Savior System

Savior System
Bab 37 : Asal dari Kekuatan


__ADS_3

Setelah melakukan itu semua. Agler melirik ke arah helikopter tempur milik negara Prancis yang terbang mengelilinginya, lebih tepatnya dia melirik Bapak Presiden Prancis yang ada di dalam helikopter.


Agler mengangguk kepada Presiden Prancis memberikan tanda isyarat bahwa beliau sudah melakukan keputusan yang sangat baik.


Membuka Mata Tenseigan-nya dan melihat ke seluruh Kota Paris untuk memastikan lagi, tidak ada darah atau bangkai dari Draith yang datang ke Aquater.


Dia khawatir dengan Pemerintah dari suatu Negara atau pihak lain yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan darah dan bangkai dari Draith yang ditemukannya untuk penelitian dengan tujuan yang tidak baik apalagi sampai mengancam keselamatan manusia.


Dengan gelombang sonik, Agler terbang dengan kecepatan 2000 kali kecepatan suara menuju rumahnya.


"Apakah Saviorman mengangguk ke saya?" tanya Presiden Prancis.


"Iya pak, saya melihat Saviorman mengangguk ke arah Helikopter kita!" kata Jendral.


"Sepertinya dia membenarkan pilihan kita untuk cepat mengevakuasi warga di Kota Paris," pikir Presiden Prancis.


"Kita harus berterima kasih kepada Saviorman karena telah menyelamatkan ibukota negera kita, tapi apa ya?" Presiden Prancis merenung.


"Saya sarankan untuk dipikirkan secara bersama pak di istana negara," kata Jendral.


"Benar, kita harus memikirkan ini bersama di istana negara, kembali menuju istana negara segera!"


......................


Kembali ke Mall tempat Adena dan anak-anak sedang bermain.


Ternyata anak-anak masih bermain di sana bersama Adena, Ibu Komariyah dan para pengasuh.


Agler berjalan ke arah mereka. Kebetulan Adena melihat Agler yang sudah kembali, segera berlari menuju Agler.


Memeluk erat Agler lalu membenamkan kepalanya di dada Agler.


Mereka berdua berpelukan beberapa detik, mendongak memandang Agler dengan mata yang khawatir, Adena berkata, "Kamu gapapa kan? aku takut."


Melihat Adena seperti ini, Agler semakin tidak ingin berpisah dengan Adena, dan ingin selalu menjaganya.


"Gapapa sayang," jawab Agler tersenyum lalu mencium kening Adena.


Setelah dicium oleh Agler, hati Adena terasa berbunga-bunga, membenamkan kepalanya lagi dan mengoceh dipelukan Agler, "Humm asal main cium aja, liat aja nanti aku bakal habisin kamu di ranjang."


Agler yang mendengar ini langsung tertegun sejenak, lalu ia berpura-pura tidak dengar ocehan Adena. "Apa kamu bilang apa sayang?"


"Engga aku ga bilang apa-apa~," kata Adena malu.


"Yang bener? tapi aku ngedenger katanya ada yang pengen habisin aku di ran-..."


Mulut Agler seketika ditutup oleh tangan kanan Adena, dengan pipi yang merah Adena berkata, "Ih apa sih kamu hum, jangan ngomong di sini, tempat umum juga apalagi ada anak-anak lagi main sama Ibu Komariyah di belakang kita."


Agler mengangguk, melihat tangan Adena yang masih menutup mulutnya, Dia memasukan jari Adena ke mulutnya.


"Ih jorok tau!" Adena marah tetapi dia tersipu juga.


"Hahaha~" Agler tertawa puas melihat Adena yang marah karena telah dijahili olehnya.


"Udah-udah jangan marah," kata Agler kemudian dia mencubit lembut kedua pipi Adena.

__ADS_1


Adena menganggukkan kepalanya seperti merpati yang lucu.


Tanpa izin Adena, Agler menggendong Adena seperti tuan putri alias menggendong dengan gaya bridal lalu mereka menuju anak-anak dan ibu Komariyah serta pengasuhnya.


Mereka di sana bermain lalu berbelanja keperluan sehari-hari seperti stok makanan, perlengkapan mandi yang sudah habis dan lain-lain.


Akhirnya mereka semua kembali ke rumah dengan selamat jam 7 malam.


Setelah selesai makan malam bersama mereka semua pergi ke kamar masing-masing untuk tidur.


"Selamat malam Abang Agler!"


"Selamat malam Kakak Adena!"


Anak-anak mengucapkan selamat malam kepada Adena dan Agler sebelum mereka tidur.


"Selamat malam sayang!" kata Adena dan Agler bersamaan.


