
Cahaya bulan menyinari malam yang gelap, jalanan masih ramai dilalui oleh kendaraan. Mereka berdua sampai di rumah setelah mengunjungi Bibi di kampung.
"Anak-anak udah tidur, Bu?" tanya Agler kepada Ibu Naimah yang sedang duduk di sofa.
"Eh pak Agler dan ibu Adena, udah pak barusan," jawab ibu Naimah yang sudah berdiri.
"Bapak Anto kemana Bu?"
"Itu lagi meriksa anak-anak udah pada tidur apa belum."
"Ouh gitu, yauda bu kita berdua ke kamar dulu ya," kata Agler.
"Iya pak Agler."
...
Agler dan Adena manaiki tangga menuju lantai 3, membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar.
"Haa~~ bisa istirahat juga," kata Agler yang sedang berbaring di kasur.
Melihat Agler yang berbaring nyaman di kasur, Adena langsung menegurnya, "Sayang! kamu mandi dulu baru boleh tiduran di kasur!"
"Kamu aja belum mandi," ucap Agler membalikkan ocehannya.
"Ini mau!"
Adena mengambil handuk dan dengan cepat memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamar, lalu mengunci pintu takut Agler ikut masuk ke dalam.
Melihat Adena pergi mandi, Agler mengeluh pada sistem karena tidak memberinya kemampuan penglihatan X-ray.
"Sistem tolong kasih gua penglihatan X ray superman!"
"Sistem?"
"Tem?"
"Hmm ... Hampir seminggu sistem ga muncul, untungnya kemampuan super masih bisa dipake semuanya."
"Sistem kemana ya?"
Agler memikirkan sistem yang sudah lama tidak muncul dari 6 hari yang lalu, entah kenapa sistem menghilang tiba-tiba tanpa memberi pemberitahuan atau alasan yang jelas.(Seperti dia)
Tetapi semua kemampuan super masih bisa berfungsi, dan masih bisa di gunakan tanpa adanya pengurangan atau efek samping apapun.
"Kamu lagi mikirin apa sayang?"
Suara Adena membangunkan Agler dari pikirannya, bangun dari kasur lalu memandang Adena yang hanya memakai handuk putih yang melilit tubuhnya.
Kulit cerah berkilau, bagian depan mobil yang begitu besar kira-kira G cup bila tubuh bergerak sedikit akan membuat efek seperti gempa. Lengkungan tubuh yang ciamik dan indah, Bagian bemper belakang yang begitu menonjol, bila berjalan selangkah saja sudah bisa mengguncang dunia, kaki yang panjang dan mulus membuat para pria ingin merasakan bagaimana ditendang oleh kaki ini.
Glup...
Agler menelan air liur saat melihat keindahan ini.
Menahan rasa malu karena dipandangi oleh Agler, pipinya sudah memerah dan memanas. Menundukkan kepalanya tidak berani melihat mata Agler yang memandangi dirinya.
"Apakah ini saatnya melepas keperjakaan gua?!" ucap dalam hati.
"Big white stick sudah tidak kuat untuk menahan rangsangan ini."
"Gas apa engga ya,"
Pikiran dan nafsu bertengkar di dalam dirinya, Agler memutuskan untuk memenangkan Nafsu.
__ADS_1
Menurut Agler, kesempatan tidak akan datang dua kali kecuali kesempatan di permainan monopoli.
Mengaktifkan kekuatan pikiran untuk melepas lilitan handuk di tubuh Adena.
Handuk Adena terjatuh dan memperlihatkan dua gunung dengan puncaknya berwarna pink, Goa yang belum terjamah oleh siapapun dan tidak terdapat semak semak di sekitarnya.
Adena tidak berteriak ketika handuk itu jatuh, tetapi membiarkan Agler melihatnya.
Keinginan untuk menjadi bayi yang selalu menyusu kepada ibunya seketika muncul pada dirinya.
Secepat kilat memeluk Adena dan membawanya ke ranjang.
"Aaaa sayangg~~ eeummhhh ...."
Suara teriakan aneh menyelimuti kamar Agler, Malam itu ditakdirkan menjadi malam tanpa tidur.
Berlangsung hingga pagi menjelang.
*****
"Nayla kamu denger suara aneh ga dari kamar Abang Agler?" tanya Farid
"Engga, aku tidur nyenyak semalem, kak Farid," jawab Nayla.
"Atau itu hantu?"
"Ih aku akut ... jangan ngomongin hantu kak." Nayla takut dengan hantu karena menurutnya itu seram.
"Yauda kita turun ke bawah buat sarapan," ajak Farid.
"Ayo."
Mereka berdua turun ke lantai satu dan duduk di ruang makan bersama teman-teman yang lain.
Nayla mendekati Agler lalu bertanya, "Abang Agler udah pulang semalem ya? Kakak Adena kemana?"
"Iyaa. Semalem Abang Agler sama Kakak Adena sampe ke sini, Kakak Adena ada di kamar sayang, katanya lagi ga enak badan, jadi abang Agler taruh sarapan di kamar buat kakak Adena." Agler dengan fasih membuat alasan yang logis.
