Savior System

Savior System
Bab 131 : Touring PT 09


__ADS_3

Sebuah mobil mewah terparkir di depan sebuah hotel yang bagus, tetapi tidak mewah.


Mobil berwarna hitam sepenuhnya dengan desain yang cukup khas salah satu merek mobil terkenal akan kemewahannya.


Rolls-Royce Wraith Black Badge mobil inilah yang sedang diam terparkir di tempat parkir kendaraan sebuah hotel.


Terdapat dua orang yang sedang berdiri di sebelah mobil ini, keduanya sedang berbicara seperti biasa tidak ada yang emosional atau cuek.


Keduanya itu satu pria dan satu wanita, mereka sedang berinteraksi, tetapi wanita ini berbicara dengan ekspresi penasaran dan sedikit takut.


Mereka berdua itu Agler dan Ayu yang hendak melanjutkan perjalanan setelah menginap di hotel belakangnya dalam semalam.


"Mobil siapa ini? Kenapa ada di sini?" tanya Ayu yang terkejut sedikit rasa takut di wajahnya.


"Aku baru membelinya dini hari pagi," jawab Agler dengan wajah yang datar.


"Bagaimana bisa? Cepat sekali."


Jawaban Agler tidak dipercaya begitu saja oleh Ayu, karena ini kurang masuk akal, bahkan Ayu tidak dapat memikirkan bagaimana pria yang baru dikenalnya kemarin bisa mendapatkan mobil ini dengan waktu yang cukup singkat.


Visual mobil ini juga berbeda dengan mobil yang biasa lalu-lalang di jalan raya. Ayu menduga mobil ini bukanlah mobil yang murah.


"Aku ada saluran khusus untuk ini." Agler meraih tas travel yang dipegang Ayu, dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.


Kemudian Agler membuka pintu mobilnya yang terlihat berbeda dengan mobil biasa, lalu masuk ke dalam, "Sudah jangan dipikirkan ... kamu masuk sekarang, kita akan segera pergi."


"Eh, iya."


Ayu mencoba membuka pintu mobil, tetapi dia tidak bisa melakukannya.


Menggelengkan kepalanya sambil menahan tawa sebelum Agler segera membukakan pintu mobil dari dalam.


Senyum canggung ditampilkan oleh Ayu, dia malu karena tidak bisa membuka pintu mobil.


Setelah masuk ke dalam mobil, Ayu terus menundukkan kepalanya karena malu pada Agler.


Di dalam hatinya dia pasti sedang menjerit dan menyalahkan diri sendiri karena telah melakukan hal yang memalukan tadi.


"Aku mau tanya."


Ayu dalam sekejap berhenti menjadi wanita pemalu, sekarang dia beralih ke mode wanita yang penasaran akan sesuatu.


"Kamu nanya?" Agler menjawab dengan nada mirip seseorang yang menyebalkan sedang terkenal beberapa hari ini.


Walaupun dia bukan manusia yang terbilang normal, dia tetap menikmati video Tiktod dan melihat sesuatu yang sedang trending.


Salah satunya pemuda yang beberapa hari ini menjadi bahan perbincangan karena videonya yang sedang viral.


Jujur, Agler sebal dengan pria ini ketika berkata suatu kalimat yang sudah menjadi ciri khasnya, yakni "Kamu nanya".


Rasanya dia ingin membakar mulut pria ini dengan api birunya yang bersuhu 100 juta derajat Celcius.


Terlepas dari mimik menyebalkan dari wajah pria itu saat berkata kalimat khasnya, sebenarnya cukup lucu dan asyik untuk mengikuti gaya bicara dengan kalimat khasnya.


Sudah cukup satu kali mengikuti ucapan itu, jika secara terus-menerus dilakukan, itu akan membuat lawan bicara kesal.


Apalagi lawan bicaranya itu adalah Agler. Bisa saja apabila dia kelepasan dan tidak bisa menahan emosinya akibat sering mendengar seseorang yang mengucapkan kalimat itu secara berulang-ulang, bukan suatu yang mustahil kalau dia memukul orang itu dengan kekuatan penuhnya.


"Ih, kamu mah!"


Tanpa sadar Ayu memukul pelan bahu Agler karena merasa kesal dengan ucapan Agler tadi.


"Iya, mau tanya apa?"


Agler menginjak pedal gas dan mobil perlahan berjalan maju kembali ke jalan raya.


"Motor kamu yang kemarin ke mana? Dijual atau dibuang?" tanya Ayu sambil menatap wajah Agler dari samping.


"Motor yang kamu tidak sukai itu? Motor itu ditaruh di tempat kenalan," balas Agler yang sedang fokus mengendarai mobil mewahnya.


Mv Agusta F4 CC miliknya sebenarnya telah dia simpan di ruang penyimpanan sistem. Agler tak mungkin berkata jujur masalah ini.


"Ouhh gitu."


