
Makhluk melata ini menatap sosok Agler beberapa detik, sebelum akhirnya dia bergerak.
Sosok makhluk melata seperti ular ini keluar dari dalam tanah dan menampilkan keseluruhan tubuhnya.
Agler sedikit terkejut melihat tubuh monster ini, pasalnya monster ini tidaklah melata sepenuhnya. Akan tetapi, monster ini memiliki sayap di tengah dari panjang tubuhnya.
Tapi, Agler tidak yakin sayap yang tumbuh dari tubuh monster ini dapat membuat seluruhnya tubuhnya terbang.
Sebab, sayap ini kalah lebar dibandingkan panjang tubuh monster ini.
Raaaahhhh ...!
Mulut monster terbuka lebar mengeluarkan jeritan yang nyaring terdengar.
Setelah menjerit keras, monster panjang ini meluncur cepat berusaha untuk menabrak Agler.
Melihat kecepatan bergerak makhluk ini sangat jauh dibandingkan Agler, sosok Agler terlebih dahulu menghindar serangan dia.
Kepala Wormdes membentur sesuatu yang keras dan tak terlihat, itu menciptakan bunyi yang kencang.
Mengabaikan rasa sakit dari efek benturan, Wormdes bergerak lagi meluncur ke tempat Agler yang sedang berdiri di jalan yang lain.
Adegan yang memalukan terjadi lagi.
Wormdes melakukan itu secara berulang-ulang dengan hasil yang sama.
Bahkan monster melata ini tidak bisa menyentuh tubuh Agler sedikitpun.
Perbedaan kecepatan di antara keduanya sangat berbeda jauh bagaikan mobil sedan dibandingkan dengan pesawat F-22 Raptor.
"Sangat lambat, sungguh sangat lambat."
Agler melayang di atas langit di ketinggian tujuh puluh meter di atas permukaan jalan, dia memandangi monster ular ini yang sedang melototi dirinya dengan pupil mata vertikal.
Hasil dari serangan Wormdes menghasilkan informasi penting yang terjamin kebenarannya bagi Agler, yakni monster ular ini memiliki kecepatan yang rendah, namun ketahanan tubuhnya sangat tinggi.
"Baiklah, sudah saatnya untuk mengakhiri pertarungan ini." Agler berkata dengan datar dan melanjutkan, "Kau boleh mati sekarang."
Bertepatan dengan keluarnya kalimat itu, Agler menghilang tiba-tiba, dan muncul di depan kepala Wormdes sambil menarik tangan kanannya ke belakang untuk memukul.
Kepalan tangannya diisi dengan seluruh kekuatannya untuk menyerang monster ular ini.
Pukulan itu meluncur cepat menghantam kepala besar monster ini.
Bam!
Gelombang kejut muncul menerbangkan puing aspal dan sebagainya ke segala arah, retakan pada jalan semakin hancur.
__ADS_1
Sementara waktu, asap memenuhi seluruh tempat Agler dan Wormdes bertarung.
Membuat para awak media dan orang di sekitarnya tidak dapat melihat apa yang terjadi setelah benturan keras tadi.
"Apakah dia baik-baik saja?" Svalia bertanya dengan wajah yang khawatir kepada Ghinava dan Cass.
Mendengar pertanyaan ini, Cass tersenyum kepada Svalia dan berkata, "Aku yakin dia aman, dia itu kuat."
Mendengar jawaban Cass, Ghinava menganggukkan kepalanya tanda dia setuju dengan omongan Cass.
Mereka bertiga menatap kembali ke arah tempat bertempur Agler dan Wormdes.
Asap dan debu yang berterbangan perlahan menghilang, dan menampilkan dua sosok yang samar-samar di baliknya.
"Tanduk apa itu?" Agler melayang di sisi barat jalan, wajahnya terlihat tercengang, pandangan matanya tertuju pada tanduk kepala Wormdes. "Pukulan penuhku bisa ditahan oleh tanduk itu?"
Ketika memukul kepala Wormdes, ternyata pukulannya mengenai tanduk yang tertancap di kepala Wormdes, tanduk itu sangat keras sekali. Tanduknya begitu tangguh bahkan dapat menahan pukulan dari kekuatan penuh Agler.
"Oke, sepertinya aku akan terluka parah jika diserang oleh tanduk besar itu." Agler memandangi tangan kanannya yang terdapat luka sobekan yang memperlihatkan daging dari jari hingga pergelangan tangan.
Hasil hantaman keras tadi membuat tangan kanan yang Agler pakai untuk menyerang menjadi terluka.
Ini hal yang tak terduga.
