sayang," jawab Agler.
Adena tidak menyangka kekasihnya yang mempunyai latar belakang dari keluarga yang biasa saja, sekarang sudah menjadi seorang milyuner. Dia menyukai Agler murni karena dirinya cinta dan sayang, bukan karena uang atau apapun. Melihat Agler yang sekarang, Adena sangat bersyukur telah memiliki Agler.
"Mau peluk," kata Adena manja.
Agler memeluk Adena dengan lembut.
__ADS_1
Anak-anak mengabaikan Adena dan Agler yang sedang berpelukan. Tapi tidak dengan dua supir Gokar, mereka berdua merasa iri dengan kemesraan, kasih sayang dan perasaan mencintai di antara Agler dan Adena.
"Gini banget jadi jomblo," gumam salah satu supir.
Salah satu supir menoleh ke kanan melihat supir yang tadi bergumam.
Merasa seperti sedang dilihat oleh orang di sampingnya, Supir yang tadi bergumam menengok ke kiri dan melihat supir di sampingnya sedang melihatnya.
Mereka berdua bertatapan selama beberapa detik. Lalu mereka berdua memalingkan wajahnya.
Supir yang tadi bergumam tiba-tiba berbicara, "Woy jangan liat saya seperti itu, saya bukan gay!"
"Maaf mas saya engga bermaksud kaya gitu," jawab Supir itu dengan malu.
"Hahaha abang-abangnya malu."
"Hahaha."
"...."
Anak-anak kebetulan melihat perilaku dua supir ini, dan mereka langsung tertawa.
"Sudah-sudah, sekarang kita pilih kamar buat kalian masing-masing," ucap Agler kepada anak-anak.
"Satu kamar isinya dua orang, jadi kalian pilih teman sekamar kamu," tambah Agler.
"Oke bang Agler."
.....
Terdapat 5 perempuan dan 5 laki-laki di antara mereka termasuk Farid dan Nayla.
Di lantai 3 ada satu kamar utama yang di tempati Agler dan satu kamar biasa yang di isi oleh Farid dan Nayla sekarang.
Di lantai 2 terdapat empat kamar dan dua diantaranya diisi oleh 2 anak perempuan di setiap satu kamar.
Dan di lantai 1 terdapat empat kamar dan dua di antaranya ditempati oleh 2 anak laki-laki di setiap satu kamar.
"Horee belanja!"
"Mau ke Mall mana bang Agler?"
"Seneng banget aku."
Mereka sangat senang setelah tahu Agler mengajak mereka pergi ke Mall.
"Pake pakaian yang menurut kalian bagus, Abang tunggu di lantai satu kalo sudah siap," kata Agler kepada mereka.
"Oke bang." Mereka berlari ke kamarnya masing-masing dan segera memakai pakaian yang paling bagus.
Lalu Agler dan Adena menunggu mereka di sofa lantai 1 dan supir ikut duduk di sofa yang kosong.
"Sayang, berapa harga rumah ini yang kamu beli?" tanya Adena yang sedang berada di pelukan Agler.
"150M sayang," jawab Agler ringan.
Mendengar jawaban Agler, Adena langsung terdiam karena terkejut dan dua supir yang tak sengaja mendengar juga terkaget-kaget.
"Sayang kamu kenapa?" Agler menggoyangkan badan Adena.
Adena tersadar dan langsung menjawab, " Gapapa sayang."
"Tadi kamu jawab apa?" tanya Adena memastikan.
"150 M harga beli rumah ini."
"M? meter?"
"Bukan, tapi Miliar."
"Ya ampun banyak banget sayang." Adena kembali kaget.
__ADS_1
"Engga kok."
"Aku mau tanya sama kamu serius, kamu harus jujur jawabnya."
"Iya, tanya apa lagi?"
"Berapa uang yang kamu punya sekarang?" tanya Adena sambil menatap mata Agler.
"Tapi kamu jangan kaget kalo aku jawab jujur," kata Agler.
"Iya, aku ga akan kaget."
"Uang yang aku punya sekarang sekitar 150 Triliun, Sayang."
"Hah?!" Adena kaget dengan nominal yang disebutkan Agler.
Kedua supir kembali tercengang, tidak menyangka bertemu seorang triliuner.
Adena menahan kagetnya lalu bertanya lagi, "Itu semua uang dari mana?"
"Sebenarnya aku punya perusahaan sendiri," jawab Agler jujur.
"Perusahaan apa?"
"WayneCorp."
"WayneCorp yang di LA itu?"
"Iya sayang."
"Kamu ga bohong, Kan?" Adena menatap tajam pada Agler.
"Iya engga, kamu lihat aja di gugel Owner perusahaan Wayne sekarang," saran Agler.
Adena dengan cepat mencari nama pemilik perusahaan Wayne di gugel search. Dua supir pun ikut mencari.
Dan ternyata benar, Nama Agler tercantum di sana sebagai pemilik perusahaan Wayne sekarang.
"Ga mimpi kan aku?" Adena bingung.
Dirinya menduga sosok Agler hanya seorang milyuner tetapi nyatanya lebih dari itu. Apakah dia pacar dari seorang pemeran utama di novel.
"Engga sayang." Agler memeluk Adena di dadanya.
"Abang kita semua udah ganti baju!"
Anak-anak berlari dari kamarnya menuju tempat Agler menunggu.
Adena melepaskan pelukan Agler dan menghampiri anak-anak.
"Cantik-cantik dan ganteng-ganteng banget ih kalian," puji Adena kepada anak-anak di depannya.
"Hehehe."
"Kakak cantik juga."
"Makasih kakak Adena yang cantik."
Mereka langsung tersipu malu setelah dipuji Adena dan mereka memuji kembali Adena.
"Yuk kita berangkat ke Mall." ajak Agler.
"Ayo!!" seru mereka dengan semangat.
Agler dan Adena merasa bahagia melihat mereka semua gembira seperti ini, tidak seperti saat mereka mengamen di jalan kemarin.
"Oke."
Mereka semua keluar dari rumah kemudian memasuki mobil dengan posisi yang sama ketika datang kesini.
Ketiga mobil itu berangkat menuju Mall.
__ADS_1