Ayu kembali menatap ke depan memperhatikan jalan yang semakin padat oleh kendaraan beroda empat.


Pipi Ayu semakin memerah secara perlahan sambil memperhatikan jalan di depannya.


Diam-diam dia mengingat kejadian kemarin yang cukup memalukan dan itu terjadi cukup lama, dan bukan sekejap terjadi.

__ADS_1


Malu karena sepanjang jalan dari awal keberangkatan sampai di pemberhentian hotel, tubuhnya selalu menempel dengan punggung lebar dan kokoh Agler.


Karena tidak ada bangku untuk penumpang atau orang kedua, dia terpaksa duduk di tempat yang bukan semestinya, tentu bukan di ban.


Otot punggung Agler yang keras masih teringat sampai saat ini, bahkan semalam dia tidak bisa tidur karena teringat hal yang memalukan itu.


"Kamu kenapa, Ayu?" Agler sadar dengan wajah Ayu yang telah memerah seperti selai apel.


"Eh, gapapa kok."


Kedua tangan Ayu menutup wajahnya sambil sesekali menggelengkan kepala. Ia sedang menenangkan dirinya dan menepis pikiran yang memalukan yang masih bersarang di kepalanya.


"Oh, oke."


Tanpa memikirkan lagi, Agler fokus mengendarai mobil sesuai dengan rute perjalanan yang sudah ditentukan.


Di dalam mobil Ayu sering bertanya beberapa hal mengenai dirinya yang cukup personal dan pribadi.


Tentu Agler jawab, tapi tidak begitu jelas dan rinci. Disebutkan memang perlu dan tidak diutarakan memang itu hal yang sensitif.


"Eh??!"


Ayu menatap Agler dengan mata melebar tampak tidak percaya dan terpana.


"I-ini?"


Tatapan Ayu berpindah ke seluruh interior mobil Agler yang sedang dia duduki.


Ekspresinya terkejutnya terlihat sangat jelas, mulutnya terbuka lebar sambil memandangi sesuatu yang ada di dalam mobil.


"Ini ... mobil ini harganya puluhan miliar?!"


Melihat kembali ponsel pintarnya, tangan Ayu bergetar tanpa disadari olehnya.


Tubuhnya terasa lemas setelah melihat angka yang tertera di ponselnya.


Tak pernah mengira harga mobil ini begitu mahal, harga di kenyataannya bahkan melebihi perkiraannya.


Ayu berkali-kali menoleh pada Agler, dia tidak pernah berpikir bahwa pria yang dia kenal tanpa sengaja bisa sekaya ini. Ia duduk diam tidak bergerak, dia takut akan merusak sesuatu yang ada di dalam mobil ini.


"Tidak perlu seperti itu, biasa saja," ujar Agler yang masih fokus melihat ke depan.


Suasana mulai canggung dan hening, Ayu tidak seaktif sebelumnya, dia lebih banyak diam kali ini.


Namun, kurang dari lima menit, Ayu kembali aktif dan bertanya-tanya lagi.


Dalam perjalanan menuju tempat wisata selama hampir tiga jam, Agler mendapatkan kemudahan dalam berkendara, banyak pengendara yang berinisiatif untuk menepi dan menghindari mobilnya.


Kelebihan dari mobil mewah adalah seperti ini, meski tidak selalu terjadi, tapi setidaknya ada keuntungan dalam perjalanan jauh.


"Akhirnya sampai di Yogyakarta."


Berdiri menghadap pantai yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, Ayu menarik nafas dalam-dalam, menikmati angin sejuk yang lolos dan menerpa wajahnya.


Mereka telah sampai di tujuan, yaitu Pantai Sadranan Jogjakarta atau Yogjakarta.


Karena rating di gugel cukup bagus, jadi dia memilih objek wisata ini.


"Cukup ramai di sini."


Agler membuka kacamatanya, memandang orang-orang yang berjalan-jalan di tempat parkir kendaraan.


Banyak sekali orang yang menunggu anggota keluarga atau rombongan yang keluar dari kendaraan meeeka. Orang-orang di sini sudah siap bersenang-senang.


"Ambil perlengkapan diperlukan seperti anduk, baju ganti, dan lain lain. Kita harus mencari tempat duduk di sekitar sini," ucap Agler pada Ayu yang berdiri di sebelahnya, lalu memakai kembali kacamatanya.


"Oke."


Segera Ayu berjalan menuju bagasi mobil dan mengambil beberapa perlengkapan, seperti baju ganti, beberapa makanan snack, dll.


Agler membawa sebagian besar barang-barang ini, dan mereka berdua mencari tempat untuk duduk dan menaruh barang-barang yang dibawanya.


"Taruh di sini saja."


Agler meletakkan barang-barang di sebuah tempat yang terdapat atap, ini memang tempat untuk orang-orang sekeluarga berkumpul dan menaruh barangnya, nampak seperti saung.


Ternyata di sini terlalu ramai dengan pengunjung, Agler dan Ayu sedikit kesulitan untuk mencari tempat.


