
Karathen ini adalah makhluk laut yang sangat besar, bahkan Godzilla tidak sebesar ini seharusnya.
Dibandingkan dengan Ancalagon pun menang telak Karathen ini, sementara waktu ini Karathen makhluk terbesar yang Agler punya, mitra baru bidang laut baru selain Bewilderbeast Drago dan Valka, juga Gyuki.
"Letakkan saja langsung di ruang binatang psikis, Sistem." Agler meminta Sistem untuk mengirim Karathen ke dalam ruang binatang psikis miliknya.
[Karathen telah diletakkan di dalam Ruang Binatang Psikis!]
"Oke." Agler mengangguk mendengar pengingat Sistem.
"Hadiah berikutnya tolong beri tahu aku apa itu, Sistem!" Agler meminta Sistem untuk memberi tahu dirinya mengenai hadiah yang terakhir.
[Hadiah terakhir adalah karakter Tsunade dari Naruto Shippuden.]
"Tsunade?" Agler tercengang setelah mendengar kata Tsunade ini. "Apakah itu benar?"
[Benar, Tuan Rumah.]
"Kirim Tsunade ke Istana Dewi, Sistem. Aku akan pergi ke rumah sekarang." Agler berkata dengan terburu-buru.
[Tsunade telah diletakkan ke Istana Dewi!]
Agler segera turun menukik dan pergi ke rumahnya.
Waktu hari ini baru memasuki siang hari, di rumah seharusnya hanya ada Rem, Ram, dan Alyona.
Tiga wanita ini selalu bersama beberapa hari ini, tapi Alyona akan pergi bekerja bersama Mirage di perusahaannya.
Mengingat Alyona adalah lulusan S1 Administrasi Bisnis, Mirage mengajaknya untuk bekerja di bagian staf HRD di perusahaan milik Agler, dibimbing oleh Mirage langsung.
Seiring berjalannya Alyona bekerja di perusahaan Stark yang dipimpin Mirage, Alyona akan melanjutkan studinya di Universitas daerah Newyork.
Semua ini keinginan Alyona sendiri, dia meminta izin pada Agler untuk bekerja.
Wanitanya tidak ada yang ingin menjadi beban dan hanya menghamburkan uang, Rem dan Ram yang selalu di rumah tidak pernah meminta materi apa-apa pada Agler, semua yang diberi Agler dengan inisiatif Agler sendiri akan diterima oleh mereka dengan senang hati.
Termasuk Alyona, dia tidak ingin menjadi wanita yang tidak berguna.
Berdiri di depan rumah, tangannya menjangkau pintu dan mendorongnya.
Masuk ke dalam rumah, Agler segera berjalan ke ruang keluarga.
Segera Agler melihat tiga wanita yang duduk di atas sofa sedang menonton film cinta negeri ginseng.
"Selamat datang, Sayang." Alyona bangkit dari sofa bersama dengan Rem dan Ram.
Mereka bertiga menghampiri Agler, lalu mencium sekilas bibir Agler secara bergantian.
"Kamu mau ikut kita nonton drama romantis ini? Filmnya bagus tahu." Alyona tiba-tiba berkata pada Agler.
"Filmnya bagus, Rem suka dengan drama ini." Rem ikut menambahkan.
"Aku juga!" Ram mengangguk berat.
Melihat televisi besar di ruang keluarga yang sedang menampilkan adegan wanita dan pria sedang bertengkar, seketika Agler tidak jadi ikut untuk menonton bersama.
Ia datang ke rumah untuk mengeluarkan Tsunade dari Istana Dewi dan memperkenalkannya pada tiga wanita ini.
"Sepertinya nanti aku akan menonton bersama," ucap Agler dengan lembut.
"Yah~" Rem dam Ram menjadi tak bersemangat.
"Jangan seperti itu. Aku akan menonton nanti, tapi sekarang aku akan mengenalkan mitra baru." Agler tersenyum pada mereka bertiga dan berkata.
Kata "Mitra" yang disebutkan Agler tadi membuat Rem dan Ram mengubah wajahnya, dengan wajah yang terkejut Rem berkata, "Jangan bilang kamu ingin mengenalkan kamu wanita baru?"
Rem sudah hapal dengan ini, maka dari itu ia dengan spontan berbicara seperti itu pada Agler.
"Hehe~" Agler menggaruk pipinya nampak canggung.
"Apakah dia cantik?"