Dari sini, Agler menambah informasi mengenai monster panjang melata ini. Tampaknya telah lengkap, Agler tidak perlu mencoba lagi, tugas mencari informasi dengan spontan telah selesai.
Sehabis kalimat itu keluar, semburan api biru muncul dari tubuh Agler, dan itu membungkus kedua tangannya.
Tangan Agler berubah menjadi tangan yang penuh api biru, luka pada tangan kanannya menghilang dan digantikan api yang berkobar.
"Kamu mati sekarang."
Tangan Agler diarahkan menuju Wormdes yang ada di bawah, seketika kobaran api biru di tangan Agler berubah menjadi sosok naga timur yang sama besarnya dengan Wormdes.
Naga api biru melesat terbang menuju Wormdes sambil mulutnya terbuka lebar.
Detik berikutnya, naga api itu bertemu dengan Wormdes dan menabraknya.
Boom!
Ledakan hebat tercipta, tanah bergetar, puing aspal berhamburan ke segala arah. Semua orang menghalangi pandangannya dari efek cahaya ledakan, itu sangat menyilaukan.
Radius dua kilometer dari tempat Agler dan Wormdes bergetar, bangunan ikut kena efeknya, namun telah diminimalisir oleh kekuatan pikiran Agler, jadi tidak akan ada apa-apa.
Selama beberapa menit, bau gosong dan terbakar tercium, bahkan beberapa kilometer jauhnya masih bisa mencium bau daging barbekyu yang gosong dipanggang terlalu lama.
"Apa kau mencium wangi itu, Svalia?" Ghinava bertanya sambil mengendus-endus lewat hidungnya, hidungnya mengecil membesar terlihat lucu.
__ADS_1
Svalia juga mencoba menghirup wewangian yang dimaksud dan menjawab, "Aku mencium wangi seperti daging yang dipanggang."
"Benar, aku juga mencium wangi itu." Cass memverifikasi bahwa adanya wewangian daging panggang.
"Lihat itu, kalian berdua!" Svalia berseru sambil menunjuk ke sesuatu arah.
Arah itu adalah tempat Wormdes berada saat terkena naga api biru milik Agler.
Sebuah benda panjang yang melingkar berwarna hitam tergeletak di atas lubang jalan. Di atasnya terdapat sosok Agler yang terbang mengamati benda panjang ini.
"Belum mati?" ucap Agler yang masih memerhatikan kondisi benda panjang berwarna hitam itu.
Wormdes telah berubah menjadi penampilan berwarna hitam, warna hitam ini berbeda dengan tampilan biasanya. Ini tampak seperti kotoran manusia yang besar dan berwarna hitam.
Wormdes tidak bergerak, dia melingkari seluruh tubuhnya menjadi bentuk lingkaran. Akan tetapi, Agler dapat melihat bahwa monster hitam ini seperti masih berdetak dari sesuatu yang mirip jantung.
Agler tidak dapat memastikan apakah itu jantung atau bukan, intinya sesuatu itu mengeluarkan semacam bunyi seperti detak jantung.
"Aku tidak akan membiarkanmu hidup," kata Agler tiba-tiba.
Kemudian kedua tangannya dia ke depankan dan membidik Wormdes di bawah.
Dua kobaran api berbentuk seperti naga dari timur meluncur cepat, dan kemudian menyambar lagi sosok Wormdes yang sekarat.
Boom!
Kobaran api melambung tinggi beberapa puluh meter, tetapi itu tidak membakar sesuatu yang ada sekitarnya, karena Agler mengontrol api biru itu.
Tidak lama kobaran itu menyala, sampai akhirnya padam setelah tiga menit berselang.
Benda panjang berwarna hitam telah tidak ada, dan hanya digantikan dengan lubang yang semakin dalam dan luas.
[Ding!]
[Selamat Anda Telah Menyelesaikan Tugas Sistem Tingkat Darurat!]
[Hadiah telah diberikan kepada Anda!]
Pengingat Sistem muncul di benak Agler, suara itu menyatakan bahwa tugas telah berhasil diselesaikan.
Namun,Agler menghiraukan bunyi dari Sistem, dia masih belum selesai. Satu langkah untuk menyelesaikan tugas.
Jari jempol tangan dan jari tengah menempel, Agler menjentikkan jari dan mengeluarkan bunyi 'klik' yang cukup keras.
Segera angin topan dicampur elemen api biru muncul menyapu lubang besar itu seakan membersihkan jalan raya dan udara sekitar dari debu abu Wormdes.
Beberapa waktu berlalu, angin topan berisikan sedikit kobaran api menghilang.
__ADS_1
Melihat semuanya telah selesai, Agler menonaktifkan kekuatan pikirannya, dan terbang ke atas langit.