Kenyataannya Adena lemas karena semalem bertempur dengan Agler, dia kalah telak dalam pertempuran ini. Sudah meminta ampun tetapi Agler tidak mendengarnya dan semakin sadis membantainya. Senjata yang begitu besar dan dahsyat menghantam dia walaupun sakit tapi ingin merasakannya lagi.
"Ouhh gitu." Nayla percaya ucapan Agler.
"Lanjut sarapan lagi gih, abis ini Ibu Naimah mau ngedaftarin kalian sekolah, Kakak Adena ga bisa ngedaftarin kalian karena ga enak badan," kata Agler.
"Emm oke Abang Agler, tapi aku mau jenguk Kakak Adena sebelum berangkat," ucap Nayla.
"Iyaa nanti kita ke kamar abang Agler liat jenguk kakak Adena."
"Yeay!"
Anak-anak lain ikut Nayla untuk menjenguk Adena, setelah itu mereka pergi ke sekolah dengan Ibu Naimah dan Bapak Anto, Agler juga ikut untuk melihat mereka mendaftar.
*****
Suatu planet yang tidak diketahui, seluruh planet terlihat suram dan gelap. Planet ini ditempati oleh begitu banyak makhluk aneh.
Salah satu makhluk yang menempati planet ini mempunyai bentuk seperti monster humanoid yang mempunyai tubuh atas kekar layaknya manusia, kedua tangan besar terdapat cakar tangan yang tajam dan panjang, kepala seperti banteng, matanya merah menyala dengan gigi seperti hiu, memiliki sepasang tanduk seperti domba di kepalanya. Dua kaki nya seperti kaki kuda yang kekar. Seluruh tubuhnya diselimuti oleh kekuatan gelap yang menghancurkan, berwarna hitam dan sedikit merah. Tinggi monster ini sekitar 3 meter dan memegang senjata seperti kapak berwarna hitam yang besar.
Monster ini adalah yang terlemah diantara monster yang ada di planet ini, dan jumlahnya adalah yang terbanyak di planet ini sekitar 50 juta monster.
Monster-monster ini berkumpul di suatu tempat yang luas dengan hawa yang mencekam dikelilingi tebing tinggi. Mereka seperti sedang dikumpulkan oleh seseorang.
"LORD OF DESTRUCTION TELAH MEMBERI KITA TUGAS UNTUK MENGHANCURKAN SEBUAH PLANET!"
__ADS_1
Seorang monster berbicara kepada monster-monster yang berkumpul di bawahnya. Terlihat seperti seorang pemimpin yang memerintah para pasukan untuk berperang.
Monster ini memiliki tubuh yang sama seperti monster yang ada di bawah tebing tetapi memiliki perbedaan tinggi dan besar. Monster yang berbicara memiliki tinggi sekitar 7 meter dan tubuhnya lebih besar, terdapat sayap seperti kelelawar dengan rentang sayap 15 meter. Memegang dua kapak besar yang ganas.
"KITA DRAITH TIDAK AKAN MENGECEWAKAN LORD OF DESTRUCTION, INI SAATNYA KITA BUKTIKAN BAHWA KITA ADALAH YANG PALING KUAT!"
Kraaahhhh...!!!
Gruoaahh...!!!
Graaahhh...!!!
Monster ini adalah Draith, salah satu monster yang diciptakan oleh Lord of Destruction.
Monster yang berbicara adalah pemimpinnya yang bernama Czar Draith.
"SEGERA PERGI!!!"
Monster itu mengepakkan sayapnya dan pergi menuju kastil besar di planet itu.
Seketika 10 portal besar dengan lebar 100 meter muncul mengelilingi mereka.
Segera 50 juta Draith bergegas memasuki portal itu.
*****
[Ding! Tugas Sistem Tersedia!]
Suara sistem yang sudah lama tidak terdengar oleh Agler akhirnya muncul.
"Kemana saja sistem?"
[Sistem mengalami gangguan tuan, kekuatan yang tidak bisa dijelaskan menyerang sistem dan membuat sistem tidak bisa aktif beberapa waktu]
"Kekuatan yang tidak jelas?"
"Apakah itu santet?" tanya Agler.
[Bukan Tuan Rumah]
"Hmm apa yaa."
[Tugas Sistem Tersedia!]
[Tugas : Menyelamatkan Kapal Selam TNI AL]
[Deskripsi : Sebuah kapal selam milik TNI AL menyelam terlalu dalam melebihi batasnya dan membuat dinding kapal menjadi ringsek karena adanya tekanan hidrostastis yang besar. Tuan rumah diharuskan untuk menyelamatkan semua orang yang ada di dalam kapal sebelum tenggelam]
[Lokasi : 950 Km]
[Hadiah : 1 Tiket Lotere]
[Hukuman Gagal : Tidak ada]
[Apakah Tuan Menerima Tugas?]
"Terima!"
Agler izin kepada Ibu Naimah dan Pak Anto dirinya ingin ke toilet sebentar.
Ke belakang sekolah, memastikan tidak ada orang sekitar, Agler melengkapi dirinya dengan Garuda cloth dan seragam superman hitam menutupi celah armor dan wajah.
Seluruh tubuh naik ke atas dan melesat cepat menuju Samudra Hindia.
__ADS_1
Whoosshh..!