Rem bukannya marah mendengar ini, melainkan dia penasaran dengan mitra yang dimaksud Agler.
"Sama cantiknya dengan kalian." Agler berkata dengan ringan dan jujur.
"Apakah aku cantik?" Rem menggoda Agler dengan pose sexy sambil mengenakan pakaian maid ini.
Melihat ini Agler langsung tersenyum, kekuatan telekinesisnya aktif dan menarik mereka bertiga ke dalam pelukannya.
"Kalian bertiga sangat cantik."
Setelah mengucapkan kalimat itu, bibir Agler mencium kening mereka bertiga.
Dalam sekejap mereka bertiga memerah karena malu.
Tidak hanya itu saja, Agler langsung mencium bibir mereka lembut satu demi satu.
__ADS_1
Wajah mereka bertiga semakin merah. Tersipu parah dengan tindakan Agler yang tiba-tiba ini.
Pina yang sedang bermain dengan Baymax tak sengaja melihat adegan Agler mencium tiga wanitanya, naga kecil ini memiringkan kepalanya tidak mengerti apa yang dilakukan mereka.
"Kalian duduk di sofa, aku akan membawa mitra baru ke sini." Agler memandang tiga wanita yang cantik di depannya dan berkata dengan nada yang lembut.
"Oke, sayang." Mereka bertiga merespon hampir satu waktu yang bersamaan.
Sesuai dengan permintaan Agler, mereka bertiga berjalan menuju sofa dan duduk di sana.
Agler mengangguk pada mereka sebelum akhirnya menghilang dari tempatnya dan berpindah ke Istana Dewi.
....
Di Taman Bunga yang penuh dengan berbagai jenis tanaman serta bunga yang cantik terdapat sebuah sinar putih yang membentuk sosok manusia.
Beberapa detik berlalu, cahaya putih menghilang dan digantikan oleh seorang pemuda tampan dengan pakaian kaos dan celana olahraga hitam.
"Di mana dia?" Mata Agler menelusuri sekitarnya, tapi dia tidak menemukan sosok wanita berambut pirang kuning yang dia kenal.
"Apakah dia sekarang ada di dalam Istana?"
Tebakannya Tsunade ini kemungkinan besar ada di dalam Istana Dewi. Tidak ada kemungkinan lainnya.
Agler segera berlari menuju Istana dengan cepat. Dia benar-benar tidak sabar bertemu dengan Tsunade yang adalah cinta masa kecilnya.
Mendorong pintu besar Istana, ia langsung masuk ke dalamnya.
"Kenapa tidak ada?" Agler melihat aula yang kosong, tidak ada siapa-siapa di sini.
Terakhir kali Taylor dan dirinya bertemu di sekitar sini, tetapi sekarang Tsunade tidak ada di sini, lalu ke mana dia dan di mana dia berada.
"Apa mungkin di kamar? Atau ruangan lainnya?" pikir Agler pada kemungkinan yang dapat terjadi.
"Aku harus segera memeriksanya!" Agler berlari menaiki tangga mewah di dalam Istana ini.
Setelah beberapa saat masuk ke ruang yang ada di Istana, akhirnya Agler sampai di ruangan kamar utama.
Tangan Agler mengangguk pegangan pintu yang mewah, lalu perlahan mendorongnya.
"Apakah kau ada di sini Tsu ...."
Ucapan Agler terhenti tiba-tiba, wajahnya seketika membeku saat melihat yang ada di dalam kamar.
Agler melihat sesosok punggung seorang wanita berambut pirang dengan dua kuncir, punggung ini mulus tanpa goresan atau pun noda. Wanita ini sedang melepaskan pakaiannya, yaitu blus abu-abu gaya kimono tanpa lengan.
Akan tetapi, gerakan melepas pakaian itu berhenti. Kemudian sosok wanita berambut pirang ini menoleh perlahan ke arah Agler.
"Tsunade!"
"Agler!"
Mereka berdua memanggil secara bersamaan dengan ekspresi wajah yang sama terkejutnya.
Tsunade langsung berlari mendatangi Agler dengan bolanya yang memantul dahsyat.
Benar, Tsunade tidak sadar bahwa dia telah melepas blus gaya kimononya.
Memeluk Agler dengan erat, Tsunade memendamkan kepalanya di dada kokoh Agler. secara tidak langsung bola besarnya menempel pada perut Agler yang penuh akan otot delapan pack bahkan lebih.