"Kamu mau ganti pakaian?" Ayu mengangkat kepalanya bertanya kepada Agler.

__ADS_1


"Iya," jawab Agler dengan tanpa ekspresi.


Tanpa aba-aba dan pemberitahuan, Agler mendadak melepas baju hitamnya dan celana olahraga di depan mata kepala Ayu sendiri.


Dengan cepat Ayu membuang muka melihat pemandangan pantai di sini. Wajah Ayu kembali memerah dan kali ini lebih parah.


Setelah melepaskan pakaian dan sepatu, Agler menaruhnya di saung ini. Kini Agler bertelanjang dada dengan memakai celana pendek hitam.


Tampaknya Agler tidak sadar bahwa tempat ini bukanlah di luar negeri.


Orang Indonesia jika berpantai pastinya memakai baju dan celana panjang atau pendek, tidak bertelanjang dada, terkecuali orang luar negeri yang ke sini.


"Kamu tidak berganti pakaian?" tanya Agler sambil menyesuaikan celana pendeknya agar tidak terlalu merosot ke bawah.


"Aku seperti ini saja berenangnya." Ayu menjawab tanpa melihat Agler yang ada di sebelahnya.


"Seperti ini?"


Mata Agler bergerak menyusuri pakaian Ayu.


Ayu memakai baju lengan panjang berwarna merah dengan celana panjang hitam, lalu rambut panjangnya dikuncir kuda. Nampak cantik, terlebih paras wajahnya yang cantik murni wanita berdarah Jawa tanpa campuran.


"Iya, emang kenapa?"


Tidak sengaja Ayu tersinggung dan menoleh ke Agler. Otomatis dia melihat tubuh Agler yang bertelanjang dada tanpa pakaian atas.


Otot perut memiliki delapan kotak, otot dada yang besar dan kuat, otot pinggang yang ramping penuh jaringan otot, tubuh Agler benar-benar sempurna dibandingkan dengan para atletik dan binaragawan.


Pipi Ayu memanas dengan cepat bahkan muncul sedikit uap samar-samar.


"Kamu kenapa?"


Warna wajah Ayu membuat Agler bertanya, takut Ayu sakit karena perjalanannya.


"Tidak-tidak, aku baik-baik saja."


Ayu membuang wajahnya lagi sambil menepuk pipinya yang memanas dan memerah.


"Baiklah. Mau bersama ke pantai?" ajak Agler yang masih memandangi Ayu yang masih menepuk pipinya.


Mendengar ajakan Agler, Ayu berhenti melakukan gerakan menepuk dan segera berbalik menatap wajah Agler yang masih memakai kacamatanya.


"Ayo kita ke pantai!"


"Oke."


Mereka berdua berjalan bersampingan menuju pantai.


Di sini banyak sekali orang-orang yang asyik bermain dengan pasir dan air laut, tidak sedikit anak muda dan anak kecil yang datang ke sini.


Ketika, Agler dan Ayu datang, orang-orang beralih pandangannya kepada Agler. Semua aktivitas mereka berhenti dan fokus menatap sosok Agler.


Penampilan Agler terlalu menarik mata, bahkan ibu-ibu rumah tangga yang bermain dengan keluarga tidak tahan untuk tidak melihat Agler.


Seketika bulu kuduk Agler berdiri, dia merasakan banyak tatapan mata dari orang lain mengarah ke tubuhnya.


'Aku lupa, ini masih Indonesia,' keluh Agler di dalam hatinya.


Di permukaan wajah Agler sangat jelas terlihat pucat, Ayu yang memperhatikan ini tidak tahan untuk menahan tawanya. Ia tertawa kecil menertawakan wajah Agler yang semakin pucat.


"Kamu kenapa, Agler?" tanya Ayu dengan nada yang sedikit menyindir.


"Tidak apa-apa," jawab Agler dengan senyum terpaksa pada Ayu.


"Haha, oke."


Ayu menutup mulutnya berusaha manahan tawa.


Keduanya langsung terjun bermain air laut di pinggir pantai, sesekali Ayu jahil memercikkan air ke tubuh Agler.


Namun, Agler merespon biasa dengan wajah tidak begitu semangat.


Pasalnya, sejak awal datang dan bermain air serta berenang, Agler selalu menjadi bahan pembicaraan dan fokus pandangan semua orang.


Tidak sedikit para wanita yang mendekati Agler dengan berbagai cara, entah itu diam-diam atau frontal.


Bahkan dengan blak-blakan ingin menyentuh tubuh Agler, tapi dengan cepat Agler hindari. Juga Ayu dengan peka membantu Agler untuk menghindari wanita-wanita yang gatal ini dengan cara berdekatan dengan Agler, memegang tangan Agler, dan bertingkah layaknya sebuah pasangan.


Ding!

__ADS_1


[Tugas Sistem Telah Terdeteksi!]


__ADS_2