Anak-anak kembali ke kamarnya masing-masing di temani Ibu Komariyah dan suaminya.


Hanya tersisa Agler dan Adena yang sedang duduk di sofa sambil menonton Televisi.


Mereka menonton isi tv yang hanya memberitakan Saviorman yang melawan monster di atas kota Paris.


"Sayang, aku penasaran deh dari mana kamu dapet semua kekuatan itu?" Adena tiba-tiba bertanya.


"Sssst! nanti ada yang denger, mending kita ke kamar aja ngomonginnya," saran Agler.


"Oke, sayang."


"Hu'um." Adena mengangguk.


"Sini aku bisikin," kata Agler.


Adena langsung mendekatkan kepalanya ke Agler.


Melihat ini Agler tiba-tiba tersenyum aneh, mendekatkan dirinya ke Adena lalu mulai berbisik, "Sebenernya aku ...."


Mendengar bisikan Agler yang terpotong di telinganya, Adena segera penasaran dan bertanya, "Sebenernya apa sayang?"


"Emm sebenarnya aku sayang banget sama kamu~," lanjut Agler berbisik.


"Eh!" Adena langsung tersipu malu, pipinya mulai memerah dengan cepat.


"Kamu ya ih!" Adena pura-pura kesal.


"Hahaha!" Agler tertawa lepas.


Adena mencubit Agler karena menertawakan dirinya. "Rasain nih eemh!"


"Aduh-aduh sakit!" Agler akting kesakitan di kasur.


"Jangan pura-pura sakit heh!"


Agler berhenti akting dan kembali duduk lalu menatap Adena.

__ADS_1


"Kalo kamu mau tau aku dapet kekuatan ini dari mana, aku ceritain sekarang," kata Agler dengan raut wajah serius.


"Buruan ceritain, aku penasaran banget!"


"Dahulu kala setengah tahun lalu saat aku jarang keluar rumah, aku kan sering di kamar sendiri, tapi tiba-tiba saat itu ada seorang pria yang ga aku kenal muncul di kamar aku."


"Terus gimana?"


"Dia tiba-tiba ngomong ke aku, katanya dia bisa ngasih aku kekuatan super, tapi ada syaratnya."


"Apa itu?"


"Syaratnya adalah mencintai kamu selamanya."


Adena memukul manja dada Agler. "iiihhh Kamu mah ga serius dari tadi!"


"Hahaha!"


"Sekarang aku serius."


"Jadi syaratnya tuh aku harus selamatin orang yang ada di dunia ini," kata Agler.


"Ouh gitu." Adena mengangguk.


"Yaudah aku mau aja kan, terus pria itu langsung ngasih aku kekuatan kaya sekarang, habis ngasih kekuatan pria itu langsung menghilang gitu aja."


"Humm, apakah itu dewa?" Adena bertanya-tanya.


Apa yang dikatakan Agler itu benar dan salah. Hal yang benar bahwa dia harus menyelamatkan manusia di dunia ini dan yang salah adalah bukan pria misterius yang memberi dia kekuatan tetapi sistem yang misterius.


Agler tidak akan memberitahu seseorang termasuk Adena tentang keberadaan sistem, karena itu adalah rahasia terbesar dia.


Agler masih bertanya-tanya di dalam lubuk hatinya. Bertanya-tanya tentang dari mana asal sistem itu dan apakah dia diciptakan oleh seseorang.


Agler ingin bertanya kepada sistem dari mana dia berasal. Satu lagi yang ingin ditanyakan Agler adalah Monster Draith yang akhir-akhir ini bermunculan, dia ingin tahu dari mana Monster ini datang, dan apa energi merah yang ada di setiap Draith itu.


Perasaan yang buruk semakin menumpuk di hatinya seolah-olah di masa depan akan terjadi suatu peristiwa buruk yang besar.


"Sayang mending kita tidur yuk," ajak Adena yang sudah mengantuk berat.


Agler menyampingkan pikiran itu, hal ingin dia lakukan sekarang adalah tidur bersama Adena.


"Ayo, baby!" sahut Agler bersemangat.


"Tapi aku mau libur dulu ITU nya yaa~" Adena memohon kepada Agler dengan memasang wajah imutnya.


"Emm ...."


"Yauda deh. tapi besok ga boleh libur," jawab Agler.


Adena menimbang nimbang keputusan dan akhirnya ia setuju.


"Oke!"


Segera Agler memeluk Adena dengan lembut dan penuh kasih sayang. Adena yang ada dipelukan Agler tersenyum bahagia.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian mereka tertidur pulas hingga matahari muncul dari kegelapan.


__ADS_2