Merasakan pelukan yang hangat ini, Agler pun membalasnya dengan pelukan yang penuh kasih sayang.
Tubuh Tsunade yang tegang langsung menjadi rileks setelah Agler memeluknya kembali.
"Kau tahu? Aku sangat penasaran dengan penampilanmu." Tsunade melepaskan pelukannya, kedua tangannya bersandar pada perut Agler yang seksi, ia mendongak dan berkata kepada Agler
"Penampilanku?" Mata Agler fokus pada wajah cantik ini. Meski dia tahu bahwa wanita di depannya kemungkinan besar sudah tua, tapi pesonanya melebihi wanita muda.
"Benar. Aku diceritakan oleh si Mesum itu dan Naruto, bahwa ada seorang pemuda yang menyelamatkan Mesum besar ini saat melawan Pain. Aku bertanya siapa itu, dan mereka berdua menjawab nama seseorang, itu namamu ...." Tsunade berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Aku belum pernah mendengar nama itu, dan aku meminta untuk Mesum besar itu menyebutkan ciri-cirinya, mereka berdua menjawab dengan jawaban yang sama, hal itu membuatku penasaran. Akhirnya aku bertemu denganmu. Terima kasih telah menyelamatkan Mesum itu."
Tsunade memeluk Agler dengan erat dan hangat lagi.
Sementara itu, Agler terdiam setelah mendengar cerita Tsunade.
'Apakah ini Tsunade dari dunia yang sama saat aku melaksanakan tugas menyelamatkan Jiraiya sensei?' Agler berkata di dalam hatinya sambil membelai punggung lembut Tsunade.
"Bagaimana caramu datang ke sini?" tanya Agler kepada Tsunade yang nampak wajahnya yang memerah.
Agler penasaran dengan Tsunade yang direkrut oleh Sistem dan datang ke sini.
"Bertahun-tahun lamanya aku mencari sosok, aku masih mempertahankan pikiran bahwa kamu adalah orang dunia kita. Alasanku melakukan itu karena aku memiliki firasat dan ketertarikan saat mendengar namamu dari mereka berdua. Tapi, usahaku seperti tidak ada hasilnya, kamu tidak pernah aku temui di dunia itu." Tsunade berkata dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Tetesan air mata mulai turun satu persatu, Agler dengan pekanya mengusap lembut air mata yang berjatuhan di pipi Tsunade.
Melihat perlakuan manis seperti ini, senyum bahagia muncul di wajah Tsunade, dia tersenyum juga sedih secara bersamaan.
"Sampai perang ninja keempat terjadi, Tim Kakashi berhasil menyelamatkan Dunia dari kehancuran, dan aku memberikan jabatan Hokage kepada Kakashi. Beberapa hari berlalu semenjak perang dunia keempat, aku yang sedang bersantai di rumah mendapatkan suara yang aneh di telingaku, suara itu menawariku untuk pergi bertemu dengan seseorang yang bernama sama sepertimu Agler ...." Tsunade berhenti berkata dan menatap dalam-dalam kedua mata Agler yang menawan.
__ADS_1
"Di situ harapan dan mimpiku terbangun, tanpa lama berpikir aku setuju dengan suara yang menawarkan aku untuk bertemu dengan orang yang dimaksud. Setelah menyetujui tawaran itu aku merasa di depanku mulai berubah menjadi ruangan yang hanya diliputi cahaya putih dan tak lama kemudian aku berada di sini." Tsunade selesai berbicara dan kembali memeluk Agler, dia baru sadar bahwa dia telah melepas pakaian atasnya.
Ia tidak ingin Agler melihat dan segera menutupi dengan cara menempelkan ke perut dan sedikit bagian dada Agler.
Tinggi Agler dan Tsunade berbeda, jadi bolanya menempel pada bagian perut Agler.
Penjelasan Tsunade membuat Agler tahu secara kasar mengenai cara kerja Sistem saat dia mendapatkan karakter dari berbagai dunia melalui Tiket Lotere.
Tak menutup kemungkinan bahwa karakter ini dimasukkan ingatan dan sesuatu yang membuat mereka setia dengannya saat proses transmisi dilakukan.
"Aku mengerti." Agler menjawab dengan tersenyum sambil mengelus rambut Tsunade.
Tsunade saat ini sudah tua, tapi itu bukan masalah.
"A-anu aku merasakan sesuatu yang besar dan menonjol menyentuh perutku." Tsunade berkata terbata-bata pada Agler, namun dia tidak melihat ke arah Agler.
Wajah Agler menjadi memerah tiba-tiba, dia tahu apa itu yang menyentuh perut Tsunade.
Adiknya telah bangun!
"I-ini ...."
Agler hendak berbicara untuk menjelaskan, tetapi kata-katanya terhenti di awal. Sebab, Agler merasakan bahwa sesuatu sedang menyentuh adiknya.
"Tsunade?!" Agler terkejut saat melihat Tsunade yang bertingkah aneh.
Tangannya yang putih dan mulus itu mengelus lembut kepala adiknya, gerakan ini sangat memancing Agler dan juga membuat Agler merinding.
Tatapan mata Tsunade terpaku pada adiknya, dan wajahnya telah memerah.
Sesuatu yang tidak Agler duga terjadi.
Tsunade berjongkok secara perlahan, bobanya menyapu tubuh Agler hingga berhenti di adik besarnya.
Tangan itu meraba celana Agler hendak melepaskan, namun dengan cekatan Agler mengehentikan Tsunade.
"Kau mau itu, kan? Baiklah aku lakukan sekarang." Agler menggendong Tsunade layaknya seorang putri dan meletakkannya di atas kasur, haori berwarna hijau rumput dengan kanji untuk "berjudi" ada di kasur ini. Tsunade melepaskannya dan menaruh di atas kasur.
Setelah melihat Tsunade yang bersikap berbeda, hasrat Agler melonjak tinggi, dan segera memulai pertarungannya.
Adegan tidak akan dijelaskan, karena kalian sudah pasti tahu.
Sepuluh jam berlalu, mereka berdua menghentikan pertarungannya.
Keduanya keluar dari kamar, Agler menggendong Tsunade seperti bayi, Tsunade saat ini bertingkah seperti anak kecil.
Berdiri di tengah aula Istana Dewi, mereka berdua siap untuk pergi ke dunia nyata.
"Aku merasakan sesuatu yang berbeda di tubuhku," ujar Tsunade tiba-tiba sambil melihat Agler tiba-tiba.
"Berbeda seperti apa?"
"Seperti aku menjadi awet muda tanpa ninjutsu medisku." Tsunade menjawab pertanyaan Agler.
"Ah ... aku tahu itu." Agler berkata dan tersenyum pada Tsunade.
"Apa itu? Beri tahu aku!" Tsunade menempelkan tubuhnya yang montok pada Agler dan menatap wajah Agler dengan penasaran.
"Itu karena ...." Agler menundukkan kepalanya seraya memegang dagu Tsunade. "...Karena efek setelah kau resmi menjadi wanitaku."
"Eemm, efek apa itu?" Tsunade bertanya dengan wajah yang sudah memerah.
"Kamu dapat awet muda selamanya tanpa mengaktifkan Byakugo, selain itu kamu akan berumur panjang."
Setelah mengucapkan itu, Agler mengecup sekilas bibir mungil Tsunade, dan memandangi wajah Tsunade yang semakin muda dari sebelumnya.
"Benarkah?!" Tsunade mengubah wajahnya drastis dan kini dia memastikan apakah yang dikatakan Agler adalah benar.
"Itu kenyataannya, kamu lihat ini."
Sebuah cermin tanpa bingkai mengambang di samping keduanya, Tsunade segera menghadap ke cermin dan melihat sosoknya sekarang.
"I-ini? Aku sudah menonaktifkan Byakugo milikku, tapi aku tidak kembali tua!" Tsunade berkata tak percaya sembari meraba wajah dan tubuhnya.
"Kamu telah abadi secara tidak langsung selagi kamu adalah wanitaku." Agler berjalan ke belakang Tsunade dan menghirup aroma rambut Tsunade yang begitu wangi.
"Terima kasih!" Tsunade berbalik dan segera menyambar bibir Agler.
Ciuman yang diberikan Tsunade semakin ganas.
Agler juga menyambutnya dengan tindakan yang sama.
Setelah berciuman akhirnya mereka benar-benar siap untuk pergi ke dunia nyata.
"Apakah kamu siap bertemu mereka?" Agler memandang Tsunade yang memegang tangannya di sampingnya.
"Aku siap!" Tsunade mengangguk.
__ADS_1
Seketika cahaya membalut seluruh tubuh mereka dan akhirnya sosok mereka berdua menghilang bertepatan dengan cahaya yang lenyap.